Gambar dalam brosur perumahan di Cikarang ini menarik. Mungkin setting-nya itu saat fajar, mungkin juga saat senja. Si pria barusan mengantar si wanita lalu pamit. Si wanita mungkin masih lajang, tidak tinggal bersama orangtuanya.

Begitulah, iklan properti memang sering memunculkan gambar ajaib. Untuk apartemen misalnya, coba amati berapa banyak gaya modelnya, pria dan wanita, pakai dandanan rapi dalam rumah (sedang minum wine), malah ada yang wanitanya pakai gaun pesta. Pemasar bilang, itulah citra kehidupan urban. Halah! Lha wong di rumah pada pakai kolor dan daster saja kok.
Saya terkesan oleh nama kelompok usaha ini: Kagum Group. Bisa jadi pihak ketiga yang mendengar percakapan dua orang bisa bingung. “Gimana kabarnya? Kerja di mana? Kagum ya?” Hampir sama membingungkannya ketika seorang cowok ditanya calon mertua, “Kerja di mana, kamu?” Jawabannya, “Orang Tua, Oom.”

Tentang “husada”, yang menjadi unsur nama perusahaan ini, biasanya dipakai untuk apotek, rumah sakit, dan perusahaan farmasi. Husada (usada, husodo) itu artinya obat dan ilmu pertabiban. Kalau arti nama Dokter Wahidin Sudirohusodo, yang kabarnya keturunan Sisingamangaraja itu, ada yang tahu? Mari menanya Papah Doni.
Anda ingat, sejak kapan kita pakai “cash keras”? Tampaknya pengindonesiaan “hard cash” ini datang dari orang bisnis, terutama orang toko, untuk menyebut pembayaran tunai yang benar-benar berwujud uang. Sebuah pemadanan yang nanggung, karena Inggris-nya masih ada.

Menyewa agen properti — bahasa keren untuk “mekelar” — itu bagi sebagian orang dianggap asing dan mahal. Maka beriklan secara langsung, dengan cara dan bahan seadanya pun dianggap efektif. Tapi dengan penempatan di sudut yang tak terlihat konsumen sasaran, tampaknya jadi sulit. Kecuali, ya itu tadi, yang melihat dan langsung memanfaatkan adalah makelar.
Sebuah cerita dari pertigaan, dekat pelataran Bank Eksekutif, di Mayestik, Jakarta Selatan.
