Ada apanya? Ada kali. Namanya Kali Sunter. Di Jatiwarna, Bekasi, kali inilah yang memisahkan Bekasi, Jawa Barat, dan Jakarta Timur, DKI. Dulu tak ada patok batas, setelah dua tahun jalan tol JORR jadi barulah di sana dibuat tugu. Sebelumnya, dari jalan lama, saya hanya melihat semacam gerbang sederhana di kampung. Alamat pada warung yang memberitahu bahwa pelintas masih berada di DKI dan kemudian Jawa Barat. Logat warganya sih sama. Dulu pada 1993, di sebuah kampung sekitar tujuh kilometer dari Jalan Raya Pondokgede-Bekasi, saya masih mendengar beberapa warganya bicara dalam bahasa Sunda.

Vintage, untuk klangenen belaka, karena dirasa eksotis. Padahal cuma kemasan saja, esensi sih sama. Untung saya dibayari.


Ada yang bilang, mobil patroli oranye milik The Police itu hanya diparkir karena nggak bisa jalan. Ternyata orang itu salah besar! Mobil itu bisa jalan. Suatu pagi saya disalipnya. Pengemudinya seorang polwan. Entahlah, apakah mobil asing berkawan dengan patroli asing yang lain.

NB: Kalaunya warnanya diubah jadi merah kok rada lucu ya?
Saya tak tahu berapa banyak orang yang memperhatikan foto-foto, yang lebih kecil dari prangko , sebelum membuang bungkus kembang gula Fox’s. Sebagai sebuah promo, bolehlah.

Warung gudeg Campur Sari, di Jalan Adisucipto, Yogyakarta, ini tak memasang logo KPK dan stiker antikorupsi. Dia cukup menyatakan prinsip dagangnya. Layak diacungi jempol. Entahlah apakah dia pernah direpotkan oleh urusan “mbathi” (ambil untung) orang-orang suruhan itu. Maklumlah warung ini tergolong laris.

Di sebuah kebun singkong, di pinggir Jalan Kodau, Jatimekar, Bekasi, ada laboratorium ini. Bawalah lampu hemat energi ke sana untuk direparasi. Ongkosnya sekitar Rp 3.000. Lampu refurbished juga dijual dengan harga segitu, padahal lampu Philips yang baru sekitar Rp 35.000. Apakah penggunaan atribut “doktor” itu bisa dipersoalkan? Penasihat hukum saya, Prof. Dr. Kelakuan, C.S.H., L.L.M, akan menjawabnya.

Kalender di warung sate sudah tertempel jauh hari sebelum ada pilpres. Hari ini masih tertempel. Apanya yang menarik dari kampanye Dr. Rizal Ramli? Nyonya menoleh ke arah lain.


Bisa habis sepertiganya saja sudah hebat. Nasi putih, buntil, tempe, gembus, kepala bandeng . Tambah es buah. Pasti mblenger. Kalau doyan pete juga tersedia barangnya. Cerita dari jajanan lesehan di Jakarta Selatan, buka pukul 22.00-01.00. Kok pakai “titik-nol-nol”, emang tepat? Nggak. Oh ya ada sedia sayur tumpang (atau sambel tumpang?) bagi yang doyan — saya sih nggak.

Mobil terus bertambah, kapling parkir tak mengimbangi. Maka trotoar pun dipakai. Mobil ini terparkir di sebuah tikungan berlampu merah di Jakarta Selatan. Akan disebut jagoan parkir kalau menempatkan mobilnya bukan dengan mundur (pakai bantuan kaca spion dan pemberi aba pula), tetapi maju. Sisa ruang di kanan-kiri roda sudah mepet. Tetapi mau sepintar apapun parkirnya, kalau di atas trotoar itu di manakah hak pejalan kaki?

Hanya niat baik masyarakat sehingga sejauh ini lampu merah (ada kuning dan hijaunyasih) di Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, itu tak diganggu. Padahal kabelnya bisa diakses siapa saja.
