Tenang. Saya tidak mengunggah gambar cabul. Aslinya, gambar ini memang sudah disensor oleh kontributor di Izismile. Padahal isinya membahas fashion, yang ilustrasi kompletnya ada di halaman lain. Tak ada yang salah dengan membanggakan dan mengapresiasi milik sendiri kan?

Siapa bilang masyarakat Barat itu permisif dalam banyak hal? Kanal fashion Glamour toh menyensor payudara (dan puting) seorang model.


Para pengusaha perawatan kelangsingan terus bersaing. Masing-masing menampilkan emak-emak. Tapi itu pun kurang. Yang baru, bawa saja anaknya sekalian untuk menunjukkan memang punya anak betulan dan anaknya udah gede, tapi emaknya… ya gitu deh.
Catatan: gambar bawah saya ambil dari posting terdahulu di blog induk. Tulisan senada ada di sini.

Apakah yang disebut tabu, jorok, saru? Ada banyak warna dalam kehidupan, sehingga kata tertentu dalam situasi tertentu biarpun diucapkan oleh anak kecil takkan dianggap menabrak batas tabu. Tadi ada kue ini, dan kepada mayoritas wanita yang ada di sekitar kue saya menanyakan apa namanya. Ada yang menjawab kue tètèk, kue tokèt, dan kue nèn atau nènèn. Saudari saya dulu dengan polos menyebut penuh keyakinan (maaf): tokèt cina. Dia menyebutnya sewajar mengucapkan petai cina. Sebagain orang Jakarta, termasuk penjualnya, menyebut kue ini sebagai “kue apé’” dan “kue apéh”. (Sebuah post ulang tulisan lima tahun lalu dengan pengalaman hari ini dan foto barusan).

Kalau benar, ini kamera yang bisa berkomunikasi secara dengan batin dengan penggunanya. Bisa intuitif sesuai mood. Menjadi kacau kalau prosesor salah terka, padahal yang dimaui pemotret adalah korannya.
