antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

menampung yang terserak

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

100 Kata ahmad dahlan Biasa Bisnis Blog blogger Desain Entahlah fashion gandaria Hiburan humor iklan Internet Jajan jakarta jakarta selatan jejaring sosial jepretan ponsel kebayoran baru kesehatan kotareyog.com kuota kata langsat lebaran lingkungan Media microblogging mudik musik otista payudara Perjalanan ponorogo promosi properti Sejarah Seni sepatu Silaturahmi solo Teknologi toilet twitter yogyakarta

Bookmarks


Posts tagged ‘microblogging’


Mengolok Twitter

Oct 2009
06

Yah  begitulah menurut “analisis” si pembuat yang dilandasi semangat hahahihi. :D

Share/Bookmark

Facebook di Ruang Siar

Sep 2009
06

Setelah internet masuk ke studio radio sebelas tahun belakangan ini,  akhirnya kini makin jamak saja jika penyiar mengudara sambil memantau situs jejaring sosial dan microblog. Facebook menjadi keharusan, apalagi jika stasiun tersebut memiliki halaman di FB.


Mari Menghindar dari Internet

Dec 2008
13

Ehm, judul dan sekaligus pertanyaan yang aneh. Jawabannya juga berupa tanya balik: apakah mungkin?

Boleh saja kita tidak menggunakan internet dan tak peduli dengan itu. Lalu cobalah minta tolong Pak RT atau Bu Minah penjual nasi uduk untuk mencari nama kita di Google.

Jika nama kita ada dalam hasil pencarian, maka bolehlah Bang Ojek dekat portal akan berseru, “Selamat datang di rimba internet!”

Internet telah menjadi belantara teks dan belukar informasi. Halaman web bisa memuat apa saja, termasuk nama kita. Bahkan tanpa saya inginkan, seseorang memasukkan titik rumah saya pada sebuah peta online hasil foto udara (satelit). Bukan nama saya yang masuk melainkan nama anak-anak saya.

Tanpa kita inginkan, informasi tentang diri kita bisa tersimpan di internet. Menjadi ketua panitia tujuhbelasan dan dikutip di sebuah buletin fotokopian untuk warga, lalu seseorang menyalinnya ke internet, maka nama kita (bahkan tampang kita) akan tersimpan di sana.

Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin asin (bagi yang pernah ngerasain), kita tak mungkin mengelak dari internet. Bung Besar dalam cerita George Orwell (1984) menjelma sebagai sekumpulan bung kecil yang tak kita kenal.

Adakah yang berubah dari kita? Barusan seorang teman saya anjurkan masuk ke Plaxo untuk menyimpan alamat kontak dan agendanya, agar suatu kali bisa disinkronisasikan dengan komputer lain.

Memang Google dan layanan lain pun akhirnya bisa melakukan itu — tapi diskusi kami tetap soal Plaxo. Pada tahun 2000 jejaring sosial belum dikenal, sehingga tampaknya Plaxo lahir terlalu dini. Tak lebih itu hanya personal information manager versi online.

Menurut teman saya, namanya Happy, yang sekarang merasa happy karena sudah menjadikan sejumlah blognya sebagai heritages, orang-orang telah berubah. Katanya, dulu ada kecenderungan orang untuk ngumpet dari internet, tapi sekarang orang ringan saja mengumumkan kehadiran dirinya di alam maya.

Mungkin dia benar. Lihatlah segala layanan online berbasis komunitas. Keterhubungan telah menggiring kita untuk menyatakan diri, dari blogging sampai microblogging. Sulit membayangkan bahwa sepuluh tahun lalu, saat belum ada Plurk, Anda dengan enteng akan mengumumkan diri sedang ngopi sendirian sementara istri Anda ikut bertamak diri dalam pesta diskon gila-gilaan tengah malam di toserba besar.

Apakah internet telah menggelincirkan orang menjadi eksibisionis yang tak sungkan membagikan sebagian dari sisi privat kehidupannya?

Mungkin. Pernah saya baca blog, dari orang tak jelas, yang mengeluhkan perilaku istrinya. Pernah juga saya baca seorang istri, entah siapa, yang menumpahkan serial kekesalan kepada suami melalui blog. Bahkan ada blog yang memuat lalu lintas konflik seorang suami dengan bekas istrinya. Mirip “infotainment” (dalam pengertian Indonesia) tetapi ditulis sendiri oleh pria itu.

Misalkan dia tak menulis, bukan tidak mungkin blog lain yang akan membahas kehidupan rumah tangganya.

Ketika urusannya melebar ke mana-mana, termasuk blog yang membahas keburukan bekas tempat kerja dan bekas sejawat (serta bekas juragan), maka seorang kawan menghentikan niatnya untuk ngeblog. Baginya konten pribadi internet punya sisi yang menggelisahkan.

Persoalannya bukan sekadar domain dan hosting traktiran saya itu tak akan saya perpanjang melainkan soal kenyamanan bagi dia. Justru itu yang lebih wigati.

Mungkinkah dia menghindar dari internet, khususnya penerbitan pribadi yang bernama blog?

Dia penulis yang baik. Karyanya yang ilhami (inspiring) malah disalin oleh orang lain untuk sebuah blog.

Dengan segala sesal baiklah kita akui bersama bahwa kita tak dapat menghindar dari internet padahal kita mempersetankannya.

© Ilustrasi tentang Andy Warhol: tak diketahui


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.

© Contents by Antyo Rentjoko