antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Posts tagged ‘Media’


Nasib Koran Cetak

Oct 2009
29

Sam Zell pesismistis. Pasti punya alasan kuat. Memang sih, organisasi pengelolaan berita memang mahal — kecuali pekerja media tak perlu dibayar karena masing-masing sudah superkaya. Tapi benarkah orang puas dengan dengan lalu lintas informasi antarkawan? Model bisnis lembaga pemberitaan yang akan terus berubah. Yang cetak  mungkin surut, dan itu menghemat pohon. Koran, sebagai penyaji kabar (apapun bentuknya), takkan mati karena dalam beberapa hal institusi punya kelebihan dibanding perorangan (blogger).

Share/Bookmark


Miyabi The Jakarta Post

Sep 2009
30

Dan bahkan The Jakarta Post pun menjaring opini pembacanya tentang rencana kedatangan Diajeng Maria Ozawa.

Tapi dari semua kehebohan di blog, yang paling bagus adalah pernyataan Budiyono:

“Bukannya kami gak suka Miyabi, tapi kami biasa melihatnya telanjang dengan mendownload GRATIS. Sekarang kami harus BAYAR untuk melihatnya memakai baju?? (ini sarkasm!)”

© Ilustrasi Miyabi: Paydjo

Share/Bookmark


Sensor

Sep 2009
30

Siapa bilang masyarakat Barat itu permisif dalam banyak hal? Kanal fashion Glamour toh menyensor payudara (dan puting) seorang model. :)

Share/Bookmark


Bukan Santet

Aug 2009
29

Cerita lama sih ada gunting operasi tertinggal dalam rongga badan manusia. Seperti meninggalkan obeng dalam celah mesin. Kecerobohan medis mempercepat ajal. Persoalannya ada kesadaran untuk menguranginya atau tidak? Lihat laporan.


Cara Media dan Kita Menempatkan Manohara dan Prita

Jun 2009
04

“Media berlebihan. Istri dan anak-anak perempuanku lebih peduli Manohara daripada Prita,” keluh seorang kawan.

Teman yang lain menggerundel, “Waktu ada berita TKW dianiaya bahkan dibunuh, orang-orang yang suka nonton TV itu kurang peduli, jarang membahas di obrolan kantor,” keluh seorang kawan.

Seorang pria yang ikut menggalang dukungan terhadap Prita Mulyasari menggerundel, “Di luar internet sulit menggalang dukungan dari kaum perempuan. Padahal mestinya untuk isu ginian, yang korbannya seorang ibu, para perempuan lebih peduli. Kasus Prita bisa mengenai mereka juga.”

Akhir pekan lalu seorang kawan kirim SMS, “Sial! Kasus prita ditiban trs sm manohara. Org2 jd krg peduli!”

Saya tak punya data apakah kaum perempuan yang tidak atau jarang menggunakan internet itu lebih peduli Manohara ketimbang Prita. Saya juga belum punya data apakah lontaran televisi tentang Manohara itu diperhatikan oleh lebih banyak penonton.

Tentang perbedaan perlakuan terhadap Manohara Pinot dan Prita Mulyasari, seorang petinggi dikutip berkelakar (sambil mencolek sambal rujak), “Itulah bedanya jelita dan jelata.” Guyon? Dari seorang pejabat pemerintah di depan wartawan yang mewakili publik?

Saya tak mengikuti kabar Manohara di televisi maupun di internet (termasuk blog). Info yang saya dapatkan, tanpa saya minta, adalah terusan cerita sejumlah orang yang merujuk ke televisi dan internet.

Maka marilah kita lirik hasil temuan di Google tadi pukul 01.36. Untuk Manohara Pinot adalah “734.000 for manohara pinot. (0.17 seconds)“. Sedangkan untuk Prita Mulyasari adalah “9,540 for prita mulyasari. (0.08 seconds)“. Jomplang banget.

Adapun di Google Trends, peringkat empat wilayah Indonesia yang terbanyak, per hari ini 01.37, adalah Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jakarta Raya.

Sudahlah, jangan gusar. Bagaimanapun televisi itu raja. Pesawat televisi juga ada di gerobak rokok. Cara mencerna siarannya relatif lebih mudah disambi bilang dibandingkan tayangan internet melalui laptop dan desktop.

Internet? Pengguna lebih sedikit daripada penonton TV. Dari sekitar 25 juta pengguna di Indonesia (Mei 2008), ada 2,45 juta yang ikut Facebook. Nah, dari yang di Facebook itu, 80.000 lebih ikut Cause dukungan untuk Prita. Dan jangan lupa: kasus Prita, yang menuai pemerkaraan perdata dan pidana dari RS Omni International Tangerang bermula dari internet — dan tak semua pengguna internet tahu atau hirau pada awal kasus.

Kembali Manohara: gurauan sang petinggi mungkin ada benarnya. Memang sih Prita bukan jelata. Untuk kondisi Indonesia saat ini orang yang bisa memakai internet, punya asuransi kesehatan, dan memakai layanan rumah sakit swasta bergedung bagus, jelas bukan orang miskin.

Manohara cantik, mewakili dunia impian sebagian orang (ber-uang, glamor, bersuamikan pangeran kaya), lalu mengalami perlakuan buruk, dan seterusnya. Dengan atau tanpa remah dramatisasi, itu sudah bisa menarik perhatian orang. Semua orang juga tahu.

Hanya saja soal begituan kadang sulit diakui secara terbuka oleh penyuka berita tentang Manohara karena sebagian orang, entah kenapa, cenderung malu kalau ketahuan mengikuti gosip dan infotainment (jawaban aman: “yah kadang aja sih nonton…”) — padahal tayangan gosip di layar beling itu bukan sajian pornografis haram jadah kan?

Nah, dalam konteks ini guyon Pak Petinggi ada benarnya. Sebagai si teraniaya, Manohara lebih menarik ketimbang TKW korban kekerasan manjikan. Malu atau tidak, orang media (terutama hiburan) juga sadar nilai Manohara dalam kelayakan berita.

Sedangkan soal perhatian terhadap Prita, seorang ibu rumah tangga (yang sangat jarang berinternet) bilang, “Kesannya kok orang-orang yang pake internet itu sok, soalnya lebih duluan tahu soal Prita, lantas ngelecehin yang cuma nonton tivi. Ya salahnya tivi juga kenapa nggak dari dulu kasih info soal Prita.”

Saya tak tahu apakah netters, terutama yang tak doyan infotainment, itu memang sok, belagu, merasa lebih well informed, dan lebih peduli. Toh nyatanya, tak semua bloggers, termasuk saya, membahas Prita lebih awal seperti halnya, untuk sekadar contoh, Iman Brotoseno pada 18 Mei 2009.

Adapun perihal Manohara, info awal tentag dia yang ada di blog antara lain di JakartaSocial. Posting 30 April tahun lalu itu hingga kini masih menuai komentar, bahkan sampai pagi ini sudah terkumpul 1.775.

Yah, inilah salah satu potret dunia media dan masyarakat kita. Maka janganlah gusar jika ada orang yang punya pertanyaan kurang ajar, “Kalo misalnya yang pertama kali mengalami kasus Ibu Prita itu Manohara atau seleb bening lainnya, bakal lebih gede nggak gaung pemberitaannya?”

© Ilustrasi: unknown


Mari Menghindar dari Internet

Dec 2008
13

Ehm, judul dan sekaligus pertanyaan yang aneh. Jawabannya juga berupa tanya balik: apakah mungkin?

Boleh saja kita tidak menggunakan internet dan tak peduli dengan itu. Lalu cobalah minta tolong Pak RT atau Bu Minah penjual nasi uduk untuk mencari nama kita di Google.

Jika nama kita ada dalam hasil pencarian, maka bolehlah Bang Ojek dekat portal akan berseru, “Selamat datang di rimba internet!”

Internet telah menjadi belantara teks dan belukar informasi. Halaman web bisa memuat apa saja, termasuk nama kita. Bahkan tanpa saya inginkan, seseorang memasukkan titik rumah saya pada sebuah peta online hasil foto udara (satelit). Bukan nama saya yang masuk melainkan nama anak-anak saya.

Tanpa kita inginkan, informasi tentang diri kita bisa tersimpan di internet. Menjadi ketua panitia tujuhbelasan dan dikutip di sebuah buletin fotokopian untuk warga, lalu seseorang menyalinnya ke internet, maka nama kita (bahkan tampang kita) akan tersimpan di sana.

Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin asin (bagi yang pernah ngerasain), kita tak mungkin mengelak dari internet. Bung Besar dalam cerita George Orwell (1984) menjelma sebagai sekumpulan bung kecil yang tak kita kenal.

Adakah yang berubah dari kita? Barusan seorang teman saya anjurkan masuk ke Plaxo untuk menyimpan alamat kontak dan agendanya, agar suatu kali bisa disinkronisasikan dengan komputer lain.

Memang Google dan layanan lain pun akhirnya bisa melakukan itu — tapi diskusi kami tetap soal Plaxo. Pada tahun 2000 jejaring sosial belum dikenal, sehingga tampaknya Plaxo lahir terlalu dini. Tak lebih itu hanya personal information manager versi online.

Menurut teman saya, namanya Happy, yang sekarang merasa happy karena sudah menjadikan sejumlah blognya sebagai heritages, orang-orang telah berubah. Katanya, dulu ada kecenderungan orang untuk ngumpet dari internet, tapi sekarang orang ringan saja mengumumkan kehadiran dirinya di alam maya.

Mungkin dia benar. Lihatlah segala layanan online berbasis komunitas. Keterhubungan telah menggiring kita untuk menyatakan diri, dari blogging sampai microblogging. Sulit membayangkan bahwa sepuluh tahun lalu, saat belum ada Plurk, Anda dengan enteng akan mengumumkan diri sedang ngopi sendirian sementara istri Anda ikut bertamak diri dalam pesta diskon gila-gilaan tengah malam di toserba besar.

Apakah internet telah menggelincirkan orang menjadi eksibisionis yang tak sungkan membagikan sebagian dari sisi privat kehidupannya?

Mungkin. Pernah saya baca blog, dari orang tak jelas, yang mengeluhkan perilaku istrinya. Pernah juga saya baca seorang istri, entah siapa, yang menumpahkan serial kekesalan kepada suami melalui blog. Bahkan ada blog yang memuat lalu lintas konflik seorang suami dengan bekas istrinya. Mirip “infotainment” (dalam pengertian Indonesia) tetapi ditulis sendiri oleh pria itu.

Misalkan dia tak menulis, bukan tidak mungkin blog lain yang akan membahas kehidupan rumah tangganya.

Ketika urusannya melebar ke mana-mana, termasuk blog yang membahas keburukan bekas tempat kerja dan bekas sejawat (serta bekas juragan), maka seorang kawan menghentikan niatnya untuk ngeblog. Baginya konten pribadi internet punya sisi yang menggelisahkan.

Persoalannya bukan sekadar domain dan hosting traktiran saya itu tak akan saya perpanjang melainkan soal kenyamanan bagi dia. Justru itu yang lebih wigati.

Mungkinkah dia menghindar dari internet, khususnya penerbitan pribadi yang bernama blog?

Dia penulis yang baik. Karyanya yang ilhami (inspiring) malah disalin oleh orang lain untuk sebuah blog.

Dengan segala sesal baiklah kita akui bersama bahwa kita tak dapat menghindar dari internet padahal kita mempersetankannya.

© Ilustrasi tentang Andy Warhol: tak diketahui


Setelah Alamat Siswa Kemudian KK, KTP dan Surat Nikah?

Oct 2008
11

Percuma saya menjelaskan kepada anak-anak saya yang masih di bawah umur agar hati-hati dalam mengungkap identitas di internet. Misalnya alamat rumah. Kenapa? Lihatlah yang dilakukan oleh Depdiknas. Sungguh amat sangat mendidik nian: mengumumkan identitas 36 juta siswa, termasuk tanggal lahir dan alamat rumah. Seluruh data siswa Indonesia, sejak SD sampai SMA (sampai siang ini 36.782.605 anak) bisa diunduh sebagai berkas Excel.

Unsur “dik” dalam akronim “depdiknas” adalah “pendidikan”. Pastilah dalam lembaga itu isinya para ahli pendidikan sehingga tahu apa artinya konten yang mendidik. Termasuk dalam konten yang mendidik itu adalah privasi dan keamanan si empunya nama. Maka melalui sajian info itu saya menjadi warga yang sedang belajar memahami pendidikan. Tepatnya pendidikan versi diknas yang supercerdas.

Saya mendapatkan kabar ini dari Budi Putra. Dia sudah meneropong masalahnya di blognya dengan tajam: “Stupidity in the New Media Era“. Blogger lain, misalnya Treespotter, menulis “This is very serious and one wonders why the Ministry done it in the first place.” Adapun Fajar Jasmin menyatakannya dengan tajuk “This Could be Stopped“.

Sudah jelas kan pesan mereka? Saya tak perlu mengulanginya. Saya hanya khawatir data itu akan ditambah dengan nomor telepon semua anggota keluarga, gambar KK dan KTP orangtua, nomor rekening bank, NPWP, surat nikah, dan informasi lain yang menurut negara harus dipublikasikan.

Saya berlebihan? Maafkan kenaifan saya. Maklumlah saya bukan ahli pendidikan apalagi ahli internet.


Semua Menjadi Pewarta, Lantas Mana yang Bisa Dipercaya?

Oct 2008
06

Heboh pekan lalu tentang “serangan jantung yang dialami Steve Jobs” itu sudah reda. Harga saham Apple Inc. sempat turun 5,4% karena lontaran kabar di iReport.com, situs “jurnalisme warga” (yang berslogankan “Unedited. Unfiltered. News”) milik CNN itu.

Kalau kabar bohong itu munculnya di blog utama saya tentu tak akan dipercaya, bahkan misalnya saat itu saya sedang berada di Cupertino, kota Apple di California, sekalipun. Cuma gombalan mirip igauan kenapa dihiraukan? Akan tetapi ini menyangkut nama besar media: CNN.

Mantera bernama partipasi dan kolaborasi

Begitulah yang terjadi sekarang. Blog sebagai sebuah penerbitan personal akhirnya dilirik oleh penerbit media. Partisipasi dalam penyajian informasi mulai mendapat tempat yang lebih luas dan lebih lekas melebihi apa yang bisa disediakan oleh kapling surat pembaca.

Bentuk awal partisipasi, untuk kontrol dan pengimbang, adalah penyediaan kotak komentar dalam setiap berita di koran online.

Internet telah memberikan kebaruan: respon yang cepat dari pembaca, dan jika tidak dimoderasi akan langsung terbaca oleh khalayak ramai maupun sepi, bahkan mungkin si jurnalis penulis berita tahunya belakangan. Perkecualian berlaku untuk jurnalis yang selalu bangun dari tidurnya setiap kali gadget-nya melaporkan komentar masuk pada pukul dua pagi.

Kemudian mainstream media pun menyediakan blog. Mulanya untuk orang dalam, seperti yang dimulai oleh USA Today. Urusan beginian pernah saya percandakan sebagai blog dinas yang hanya menambahi pekerjaan.

Oh, tak hanya menambahi pekerjaan melainkan juga merepotkan. Sudah menulis untuk koran atau majalah sendiri, secara by line tapi sekaligus (akan tercitrakan) sebagai cerminan haluan penerbit, eh… masih membuat kolom tambahan yang merupakan opini pribadi tapi tidak bebas juga karena blog tetap menjadi subdomain atau folder dari situs kantornya. Sudah begitu tanpa tambahan gaji pula.

Ibaratnya, (sebagian) khalayak akan membedakan pepihnugraha.com dan pepihnugraha.kompasiana.com.

Kemudian pintu partisipasi dibuka lebih lebar. Media yang punya web menampung laporan dari masyarakat, baik berupa foto, video, maupun tulisan. Atas nama kecepatan dan sekaligus kepercayaan (juga: kontrol oleh masyarakat), orang luar boleh langsung mengeposkan ceritanya.

Maka muncullah produk media hasil kolaborasi. Isi tak hanya disusun oleh editor melainkan juga diperkaya, bahkan bisa didomininasi, oleh orang luar kantor.

Editor bukan lagi si serbatahu karena pembaca, melalui internet, juga mendapatkan akses yang sama terhadap sumber informasi — sejak siaran kantor berita sampai ensiklopedia. Bahkan pembaca bisa memproduksi informasi sendiri dari pengalamannya dan sumber-sumber yang dapat diaksesnya.

Ini pun sebetulnya tak terlalu baru. Radio sudah melakukannya. Salah satu hasil di luar laporan lalu lintas adalah kesaksian pendengar saat Kerusuhan Mei ‘98 di Jakarta. Cerita via telepon yang diudarakan Radio Sonora, berdasarkan apa yang dilihat maupun didengar seseorang, menjadi warta bagi khalayak.

Baiklah, itu karena situasi darurat; informasi kadung simpang siur dan radio (waktu itu mobile internet dan microblogging belum ada) adalah media yang efektif. Serupa zaman Soeharto ketika penerbitan bawah tanah menjadi sexy karena bisa memberikan alternatif tabu di luar media ber-SIUPP, sementara media cetak impor disensor.

Adapun televisi kita, tapi masih dalam kerangka peyuntingan, sudah pernah memperkaya isi dengan video kiriman pemirsa — meniru America’s Funniest Home Videos. Kemudian yang lebih newsy dan monumental muncul: video tsunami di Metro TV.

Pada kasus video kiriman di TV, media telah memformat sebuah konteks. Video yang tertayang hadir melalui proses editorial, bukan asal tayang tanpa jadwal juragan seperti di YouTube.

Kearifan khalayak

Apakah semua yang disampaikan oleh pendengar radio, dan kemudian netters, itu faktual? Misalkan faktual, apakah sudah dengan sendirinya memenuhi kaidah jurnalistik — sejak pencarian, perolehan, sampai penyajian berita?

Di sisi lain bisa juga muncul pertanyaan: apakah laporan yang disampaikan oleh warga biasa, bukan oleh jurnalis, harus disusun menurut standar kerja jurnalistik, lengkap dengan etika profesinya? Bukankah media dan penulisnya bisa memanfaatkan kontrol oleh khalayak sebagai bagian dari “wisdom of the crowd“?

Bisa juga muncul ledekan: memangnya yang disajikan oleh jurnalis media selalu benar? Setiap media punya rubrik tidak tetap yang bernama “Ralat” — tetapi yang tak diralat belum tentu benar.

Jadi, bagaimana dong? Aha! Mari berdiskusi. Pendekatan saya terhadap masalah bisa jadi salah. Begitu pula klaim lama saya ketika awal ngeblog dengan nama asli dan domain sendiri: “Blog ini Bukan Halaman Jurnalistik“.

Soal lain masih ada. Jika terjadi kesalahan atau apapun yang berarti masalah dari sebuah komentar dan tulisan dalam blog di portal milik media, dalam batas apakah penerbit (editor) turut bertanggung jawab? Cukup dengan disklaimer?

Beberapa kali seorang jurnalis, warga Tengerang, menolak meng-update langsung sebuah blog kolaboratif yang berisi opini. Mulanya dia selalu mengirimkan naskah via e-mail ke admin. Dia beralasan, “Sesuai kelaziman dan standar media mana pun bahwa semua naskah harus melalui editor.”

Di sini, blog Kompasiana, saya menulis langsung tanpa campur tangan editor. Misalkan apa yang saya tulis itu muncul di versi cetak Kompas, pasti akan tersunting. Setidaknya kata “internet” akan menjadi “Internet” (”i” kapital).

Di sini semua langsung lolos. Sebagai itikad baik dan bentuk pertanggungjawaban, saya memasang semacam disklaimer. Yang maksimal dapat dilakukan penanggungjawab Kompasiana adalah menghapus tulisan saya, tetapi ada kemungkinan tembolok Google sudah menyalinnya.

Ada saja hal baru di internet. Atau tak baru, hanya berganti rupa? Sekadar meneruskan tembok demokrasi, yang siapa saja boleh menempelkan pamflet, dan suatu saat pemilik tembok bisa melepasnya?

Ketika blog, atau apapun namanya kelak, kian banyak sehingga internet menjadi belantara teks, maka kearifan (atau kewarasan?) kita dalam memperlakukan informasi selalu diuji. Ini mengasyikkan.

© Sumber gambar worth1000.com (contoh media kolaboratif)


Talangan US$ 700 Miliar untuk Kerupuk

Oct 2008
03

Jadi uang segitu itu berapa banyak? Bisa beli apa saja? Cuma tujuh kalinya gabungan PDB seluruh Afrika? Cukup untuk memborong 3,5 miliar buah iPhone — atau membeli empat perusahaan Apple Inc. (menurut Brad Reed di ComputerWorld)?

Jika menyangkut angka, pertanyaan awam seringkali naif. Dalam banyak urusan saya juga awam seperti anak-anak sekolah. Kalau gurunya tak siap, pertanyaan lugu ini bisa dikira mengetes.

Yang saya maksudkan adalah rencana talangan US$ 700 miliar pemerintah AS untuk menyelamatkan sektor finansialnya. Bagi ekonom, bankir, dan desk ekonomi, soal angka pastilah langsung menjadi variabel dalam formula penghitungan akibat. Sosok angka US$ 700 M (miliar, bukan million) sudah terbayangkan.

Bagi pembaca umum? Jika menyangkut angka, maka magnitude yang kelewat besar akan cenderung jauh dari pengandaian. Magnitude berhubungan dengan pengalaman dan kepentingan.

Kalau angka menjadi terlalu asing maka yang utama bagi pembaca adalah moral ceritanya. Yang pertama adalah akibat terdekat: bakal memengaruhi keuangan kantor dan juragan saya atau tidak. Yang kedua, kalau mau sedikit sok tahu, adalah kesimpulan tentang berbahayanya keuangan sebuah bangsa dan negara di tangan korporasi besar.

Lantas? Sejauh saya tahu tak semua media bersedia memintarkan pembacanya. The Jakarta Post (edisi cetak, belum di-online-kan) pagi ini masih bersedia, dengan merujuk beberapa sumber. Misalnya, selama terlibat perang di Afghanistan sejak 2001, AS telah menghabiskan US$ 800 M.

Talangan US$ 700 M itu bisa dilunasi oleh 12 orang Bill Gates — dengan catatan semua aset sudah diuangkan. Jika seperti jembatan keledai pada paragraf pembuka (tentang PDB Afrika), lantas PDB rata-rata berapa, dan berapa itu PDB-nya Indonesia?

Zaman kliping kertas sudah meluntur. Buku saku Atlas Bank Dunia sudah ada PDF-nya. Banyak data yang sekarang dapat diakses oleh khalayak melalui internet. Akan tetapi itu bukan alasan bagi orang-orang koran untuk membuat jembatan keledai, bahkan misalnya khalayak sasarannya adalah kaum urban kelas menengah ke atas.

Besar atau kecil, angka hanya akan berarti jika punya konteks. Termasuk dalam konteks adalah perbandingan. Dagelan rakyat kesrakat mempertanyakannya sebagai, “Duit segitu bisa buat beli kerupuk berapa banyak?”

Ya, berapa banyak? Saya tak sanggup menghitung. Saya hanya tahu harga eceran selembar (?) kerupuk itu Rp 500. Kalaupun saya bisa menjawab, maka murid cerdas seperti Lintang, anak nelayan dalam film Laskar Pelangi, bertanya, “Apakah terigunya cukup?”

© Ilustrasi: blogombal.org


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.