antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Posts tagged ‘kuota kata’


100 Kata | Ujian Sekolah: Menguji Banyak Hal

Mar 2010
25

ujian sekolah adalah tali gantungan untuk semua orang

Apanya yang diuji? Kita semua.

Kita yang maunya lulus apapun caranya, dengan jawaban yang diyakini realistis: “Habis sistemnya gitu, kita mau apa?”

Entah apa yang disebut sebagai “sistem“. Mungkin berikut ini. Murid ingin naik jenjang sekolah. Guru ingin dianggap berhasil memintarkan murid. Pemda berkepentingan dengan gengsi wilayah. Apapun caranya. Ujian nasional maupun lokal. Pakai konversi nilai yang mengorbankan anak pintar atau tidak. Yeahhh… mantera utamanya adalah “pokoknya lulus”.

Maka polisi selalu dilibatkan dalam ujian. Densus88 pernah menyerbu ruang guru.

Ternyata ketidaklulusan adalah bencana bagi semua pihak. Saya tak tahu apakah menteri pendidikan negeri lain dibikin pusing oleh ujian saban tahun.

Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber foto praolah dari Adam Hart-Davis/The New York Times


100 Kata | Obamah, Amerikah, Terserahlah

Mar 2010
19

obama dan propaganda kedubes amerika

Obama batal datang.  Tapi lebih penting ini: teman saya yang mirip Obama itu, Ilham Anas, kapan pun saya harapkan tetap sehat dan suka memotret.

Saya termasuk yang tidak suka dengan kemenduaan Amerika, misalnya terhadap Palestina. Juga penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. Masih ditambah Guantanamo.

Saya pun memahami ketidaksukaan sebagian orang terhadap propaganda Kedubes Amrik Jakarta, misalnya yang di  Facebook itu. Bagaimana kalau yang anti-Amrik juga memanfaatkan Facebook, yang Amrik punya, itu untuk mendukung para (kepala) negara pelawan Amrik? Ndak masalah.

Kalau lawan punya angkot, tumpangilah. Ini soal taktis, bukan pasal malu. Ngapain beli angkot sendiri kan? Gitu aja kok repot.


100 Kata | Rokok, Fatwa, Bloomberg, Bloggers

Mar 2010
16

merokok itu tidak baik

“Gimana nasib rokok tahun depan?” tanya pelaku bisnis komunikasi itu tahun lalu.

Sok tahu saya katakan iklim akan kian menjepit, tapi orang masih akan merokok, dan di lingkungan bloggers yang gemar kopdar belum ada pengucilan terhadap perokok.

Lantas keluarlah fatwa mengharamkan. Dan ramai tersiar peran Bloomberg melalui jaringan kerjanya. Lalu?

Saya perokok –  kadang banyak, kadang sedikit — dan dua hari ini tidak merokok karena tidak ingin, tapi entah besok. Dalam opini saya, pertarungan dengan gelontoran duit, didukung Bill Gates pula, itu wajar. Mereka mencoba mengimbangi gerilya berdasawarsa industri tembakau.

Akankah perang berpindah ke media sosial dengan memanfaatkan influencers? Mari kita lihat.

Di luar 100 kata | ©Ilustrasi: sumber foto Universitas Guelph


100 Kata | Hari Berganti Ketika Kita Tidur Malam

Mar 2010
16

matahari terbenam di padang rumput

Apa anehnya? Justru karena itu! Saya tahu bahwa selepas 23.59.59 itu satu hari berakhir dan hari baru berawal.

Tapi kalau saya tidak tidur, apa pun yang terjadi sebelumnya, bahkan belasan jam sebelumnya, selalu saya sebut “tadi”, bukan “kemarin”.

Dan kapan saya akan melakukan ini-itu setelah hari terang saya sebut “besok” — bukan “nanti”. Gelap, hitam, adalah malam. Bukan bagian dari esok.

Untunglah belakangan ini sudah berkurang karena saya sering dikoreksi. Tapi saya tetap berpikir satu hal: kesadaran pergantian hari didapat akibat tidur saat gelap dan bangun saat terang. Karena banyak yang melakukannya maka disebut “normal”.

Padahal yang lumrah belum tentu benar kan?

Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber foto dari PraisePhotography


100 Kata | Media Sosial dan Keapabolehbuatan :)

Mar 2010
15

zebra di padang rumput -- emang mangsudnya apa?

Ketika Facebook dan Twitter belum mendemam, banyak orang tak punya alasan untuk memiliki ponsel pintar. Berinternet cukup di komputer, kalau perlu  di desktop kantor.

Kini yang terjadi di internet hanyalah kepanjangan adab gaul keseharian. Tak ada maya maupun nyata. Etika komunikasinya pun sama. Bedanya, internet mencatat semuanya.

Maka penagih utang cukup memantau Twitter dan Facebook, lalu berpesan, “Jgn boong, Bos. Gak pny duit tapi hangout mulu?” Menjadi masalah ketika pesan itu terpampang di public timeline.

Dan seorang pelacur menulis terbuka untuk pesaing, “@kemayuelekwagu: teganya km merebut kustomerku @maskementhusmlekenthus!

Bukan salahnya internet, tapi salahnya kerancuan kita dalam beretika dan beretiket. Ehm.

Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber gambar dari Birdart


100 Kata | Twitter: untuk Haiku sampai Wawancara

Mar 2010
15

twitter untuk wawancara terbuka dan langsung, plus kolaboratif

Untuk menulis wasiat sebelum ajal pun bisa. Itulah Twitter.

“Ada contoh lagi? Yang bermanfaat selain pamer?” tanyamu.

Semua kicauan di Twitter itu berfaedah — setidaknya bagi si pengicau, meski orang lain menganggapnya peracau. Maka bisnis pun memanfaatkan Twitter sebagai pelengkap media sosial lainnya, misalnya Nona Dumin itu. Politik memanfaatkan. Polisi lalu lintas juga.

Untuk hahahihi juga bisa.  Misalnya #jadultrivia yang nostalgis.

Next?

“Cobalah bikin #idhaiku. Semaumu. ‘Gajah tertawa, rembulan tersedak. Cintaku tamat, kolam pun keruh.’

Next?”

Karmin bisa bikin serial wawanceriwis di #wwcrws. Tanyai Enda: satu, sejak kapan piara jenggot.; dua,  kapan belajar kebatinan. Hasilnya bisa dirangkum jadi posting di blog.”

Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber foto AVChicago


100 Kata | Malam Kelam di Warung Temaram

Mar 2010
12

pitoresmi pujiningsih di wetiga dinihari

Sudah pukul setengah satu dini hari. Aku keluar, ke halaman sebelah, hanya bersarung, berbaju tanpa kerah. Tak jadi memesan teh jahe. Warung sudah berkemas. Heru dan Triman, dua pengelola, memberesi peralatan di belakang.

Tinggal satu tamu tetap. Masih duduk. Sendirian. Mungkin sedang klik terakhir dari MacBook-nya. Meja tinggal satu. Aku seperti melihat pentas. Aku ambil kamera saku dari ruang kerja.

Begitu kembali, bloking pentas sudah berubah. Sripanggung, Pujingsih, tak lagi sendirian. Dia berdiri. Heru sudah ada, mengangkat bangku.

Tetap kujepret. Catatan waktunya “3/12/2010 12:33:22 AM”.

Dulu malam adalah telaga penenggelam orang dalam buku dan lagu. Kini internet menjadi tasik penenggelam orang nokturnal.


100 Kata | Bahasa Indonesia yang Kadang Kita Tertawakan

Mar 2010
11

Gmail versi bahasa Indonesia

“HP yang aneh,” gerutunya.

Dia canggung menggunakan ponsel baru yang bermenukan bahasa Indonesia. Ketika bahasa diubah ke Inggris maka semuanya gampang.

Tidak hanya ponsel. Cobalah Firefox,  WordPress, dan Gmail berbahasa Indonesia. Sebagian dari kita malah kikuk, setidaknya pada permulaan. Seringkali harus tek-tok menebak bahasa Inggrisnya dulu baru paham.

Lama kelamaan kita toh terbiasa. Lagi pula proses pengindonesiaan terus berlangsung, sehingga “month sebagai mulut” dan “word(s) sebagai huruf” takkan terulang.

Kita tergeli-geli karena kita terbiasa dengan menu bahasa Inggris. Tapi Abang Sayur dan Kang Kernet langsung nyaman dengan menu Indonesia sejak awal memiliki ponsel. Maka ada saja angkot ber-”Pesan Terkirim“.


100 Kata | Lumpur Kubang Korupsi

Mar 2010
10

kerbau di tei sungai, bukan di kubangan dekat sawah

Korupsi itu isu basi. Kita kadung terbiasa, setidaknya sebagai penonton dan korban.

Kabar korupsi hanya menarik jika magnitudonya besar, menyangkut angka raksasa; jika prominensinya tinggi, melibatkan kaum bernama. Setelah itu kita lupa karena banyak urusan dalam kehidupan.

Membaca Tempo pekan ini, tentang korupsi di lingkaran KPK, kita cuma mengernyitkan dahi, tersenyum kecut. Tak ada yang bersih di republik ini, begitu kata orang di warung.

Aja cedhak kebo gupak,” kata pepatah Jawa. Jangan berdekatan dengan kerbau berlumang lumpur.

Itu sulit. Kita sendiri  mungkin tak begitu bersih, sudah sebisanya menjauh, tapi tetap tepercik.

Masih bagus kalau tepercik rezeki, bukan terciprat masalah. Blah!

Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber foto dari Lion’s Den, Kerbau-scape


100 Kata | Siesta atawa Tidur Siang

Mar 2010
10

siesta atawa tidur siang adalah kemewahan

Masih ada. Terutama di luar Jakarta. Toko-toko lama yang siang sampai sore tutup. Pemiliknya beristirahat. Begitu pula pegawainya.

Makin jarang terdengar. Anak-anak Ibu Kota yang melarikan diri dari tidur siang. Sekolah dan kegiatan membuat mereka sibuk dari pagi buta hingga petang. Anak mengelabui orangtua soal tidur siang hanya cerita masa lalu.

“Orang yang suka tidur siang itu pemalas. Nggak produktif,”  katamu.

Mungkin saja, kataku.

“Siesta itu sebuah kemanjaan semu, orang cuma buang waktu buat tidur. Menyedihkan,” katamu lagi.

Kemanjaan? Tepatnya kemewahan. Tidak setiap orang memiliki kesempatan itu secara terang-terangan, bukan mencuri-curi, tanpa mengganggu sistem pelayanan.

Berbahagialah orang yang punya siesta.

Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber gambar Wikipedia, “Sleeping Man in Ouagadougou


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.