antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Posts tagged ‘jejaring sosial’


Kembang Apakah? Semoga Terjawab

May 2010
26

Barusan saya memposting foto kembang ini di Memo, salah satu blog saya. Isinya berupa pertanyaan dan catatan. Kemudian saya ulangi di Twitter. Dalam sebentar sudah ada jawaban, misalnya dari seorang narablog  dan pengguna Twitter yang kebetulan biolog. Nama aslinya Rudyanto, tenar sebagai @mbilung. Besok, setelah tulisan itu secara otomatis terunggahkan ke Notes-nya Facebook, saya berharap mendapatkan jawaban perihal nama kembang.

Yah, begitulah. Sebagian dari kita, terutama saya, ternyata kurang mengenal nama tanaman. Terhadap daun yang saya pungut untuk pembatas buku pun saya tak tahu namanya.

Anak-anak saya juga tidak tahu. Mereka menjadi korban dari ketidaktahuan dan terutama kelelalaian saya yang kurang memperkenalkan aneka jenis tumbuhan dalam keseharian. Tentu saya punya dalih pembenar bahwa itu terjadi karena di pekarangan saya tak ada pohon tanaman keras. Yang ada hanya beberapa pot tanaman hias.

Kebun Raya Bogor, Taman Bunga TMII, dan Taman Buah Mekarsari tentu bagus untuk pendidikan lingkungan. Tetapi itu hanya insidental, bukan sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari maupun pengalaman literer. Pada beberapa negeri saya sering mendapatkan jawaban jika menanyakan nama tetmbuhan. Beberapa penjawab tak selalu melihatnya dalam keseharian mereka, tetapi buku pelajaran membantu mereka mengenali tanaman hingga dewasa.

Google, Wikipedia, Media Sosial

“Tanyain aja ke Mbah Gugel,” begitu saran banyak orang setiap kali kita ingin tahu sesuatu. Jika ingin info yang lebih lengkap, bukalah Wikipedia berbahasa Inggris maupun Indonesia, bergantung pada konteks.

Tetapi nanti dulu. Dalam kasus kembang, sampai saat ini setahu saya belum ada aplikasi di web yang langsung dapat menerka sesuatu berdasarkan gambar. Padahal yang saya butuhkan adalah nama benda. Kalau nama sudah saya perleh maka urusan selanjutntya mestinya mudah.

Yah, kita memang membutuhkan  aplikasi macam itu, serupa aplikasi penebak judul lagu yang dijanjikan oleh ponsel bersistem operasi Android: cukup dari suara satu bar lagu maka titel akan tertebak…

Jalan pintas untuk mengetahui sesuatu adalah  dengan memanfaatkan media sosial. Misalnya TanyaSaja, Kaskus, Yahoo! Answers, What is what, dan Ask.com. Masalahnya, belum tentu aktivis media sosial yang tercontohkan itu (kecuali TanyaSaja dan Kaskus) dapat langsung menjawab karena latar belakang pengalaman, termasuk faktor geografis tempat mereka hidup.

Cara lain tentu saja memasuki media sosial dan jejaring sosial yang ramai, yang anggotanya saling berbalas. Misalnya Twitter. Akan lebih bagus jika memanfaatkan beberapa pemengaruh (influencers) dengan menanya mereka. Misalnya @ndorokakung, yang hingga hari ini sudah diikuti 11.804 rang. Jika dia cocok, maka lelaki yang bernama asli Wicaksono itu akan melakukan retweet sehingga dalam sekejap pertanyaan kita tersebar.

Dalam urusan beginian, guru dan murid sama saja. Sama-sama belajar dari lingkungan sosial masing-masing melalui internet. Bukankah anak-anak pun mengerjakan PR dengan memanfaatkan direct messages pada Twitter? ;)

Pengenalan terhadap sekitar

Di luar urusan pemanfaatan media sosial sebagai sarana belajar, jika merujuk kasus kembang dan daun yang tak kita kenali tadi apakah yang sesungguhnya terjadi?

Jika Anda guru bahasa Indonesia, tengoklah karya tulis murid dari tingkat apapun sesuai kelas yang Anda pegang. Berapakah yang mampu membuat deskripsi vegetatif dengan lengkap sesuai tingkat usianya? Jangan-jangan banyak yang hanya menyebut “daun”, “pohon”, dan “bunga”, tapi tanpa keterangan. Jangan-jangan pula guru tak menanyakan soal itu kepada muridnya.

Deskripsi memang menyangkut keterampilan menulis, dan keterampilan menulis merupakan turunan kemampuan verbal. Tetapi di luar urusan teknis, keterbasan deskriptif seringkali merupakan akibat dari kekurangmampuan mengenali hal-hal di sekitar diri seseorang. Hanya menyebut “angkot” dalam cerita tanpa penjelasan itu Metromini atau Mikrolet tentulah kurang lengkap.

Berapa banyak dari kita, di Jakarta, yang sejak dulu tahu bahwa Menteng, Bintaro, Langsat, dan Salihara, adalah nama-nama tempat yang berasal dari vegetasi?

Internet memberi banyak peluang kepada kita untuk belajar.Bukan hanya menimba tetapi juga menuang isi. Belum pernah ada media dan tekonologi sedigdaya itu dalam peradaban sebelum sekarang.


Saatnya Sekolah Lebih Memanfaatkan Media Sosial

May 2010
12

media sosial untuk sekolah

Ketika tempo hari internet menjadi gerah karena isu penghinaan terhadap Islam oleh seorang remaja yang mengatasnamakan sebuah sekolah Katolik di Bekasi, saya segera menulis dalam blog SeratusKata: public relations itu penting.

Tidak, saya tak mengajak berdiskusi soal agama di sini. Saya hanya mengingatkan bahwa sekarang zamannya media sosial. Media yang isinya dibentuk oleh para pengguna, bukan oleh redaksi seperti di koran.

Dalam kehidupan kita ada blog, Facebook, dan Twitter –– dua yang terakhir mudah sekali dijangkau melalui ponsel. Jika diterapkan ke dalam lembaga pendidikan, maka semakin banyak guru dan murid, bahkan sekolah, yang mencemplungkan diri ke sana.

Ketika terjadi krisis, dan sekolah harus melakukan komunikasi untuk menjelaskan persoalan, maka guru tak perlu menghabiskan waktu untuk Facebook dan Twitter. Yang diperlukan adalah perumusan pesan yang dingin, tidak konfrontatif maupun provokatif, untuk kemudian disiarkan melalui jaringan media sosial yang dimiliki sivitas akademika.

Mereka itu adalah guru, murid, alumni, dan pemangku kepentingan (stakeholders: orangtua murid, orangtua alumni, donatur yayasan, dan lainnya). Mereka menyebarkannya melalui akun masing-masing.

Memang bukan jaminan jika masalahnya adalah SARA, terutama agama, persoalan akan beres. Tetapi dalam krisis, komunikasi harus cepat dan tepat, plus jernih tidak emosional.

Tanpa klarifikasi, yang tentu saja sepihak, maka masyarakat akan menganggap apa yang dituduhkan itu benar. Tetapi setidaknya ada dokumentasi yang dapat diakses oleh publik tentang penjelasan suatu hal.

Sekolah adalah lembaga yang menampung kepentingan masyarakat. Dalam lingkup yang kecil adalah menampung amanat orangtua siswa. Di zaman media terbuka, sudah bukan saatnya lagi sekolah berdiam diri. Misalnya jika ada kabar kekerasan dalam inisiasi (ospek), kekerasan oleh guru, skandal nilai, dan sejenisnya yang negatif.

Kepala sekolah akan kecapaian jika berulangkali harus memberi keterangan kepada reporter koran, radio, televisi, dan situs berita. Memang harus dilakukan tetapi tim guru sebaiknya juga memanfaatkan media daring (online) untiuk menjelaskan. Apa yang sudah dimuat oleh media umum, dari TV sampai situs berita, belum tentu dibaca semua orang. Juga belum tentu hasil penyuntingannya memuaskan. Media sosial memberi kesempatan untuk menampilkan diri lebih utuh. Misalnya melalui blog sekolah.

Tidak bisa lagi sekarang ini sekolah hanya bersikap, “Yang penting kami tahu mana yang benar. Biarlah sejarah yang kelak membuktikan.”

Sebagai keyakinan, itu memang keren. Tetapi mesin pencari, misalnya Google, Bing, dan bahkan Topsy, mencatat apa yang dilontarkan oleh banyak orang. Tanpa klarifikasi berarti (dianggap) benar. •••


Status: di Mana, Lagi Ngapain. Kebutuhan Orang Modern…

Oct 2009
12

Maka berkembanglah layanan penerbangan. MySkyStatus. Telepon dari kabin, yang mahal itu, sudah dianggap ketinggalan. Inilah era media sosial dan jejaring sosial. Setiap orang memilih informasi yang cocok, langsung dekat dengan kepentingannya, bahkan ikut mengisi. Yang ngeselin adalah kian menipisnya privasi. Penumpang lain akan melaporkan bahwa Anda di pesawat yang sama. Memang ada gunanya sih, misalnya terjadi kecelakaan pesawat atau peracunan oleh intelijen, maka sejumlah kesaksian (termasuk kesaksian palsu) bisa dititik dari status. Demikian pula penumpang yang tak terangkut karena, misalnya, tertidur di Bandara Frankfurt.

Share/Bookmark


Mengolok Twitter

Oct 2009
06

Yah  begitulah menurut “analisis” si pembuat yang dilandasi semangat hahahihi. :D

Share/Bookmark


Facebook di Ruang Siar

Sep 2009
06

Setelah internet masuk ke studio radio sebelas tahun belakangan ini,  akhirnya kini makin jamak saja jika penyiar mengudara sambil memantau situs jejaring sosial dan microblog. Facebook menjadi keharusan, apalagi jika stasiun tersebut memiliki halaman di FB.


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.