Pagi tadi sekitar pukul 6.20 (10 menit sebelum bel masuk kelas), seorang anak lahap sekali sarapan lontong sayur di depan sekolahnya, di Gandaria, Jakarta Selatan. Waktu kecil saya tidak mengalami seperti ini, sarapan di warung, karena dari rumah sudah sarapan, lagi pula sangu saya terbatas.


Bisa habis sepertiganya saja sudah hebat. Nasi putih, buntil, tempe, gembus, kepala bandeng . Tambah es buah. Pasti mblenger. Kalau doyan pete juga tersedia barangnya. Cerita dari jajanan lesehan di Jakarta Selatan, buka pukul 22.00-01.00. Kok pakai “titik-nol-nol”, emang tepat? Nggak. Oh ya ada sedia sayur tumpang (atau sambel tumpang?) bagi yang doyan — saya sih nggak.

Akibat pelebaran jalan maka batang pohon beringin ini dikelingi oleh lapisan aspal. Jakarta kian sesak, dan dalam praktiknya pelebaran jalan adalah untuk menambah ruang bagi on street parking, seperti di Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan.

Hanya niat baik masyarakat sehingga sejauh ini lampu merah (ada kuning dan hijaunyasih) di Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, itu tak diganggu. Padahal kabelnya bisa diakses siapa saja.
