Ada yang aneh dari bidak-bidak ini. Yang bergelimpangan hanya yang putih, sementara yang hitam tetap berbaris, komplet (ada yang tumbang juga sih). Bidak putih itu disisihkan oleh seorang tamu kedai kopi agar dia punya kapling untuk menaruh piring makanan dan cangkir minuman. Meja bundar untuk dua orang ini memang sesak karena sudah ada built-in chess board, tapi tak ada laci untuk menyimpan bidak. Sisa ruang hanya untuk cangkir kopi (dan asbak). Bagusnya, begitu tamu beranjak maka pramusaji segera memasang bidak — yang tentu saja tidak asal taruh.


Awal hari, tadi sekitar pukul setengah dua pagi, Taman Ayodya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, masih ada banyak orang. Saya singgah, memesan tahu gejrot. Rasanya biasa. Bukan tahu gejrot sedap yang setelah tahunya habis lantas kuahnya layak diseruput atau disendok. Ah sudahlah jika bicara rasa.
Lebih menarik ini: penjualnya menggunakan styrofoam, bukan piring terakota, untuk menyajikan dagangan — piring tembikar hanya dipakai untuk mengulek cabai. Kenapa styrofoam, inilah alasannya, “Sekali pake aja, Pak. Habis itu langsung buang.” Ya, dia tak perlu berbekal ember cuci yang harus selalu bersih. Tapi justru kekemprohan itu yang kadang menambah sedap.

Coba lihat gambar di bawah ini. Nggak usah lama-lama. Langsung saja ikut kuiznya.

Tentang Helvetica, yang mirip nama prangko Swiss itu (Helvetia), ada riwayatnya di sini. Begitu merasuknya font Helvetica dalam kehidupan sehari-hari sehingga difilmkan.
Bagi kita, origami yang sederhana adalah “pelajaran” waktu TK. Apakah sekarang Anda masih bisa membuat origami? Orang kedai masakan Jepang di Mayestik, Jakarta Selatan, ini masih (baca: harus) bisa. Hasilnya karyanya untuk hiasan meja.

Sambal sebanyak ini disediakan untuk pengudap yang gemar sambal. Mungkin lidah mereka sudah kebal, demikian pula lambungnya. Sebuah cerita dari sebuah kedai makan Sunda di Jalan Otista, Jakarta Timur.


Tanpa sengaja, bersama kedua anak saya menemukan kedai ini di Kalimalang, Jakarta Timur (dekat pertigaan Kranji). Sayang pincuknya diganti alas daun pisang di atas piring. Lumayan. Tempatnya nyaman, bisa buat kopdar blogger Bekasi dan sekitarnya. Ada free wi-fi.

Karena kumpulan kedai seatap ini tak berpintu dan tak berjendela rapat, maka cara untuk tetap menghormati mereka yang berpuasa adalah memasang tirai yang panjang. Sebuah cerita dari Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan.

Beberapa restoran menuliskan cara memakai sumpit pada kertas bungkusnya. Mungkin berguna, mungkin pula tidak. Kalau repot pakai sumpit ya minta saja sendok. Itu hak pengudap. Mas sih, sudah bayar, kok masih dipaksa.

Pagi tadi sekitar pukul 6.20 (10 menit sebelum bel masuk kelas), seorang anak lahap sekali sarapan lontong sayur di depan sekolahnya, di Gandaria, Jakarta Selatan. Waktu kecil saya tidak mengalami seperti ini, sarapan di warung, karena dari rumah sudah sarapan, lagi pula sangu saya terbatas.

Seorang sastrawan meng-SMS saya, “Danarto dapat Bakrie Award 100 juta kok langsung mengundang sejuta orang makan2 — apa nggak langsung miskin lagi?” Yang benar, Danarto dapat Rp 150 juta. Kalau buat nraktir sejuta orang, lha setiap orang dapat makanan dan minuman seharga berapa? Di sebuah tempat, sehari setelah penyerahan hadiah, Danarto (foto: kiri, sedang berbincang dengan Gus Mus), bilang ke saya, “Saya barusan nraktir 30 orang. Masih ada traktiran berikutnya.” Mumpung belum kiamat lho, karena sang sastrawan sufi percaya bahwa kiamat akan datang pada 2012.
