Iklan ucapan selamat ini dari rekanan bisnis ini tidak mencantumkan alamat showroom yang diresmikan. Artinya, itu “urusan domestik” yang dibawa ke publik, lalu pembaca diandaikan sudah tahu. Mirip posting apresiasi antar-blogger dalam blog dan mirip majalah gaya hidup dalam menampilkan sosialita (hanya wajah dan nama). Yang nggak tahu berarti kurang gaul.

Wujudkanlah: karier, kesuksesan, dan teman. Begitu kata iklan di koran ini. Berarti perlu tips and tricks ber-Facebook-ria dan bercicit-cuit di Twitter, karena orang HRD dan head hunter akan menyimak dari internet. Gitu ‘kali ya?


Melawan kebiasan buruk dan ignoransi, sekaligus melakukan penyadaran. Sebuah tantangan kreatif.


Iklan untuk masalah kesehatan, sebaiknya memberi harapan atau menakut-nakuti? Atau gabungan keduanya? Iklan penanganan kanker payudara Siloam Hospitals ini cukup berani. Terutama penampilan model wanita gundul.

Sudah berapa lama pengumuman si bebek terpasang? Nyatanya dia tak kunjung terkenal, padahal dilihat pelintas saban hari. Adapun pengiklan juga belum kunjung menyewa kapling papan. Sebuah cerita dari Jakarta Selatan, di pertigaan Jalan T.B. Simatupang.

Iklan yang kreatif dan menghibur. Di era digital, rasa kertas dan kegemaran corat-coret tetap menjadi keseharian. Asal kertasnya bisa didaur ulang.
Iklan Dunlop untuk menyambut Lebaran ini mengundang sejumlah tafsiran. Pertama: ban aman identik dengan ngebut. Kedua: ngebut atau pelan, membiarkan anak-anak nongol di jendela jelas melanggar prinsip keselamatan. Ketiga: barangkali mobil yang terfoto itu pelan, dan yang ngebut adalah mobil lain yang mengangkut fotografer hebat.

Tebakan, apakah tahun depan masih ada promo sejenis? Disebut keramat karena angkanya bisa dipakai untuk tema ini dan itu: simbolis sekaligus fungsional. Terlampir dua iklan yang berbeda, dimuat berdampingan, of course in English gitu. Lha wong Jakarta, je. Iklan untuk orang makmur urban jangan pakai bahasa Indonesia.
Merdeka!

Iklan sehalaman penuh di Kompas hari ini, dipasang oleh Komite Peduli Demokrasi, berbarengan dengan berita utama banyak koran tentang keputusan Mahkamah Konstitusi kemarin tentang pilpres. Intinya, iklan yang merupakan pengulangan siaran pers 7 Juli lalu itu mengajak semua pihak tahu diri. Penandatangan (eh gak ada tanda tangan ding) antara lain Jay Subyakto, Ayu Utami, Danarto, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution, dan Ki Dalang Slamet Gundono.


Para pengusaha perawatan kelangsingan terus bersaing. Masing-masing menampilkan emak-emak. Tapi itu pun kurang. Yang baru, bawa saja anaknya sekalian untuk menunjukkan memang punya anak betulan dan anaknya udah gede, tapi emaknya… ya gitu deh.
Catatan: gambar bawah saya ambil dari posting terdahulu di blog induk. Tulisan senada ada di sini.
