
Ada yang menarik dalam pementasan Indonesia Membaca Rendra di Gedung Kesenian Jakarta kemarin malan (29/10). Laksamana (Purn) Sudomo, yang saat menjadi Panglima Kopkamtib sering menangkapi oposan, termasuk Rendra, tampil di panggung. Dia bercerita kenapa menangkapi, atau mengusir aktivis (dan mencarikan dana) ke luar negeri. Katanya untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto. Tentu, malam itu, Sudomo juga memuji-muji Rendra.

Malam itu tampil Yockie Suryo Prayogo, Sys N.S., Aning Katamsi, Paragita Choir, dan masih banyak lagi. Yockie melepas Rendra dengan syair “rajawali terbanglah tinggi…“. Malam itu dia tampak emosional ketika membawakan Kesaksian (dulu dibawakan Kantata Takwa, 1990). Saya suka lagu itu. Menggetarkan. Menggugah.

Aku mendengar suara / Jerit makhluk terluka / Luka luka hidupnya / Luka //
Orang orang harus dibangunkan / Aku bernyanyi menjadi saksi / Kenyataan harus dikabarkan / Aku bernyanyi menjadi saksi
Ini ABG 70-an di Barat. Mungkin sekarang ada yang jadi CEO, politikus, rocker, dan blogger. Sebuah potret sosial.

Tenang. Saya tidak mengunggah gambar cabul. Aslinya, gambar ini memang sudah disensor oleh kontributor di Izismile. Padahal isinya membahas fashion, yang ilustrasi kompletnya ada di halaman lain. Tak ada yang salah dengan membanggakan dan mengapresiasi milik sendiri kan?

Lihat hasil sementara polling infokorupsi.com. Mestinya dijawab dengan bukti, syukur berupa bantahan.

Saya sempat mengira alamat e-mail terpanjang, yang pernah saya blogkan beberapa tahun lalu itu, cuma layanan iseng sesaat. Ternyata sampai hari ini masih ada. Apa coba manfaatnya? Bikin repot – terutama saat menuliskan dan mengucapkan, bukan mengeklik tautan. Cari masalah – kecuali buat auto-forward.

Iklan ucapan selamat ini dari rekanan bisnis ini tidak mencantumkan alamat showroom yang diresmikan. Artinya, itu “urusan domestik” yang dibawa ke publik, lalu pembaca diandaikan sudah tahu. Mirip posting apresiasi antar-blogger dalam blog dan mirip majalah gaya hidup dalam menampilkan sosialita (hanya wajah dan nama). Yang nggak tahu berarti kurang gaul.

Wujudkanlah: karier, kesuksesan, dan teman. Begitu kata iklan di koran ini. Berarti perlu tips and tricks ber-Facebook-ria dan bercicit-cuit di Twitter, karena orang HRD dan head hunter akan menyimak dari internet. Gitu ‘kali ya?

Gambar dalam brosur perumahan di Cikarang ini menarik. Mungkin setting-nya itu saat fajar, mungkin juga saat senja. Si pria barusan mengantar si wanita lalu pamit. Si wanita mungkin masih lajang, tidak tinggal bersama orangtuanya.

Begitulah, iklan properti memang sering memunculkan gambar ajaib. Untuk apartemen misalnya, coba amati berapa banyak gaya modelnya, pria dan wanita, pakai dandanan rapi dalam rumah (sedang minum wine), malah ada yang wanitanya pakai gaun pesta. Pemasar bilang, itulah citra kehidupan urban. Halah! Lha wong di rumah pada pakai kolor dan daster saja kok.

Still Loving Youth, dari Scandal (Bandung), sudah mengeluarkan edisi #2 dua pekan lalu. Kalau yang edisi #1 berupa majalah yang lebih besar dari A4, edisi kali ini berupa tiga jilid buku A4. Tetap kaya secara visual, dengan tema tipografi. Yang menarik, kemasan boks karton itu menyertakan nomor cetak (edisi jumlah), sehingga yang diterima setiap orang berbeda nomor serinya. Edisi #3 nanti tentang internet, antara lain blogs dan bloggers. Kabarnya begitu. Majalah ini terbit tiga bulan sekali.


© Foto: DailyWhatNot. Info lebih lengkap, dengan lebih banyak gambar, ada di sana.
Hehehe, begitulah kesimpulan mesin Klout terhadap saya. Silakan cek nama Anda (pasti sudah) atau, ini yang lebih penting, nama orang lain.
