Dua hal dapat dipertemukan dengan manis. Soal lingkungan dan soal cokelat. Nggak masalah kan? Bagi si dapur, kalau gambar nggak diganti akan membosankankan pelintas. Selain itu juga supaya nggak rugi bayar pajak reklame — ganti atau nggak pernah ganti gambar toh pajaknya tetap.

Iklan ucapan selamat ini dari rekanan bisnis ini tidak mencantumkan alamat showroom yang diresmikan. Artinya, itu “urusan domestik” yang dibawa ke publik, lalu pembaca diandaikan sudah tahu. Mirip posting apresiasi antar-blogger dalam blog dan mirip majalah gaya hidup dalam menampilkan sosialita (hanya wajah dan nama). Yang nggak tahu berarti kurang gaul.

Gambar dalam brosur perumahan di Cikarang ini menarik. Mungkin setting-nya itu saat fajar, mungkin juga saat senja. Si pria barusan mengantar si wanita lalu pamit. Si wanita mungkin masih lajang, tidak tinggal bersama orangtuanya.

Begitulah, iklan properti memang sering memunculkan gambar ajaib. Untuk apartemen misalnya, coba amati berapa banyak gaya modelnya, pria dan wanita, pakai dandanan rapi dalam rumah (sedang minum wine), malah ada yang wanitanya pakai gaun pesta. Pemasar bilang, itulah citra kehidupan urban. Halah! Lha wong di rumah pada pakai kolor dan daster saja kok.

Mirip lampion dari kertas minyak. Ada yang putih polos, ada yang warna-warni. Bedanya, yang ini memang bisa diputar selayaknya kubus rubik. Agar jelas lihat di sini. Mari kita tiru!


Still Loving Youth, dari Scandal (Bandung), sudah mengeluarkan edisi #2 dua pekan lalu. Kalau yang edisi #1 berupa majalah yang lebih besar dari A4, edisi kali ini berupa tiga jilid buku A4. Tetap kaya secara visual, dengan tema tipografi. Yang menarik, kemasan boks karton itu menyertakan nomor cetak (edisi jumlah), sehingga yang diterima setiap orang berbeda nomor serinya. Edisi #3 nanti tentang internet, antara lain blogs dan bloggers. Kabarnya begitu. Majalah ini terbit tiga bulan sekali.


© Foto: DailyWhatNot. Info lebih lengkap, dengan lebih banyak gambar, ada di sana.
Tidak. Saya tidak sedang memindahkan pornografi ke sini karena bagi saya foto yang saya dapat dari e-mail ini bukan tergolong cabul. Saya hanya heran, kenapa sampai segitunya yang namanya fashion? Untuk pemotretan majalah (seperti contoh), oke. Untuk pakaian di atas pentas, oke juga. Untuk pesta karena tuntutan dress code, boleh juga. Tapi dalam keseharian, di Indonesia, rasanya kok jarang yang memakai jins macam ini — semahal apapun harganya — untuk berjalan-jalan. Apalagi perginya naik ojek dan angkot. Untuk negeri lain, memang ada saja. Buktinya selalu ada hasil tangkapan lensa di internet.

Ini di Jakarta Kota, di antara Museum Bank Mandiri dan Stasiun Kota (Beos). Terminal kecil ada di bawah tanah, tepatnya di bawah taman yang diapit oleh jalan raya. Kelak ketika sudah rampung seratus persen, dan dirawat bagus, mestinya layak disinggahi.

Transit-ad ginian udah lama. Apalagi di luar negeri. Tapi setiap kali melihat iklan kopi ABC pada bus AJA ini, saya teringat waktu masih bocah. Membayangkan jadi sopir bus, dan menggambar bus tembus pandang yang penumpangnya tampak dari luar. Anak sekarang mungkin tidak menggambar bus lagi.

Menyewa agen properti — bahasa keren untuk “mekelar” — itu bagi sebagian orang dianggap asing dan mahal. Maka beriklan secara langsung, dengan cara dan bahan seadanya pun dianggap efektif. Tapi dengan penempatan di sudut yang tak terlihat konsumen sasaran, tampaknya jadi sulit. Kecuali, ya itu tadi, yang melihat dan langsung memanfaatkan adalah makelar.
Sebuah cerita dari pertigaan, dekat pelataran Bank Eksekutif, di Mayestik, Jakarta Selatan.

Silakan pesan. Hasil daur ulang. Tahan basah? Entah. Belum saya coba. Tapi kenapa harus 10 buah (minimal)?
