antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

menampung yang terserak

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

100 Kata ahmad dahlan Biasa Bisnis Blog blogger Desain Entahlah fashion gandaria Hiburan humor iklan Internet Jajan jakarta jakarta selatan jejaring sosial jepretan ponsel kebayoran baru kesehatan kotareyog.com kuota kata langsat lebaran lingkungan Media microblogging mudik musik otista payudara Perjalanan ponorogo promosi properti Sejarah Seni sepatu Silaturahmi solo Teknologi toilet twitter yogyakarta

Bookmarks


Posts tagged ‘Blog’


Kontroversi Penaklukan Puncak Everest

Oct 2009
16

Menarik! Ikutilah paparan Ambar tentang Clara Sumarwati, wanita pendaki Indonesia. Benarkah Clara telah sampai puncak Everest? Belum lagi ditambah cerita tentang keterlibatan militer dalam ketidakjelasan itu.

Share/Bookmark

Dari Salah Satu Bakrie

Sep 2009
13

Anindya Bakrie bicara tentang korban lumpur Lapindo di blognya — dia menyebutnya “lumpur Sidoarjo“. Silakan Anda timbang.


Dear God, Non-sektarian

Aug 2009
24

Disebut dialog antariman kalau “pesertanya” berdialog. Tapi sebagai wadah tampungan non-sektarian, tak pandang latar belakang dan wadah keagamaan, unik juga situs Dear God ini.


Ada Apa dengan Keenan Nasution?

Aug 2009
19

Niat hati mau melongok logo musisi Indonesia, eh begitu sampai di webnya Keenan Nasution (bukan abangnya Enda Nasution), ternyata malah muncul halaman instalasi WordPress. Padahal yang saya cari karya Gaury Nasution.


Identitas Blogger

Aug 2009
11

Cara paling jitu untuk memperkenalkan diri, dan gampang diingat, dalam sebuah kopdar bersama wajah baru adalah memakai kaos bertuliskan alamat blog.  Wong Bagoes memang bagus tenan akalnya.


Mari Menghindar dari Internet

Dec 2008
13

Ehm, judul dan sekaligus pertanyaan yang aneh. Jawabannya juga berupa tanya balik: apakah mungkin?

Boleh saja kita tidak menggunakan internet dan tak peduli dengan itu. Lalu cobalah minta tolong Pak RT atau Bu Minah penjual nasi uduk untuk mencari nama kita di Google.

Jika nama kita ada dalam hasil pencarian, maka bolehlah Bang Ojek dekat portal akan berseru, “Selamat datang di rimba internet!”

Internet telah menjadi belantara teks dan belukar informasi. Halaman web bisa memuat apa saja, termasuk nama kita. Bahkan tanpa saya inginkan, seseorang memasukkan titik rumah saya pada sebuah peta online hasil foto udara (satelit). Bukan nama saya yang masuk melainkan nama anak-anak saya.

Tanpa kita inginkan, informasi tentang diri kita bisa tersimpan di internet. Menjadi ketua panitia tujuhbelasan dan dikutip di sebuah buletin fotokopian untuk warga, lalu seseorang menyalinnya ke internet, maka nama kita (bahkan tampang kita) akan tersimpan di sana.

Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin asin (bagi yang pernah ngerasain), kita tak mungkin mengelak dari internet. Bung Besar dalam cerita George Orwell (1984) menjelma sebagai sekumpulan bung kecil yang tak kita kenal.

Adakah yang berubah dari kita? Barusan seorang teman saya anjurkan masuk ke Plaxo untuk menyimpan alamat kontak dan agendanya, agar suatu kali bisa disinkronisasikan dengan komputer lain.

Memang Google dan layanan lain pun akhirnya bisa melakukan itu — tapi diskusi kami tetap soal Plaxo. Pada tahun 2000 jejaring sosial belum dikenal, sehingga tampaknya Plaxo lahir terlalu dini. Tak lebih itu hanya personal information manager versi online.

Menurut teman saya, namanya Happy, yang sekarang merasa happy karena sudah menjadikan sejumlah blognya sebagai heritages, orang-orang telah berubah. Katanya, dulu ada kecenderungan orang untuk ngumpet dari internet, tapi sekarang orang ringan saja mengumumkan kehadiran dirinya di alam maya.

Mungkin dia benar. Lihatlah segala layanan online berbasis komunitas. Keterhubungan telah menggiring kita untuk menyatakan diri, dari blogging sampai microblogging. Sulit membayangkan bahwa sepuluh tahun lalu, saat belum ada Plurk, Anda dengan enteng akan mengumumkan diri sedang ngopi sendirian sementara istri Anda ikut bertamak diri dalam pesta diskon gila-gilaan tengah malam di toserba besar.

Apakah internet telah menggelincirkan orang menjadi eksibisionis yang tak sungkan membagikan sebagian dari sisi privat kehidupannya?

Mungkin. Pernah saya baca blog, dari orang tak jelas, yang mengeluhkan perilaku istrinya. Pernah juga saya baca seorang istri, entah siapa, yang menumpahkan serial kekesalan kepada suami melalui blog. Bahkan ada blog yang memuat lalu lintas konflik seorang suami dengan bekas istrinya. Mirip “infotainment” (dalam pengertian Indonesia) tetapi ditulis sendiri oleh pria itu.

Misalkan dia tak menulis, bukan tidak mungkin blog lain yang akan membahas kehidupan rumah tangganya.

Ketika urusannya melebar ke mana-mana, termasuk blog yang membahas keburukan bekas tempat kerja dan bekas sejawat (serta bekas juragan), maka seorang kawan menghentikan niatnya untuk ngeblog. Baginya konten pribadi internet punya sisi yang menggelisahkan.

Persoalannya bukan sekadar domain dan hosting traktiran saya itu tak akan saya perpanjang melainkan soal kenyamanan bagi dia. Justru itu yang lebih wigati.

Mungkinkah dia menghindar dari internet, khususnya penerbitan pribadi yang bernama blog?

Dia penulis yang baik. Karyanya yang ilhami (inspiring) malah disalin oleh orang lain untuk sebuah blog.

Dengan segala sesal baiklah kita akui bersama bahwa kita tak dapat menghindar dari internet padahal kita mempersetankannya.

© Ilustrasi tentang Andy Warhol: tak diketahui


Semua Menjadi Pewarta, Lantas Mana yang Bisa Dipercaya?

Oct 2008
06

Heboh pekan lalu tentang “serangan jantung yang dialami Steve Jobs” itu sudah reda. Harga saham Apple Inc. sempat turun 5,4% karena lontaran kabar di iReport.com, situs “jurnalisme warga” (yang berslogankan “Unedited. Unfiltered. News”) milik CNN itu.

Kalau kabar bohong itu munculnya di blog utama saya tentu tak akan dipercaya, bahkan misalnya saat itu saya sedang berada di Cupertino, kota Apple di California, sekalipun. Cuma gombalan mirip igauan kenapa dihiraukan? Akan tetapi ini menyangkut nama besar media: CNN.

Mantera bernama partipasi dan kolaborasi

Begitulah yang terjadi sekarang. Blog sebagai sebuah penerbitan personal akhirnya dilirik oleh penerbit media. Partisipasi dalam penyajian informasi mulai mendapat tempat yang lebih luas dan lebih lekas melebihi apa yang bisa disediakan oleh kapling surat pembaca.

Bentuk awal partisipasi, untuk kontrol dan pengimbang, adalah penyediaan kotak komentar dalam setiap berita di koran online.

Internet telah memberikan kebaruan: respon yang cepat dari pembaca, dan jika tidak dimoderasi akan langsung terbaca oleh khalayak ramai maupun sepi, bahkan mungkin si jurnalis penulis berita tahunya belakangan. Perkecualian berlaku untuk jurnalis yang selalu bangun dari tidurnya setiap kali gadget-nya melaporkan komentar masuk pada pukul dua pagi.

Kemudian mainstream media pun menyediakan blog. Mulanya untuk orang dalam, seperti yang dimulai oleh USA Today. Urusan beginian pernah saya percandakan sebagai blog dinas yang hanya menambahi pekerjaan.

Oh, tak hanya menambahi pekerjaan melainkan juga merepotkan. Sudah menulis untuk koran atau majalah sendiri, secara by line tapi sekaligus (akan tercitrakan) sebagai cerminan haluan penerbit, eh… masih membuat kolom tambahan yang merupakan opini pribadi tapi tidak bebas juga karena blog tetap menjadi subdomain atau folder dari situs kantornya. Sudah begitu tanpa tambahan gaji pula.

Ibaratnya, (sebagian) khalayak akan membedakan pepihnugraha.com dan pepihnugraha.kompasiana.com.

Kemudian pintu partisipasi dibuka lebih lebar. Media yang punya web menampung laporan dari masyarakat, baik berupa foto, video, maupun tulisan. Atas nama kecepatan dan sekaligus kepercayaan (juga: kontrol oleh masyarakat), orang luar boleh langsung mengeposkan ceritanya.

Maka muncullah produk media hasil kolaborasi. Isi tak hanya disusun oleh editor melainkan juga diperkaya, bahkan bisa didomininasi, oleh orang luar kantor.

Editor bukan lagi si serbatahu karena pembaca, melalui internet, juga mendapatkan akses yang sama terhadap sumber informasi — sejak siaran kantor berita sampai ensiklopedia. Bahkan pembaca bisa memproduksi informasi sendiri dari pengalamannya dan sumber-sumber yang dapat diaksesnya.

Ini pun sebetulnya tak terlalu baru. Radio sudah melakukannya. Salah satu hasil di luar laporan lalu lintas adalah kesaksian pendengar saat Kerusuhan Mei ‘98 di Jakarta. Cerita via telepon yang diudarakan Radio Sonora, berdasarkan apa yang dilihat maupun didengar seseorang, menjadi warta bagi khalayak.

Baiklah, itu karena situasi darurat; informasi kadung simpang siur dan radio (waktu itu mobile internet dan microblogging belum ada) adalah media yang efektif. Serupa zaman Soeharto ketika penerbitan bawah tanah menjadi sexy karena bisa memberikan alternatif tabu di luar media ber-SIUPP, sementara media cetak impor disensor.

Adapun televisi kita, tapi masih dalam kerangka peyuntingan, sudah pernah memperkaya isi dengan video kiriman pemirsa — meniru America’s Funniest Home Videos. Kemudian yang lebih newsy dan monumental muncul: video tsunami di Metro TV.

Pada kasus video kiriman di TV, media telah memformat sebuah konteks. Video yang tertayang hadir melalui proses editorial, bukan asal tayang tanpa jadwal juragan seperti di YouTube.

Kearifan khalayak

Apakah semua yang disampaikan oleh pendengar radio, dan kemudian netters, itu faktual? Misalkan faktual, apakah sudah dengan sendirinya memenuhi kaidah jurnalistik — sejak pencarian, perolehan, sampai penyajian berita?

Di sisi lain bisa juga muncul pertanyaan: apakah laporan yang disampaikan oleh warga biasa, bukan oleh jurnalis, harus disusun menurut standar kerja jurnalistik, lengkap dengan etika profesinya? Bukankah media dan penulisnya bisa memanfaatkan kontrol oleh khalayak sebagai bagian dari “wisdom of the crowd“?

Bisa juga muncul ledekan: memangnya yang disajikan oleh jurnalis media selalu benar? Setiap media punya rubrik tidak tetap yang bernama “Ralat” — tetapi yang tak diralat belum tentu benar.

Jadi, bagaimana dong? Aha! Mari berdiskusi. Pendekatan saya terhadap masalah bisa jadi salah. Begitu pula klaim lama saya ketika awal ngeblog dengan nama asli dan domain sendiri: “Blog ini Bukan Halaman Jurnalistik“.

Soal lain masih ada. Jika terjadi kesalahan atau apapun yang berarti masalah dari sebuah komentar dan tulisan dalam blog di portal milik media, dalam batas apakah penerbit (editor) turut bertanggung jawab? Cukup dengan disklaimer?

Beberapa kali seorang jurnalis, warga Tengerang, menolak meng-update langsung sebuah blog kolaboratif yang berisi opini. Mulanya dia selalu mengirimkan naskah via e-mail ke admin. Dia beralasan, “Sesuai kelaziman dan standar media mana pun bahwa semua naskah harus melalui editor.”

Di sini, blog Kompasiana, saya menulis langsung tanpa campur tangan editor. Misalkan apa yang saya tulis itu muncul di versi cetak Kompas, pasti akan tersunting. Setidaknya kata “internet” akan menjadi “Internet” (”i” kapital).

Di sini semua langsung lolos. Sebagai itikad baik dan bentuk pertanggungjawaban, saya memasang semacam disklaimer. Yang maksimal dapat dilakukan penanggungjawab Kompasiana adalah menghapus tulisan saya, tetapi ada kemungkinan tembolok Google sudah menyalinnya.

Ada saja hal baru di internet. Atau tak baru, hanya berganti rupa? Sekadar meneruskan tembok demokrasi, yang siapa saja boleh menempelkan pamflet, dan suatu saat pemilik tembok bisa melepasnya?

Ketika blog, atau apapun namanya kelak, kian banyak sehingga internet menjadi belantara teks, maka kearifan (atau kewarasan?) kita dalam memperlakukan informasi selalu diuji. Ini mengasyikkan.

© Sumber gambar worth1000.com (contoh media kolaboratif)


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.

© Contents by Antyo Rentjoko