
Sam Zell pesismistis. Pasti punya alasan kuat. Memang sih, organisasi pengelolaan berita memang mahal — kecuali pekerja media tak perlu dibayar karena masing-masing sudah superkaya. Tapi benarkah orang puas dengan dengan lalu lintas informasi antarkawan? Model bisnis lembaga pemberitaan yang akan terus berubah. Yang cetak mungkin surut, dan itu menghemat pohon. Koran, sebagai penyaji kabar (apapun bentuknya), takkan mati karena dalam beberapa hal institusi punya kelebihan dibanding perorangan (blogger).
Anda bosan menghadapi ketidakbosanan pelaku bisnis ini dalam berpromosi? Wajar. Manusiawi. Yang pasti saya percaya bahwa itu bisa. Santai melulu, duit datang. Masalahnya, tidak ada orang yang mau percaya kepada saya. Selain itu, saya belum bikin KTP baru dengan identitas baru untuk membuka rekening di bank. Kenapa harus begitu? Dengan identitas yang sekarang, orang yang kuciwa akan mendatangi saya.

Dua hal dapat dipertemukan dengan manis. Soal lingkungan dan soal cokelat. Nggak masalah kan? Bagi si dapur, kalau gambar nggak diganti akan membosankankan pelintas. Selain itu juga supaya nggak rugi bayar pajak reklame — ganti atau nggak pernah ganti gambar toh pajaknya tetap.

Iklan ucapan selamat ini dari rekanan bisnis ini tidak mencantumkan alamat showroom yang diresmikan. Artinya, itu “urusan domestik” yang dibawa ke publik, lalu pembaca diandaikan sudah tahu. Mirip posting apresiasi antar-blogger dalam blog dan mirip majalah gaya hidup dalam menampilkan sosialita (hanya wajah dan nama). Yang nggak tahu berarti kurang gaul.

Wujudkanlah: karier, kesuksesan, dan teman. Begitu kata iklan di koran ini. Berarti perlu tips and tricks ber-Facebook-ria dan bercicit-cuit di Twitter, karena orang HRD dan head hunter akan menyimak dari internet. Gitu ‘kali ya?

Gambar dalam brosur perumahan di Cikarang ini menarik. Mungkin setting-nya itu saat fajar, mungkin juga saat senja. Si pria barusan mengantar si wanita lalu pamit. Si wanita mungkin masih lajang, tidak tinggal bersama orangtuanya.

Begitulah, iklan properti memang sering memunculkan gambar ajaib. Untuk apartemen misalnya, coba amati berapa banyak gaya modelnya, pria dan wanita, pakai dandanan rapi dalam rumah (sedang minum wine), malah ada yang wanitanya pakai gaun pesta. Pemasar bilang, itulah citra kehidupan urban. Halah! Lha wong di rumah pada pakai kolor dan daster saja kok.
Ada yang aneh dari bidak-bidak ini. Yang bergelimpangan hanya yang putih, sementara yang hitam tetap berbaris, komplet (ada yang tumbang juga sih). Bidak putih itu disisihkan oleh seorang tamu kedai kopi agar dia punya kapling untuk menaruh piring makanan dan cangkir minuman. Meja bundar untuk dua orang ini memang sesak karena sudah ada built-in chess board, tapi tak ada laci untuk menyimpan bidak. Sisa ruang hanya untuk cangkir kopi (dan asbak). Bagusnya, begitu tamu beranjak maka pramusaji segera memasang bidak — yang tentu saja tidak asal taruh.

Mereka yang mengalami hidup di bawah rezim Orde Baru sebal oleh istilah ini: organ tunggal. Tak ada hubungannya dengan musik, organ tunggal adalah pewadahan kegiatan politik korporatis agar semuanya mudah dikontrol. Bahkan Golkar pun, pada masa itu, bukanlah ruling party melainkan ruler’s party — partainya Harto. Untunglah organ tunggal akhirnya ya cuma berarti one-man band, seperti yang ditanggap BloggerBekasi. Sebuah instrumen elektronik, seperti Yamaha PSR 1500 ini, bisa mengeluarkan banyak suara. Untuk memudahkan perpindahan nada dasar, spidol sangat membantu. Misalnya “do = C”.

Saya terkesan oleh nama kelompok usaha ini: Kagum Group. Bisa jadi pihak ketiga yang mendengar percakapan dua orang bisa bingung. “Gimana kabarnya? Kerja di mana? Kagum ya?” Hampir sama membingungkannya ketika seorang cowok ditanya calon mertua, “Kerja di mana, kamu?” Jawabannya, “Orang Tua, Oom.”

Tentang “husada”, yang menjadi unsur nama perusahaan ini, biasanya dipakai untuk apotek, rumah sakit, dan perusahaan farmasi. Husada (usada, husodo) itu artinya obat dan ilmu pertabiban. Kalau arti nama Dokter Wahidin Sudirohusodo, yang kabarnya keturunan Sisingamangaraja itu, ada yang tahu? Mari menanya Papah Doni.
Anda ingat, sejak kapan kita pakai “cash keras”? Tampaknya pengindonesiaan “hard cash” ini datang dari orang bisnis, terutama orang toko, untuk menyebut pembayaran tunai yang benar-benar berwujud uang. Sebuah pemadanan yang nanggung, karena Inggris-nya masih ada.
