
Siapa yang sehat? Ya terutama sepedanya. Lalu pengendaranya. Sepeda sakit tidak nyaman (bahkan tidak bisa) dikendarai. Kalau roda gigi dilumasi, tentu sepeda ini lebih sehat.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Mengada-ada. Daun kering di dekat kaki bangku itu saya ambil lalu saya taruh ke dalam salah satu lubang. Mungkin kita memang menggemari rekayasa dalam hal apapun, padahal belum tentu membawa manfaat.
© Foto: saya


Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Pintu lawas. Asli. Hanya lingkungannya yang artifisial karena pintu itu entah berasal dari mana. Di tangan pengunjung “nggrathil”, cat itu akan lebih cepat mengelupas. Oh, foto kurang tajam. Biar.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Margot. Margaux. Margo (yang ini juga nama Jawa, artinya “jalan”). Dentang cangkir, piring, sendok, garpu, ketika beradu bisa menjadi melodi. Jadilah rak bernyanyi.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Minyak wangi. Bekal mudik. Supaya tidak prengus. Murah meriah. Pinjam istilah Umar Kayam, untuk “dicrut-crutkan”.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Lupa persisnya di mana, tetapi hamparan sawah mengering ini saya jumpai selama perjalanan antara Subang-Jatiwangi, Jawa Barat.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Beberapa kali jendela tetangga rumah mertua saya ini berganti warna. Yang terakhir ungu. Adakah yang peduli, saya tak tahu.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Setelah anak dan cucu selesai berlebaran, ruang makan ini sepi; sesekali televisi menjadi peramai. Di rumah itu hanya ada sepasang kakek dan nenek. Pembantu hanya ada pada siang hari.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Lampu baru ini memanfaatkan “torong” (corong). Itu lho ekstensi bermulut lebar tapi bersaluran buang kecil untuk memindahkan cairan. Sebetulnya sudah disiapkan ketika warung angkringan Wetiga akan buka tahun lalu. Akhirnya karena ada bagian yang kurang terang maka terpasanglah “torong” plastik itu, sebagai kap untuk bolam 5 Watt. Lampu itu menemani lampu lain, yang berbahan saringan ventilasi kompor sumbu, untuk menerangi dagangan. Kap lampu itu mulai berkarat sedikit.



Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Kaki-kaki cantik itu. Menjuntai. Berjuntai. Tapi tanpa gerak. Sebuah cerita dari etalase berkaca.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.