Mobil terus bertambah, kapling parkir tak mengimbangi. Maka trotoar pun dipakai. Mobil ini terparkir di sebuah tikungan berlampu merah di Jakarta Selatan. Akan disebut jagoan parkir kalau menempatkan mobilnya bukan dengan mundur (pakai bantuan kaca spion dan pemberi aba pula), tetapi maju. Sisa ruang di kanan-kiri roda sudah mepet. Tetapi mau sepintar apapun parkirnya, kalau di atas trotoar itu di manakah hak pejalan kaki?


Di mana? Bukan dalam liang bawah tanah di tengah padang rumut, melainkan di Jalan Ahmad Dahlan, Kebayoran baru, Jakarta Selatan. Tamu yang datang dan pamit selalu disambut dan dilepas dengan, “Saatnya berpelukan…”
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Cermin besar tersandar di dinding. Menjadi hiburan bagi siapa pun yang iseng kurang pekerjaan. Sebuah cerita dari halaman belakang.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tiang listrik (atau telepon karena pendek?) di halaman belakang sebuah rumah di Jakarta Selatan ini sudah tak berfungsi tetapi masih dipertahankan. Agak mengganggu memang, tetapi rasanya mewah juga punya tiang dengan kabel-kabel yang sudah terpotong. Tidak semua rumah memilikinya.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tiada aturan baku bagaimana harus duduk saat berteleponan. Juga tak ada patokan di mana pesawat harus diletakkan, yang penting penggunanya nyaman dan bahagia. Masih penting juga, lawan bicara tak melihatnya. Lawan? Oh mitra bicara di seberang sana.
© Foto: saya
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tempelan yang mulanya diperkenalkan oleh Scotch 3M ini, dengan nama Post-It, akhirnya menular ke mana-mana dengan pelbagai merek dan bentuk. Setiap kantor membutuhkannya. Yang kita butuhkan adalah sebuah mesin mini yang mampu memotong kertas bekas dan mengolesinya dengan perekat. Oh ya, tisu pun menjadi daftar belanja kantor di mana pun.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Di halaman belakang sebuah kantor di Jakarta Selatan, teronggoklah selimut yang berkemungkinan juga menjadi alas tidur (atau sebaliknya: kasur tipis menjadi selimut), milik seorang pekerja proyek, bergantung pada kebutuhan. Sekadar menaruh badan setelah seharian bekerja amatlah nikmat.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Sepeda lipat di samping meja resepsionis sebuah kantor di Jakarta Selatan. Seli ini menjadi alat transportasi antarkantor dan sekaligus alat olahraga, bahkan ada yang membawanya untuk pergi-pulang bekerja.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Yang satu kurang keras, yang lannya sangat keras. Sejak kapankah Indonesia mengenal concrete block? Kalau saya tak salahingat baru pada awal 70-an. Waktu itu konblok dikedepankan lebih keras ketimbang plesteran semen biasa, dan lebih ramah lingkungan karena tidak sepenuhnya menutupi rembesan air hujan ke tanah. Sebelum ada konblok, orang memperkeras halaman denga ubin batu.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Bangku dan meja hasil kreativitas dalam pemanfaatan barang. Suasana kafe pun dipindah ke halaman sebuah kantor. Dengan interior dan tata cahaya yang pas, bangku dan meja bertema macam ini bisa dipindahkan ke kafe untuk wong bagus dan wong ayu.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.