
Apakah bal-balan memang olahraga popular kita, yang dimainkan di mana saja, oleh anak-anak sampai orang dewasa? Rambu lalu lintas di Wuppertal, Jerman, sudah menjelaskan.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Jadwal pertandingan ada di mana-mana, termasuk dalam stasiun kereta api. Jadwal di Köln ini dipajang selayaknya pameran. Bahkan penempatan display pun zig-zag, ada pula yang di tengah, sehingga penyimak jadwal seperti berpindah dari lapangan ke lapangan.

Bagaimanakah peradaban dibangun? Antara lain membangun pusat kesenian yang diongkosi dengan sumbangan orang berduit dan setoran pajak rakyat. Maka baik adanya jika pusat kesenian dan pertukaran gagasan juga menggelar acara nonton bareng untuk cabang olahraga yang menyangkut hajat hidup segenap khalayak. Jika menyangkut bola maka setiap orang merasa sama pri(y)ayinya dengan orang lain — atau boleh juga merasa sama kerenya. Sebuah cerita dari Bonn, tadi siang.

Inilah keluarga Jerman penggemar bal-balan. Bendera harus dikibiarkan, bahkan di bagian belakang rumah sekalipun! Kapan orang Indonesia bisa superbangga, soal hidup-mati, dengan timnas?

Malam sudah beranjak pagi. Dua petugas satpam masih harus berjaga di luar kantor tetangga. Maka pesawat TV pun dibawa ke luar supaya bisa (semoga) mengawasi sekitar. Jalanan sepi, tak ada pelintas nimbrung. Masing-masing orang menonton di rumahnya.

Semua lagi gila bola, demam bola. Sampai kondom pun bertema bola — mungkin hanya bungkusnya — yang sepaket harganya Rp 25.000. Si pemakai akan membayangkan diri sebagai bintang bola yang mana eh siapa? Tapi kalau bicara Piala Dunia, kondom ini tanpa logo. Maklum pemakaian logo butuh duit.

Kapsul Gudang Garam untuk menyambut Piala Dunia ini tersebar di beberapa titik Ibu Kota, dan mungkin juga kota lain. Kalau tidak ada TV untuk siaran langsung (dan video), apanya yang ditonton? Ya suvenir.


Dulu karena sinetron atau apalah, sampai lupa masak. Sekarang? Karena bal-balan Piala Dunia. Model dan pose cukup dari stok lawas. Selebihnya adalah Photoshop. Ngapain juga repot.


Piala Dunia akan dimulai. Penikmat TV butuh cemilan. Mungkin kerupuk Rp 500 ini akan menambah semangat untuk berteriak sampai serak. Dijamin halal. Setahu saya, bola jarang dijadikan merek cemilan. Kalau setahu Anda? :)

Yang versi pusat eh Amrik juga sama: bal-balan. Kalau yang memasang bukan Google, pasti sulit dibaca.