Lagi ramé-raméné “Piala Dunia” (dudu “piala” kang ateges “ala”) utawa Bal-balan Sadonya, akèh wong padha ngrembug sapa sing dadi jagoné lan bakal menang, yèn perlu malah nganggo totohan ananging dudu toh nyawa. Salah sijiné nagara kang mèlu bal-balan iku Alemania utawa Germany. Lucuné, carané nyebut negara iku ana telung pangocapan.
Sapisan: Jerman, “e”-nè kaya ing “e” tembung “klepon”. Ana lho sing mlèsètaké dadi “pijer manak”.
Kaping pindhoné: Jèrman , kanthi “è” kaya ing tembung “ngèyèl”. Mulané ana kang ngothak-athik-gathuk dadi “jèjèr kauman”.
Kaping teluné: Jérman, kanthi “é” kaya ing tembung “wétan”.
Wis to, iku ora wigati. Beda lésan beda suara. Lumrah.
Ana kang luwih wigati. Bab “e”, “é” lan “è”, Basa Indonesia iku ora ngakoni “é”. Dadi umpamané waé tembung “tempe” iku diwènèhi katerangan supaya diwaca “tèm-pè”, ananging uniné “è” kaya déné “é” ing tembung manca “café“. Anèh ananging nyata.
Apa sebabé aku ora ngerti. Mbok manawa para sutresna luwih pirsa bab iki, sumangga nyerat waé. Suwun.

Bukan isu baru. Tapi selalu berulang dalam pertandingan olahraga internasional atas nama negara, termasuk eh… terutama Piala Dunia. Sebuah jepretan asal-asalan karena orang toko tak suka bila dagangannya difoto — tapi ini tak ada hubungannya dengan patriotisme maupun nasionalisme. :D
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Sudah pasti penghuni sebuah rumah di Leverkusen, Jerman, ini penggemar bola. Adapun bendera pelangi pada genting itu, kabarnya, pertanda penghuninya pecinta sesama lelaki.

Toko milik Puma di Bandara Internasional Düsseldorf ini pasti beberapa kali mengganti stiker potong pada kaca etalasenya. Kalau jadwal harian semua grup dan hasilnya juga dipajang, tukang pasangnya bisa merengut.


Seperti takbiran dan terutama malam tahun baru di Indonesia. Jerman mengalahkan Ghana, di Bonn orang berpesta di mana-mana hingga tengah malam. Polisi seperti menenggang mobil kencang yang mengangkut penumpang dengan cara riskan. Pada sebuah ruas jalan, sebuah mobil menutupi lajur untuk menjadi api unggun bagi kerumunan yang bernyanyi dan menari — kerumuman yang belum tentu saling kenal, tapi yang penting tidak ada pengompasan dan perkelahian. Minimarket (tanpa satpam) yang buka sampai malam tak perlu khawatir penjarahan, bahkan bir dan rokok laku terjual.


Kalau di terminal kita, nonton gratis melalui TV milik warung. Di stasiun kereta api Koln ada layar proyeksi besar, dan orang-orang berkerumun. Lengkap dengan teriakan yang membahana. Yang menonton di kafe dalam stasiun juga ada tapi tak seheboh yang gratis ini. Maklum yang main Jerman, melawan Ghana.

Jadwal pertandingan ada di mana-mana, termasuk dalam stasiun kereta api. Jadwal di Köln ini dipajang selayaknya pameran. Bahkan penempatan display pun zig-zag, ada pula yang di tengah, sehingga penyimak jadwal seperti berpindah dari lapangan ke lapangan.

Bagaimanakah peradaban dibangun? Antara lain membangun pusat kesenian yang diongkosi dengan sumbangan orang berduit dan setoran pajak rakyat. Maka baik adanya jika pusat kesenian dan pertukaran gagasan juga menggelar acara nonton bareng untuk cabang olahraga yang menyangkut hajat hidup segenap khalayak. Jika menyangkut bola maka setiap orang merasa sama pri(y)ayinya dengan orang lain — atau boleh juga merasa sama kerenya. Sebuah cerita dari Bonn, tadi siang.

Inilah keluarga Jerman penggemar bal-balan. Bendera harus dikibiarkan, bahkan di bagian belakang rumah sekalipun! Kapan orang Indonesia bisa superbangga, soal hidup-mati, dengan timnas?

Malam sudah beranjak pagi. Dua petugas satpam masih harus berjaga di luar kantor tetangga. Maka pesawat TV pun dibawa ke luar supaya bisa (semoga) mengawasi sekitar. Jalanan sepi, tak ada pelintas nimbrung. Masing-masing orang menonton di rumahnya.