
Judul di atas adalah terjemahan dari bahasa Jawa pada kaca belakang Koantas Bima, “Peceren Roso Duren”. Tak jelas apa maksudnya tapi dulu kalimat ini sering terdengar. Bau comberan itu memuakkan. Padahal bahi yang tak doyan durian, baunya juga bikin pusing. Anda tahu maksud tulisan itu? ![]()

Modus Jamaica, katanya. Entah apa maksudnya. Lantas Spider-Man pun menjawab.

Pemilik mobil ini percaya pada pertumbuhan. Maka dinamailah mobilnya “tunggak semi”, berarti sisa batang pohon yang bersemi, mulai ditumbuhi daun, dan akarnya terus menjalari tanah. Kalau Kramat Tunggak? Itu nama sebuah tempat di Jakarta Utara. Sekarang untuk pusat dakwah. Ada legendanya lho…

Rada serem tulisannya: Raja Tega. Ketika saya tanya apa maksudnya, sopir truk itu cuma cengar-cengir. Tentang angka “.354″, dia bilang, “Iseng aja, Pak.”
“Yang masang tulisan sampeyan apa juragannya?” tanya saya. Dia tetap cengar-cengir. Saya tetap waspada.

Entahlah apa maksud stiker ini. Mungkin dia berbisnis penggemukan sapi. Bisa juga dia cowboy.

Mungkin si Akang Supir masih satu trah dengan Raja Kokain Pablo Escobar dari Kolombia. Tapi itu tak penting, karena lebih utama pengingatnya untuk mobil-mobil di belakangnya: “Jangan pernah kau selingkuh”.


Hari gini? Takut istri? Lho emang gak boleh? Masih bagus kalau orang punya takut terhadap hal tertentu.
Mobil ini mungkin milik lelananging jagat dalan.

Siapa yang manut, ke mana pun ikut: Pak Sopir atau mobil di belakangangnya? Siapa pun itu, keduanya sama-sama patut dikasihani.
Ini kiriman pembaca, Mas Nono Budiono Martodihardjo. Dalam e-emailnya dia menulis, “Tulisan ini aku baca dikaca belakang mobil angkutan umum yang berjalan didepanku waktu melintas di Ungaran dari arah selatan ke Semarang…”. Ndoro Kakung pasti ingat masa mudanya di pers mahasiswa, karena dia jarang pulang, bahkan salah satu temannya sampai sekarang masih memakai nama Oblo.
