
Mulanya ketika mencari gambar kerbau di Google, untuk ilustrasi di situ, saya malah mendapatkan gambar cewek. Setelah sampai ke situsnya, saya menjumpai gambar promo bertema “nasi rames” Malaysia itu. Ketika saya mencari versi yang lebih tajam malah mendapatkan versi burger. Menarik, operator sadar keragaman konsumen. Isi pesan sih sama. Nah, temuan dari kata kunci “kerbau lumpur” yang mengantarkan saya ke situs promo Streamyx itu lihat di bawah.


Itulah kekuatan brand di benak konsumen. Di dalam benak itu ada harapan, keyakinan, bahkan kebanggaan terhadap produk. Bagi produsen dan pedagang yang “kreatif” dan “smart”, dalam arti tak mau kecapekan membangun merek sendiri, bermirip-mirip bukan masalah. Toh konsumen juga mau. Apalagi harganya di bawah Rp 1 juta, ber-Wi-Fi pula.
Mirip iPhoney, ketika iPhone belum resmi masuk Indonesia.

Mestinya ukuran bingkai SIM card memang semakin mengecil karena yang penting kepingnya. Dulu, belasan tahhun lalu, memang ada ponsel yang slotnya seukuran bingkai SIM card. Tapi kalau sekarang keping dijual tanpa bingkai, padahal tanpa kemasan yang besar, pasti gampamg terselip. Oh ya adakah di antara yang mengoleksi kartu perdana tanpa keping terlepas?

Makin jarang orang mengirim kartupos, kecuali untuk kuiz dan sejenisnya. Bagaimana dengan kartu garansi ponsel? Kartupos ini menyesuaikan diri dengan ukuran kemasan. Maka ukurannya pun separo kartupos biasa. Bisa-bisa terselip dalam penyortiran. Belum lagi cara menuliskan nama pengirim di atas permukaan gelap — harus pakai spidol perak/emas. Eh, “kartu pos” atau “kartupos” sih?

Nggak baru-baru amat. Semakin banyak yang menuliskan “ojex”. Maka kian lengkaplah ejaan di pangkalan Mayestik, Jakarta Selatan, itu: ojek, ojeg, dan ojex.


Saya tidak tahu apakah penanganan TKI pulang itu sudah benar-benar beres. Dulu terkabarkan bahwa pengangkutan TKI ke kampung asal pun berbau pemerasan, begitu pula kurs penukaran valuta. Perlakuan kita terhadap TKI mungkin mendua. Menyebut mereka sebagai pahlawan devisa tetapi mengandangkannya melalui terminal khusus yang tidak mewah — untunglah akan ditutup. Siapa TKI? Yang pasti ekspatriat asal Indonesia di negeri lain kurang dianggap sebagai TKI.
Cara pandang kita mungkin terwakli oleh tulisan pada minibus ini. Pariwisata – padahal mereka tidak sedang berwisata. Citra eksekutif… — padahal mereka tak ingin bercitra eksekutif. Pemulangan – padahal mayoritas dari mereka tidak dipulangkan, tetapi pulang atas kehendak sendiri.

Tak ada yang istimewa karena manusia memang menggunakan semua inderanya untuk mengelola aneka urusan. Itulah sebabnya nada dering setiap ponsel beragam, begitu pula alarm. Di luar bunyi yang disetelnya sendiri, manusia juga merelakan diri diatur oleh bunyi pihak lain sebagai penanda. Misalnya di lintasan sepur, stasiun kereta api, dan pabrik. Jadi, jangan menyamakan manusia dengan guguk dalam eksperimen Pavlov.

Papan iklan itu perlu, baik bagi si pemasang, pengelola ruang publik, maupun masyarakat. Yang penting tepat dan pas. Di Perempatan Lebakbulus, Jakarta Selatan, bisa begini. Secara estetis mungkin “layak”, karena mirip gelaran seni rupa kontemporer di ruang terbuka, tapi secara fungsional sebagai media promosi, ini kacau — terutama bagi papan yang terhalangi papan lain (Nutrisari). Begitulah, kota-kota besar akhirnya larut dalam belantara teks.

Cara berkomunikasi badan-badan pemerintah kadang memang aneh. Maka lihatlah poster din warung ini: ketika kampanye suatu hal, yang penting adalah pesan berbau instruksi atau ancaman. Karena itu sang birokrat ikut tampil — berseragam pula. Bandingkan dengan Badan Narkotika Nasional yang beberapa kemasan pesannya lebih kuat. Misalnya bilbor peti mati “this high” or “that high” beberapa tahun lalu (ada yang punya fotonya?).

Satu hal yang harus kita ingat bahwa pemilik tempat atau properti boleh melarang Anda untuk memotret. Sebagai blogger, Anda bisa memotret dengan banyak cara — sejak mencuri-curi, meminta izin, sampai berdiplomasi kalau kepergok. Setiap cara punya risiko karena urusannya bukan hanya dengan pemilik ruang tetapi juga satuan pengamanan bahkan pengacara mereka. Siapkah Anda dengan risiko?
© Foto: blogombal.org