
Ini salah satu merek klasik kecap bikinan Semarang: Mirama. Desain etiketnya, maksud saya labelnya, bersahaja tapi kuat. Hanya ada dua warna di atas putih kertas, yaitu hijau untuk logotype (tipografinya mungkin mengarang sendiri) dan cokelat muda yang menjadi latar berbatik. Begitu bersahajanya sehingga tanggal kadulawarsa cukup dicap pakai numerator, sedangkan bidang untuk tanggal produksi dan kode produksi dibiarkan kosong. Terkabar kecap ini sudah ada sejak awal 1930-an, jadi bisa saja desain yang ini adalah versi kesekian.

Yang namanya tanda jempol memang abadi. Itu sebabnya di blog ini ada kategori “produk jempolan”. Termasuk untuk roti kacang hijau dari Maemunah Bakery, Bekasi, yang saya temukan di Ciracas, Jakarta Timur. Kemasannya modern, begitu pula mereknya: Dee Dee. Apa arti Rp 500 di Jabodetabek? Bappenas lebih tahu, begitu pula lembaga-lembaga riset (dan konsultan) ekonomi.

Hari ini akan diputuskan oleh Majelis Ulama Indonesia apakah kopi luwak itu halal atau haram. Saya bukan coffee connoiseur, sehingga apresiasi saya belum sampai pada tingkat pencecepan seberapa nikmat kopi ini bila dibandingkan kopi arabica lain.

Di gerai Kopi Luwak, secangkir kopi yang konon berasal dari buangan lubang pantat luwak (Paradoxurus hermaphroditus) ini dihargai sekitar US$ 8. Kopi disajikan seperti upacara, dengan membuka kemasan secara saksama, lantas sisa potongan dibawa oleh pramusaji (“Untuk laporan ke kantor,” katanya), sampai akhirnya terhidang dalam cangkir khusus. Pagi ini, dalam talkshow di Radio Elshinta, seorang pendengar tak percaya kopi luwak itu tanpa campuran kopi biasa. Kira-kia dia mempersoalkan, “Berapa ekor luwak yang dibutuhkan untuk mendapatkan biji-biji kopi untuk diolah?”

© Foto nomor 3 oleh Kopi Luwak

Burung apakah yang menjadi merek marning ini? Tak penting. Padahal umumnya merek dagang yang menggunakan burung selalu menyebut namanya. Misalnya garuda, walet, dan prenjak. Namanya juga merek, sesuka yang bikin. :D

Piala Dunia akan dimulai. Penikmat TV butuh cemilan. Mungkin kerupuk Rp 500 ini akan menambah semangat untuk berteriak sampai serak. Dijamin halal. Setahu saya, bola jarang dijadikan merek cemilan. Kalau setahu Anda? :)

Merek karak (kerupuk/lèmpèng gendar) ini sudah lama, mungkin 20 tahunan. Bagi saya unik karena dia mengambil nama Bukit Sion/Zion. Tanpa ada hubungannya dengan Zionisme, Bukit Zion memang jadi salah satu idiom dalam Kitab Perjanjian Lama orang Nasrani, biasanya berhubungan dengan harapan.
Label ini unik, karena masih menggunakan teknik sablon di atas kertas karton.

Ini salah satu merek kuat wingko babat dari Semarang selain Kereta Api dari D. Mulyono, yaitu Stoom Mini, terbikin oleh N.N. Meniko. Ada hal yang kurang jelas bagi saya: mengapa tak menggunakan istilah lokal “jogjig” untuk mesin perata jalan itu. Anehnya, stoom (mini pula) bisa berfungsi sebagai lokomotif penarik gerbong. Dalam kehidupan nyata ini belum pernah saya lihat.
Adapun N.N., kabarnya itu singkatan “nona” — bukan nomen nescio” atau tanpa nama. Soal lain yang menarik adalah nama “meniko” — ini pelafalan Jawa untuk “punika” yang berarti “ini”. Jadi bisa saja produsennya itu adalah “nona yang ini”.
Aneka merek wingko babat bisa dilihat di OOP.
Kajian kemasan visual wingko babat bisa dilihat di DGI.

Dulu, waktu belum melihat iklannya di TV(RI), saya menyebut F&N itu “èf-èn” saja. Dari TV saya baru tahu cara membacanya: “èf-èn-èn”.
Ya, ini termasuk merek klasik (ada sejak 1883). Yang versi botol, berupa soda, masih beredar luas. Tadi siang saya lihat di sebuah warteg di Polonia, Jakarta Timur — tapi dalam dua versi logo, dan kesemuanya belum kedaluwarsa. Adapun versi kaleng lebih kaya karena ada beragam rasa.
Selain Coke dan F&N, merek klasik lainnya adalah GreenSpot. Adapun produk lain yang sempat kuat di sini (Jawa?) adalalah RC Cola. Kalau bicara raja, ya tetap Coke dan Pepsi. Bahkan F&N pun akhirnya dimiliki oleh Coca Cola.

Telur ayam yang dijual per keranjang ini “dikemas oleh Putra Unggas”. Benar, karena yang memproduksi telur adalah para kokok-petok betina. Lantas siapa itu Nyi Iteung yang rambutnya dikepang dua, memakai kebaya, dan berkain batik? Rasanya makin jarang wanita muda di pedesaan berbusana seperti itu. Bahkan di lapangan makin banyak yang bercelana panjang. Yang eksotis, dalam gaya lama, hanya ada dalam gambar. Adapun “ayam kampung liar” itu entahlah. Untuk memperoleh telurnya, manusia harus bersaing dengan predator lain. Ah jadi ingat “susu kuda liar” — bagaimana cara memerahnya?
Oh ya, kalau “telur ayam (dari) kampung liar” itu maksudnya apa?

Permen asem. Bukan perman asam. Itulah sebutannya. Pada tahun 2010 ini masih ada sekantong permen berharga Rp 1.000. Sudah naik sih. Beberapa tahun lalu, lupa kapan, masih boleh Rp 500 — dan Anda akan mengatakan, “Dulu malah boleh cepek lho!” Isi per kantong sekitar lima butir. Biasanya dijual di atas dalam bus kota Jakarta. Bisa Anda hitung berapa biaya kemasannya, sejak label kertas sampai plastik dan kokotannya (staples)? Sampai ke tingkat tertentu, ekonomi rakyat punya perhitungan sendiri untuk bertahan hidup.