
Permen asem. Bukan perman asam. Itulah sebutannya. Pada tahun 2010 ini masih ada sekantong permen berharga Rp 1.000. Sudah naik sih. Beberapa tahun lalu, lupa kapan, masih boleh Rp 500 — dan Anda akan mengatakan, “Dulu malah boleh cepek lho!” Isi per kantong sekitar lima butir. Biasanya dijual di atas dalam bus kota Jakarta. Bisa Anda hitung berapa biaya kemasannya, sejak label kertas sampai plastik dan kokotannya (staples)? Sampai ke tingkat tertentu, ekonomi rakyat punya perhitungan sendiri untuk bertahan hidup.

Getuk goreng itu penganan khas Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Ada banyak merek di sana. Bahkan dulu yang tak bermerek pun ada. Yang ini diberi identitas jelas. Eco, artinya “enak”. Selebihnya adalah sebuah klaim tentang nilai lebih, sebagai karya Pak Haji M. Gito Sodikin. Masalahnya siapa sebenarnya yang berhak atas Eco Asli? Kita tunggu label yang dengan gagah sembrono menyebut diri Eco Palsu. Adapun tentang kehalalan dan jenis minyak, saya tidak tahu — dan bukan kewenangan saya untuk memastikan.

Ada yang tahu riwayat kacang disco dari Bali ini? Lantas sebenarnya ada berapa versi dan merek? Nama “kacang disco” jelas unik, demikian pula penulisannya yang belum mau ber-Indonesia: “disco”, bukan “disko”. Penamaan ini mencerminkan Bali yang terbuka, tak canggung bersentuhan dengan yang asing. Tak banyak yang saya ketahui bahwa oleh-oleh dari Bali ya kacang disco.

Mungkin gampang, mungkin sulit, untuk menetapkan sebuah merek. Maka jadilah lédré dengan merek Anyar Mas — artinya, kalau diucapkan, “Baru, Mas!” Entahlah apakah apa kompetitor yang akan membuat brand baru “Lawas Mas”. Sebuah cerita tentang lédré pisang dari Bojonegoro, Jawa Timur. Ada banyak merek di sana. Misalnya Dua Bidadari yang bersahaja itu. Apa itu lédré dan cara membuatnya, silakan berguru ke Bu Nina Mlandhing.

Permen pertama yang saya kenal ya Davos. Davos pertama yang saya tahu ya permen, bukan sebuah tempat di Swiss sana.
Permen? Waktu saya kecil, bapak saya (almarhum) membedakan permen dan kembang gula. Permen itu dari peppermint, pedas semriwing. Kalau kembang gula itu manis. Di Yogya, sampai awal 80-an, generasi yang terlahir tahun 60-an dan sebelumnya masih mengenal kata “mbanggula” (baca: mbanggulo). Kemudian iklan di radio, koran, dan TV memperkuat kata “permen”, termasuk untuk kembang gula. Tapi kalau tidak salah, dulu Sugus sempat memakai kata “kembang gula”. Di luar Yogya, misalnya Salatiga dan Semarang, kata “mbanggula” jarang dipakai.
Nah… si permen yang semriwing yang saya kenal sejak awal itu ya Davos. Desainnya simpel, mengandalkan tipografi. Adapun permen pesaing yang sezaman, waktu saya TK, adalah Norton. Sedangkan kembang gula pelengkapnya adalah Nicia.
Sampai hari ini Davos masih ada. Terbikin oleh PT Slamet Langgeng, Purbalingga, Indonesia. Isi sepuluh biji, berat netto 25 gram. Cerita selengkapnya bisa Anda dapat dari Yusuf Iskandar dalam dua tulisan, yang ini dan itu.
Cerita lain? Simbah putri saya, yang meninggal pada usia sekitar 100 tahun, adalah perokok berat. Begitu beratnya sehingga kaca pintu dan jendela menjadi kecokelatan. Selain rokok, dia juga suka Davos.
Ini teh melati, bikinan Janur Benggol, Bali. Kemasannya bisa disebut sederhana, bisa disebut mewah. Sederhana karena kanya memakai karton lalu dibalut stiker glossy. Sedangkan tehnya di dalam dibungkus dengan aluminium foil. Simpel dan kuat desainnya. Tapi bisa saja bagi orang lain justru kemasan macam ini memberi kesan premium. Ah, soal selera dalam penilaian kok. Begitu pula soal dua wanita Bali tempo dulu yang fotonya kehijauan. Mungkin sesaui tema warna label, tapi bisa juga memberi kesan “luntur”. Bagaimana Anda menilanya?

Ini vanili klasik, bikinan Solo, yang masih bertahan. Saya mendapatkannya di Ponorogo, Jawa Timur, dengan harga Rp 200 per sachet. Kemasan kertas sudah modern seperti kantong gula (lihat contoh di kantongrasa.com). Dengan wadah kertas, aroma khas vanili lebih menerobos ke luar. Mengapa memakai merek Hanoman, saya tak tahu. Memang sih tak sedikit produk lawas yang dikemas dalam kantong yang memakai merek wayang, misalnya pemutih cucian cap Kumbokarno.


Masih banyak kaleng kerupuk berkaca yang ditera merek dengan cara stensil (disemprot cat). Kerupuk Sehati dari Wonogiri, di warung ayam bakar Mbok Tiyem, ini beda. Seperti beberapa merek di pelbagai daerah, kalengnya sudah disablon (cetak saring, screen printing). Hasilnya lebih halus, tapi raster saringan masih tampak kalau dilihat lebih saksama. Ah yang penting dijamin halal, kan?

Minna juga bisa berarti nama sebuah kota di Nigeria. Sebagai rokok, merek yang masuk Jakarta selama setahun terakhir ini belum terlalu terkenal. Meskipun begitu, pada bungkusnya langsung tertera “pilihanku” — mirip kampanye pemilu. Tersebut pula dalam bungkus, “… sehingga tercipta sebuah rokok kretek Minna, rokok generasi baru berkualitas istimewa.” Rokok generasi baru untuk generasi yang mana? Generasi sekarang dan mendatang sebaiknya tidak merokok. Minna terbikin oleh PT Karya Dibya Mahardhika, Indonesia. Di kota apa? Kabarnya di Surabaya. Pemiliknya adalah eks-petinggi di PT Panamas (HM Sampoerna).

Apakah kerupuk yang semoga punya rasa ikan ini berbahan daging lumba-lumba, satwa air yang lucu dan cerdas itu? Semoga tidak. Tapi kalau soal merek, es krim saja memakai merek dagang Flipper, kan? Yang penting: awas barang tiruan. Jika Anda menemukan tiruan, kontaklah ponsel sang juragan.
