
Yang namanya tanda jempol memang abadi. Itu sebabnya di blog ini ada kategori “produk jempolan”. Termasuk untuk roti kacang hijau dari Maemunah Bakery, Bekasi, yang saya temukan di Ciracas, Jakarta Timur. Kemasannya modern, begitu pula mereknya: Dee Dee. Apa arti Rp 500 di Jabodetabek? Bappenas lebih tahu, begitu pula lembaga-lembaga riset (dan konsultan) ekonomi.

Hari ini akan diputuskan oleh Majelis Ulama Indonesia apakah kopi luwak itu halal atau haram. Saya bukan coffee connoiseur, sehingga apresiasi saya belum sampai pada tingkat pencecepan seberapa nikmat kopi ini bila dibandingkan kopi arabica lain.

Di gerai Kopi Luwak, secangkir kopi yang konon berasal dari buangan lubang pantat luwak (Paradoxurus hermaphroditus) ini dihargai sekitar US$ 8. Kopi disajikan seperti upacara, dengan membuka kemasan secara saksama, lantas sisa potongan dibawa oleh pramusaji (“Untuk laporan ke kantor,” katanya), sampai akhirnya terhidang dalam cangkir khusus. Pagi ini, dalam talkshow di Radio Elshinta, seorang pendengar tak percaya kopi luwak itu tanpa campuran kopi biasa. Kira-kia dia mempersoalkan, “Berapa ekor luwak yang dibutuhkan untuk mendapatkan biji-biji kopi untuk diolah?”

© Foto nomor 3 oleh Kopi Luwak

Korek batangan belum tersingkirkan oleh korek gas. Uniknya, produsen bisa mengeluarkan merek, maupun ilustrasi, yang bermacam-macam. Misalnya yang bergambar Ontobugo — versi lain dari penyebutan Antaboga. Dalam pewayangan (Mahabarata), Sang Hyang Antaboga yang bisa berubah menjadi naga itu sangat sakti, bisa menghidupkan orang mati. Putri Antaboga bernama Dewi Nagagini. Perkawinan sang putri dengan Bima menghasilkan Antareja, tokoh underground (karena hidup di bawah permukaan tanah) yang salah satu kesaktiannya adalah jilatan maut; siapapun yang dia jilat telapak kakinya akan mati.

Burung apakah yang menjadi merek marning ini? Tak penting. Padahal umumnya merek dagang yang menggunakan burung selalu menyebut namanya. Misalnya garuda, walet, dan prenjak. Namanya juga merek, sesuka yang bikin. :D

Apa hubungan air murni tersuling dan singa? Merek memang bisa hinggap di benak dengan pelbagai jalan. Siapa tahu ini zodiak si juragan air aki. Tentang singa, banyak orang tahu bahwa sebutannya raja rimba (ada juga yang menyebut harimau sebagai raja hutan). Nah, meski ada film The Lion King, sejauh saya tahu ada merek dagang yang menggunakan nama Raja Singa. Tentang istilah “aki”, yang sering ditulis sebagai “accu”, itu karena warisan Belanda (accumulator). Cara membacanya memang “ak-ki” tapi ketika penutur mengucapkan suku kata “ki” maka bibirnya dimonyongkan seperti menyuarakan “ku”.

Bis, atau bus menurut ejaan resmi (tapi jarang orang mengucapkan “bus”, lebih sering “bes”), memang kendaraan rakyat. Maksud saya, dikenal oleh semua orang bahkan oleh mereka yang tak pernah menggunakannya — kecuali ketika di bandara dan luar negeri. Maka wajar saja jika sesuatu yang popular jadi merek. Tapi untuk kantong plastik hitam, yang konon tak cocok untuk pembungkus makanan ini, apakah mereknya diingat oleh konsumen? Konsumen plastik yang saya maksudkan adalah pemilik warung yang membeli plastik dari toko.

Piala Dunia akan dimulai. Penikmat TV butuh cemilan. Mungkin kerupuk Rp 500 ini akan menambah semangat untuk berteriak sampai serak. Dijamin halal. Setahu saya, bola jarang dijadikan merek cemilan. Kalau setahu Anda? :)

Merek karak (kerupuk/lèmpèng gendar) ini sudah lama, mungkin 20 tahunan. Bagi saya unik karena dia mengambil nama Bukit Sion/Zion. Tanpa ada hubungannya dengan Zionisme, Bukit Zion memang jadi salah satu idiom dalam Kitab Perjanjian Lama orang Nasrani, biasanya berhubungan dengan harapan.
Label ini unik, karena masih menggunakan teknik sablon di atas kertas karton.

Saya temukan bungkus kosong harmonika yang sudah terinjak ini di pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Desainnya masih seperti dulu, seolah teknologi cetak tak berkembang, bahkan dengan sablon pun cetakan spot macam ini bisa. :)

Ini salah satu merek kuat wingko babat dari Semarang selain Kereta Api dari D. Mulyono, yaitu Stoom Mini, terbikin oleh N.N. Meniko. Ada hal yang kurang jelas bagi saya: mengapa tak menggunakan istilah lokal “jogjig” untuk mesin perata jalan itu. Anehnya, stoom (mini pula) bisa berfungsi sebagai lokomotif penarik gerbong. Dalam kehidupan nyata ini belum pernah saya lihat.
Adapun N.N., kabarnya itu singkatan “nona” — bukan nomen nescio” atau tanpa nama. Soal lain yang menarik adalah nama “meniko” — ini pelafalan Jawa untuk “punika” yang berarti “ini”. Jadi bisa saja produsennya itu adalah “nona yang ini”.
Aneka merek wingko babat bisa dilihat di OOP.
Kajian kemasan visual wingko babat bisa dilihat di DGI.