Biarkanlah sesekali anak pergi, meninggalkan rumah selama beberapa hari, bukan karena kita usir. Itu akan membuat mereka berlatih mandiri dan mencicipi dunianya sendiri tanpa orangtua. Namun sesungguhnya bukan hanya anak yang belajar. Orangtuanya pun belajar. Dalam rindu dan was-was, orangtua juga mematangkan diri.
Tak ada yang istimewa kata Anda, karena ini siklus belaka dari generasi ke generasi. Tapi bagi saya tetap saja bernilai. Berbahagialah yang mencicipi rindu dan was-was.
Hanya orang sibuk yang bisa menikmati santai. Penganggur malah mencari kesibukan, syukur ada uangnya.
Akhir pekan adalah dunia privat, kata sebagian orang. Tapi dalam kenyataan akhir pekan adalah urusan dengan keluarga, anak. Bagi yang lajang juga urusan dengan keponakan dan keluarga besar. Ditambah urusan pertetanggaan.
Jangan mengeluh. Untuk diri sendiri waktu takkan pernah cukup. Kecuali kita jadi Tarzan di hutan. Tapi di sana harus sediakan waktu untuk warga rimba.
Aktor Pong Harjatmo mencoreti kubah gedung DPR-RI kemarin. Hanya dagelan tanpa hasil, kata sebagian orang. Tapi saya tetap mencatat sejumlah pelajaran.
Pertama: ketika saluran koreksi mampet dan rakyat empet, maka yang dilakukan bisa tak terduga.
Kedua: kebugaran itu penting. Dalam usia 68, Pong masih tampak sentosa. Orang sebayanya mungkin tak kuat berdiri dan membungkuk menyemprotkan cat seperti di Langsat.
Ketiga: merek Pylox memang kuat, padahal untuk ngebom ada yang lain.
Tadi ketika melewati TV saya lihat iklan entah apa. Adegannya: seorang murid boleh pulang duluan karena bisa menjawab pertanyaan guru.
Uh, kelas menjadi penjara! Murid yang berlaku baik menurut guru boleh keluar duluan. Yang lain hanya menunggu pembebasan.
Waktu saya SMP, guru aljabar yang mengajar jam terakhir hanya memulangkan kami jika ada anak yang bisa menjawab.
Jika sekelas bodoh semua, yang harus dievaluasi bahkan dievakuasi pertama kali adalah gurunya.
Apa sih yang penting dalam sebuah acara? Kehadiran. Itu sudah merupakan peran serta.
Selebihnya adalah ngobrol bahkan disertai tawa selagi ada orang tampil di pentas. Semua acara serupa pentas musik: tak harus disimak dengan takzim.
Lalu masing-masing mengabarkan kehadiran dan perjumpaan dari ponselnya ke Twitter dan Facebook.
Tak ada yang baru. Bedanya dulu belum ada media sosial. Maka dulu ada pesohor datang ke TIM, setelah difoto wartawan dia pulang.
Berterima kasihlah kepada ponsel dan internet. Kita bisa menyapa kawan dan kerabat sekadar ingin tahu kabar. Atau malah tak perlu menyapa. Cukup mengintip.
Berterima kasihlah kepada internet, karena 20-40 persen teman Anda sekarang mungkin orang baru. Bukan teman sekolah, bukan eks-sejawat, bukan saudara. Orang-orang yang Anda kenal melalui media sosial.
Jika hari ini ada waktu, cobalah mengontak kawan lama yang tak memakai internet. Sekadar bertanya kabar.
Cobalah. Apa manfaatnya, entahlah.
Ada yang membanggakan nomor ponsel bersedikit digit, “Ini bukti gue udah pake sejak 1994.”
Bangga. Karena pernah termasuk pemilik awal blog, akun Facebook, akun Twitter, iPod, BlackBerry, iPhone, iPad, dan seterusnya.
Buat saya tidak soal. Misalkan pun barang itu kurang fungsional juga bukan soal.
Setiap orang butuh peneguhan diri. Caranya macam-macam.
Mereka yang suka pamer justru orang yang punya kesadaran sosial. Mereka membutuhkan orang lain untuk mendapatkan pengakuan.
Kalau Anda?
Ahad dengan satu atau lebih koran edisi Minggu. Rasanya memang merupakan kemewahan.
Hingga kini tak semua mampu berlangganan koran. Bahkan yang mampu pun ogah berlangganan koran karena televisi dan terutama internet menggantikannya.
Di media sosial, kabar kita dapat karena dibagikan oleh kawan. Tak perlu kita menengok langsung ke situs berita.
Kabar koran hanya menarik jika diperbicangkan oleh banyak orang. Koran online harus berterima kasih kepada loper gratis pembagi konten.

Bagi orang sibuk, hari libur adalah prei memasak. Makan di luar jadi pilihan. Masalahnya, karena pasangan bekerja sama-sama sibuk, sehari-hari juga makan di luar. Minimal makan siang.
Anak-anak sekolah yang padat jadwal, pagi berangkat dan petang baru masuk ke rumah, sehari-hari juga makan di luar. Memang kadang menyantap bekal dari rumah, tak perlu mengudap.
Makan di luar saat prei karena sekalian jalan. Atau memang diniati. Makanan rasa rumah? Entah.
Banyak yang sudah merancang acara hari libur, apalagi harpitnas, untuk bepergian. Ada juga yang merencanakan untuk melalap buku sambil menikmati musik. Atau berniat membersihkan rumah dan memperbaiki atap (baca: mengawasi tukang).
Tentu ada pula yang tak banyak rencana. Semuanya mengalir. Dinikmati.
Termasuk di antara yang mengalir itu adalah yang kebingungan karena kesepian tak punya teman. Twitter dan Facebook menjadi pelampiasan. Tak penting apa yang dilontarkan.
Apakah Anda termasuk itu?