“Media berlebihan. Istri dan anak-anak perempuanku lebih peduli Manohara daripada Prita,” keluh seorang kawan.
Teman yang lain menggerundel, “Waktu ada berita TKW dianiaya bahkan dibunuh, orang-orang yang suka nonton TV itu kurang peduli, jarang membahas di obrolan kantor,” keluh seorang kawan.
Seorang pria yang ikut menggalang dukungan terhadap Prita Mulyasari menggerundel, “Di luar internet sulit menggalang dukungan dari kaum perempuan. Padahal mestinya untuk isu ginian, yang korbannya seorang ibu, para perempuan lebih peduli. Kasus Prita bisa mengenai mereka juga.”
Akhir pekan lalu seorang kawan kirim SMS, “Sial! Kasus prita ditiban trs sm manohara. Org2 jd krg peduli!”
Saya tak punya data apakah kaum perempuan yang tidak atau jarang menggunakan internet itu lebih peduli Manohara ketimbang Prita. Saya juga belum punya data apakah lontaran televisi tentang Manohara itu diperhatikan oleh lebih banyak penonton.
Tentang perbedaan perlakuan terhadap Manohara Pinot dan Prita Mulyasari, seorang petinggi dikutip berkelakar (sambil mencolek sambal rujak), “Itulah bedanya jelita dan jelata.” Guyon? Dari seorang pejabat pemerintah di depan wartawan yang mewakili publik?
Saya tak mengikuti kabar Manohara di televisi maupun di internet (termasuk blog). Info yang saya dapatkan, tanpa saya minta, adalah terusan cerita sejumlah orang yang merujuk ke televisi dan internet.
Maka marilah kita lirik hasil temuan di Google tadi pukul 01.36. Untuk Manohara Pinot adalah “734.000 for manohara pinot. (0.17 seconds)“. Sedangkan untuk Prita Mulyasari adalah “9,540 for prita mulyasari. (0.08 seconds)“. Jomplang banget.
Adapun di Google Trends, peringkat empat wilayah Indonesia yang terbanyak, per hari ini 01.37, adalah Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jakarta Raya.
Sudahlah, jangan gusar. Bagaimanapun televisi itu raja. Pesawat televisi juga ada di gerobak rokok. Cara mencerna siarannya relatif lebih mudah disambi bilang dibandingkan tayangan internet melalui laptop dan desktop.
Internet? Pengguna lebih sedikit daripada penonton TV. Dari sekitar 25 juta pengguna di Indonesia (Mei 2008), ada 2,45 juta yang ikut Facebook. Nah, dari yang di Facebook itu, 80.000 lebih ikut Cause dukungan untuk Prita. Dan jangan lupa: kasus Prita, yang menuai pemerkaraan perdata dan pidana dari RS Omni International Tangerang bermula dari internet — dan tak semua pengguna internet tahu atau hirau pada awal kasus.
Kembali Manohara: gurauan sang petinggi mungkin ada benarnya. Memang sih Prita bukan jelata. Untuk kondisi Indonesia saat ini orang yang bisa memakai internet, punya asuransi kesehatan, dan memakai layanan rumah sakit swasta bergedung bagus, jelas bukan orang miskin.
Manohara cantik, mewakili dunia impian sebagian orang (ber-uang, glamor, bersuamikan pangeran kaya), lalu mengalami perlakuan buruk, dan seterusnya. Dengan atau tanpa remah dramatisasi, itu sudah bisa menarik perhatian orang. Semua orang juga tahu.
Hanya saja soal begituan kadang sulit diakui secara terbuka oleh penyuka berita tentang Manohara karena sebagian orang, entah kenapa, cenderung malu kalau ketahuan mengikuti gosip dan infotainment (jawaban aman: “yah kadang aja sih nonton…”) — padahal tayangan gosip di layar beling itu bukan sajian pornografis haram jadah kan?
Nah, dalam konteks ini guyon Pak Petinggi ada benarnya. Sebagai si teraniaya, Manohara lebih menarik ketimbang TKW korban kekerasan manjikan. Malu atau tidak, orang media (terutama hiburan) juga sadar nilai Manohara dalam kelayakan berita.
Sedangkan soal perhatian terhadap Prita, seorang ibu rumah tangga (yang sangat jarang berinternet) bilang, “Kesannya kok orang-orang yang pake internet itu sok, soalnya lebih duluan tahu soal Prita, lantas ngelecehin yang cuma nonton tivi. Ya salahnya tivi juga kenapa nggak dari dulu kasih info soal Prita.”
Saya tak tahu apakah netters, terutama yang tak doyan infotainment, itu memang sok, belagu, merasa lebih well informed, dan lebih peduli. Toh nyatanya, tak semua bloggers, termasuk saya, membahas Prita lebih awal seperti halnya, untuk sekadar contoh, Iman Brotoseno pada 18 Mei 2009.
Adapun perihal Manohara, info awal tentag dia yang ada di blog antara lain di JakartaSocial. Posting 30 April tahun lalu itu hingga kini masih menuai komentar, bahkan sampai pagi ini sudah terkumpul 1.775.
Yah, inilah salah satu potret dunia media dan masyarakat kita. Maka janganlah gusar jika ada orang yang punya pertanyaan kurang ajar, “Kalo misalnya yang pertama kali mengalami kasus Ibu Prita itu Manohara atau seleb bening lainnya, bakal lebih gede nggak gaung pemberitaannya?”
© Ilustrasi: unknown
“Ada nggak sih undang-undang atau peraturan untuk wartawan yang ngeblog?” tanya seorang ibu tadi siang. Dia seorang blogger dan pelaku komunikasi pemasaran.
Lantas dia contohkan sejumlah hal. Misalnya saja, tulisan seorang reporter yang dimuat korannya itu “positif” (secara implisit merekomendasikan sebuah produk), tetapi yang dimuat blognya “negatif” (secara eksplisit menonjolkan kekurangan produk).
Menurut ibu itu, sang pewarta beralasan, “Yang dimuat di koran sudah diedit atasan, nah yang lengkap sesuai kata hati ada di blog saya.”
Bagi vendor dan penasihat komunikasinya, soal seperti ini mengesalkan. Perencanaan komunikasi mereka bisa berantakan.
Kepada ibu itu saya mencontohkan hal lain, yang dilakukan oleh jurnalis lain yang punya blog pribadi (bukan blog dinas). Isi blog pribadinya itu tak hanya pengalaman dan opini pribadi, melainkan juga copy-and-paste dari beberapa tulisannya di koran.
Jika menyangkut sumber berita, apakah posting dobel itu mengesalkan, apalagi kalau terbukti bahwa penggandaan itu memperluas peredaran konten (positif)?
Umumnya produsen, orang public relations, dan pejabat, menyukai publisitas yang luas. Tak rugi mengongkosi jamuan makan, hotel dan tiket pesawat — misalkan dalam peliputan terundang. Minimal tak rugi waktu telah merelakan diri diinterviu.
Dua kaki di dua wilayah
Bagaimana dengan pembaca setia blog tersebut? Sebagai “pelanggan”, bisa saja mereka kesal karena dilolohi tulisan yang merupakan produk sebuah lembaga penerbitan. Bukan tulisan pribadi, begitulah. Masih terasa sebagai tulisan orang yang terlembagakan.
Akan tetapi bisa juga pelanggan lain malah merasa dipermudah, serasa melakukan one stop shopping. Sekali kunjung blog dapat semua tulisan.
Jadi, gimana dong baiknya? Yang baik dan buruk, serta benar dan salah, kita diskusikan nanti. Kalau “gimana dong” enaknya?”, saya punya pandangan yang semoga enak.
Baiklah saya menyodorkan misal. Taruh kata ada seorang redaktur majalah teknologi digital yang juga blogger. Isi blognya jauh berbeda dari majalahnya. Misalnya tentang pasar becek dan angkutan umum. Adapun majalahnya membahas router dan kamera video.
Kalaupun sesekali dia ngomongin soal teknologi digital dalam blognya, itu tak ada hubungan dengan laporan utama majalahnya maupun (apalagi) reviu produk di majalahnya. Misalnya tentang manfaat ponsel bagi seorang penjaja sayur gerobak untuk melayani pelanggan.
Perihal reviu produk, alasannya sederhana: pengujian produk dilakukan secara dinas, atas nama lembaga, dengan fasilitas kantor. Tidak pada tempatnya itu dimunculkan di blog pribadi, apalagi muncul lebih dini.
Dia menarik garis tegas dan itu ternyatakan dalam disklaimer. Alasannya: supaya pembaca blognya dan pembaca majalahnya, termasuk para vendor dan pengiklan, bisa memilah. Apa yang dinyatakan dalam blognya tak ada hubungan dengan majalahnya (demikian pula sebaliknya), apapun kandungan opini di dalamnya.
Dari repot sampai memperalat dan diperalat
Alasan lain pemilahan tadi, si blogger memang tak ingin merepotkan maupun direpotkan bagian iklan majalahnya.
Yang namanya urusan repot itu misalnya opini “negatif” dalam blognya tentang sebuah produk. Dengan [sic!] atau tanpa uji dengan fasilitas kantor, opini “negatif” bisa mengurungkan niat pengiklan. Gara-gara satu orang ngoceh, kantornya kena getah. Bagian iklan akan menyumpah serapah.
Itulah sebabnya dia tak membuat penghakiman terhadap produk apapun yang bakal bersinggungan dengan majalahnya.
Bagaimana kalau isi blognya kebetulan “positif”, sehingga vendor dan penasihat komunikasinya girang?
Inilah yang diprasangkakan si blogger: orang iklan akan menggunakan blognya untuk merayu pengiklan, bila perlu dijadikan bundel paket (tapi tak ada dalam kontrak). Bikin repot karena diperalat.:) Jadi lebih baik tak membahas produk.
Godaan memang banyak. Si blogger yang jurnalis itu bisa memperalat majalahnya untuk kepentingan blognya.
Misalkan saja, karena hubungan yang baik dengan vendor, dia minta dipasangi iklan untuk blognya, atau minta dipinjami barang atas nama reviu di blog dan majalah, atau minta ditaja (misalnya berupa door prize) ketika si blogger bikin kopdar.
Jika vendor dan produk yang dia mainkan itu merupakan incaran orang iklan di majalahnya, bisa-bisa dia menambah seteru di kalangan internal. Pihak yang berpotensi dirugikan merasa peluangnya dibajak rekan sendiri. Jadi? Lebih baik tak ada urusan begituan. Blog ya blog. Majalah ya majalah.
Soal HAM, kenyamanan kota, politik…
Paparan contoh tadi sepintas simpel. Lantas bagaimana dengan liputan perihal kasus pelanggaran HAM — bukan liputan terundang ke pabrik mobil di Jepang atau ke galangan kapal di Eropa — tapi muncul di sebuah blog wartawan?
Dikarenakan komitmennya terhadap HAM, bisa saja seorang reporter membuat dua tulisan untuk korannya dan untuk blog pribadinya. Isinya berbeda, tetapi salah satu lebih lengkap.
Hal sama berlaku untuk reporter desk kota sebuah koran yang juga gatal mempersoalkan tata kota dan pelayanan pemkot di blognya. Di koran kritis, di blog gatal. Kemasan berbeda, tapi intinya sama.
Nah, bagaimana enaknya untuk kasus ini, saya mengajak Anda bertukar pikiran.
Blog sebagai penerbitan pribadi
Sebelum ada blog, ladang jurnalis memang hanya di medianya. Memang sih sesekali mereka menyampaikan pikirannya di seminar, ruang kuliah, dan jurnal — tetapi itu tak saban hari.
Hanya dalam situsi represif, sehingga kebebasan arus informasi terhambat, maka jurnalis bisa memperluas lapangan ke media bawah tanah. Di koran dan majalahnya mereka menulis manis dan aman, tetapi di media gelap mereka bersaksi lebih banyak — disertai risiko keamanan pribadi dan keluarganya.
Kemudian internet tumbuh dan mengenal pengayaan bentuk. Akhirnya setiap orang bisa punya penerbitan pribadi yang bernama blog. Dalam setiap orang itu termasuk pula wartawan. Artinya wartawan yang blogger (seperti) bekerja untuk dua media (yang berbeda).
Sebagai karyawan dari perusahaan media, para wartawan diikat oleh peraturan perusahaan serta standar dan etika kerja profesional, baik dari internal redaksi maupun korps profesi. Beberapa persinggungan urusan peliputan dan blog pribadi mungkin bisa merujuk ke sana.
Selebihnya ya merujuk kepada kepantasan yang antara lain dibentuk oleh khalayak. Termasuk dalam khalayak adalah narasumber dan pembaca koran/majalahnya (cetak maupun online) serta pembaca blognya.
Pembaca blog yang akan menimbang manakah posting uring-uringan penuh kesewenangan, mana pula posting yang sangat partisan jika menyangkut politik, dan manakah posting yang terasa bau advertorialnya jika menyangkut uang. Justru karena blog pribadi adalah penerbitan milik sendiri…
© Ilustrasi: modifikasi dari Typewriter oleh John Olsen (dclips.fundraw.com)
Ehm, judul dan sekaligus pertanyaan yang aneh. Jawabannya juga berupa tanya balik: apakah mungkin?
Boleh saja kita tidak menggunakan internet dan tak peduli dengan itu. Lalu cobalah minta tolong Pak RT atau Bu Minah penjual nasi uduk untuk mencari nama kita di Google.
Jika nama kita ada dalam hasil pencarian, maka bolehlah Bang Ojek dekat portal akan berseru, “Selamat datang di rimba internet!”
Internet telah menjadi belantara teks dan belukar informasi. Halaman web bisa memuat apa saja, termasuk nama kita. Bahkan tanpa saya inginkan, seseorang memasukkan titik rumah saya pada sebuah peta online hasil foto udara (satelit). Bukan nama saya yang masuk melainkan nama anak-anak saya.
Tanpa kita inginkan, informasi tentang diri kita bisa tersimpan di internet. Menjadi ketua panitia tujuhbelasan dan dikutip di sebuah buletin fotokopian untuk warga, lalu seseorang menyalinnya ke internet, maka nama kita (bahkan tampang kita) akan tersimpan di sana.
Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin asin (bagi yang pernah ngerasain), kita tak mungkin mengelak dari internet. Bung Besar dalam cerita George Orwell (1984) menjelma sebagai sekumpulan bung kecil yang tak kita kenal.
Adakah yang berubah dari kita? Barusan seorang teman saya anjurkan masuk ke Plaxo untuk menyimpan alamat kontak dan agendanya, agar suatu kali bisa disinkronisasikan dengan komputer lain.
Memang Google dan layanan lain pun akhirnya bisa melakukan itu — tapi diskusi kami tetap soal Plaxo. Pada tahun 2000 jejaring sosial belum dikenal, sehingga tampaknya Plaxo lahir terlalu dini. Tak lebih itu hanya personal information manager versi online.
Menurut teman saya, namanya Happy, yang sekarang merasa happy karena sudah menjadikan sejumlah blognya sebagai heritages, orang-orang telah berubah. Katanya, dulu ada kecenderungan orang untuk ngumpet dari internet, tapi sekarang orang ringan saja mengumumkan kehadiran dirinya di alam maya.
Mungkin dia benar. Lihatlah segala layanan online berbasis komunitas. Keterhubungan telah menggiring kita untuk menyatakan diri, dari blogging sampai microblogging. Sulit membayangkan bahwa sepuluh tahun lalu, saat belum ada Plurk, Anda dengan enteng akan mengumumkan diri sedang ngopi sendirian sementara istri Anda ikut bertamak diri dalam pesta diskon gila-gilaan tengah malam di toserba besar.
Apakah internet telah menggelincirkan orang menjadi eksibisionis yang tak sungkan membagikan sebagian dari sisi privat kehidupannya?
Mungkin. Pernah saya baca blog, dari orang tak jelas, yang mengeluhkan perilaku istrinya. Pernah juga saya baca seorang istri, entah siapa, yang menumpahkan serial kekesalan kepada suami melalui blog. Bahkan ada blog yang memuat lalu lintas konflik seorang suami dengan bekas istrinya. Mirip “infotainment” (dalam pengertian Indonesia) tetapi ditulis sendiri oleh pria itu.
Misalkan dia tak menulis, bukan tidak mungkin blog lain yang akan membahas kehidupan rumah tangganya.
Ketika urusannya melebar ke mana-mana, termasuk blog yang membahas keburukan bekas tempat kerja dan bekas sejawat (serta bekas juragan), maka seorang kawan menghentikan niatnya untuk ngeblog. Baginya konten pribadi internet punya sisi yang menggelisahkan.
Persoalannya bukan sekadar domain dan hosting traktiran saya itu tak akan saya perpanjang melainkan soal kenyamanan bagi dia. Justru itu yang lebih wigati.
Mungkinkah dia menghindar dari internet, khususnya penerbitan pribadi yang bernama blog?
Dia penulis yang baik. Karyanya yang ilhami (inspiring) malah disalin oleh orang lain untuk sebuah blog.
Dengan segala sesal baiklah kita akui bersama bahwa kita tak dapat menghindar dari internet padahal kita mempersetankannya.
© Ilustrasi tentang Andy Warhol: tak diketahui