
Kartu resmi FIFA World Cup 2010 juga masuk Indonesia. Penyalur resminya adalah jaringan Indomaret, yang menjual dengan harga Rp 35.000 per set. Kartu Piala Dunia di Afrika Selatan ini tampil dalam dua versi, hitam dan putih. Isinya sama. Pembuatnya adalah salah satu jagoan kartu dunia selain US Playing Cards, yakni Carta Mundi dari Belgia.


Diperoleh: Januari 2010 * Kontributor: sendiri (dibeli di Pondokgede, Rp 35.000) * Asal kartu: Belgia * Pembuat: Carta Mundi * Bahan: art carton * Ukuran: 63 x 88 mm * Cetak: offset

Ada yang khas dalam ekpsresi visual Jepang. Semodern apapun desain grafisnya dia bisa tidak terjebak menjadi Barat. Kartu-kartu ini adalah contohnya. Kartu ini unik karena setiap lembarnya berilustrasi. Maksud saya, untuk Berlian delapan itu misalnya, tidak berisi delapan ikon. Deknya juga rada beda dari kebanyakan kartu — lebih terasa sentuhan Timur Jauh-nya. Adapun Joker, silakan Anda nilai sendiri.


Diperoleh: Februari 2009 * Kontributor: sendiri (dibeli di Jakarta) * Asal kartu: Jepang * Pembuat: Entah siapa, dicetak di RRC * Bahan: art carton * Ukuran: 62 x 88 mm * Cetak: offset

Saya menduga kartu remi dari Jepang ini untuk anak-anak kecil. Dari tulisannya? Tentu tidak. Saya menebaknya dari desainnya yang sangat cocok untuk bocah, dengan gambar yang tampaknya melatih pengenalan benda. Lucu juga ya, selain belajar mengenal kacamata, buah, dan pelangi, anak-anak juga diajari mengenal buaya. Hiragana Playing Cards ini bukan buatan Jepang melainkan Cina.
Diperoleh: Februari 2009 * Kontributor: sendiri (dibeli di Jakarta) * Asal kartu: Jepang * Pembuat: Entah siapa, dicetak di RRC * Bahan: art carton * Ukuran: 62 x 88 mm * Cetak: offset

Apa itu largemouth bass? Ternyata bukan seri atau mereka alat musik petik yang berdentam. Itu nama ikan yang tampang dan informasi tentangnya menjadi dek kartu remi. Kartu ini adalah terbitan resmi American Expedition – The Modern Day Exlplorers. Namanya juga dagangan, barang ini akhirnya sampai juga di beberapa toko Jakarta. Tak ada yang istimewa dari kartu ini selain dek dan karton kemasannya. Kartu As juga biasa, demikian pula Joker.
Diperoleh: Juli 2008 * Kontributor: sendiri, beli di Ace Hardware * Asal kartu: Amerika Serikat * Pembuat: American Expedition – The Modern Day Explorers, dicetak di RRC * Bahan: art carton * Ukuran: 62 x 88 mm * Cetak: offset


Inilah abdi dalem (hamba istana) yang menjadi penggembira, kadang boleh berperilaku berlebihan. Panakawan (saya menyebutnya “punakawan”) adalah bagian dari kultur feodal. Masih saja sebagian dari kita menempatkan kritik kepada penguasa sebagai cara punakawan yang “guyon maton” (bercanda tapi tak mengganggu tata). Jika tak diperlukan, seperti halnya kartu remi ini, punakawan tersimpan dalam kotak. Tanpa suara.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Yang istimewa dari kartu ini adalah ukurannya yang dua kali ukuran kartu biasa (lihat perbandingan pada gambar). Motif punggung dan ilustrasinya sih biasa. Untuk dipegang masih nyaman, tetapi kalau untuk dikocok oleh tangan mungil kartu jumbo agak merepotkan juga. Kurang jelas untuk apa kartu sebesar ini. Untuk orang iseng mungkin? Jika ya, dari yang iseng itu ada yang punya blog khusus kartu.
Oh ya, kartu jumbo ini berapa kalinya kartu mini?
Diperoleh: Februari 2009 * Kontributor: sendiri (dibeli di toko barang Jepang, Jakarta, bersamaan dengan gunting kidal) * Asal kartu: RRC, tetapi memakai tulisan Jepang * Pembuat: tidak jelas. * Bahan: art carton * Ukuran: 95 x 140 mm * Cetak: offset

Ukuran kartu ini cuma 10 x 20 mm (lebih besar sedikit dari kuku jempol tangan orang dewasa), dan itu pun masih bersambungan, belum dipotong. Kartu mini ini merupakan bonus dari buku yang juga mini (7 x 8,5 cm) karya Mark Wilson, Little Book of Card Tricks. Yah, panduan sulap begitulah. Bandingkan ukuran buku mini dan kartu mini dengan ukuran kartu yang standar. Kartu mini dan buku mini hard cover berjaket ini dipertalikan oleh pita. Hati-hati, jangan sampai terpegang oleh anak bawah tiga tahun, bisa ditelan.
Diperoleh: April 2008 * Kontributor: sendiri (beli di Jakarta) * Asal kartu: Inggris (tapi cetakan RRC) * Pembuat: Running Press, London. * Bahan: art carton * Ukuran: 10 x 20 mm * Cetak: offset
Kartu, dadu, dan Las Vegas. Itu jelas mencitrakan perjudian. Nah, ketiga hal itu dipaketkan seharga Rp 5.000. Saya mendapatkannya di toko serba-satu-harga Okedoku di Plaza Blok M, Jakarta Selatan.
Maka dengan uang segitu saya dapat satu set kartu dan enam buah dadu. Las Vegasnya mana? Ada pada kemasan: Las Vegas Style. Tapi tak jelas apa maksudnya.
Kartu bermerek A dengan seri 555 (banyak merek yang pakai nomor sakti tiga digit) ini tak terlalu istimewa. Dek maupun As sekop biasa saja.
Joker? Boleh juga, rada beda dari yang biasa tapi saya terkesan. Di situ ekspresi badut tak sepenuhnya riang. Seperti ada sejumput kesedihan. Mungkin karena arah luar garis alis yang miring ke bawah.

Bukankah itu seperti mewakili banyak badut? Mereka harus tampak lucu dan menghibur padahal hatinya muram. Hanya topeng atau rias wajah yang bisa menyembunyikannya.
Beberapa kali saya mendapati badut panggilan yang sedang beristirahat, dalam gerah dan lelah, padahal acara berlangsung di mal yang berpenyejuk udara. Serampung acara mereka mengemasi peralatannya, berjalan menuju parkiran — ada juga yang menunggu taksi — dengan wajah kusut.

Mungkinkah bekas cubitan dan pukulan gemas anak-anak kecil masih tersisa? Anak-anak orang lain terhibur oleh badut di pesta pusat perbelanjaan, sementara anak-anak si badut menunggu di rumah. Badut mereka adalah ayahnya sendiri, yang di rumah hanya bersinglet dan bersarung, tanpa atraksi.
Ah, lupakan saja. Itu fiktif. Saya belum mengikuti badut itu sampai ke rumahnya. Tapi pernah suatu kali saya menyusuri perkampungan padat kumuh di Jakarta Utara. Di loteng rumah petak berdinding tripleks tampak pakaian badut sedang dijemur. Tak ada gebyar semarak di situ.
Diperoleh: 10 Desember 2006 * Kontributor: sendiri * Asal kartu: RRC * Pembuat: tidak diketahui, hanya “Made in China” * Bahan: art carton * Ukuran: 57 x 81 mm * Cetak: offset



Kartu kecil seukuran setengah kartu biasa ini saya beli di kaki lima dekat sekolah anak saya. Harganya Rp 1.000. Khas cetakan abal-abal: kasar, register warna maupun tanda potong diabaikan, dan tiografinya ditata sesempatnya. Bentuk kartu tak punya sudut tumpul, semuanya tajam.
Mereknya sangat Indonesia: Sirkus. Betul, dengan “k”, bukan “c” di tengah. Sekilas mirip kartu kecil Elephant dari RRC karena ada gambar gajahnya, dengan kemasan di luar berwarba kuning.
Tapi sejujurnya saja, untuk mencari kartu kecil Elephant yang asli pun semakin sulit. Banyak penirunya, termasuk yang diaku dari Cina.
Lantas di mana keistimewaan kartu ini? Pada merek, kertas, kualitas cetak, kualitas potong, dan… Joker yang mencoba memahami tren anak-anak: robot. Kartu As-nya sih mirip umumnya kartu merek lain.
Harga murah, kualitas semaunya, bahkan Joker cuma satu, tapi As sekop (waru) ada dua, mengesankan produk ini untuk rakyat yang tak banyak menuntut.

Bagaimana memainkan kartu ini, dari mengocok sampai memegang, hanya tangan-tangan mungil yang sanggup. Orang dewasa gemuk gempal, dengan tangan berjari pisang susu, akan repot memainkannya.
Diperoleh: 2005 | Kontributor: sendiri | Asal kartu: (mungkin) Indonesia | Pembuat: tidak diketahui | Bahan: karton | Ukuran: 3,5 cm x 5 cm | Cetak: offset

APA BEDA BULAT DAN BUNDAR? Ini bukan rubrik bahasa. Jadi saya sebut saja kartu dari Malaysia ini bundar. Punggungnya bergambar tetenger (landmark) kebangsaan dan kebanggan mereka: menara kembar Petronas.
Kartu bundar ini seperti tatakan gelas. Bagaimana cara memainkannya saya belum tahu dan belum mencoba. Yang pasti untuk mengocoknya terasa agak aneh, seolah kartunya hendak lolos.

Semua penanda kartu, dari A-K-Q-J sampai 2, ditaruh pada lebih dari satu titik. Kartu K dan Q mendapatkan enam titik. Kartu J dan A dijatah lima titik — sama seperti kartu lainnya. Adapun Joker tak menampilkan badut, melainkan kesatria berketopong dan berbaju zirah sedang melawan naga versi Eropa lama.

Lantas apanya yang khas Malaysia selain Petronas? Harap maklum, kartu cinderamata di banyak negara akhirnya mendekati generik — hanya punggungnya yang berbeda — karena dipasok dari RRC. Kartu yang ini unik karena bundar. Carilah kartu bundar di sembarang toko, belum tentu ada sedia.
Diperoleh: 17 April 2006 | Kontributor: Binawati Prihandayani | Asal kartu: Malaysia | Pembuat: tidak diketahui, hanya “Made in China” | Bahan: art carton | Ukuran: diameter 7 cm | Cetak: offset