
Terkabar sudah lama jeruk Jaffa masuk Indonesia, melalui negara perantara. Menariknya, sejauh saya tahu, iklan dan katalog pasar swalayan tak pernah menyebutkannya sebagai “jeruk Jaffa” maupun “jeruk Israel”. Konsumen mengiranya sebagai jeruk Cina atau California; tapi tanyalah pedagang buah, umumnya mereka tahu saat kulakan. Soal Israel dan Yahudi memang bisa peka bisa biasa, bergantung konteks dan selera. (Lihat: Grafiti PSKD) :D

Jika Anda orang Jakarta, apalagi alumni PSKD, mungkin bisa menjelaskan apa hubungan bintang Daud, Israel, dan sekolah itu (SMP dan SMA-nya?) dalam grafiti, geng, dan aspek gaul maul lainnya. Dulu malah ada bus kota yang dicat semprot “PSKD Israel”. Bagi saya ini bisa menjadi kajian sosial yang menarik. Bukan hanya urusannya menyangkut hal di luar sekolah dan berlanjut dari angkatan ke angkatan, melainkan juga pertalian makna dalam konteks tertentu. Israel, Yahudi, dan Zionisme, plus mungkin Yudaisme, dapat ditempatkan sebagai sesuatu yang kontroversial (bergantung selera dan sudut pandang), tapi bagi anak-anak muda Jakarta mungkin itu juga bukan soal.

Merek karak (kerupuk/lèmpèng gendar) ini sudah lama, mungkin 20 tahunan. Bagi saya unik karena dia mengambil nama Bukit Sion/Zion. Tanpa ada hubungannya dengan Zionisme, Bukit Zion memang jadi salah satu idiom dalam Kitab Perjanjian Lama orang Nasrani, biasanya berhubungan dengan harapan.
Label ini unik, karena masih menggunakan teknik sablon di atas kertas karton.