<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>antyo.rentjoko.net &#187; dagdigdug.com</title>
	<atom:link href="http://antyo.rentjoko.net/category/dagdigdug-com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antyo.rentjoko.net</link>
	<description>kumpulan tulisan antyo</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 15:02:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Blogger Kampiun dan Blogger Pinggiran</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/05/03/blogger-kampiun-dan-blogger-pinggiran/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/05/03/blogger-kampiun-dan-blogger-pinggiran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 May 2011 10:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Lihat ini,&#8221; kata seorang teman sambil menggeser laptopnya untuk menunjukkan tabel. Dia memperbandingkan narablog A dan narablog B dari pelbagai unsur. Kesimpulannya: si A tenar, postingnya tak sekerap dulu, banyak yang &#8220;kurang bermutu&#8221;, tetapi disimak oleh banyak orang, bahkan pengikutnya di Twitter banyak banget. Si B, menurutnya, lebih jelas postingnya, lebih orisinal, lebih menarik, lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2011/05/Champion.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1000" title="Champion | © Sopalatina.net" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2011/05/Champion-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>&#8220;Lihat ini,&#8221; kata seorang teman sambil menggeser laptopnya untuk menunjukkan tabel. Dia memperbandingkan narablog A dan narablog B dari pelbagai unsur.</p>
<p>Kesimpulannya: si A tenar, postingnya tak sekerap dulu, banyak yang &#8220;kurang bermutu&#8221;, tetapi disimak oleh banyak orang, bahkan pengikutnya di Twitter banyak banget.</p>
<p>Si B, menurutnya, lebih jelas postingnya, lebih orisinal, lebih menarik, lebih komunikatif terhadap komentar, tetapi pembacanya hanya itu-itu saja. Pengikutnya di Twitter juga sedikit.</p>
<p>&#8220;Apanya yang salah, Mas Paman?&#8221; tanya teman itu.</p>
<p>Saya menahan tawa. Tak ada yang salah. Apalagi saya tahu bahwa si A dan si B sama-sama nyaman dengan pencapaiannya. Bahkan si A dan si B saling menghargai dan saling bantu. Kadang si B minta tolong si A untuk mengabarkan sesuatu karena pasti lebih bergema.</p>
<p><strong>Konten: baru satu hal</strong></p>
<p>Kalau dibedah dari sisi pemasaran, bakal banyak unsur. Salah satunya: si A rajin mengabarkan posting barunya, misalnya via Twitter, sementara si B tidak. Bahkan si B tak saban hari membuka Twitter.</p>
<p>Ada banyak faktor mengapa seorang narablog disukai banyak orang sementara lainnya kurang. Konten hanya salah satu sisi. Selebihnya adalah jaringan pertemanan, citra diri, dan reputasi. Bagaimana meraih ketiga hal itu secara instan, saya tidak tahu. Ketiga hal itu bukan semacam ijazah yang bisa dibeli.</p>
<p>Jaringan pertemanan, misalnya komunitas berbasis wilayah, ikut membantu sebuah blog dikenal.</p>
<p>Citra diri menyangkut bagaimana seseorang dipersepsi oleh orang lain &#8212; dalam adab guyub yang suka kopdar, hal ini penting.</p>
<p>Reputasi mencakup banyak hal, tak hanya konten dan jam terbang tetapi juga hal lain di luar blog &#8212; biarpun konten bagus tetapi kalau suka menipu pasti dijauhi. :D</p>
<p>Ini era <em>personal branding</em>, kata orang pintar. Iya sih, tetapi haruskah seorang narablog menjadi repot dengan semua itu sehingga ingin mengubah dirinya supaya pas di mata orang lain?</p>
<p>Kalau blog menjadi bisnis, itu mutlak perlu. Jika blog hanya klangenan belaka, paling bagus ya menjadi diri sendiri. Prinsip jomblo perkasa terasa cocok, &#8220;Kalau mau ya syukur, kalau nggak mau ya kebangetan.&#8221; :P</p>
<p><strong>Keadilan dan ilmu pede</strong></p>
<p>Saya meyakini satu hal bahwa setiap blog punya pembaca sendiri-sendiri. Bahkan misalnya blog X dan blog Y sama pemiliknya, bisa saja penanggapnya berbeda. Kalau ada sebuah blog sangat popular, begitu pula narablognya, anggap saja itu rezeki berbau kecelakaan. Tak sedikit narablog yang sebenarnya kurang aktif mempromosikan diri tetapi akhirnya sampai ke sana.</p>
<p>Maka bisa saja seorang narablog yang getol mempromosikan blognya di mana-mana, padahal isinya posting orisinal (bukan <em>copy and paste</em>), malah seperti diemohi. Sementara seorang narablog lain, yang lebih semanak dan kadung tenar, posting barunya &#8220;yang cuma gitu-gitu aja&#8221; malah dinanti-nantikan oleh khalayaknya.</p>
<p>&#8220;Ah, nggak adil,&#8221; keluh teman saya.</p>
<p>Uh, serius amat. Apa yang terjadi dalam adab gaul di internet itu sebagian merupakan cerminan dunia nyata. Orang lain bisa menyukai maupun kurang menyukai kita (bedakan dari membenci) tanpa harus jelas alasannya. Hal sebaliknya juga terjadi: kita bisa menyukai atau kurang menyukai seseorang tetapi seringkali tak jelas alasannya &#8212; kecuali dicari-cari.</p>
<p>Jadi, apakah seorang narablog harus memiliki konsultan komunikasi?</p>
<p>Kalau punya duit bisa saja, tetapi urusannya jadi jauh meninggalkan esensi ngeblog. Esensi ngeblog itu menyatakan dan mendokumentasikan pikiran, bukan? :D Kecuali, sekali lagi, ngeblog untuk bisnis. Misalnya sebagai semacam portfolio untuk mendapatkan order besar. :D</p>
<p>Ada baiknya setiap narablog punya ilmu pede: &#8220;Kalau orang lain nggak tahu blog saya yang keren, maka masalah ada pada mereka.&#8221;</p>
<p>Salam blog.</p>
<p>© Ilustrasi: <a href="http://sopaltina.net">Sopalatina</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/05/03/blogger-kampiun-dan-blogger-pinggiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beriklan, Berbayar</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/04/12/beriklan-berbayar/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/04/12/beriklan-berbayar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 07:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=944</guid>
		<description><![CDATA[Judulnya bisa juga: Terima iklan, Tarif Bersahabat. Lebih berbau iklan mini di Pos Kota. Apalagi kalau ditambahi &#8220;BU&#8221; alias &#8220;butuh uang&#8221;. Apapun bunyinya, yang pasti saya melakukannya. Untuk Blogombal saya punya kategori Advertorial. Seperti di media cetak, tulisan itu adalah artikel sponsor. Titipan. Pesanan. Dan saya nyatakan. Berapa yang saya terima, dan apakah betul-betul  saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="uang, uang, dan uang -- bukan segalanya sih hehehe..." src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo3/memo-cokelat-koin-medali.jpg" alt="" width="360" height="220" /></p>
<p>Judulnya bisa juga: <em>Terima iklan, Tarif Bersahabat</em>. Lebih berbau iklan mini di <em>Pos Kota</em>. Apalagi kalau ditambahi &#8220;BU&#8221; alias &#8220;butuh uang&#8221;. Apapun bunyinya, yang pasti saya melakukannya.</p>
<p>Untuk Blogombal saya punya kategori <a href="http://blogombal.org/category/advertorial/" >Advertorial</a>. Seperti di media cetak, tulisan itu adalah artikel sponsor. Titipan. Pesanan. Dan saya nyatakan. Berapa yang saya terima, dan apakah betul-betul  saya terima, itu soal lain.</p>
<p>Yang terakhir, pekan lalu, dalam paket pesanan itu ada juga berkicau di Twitter secukupnya. Saya menambahkan tagar (tanda pagar, <em>hashtag</em>) #adv dan #ikl. Supaya orang tahu. Apakah <em>harus</em> begitu, saya tidak tahu. Saya melakukan apa yang cocok untuk saya saat ini, sesuai kata hati saya.</p>
<p><strong>Kikuk menyebut merek</strong></p>
<p>Berarti kalau tanpa keterangan berbayar atau advertorial, apa yang saya tulis di blog dan Twitter, juga Facebook, hanya posting biasa?</p>
<p>Ya. Tapi saya pernah melakukan serangkaian cara naif. Di blog <a href="http://memo.blogombal.org" >Memo</a>, misalnya, beberapa kali saya memberi catatan ketika menulis soal produk dan <em>brand</em>, bahwa itu bukan iklan &#8212; terutama untuk produk dan merek kuat.</p>
<p>Untunglah ada orang bijak bernama <a href="http://pakde.com" >Pakde Totot</a>. Dia menegur saya, apa harus begitu? Apa harus dinyatakan seterang-terangnya, seolah mengabaikan kearifan orang lain?</p>
<p>Akhirnya pulihlah keseimbangan saya. Saya menulis dengan ringan. Tak peduli dituduh mengiklankan produk ketika menyebut merek. Suka-suka saya. Kalau mengiklankan saya nyatakan, kalau tidak mengiklankan tidak perlu saya umumkan bahwa itu bukan iklan.</p>
<p>Bagaimana dengan yang posting saya nyatakan sebagai advertorial? Ternyata ada saja tanggapan, dan semuanya positif. Tak ada yang memaki &#8212; tapi misalkan ada ya tetap saya terima dengan lapang dada.</p>
<p><strong>Nama dagang, merek, brands, kampanye</strong></p>
<p>Hidup kita sehari-hari dikepung <em>brands</em>. Kita tak bisa menghindar. Kalau Anda bilang &#8220;Metromini&#8221;, &#8220;Mikrolet&#8221;, &#8220;TransJakarta&#8221;, dan &#8220;Blue Bird&#8221;, itu juga <em>brands</em>. Bukan sekadar nama. Bukan sekadar merek dagang. Di dalamnya ada persepsi dan harapan kita.</p>
<p>Tetapi apakah penyebutan nama-nama itu berarti Anda sedang melakukan kampanye, baik positif (memuji) maupun negatif (menjelek-jelekkan), sebagai bagian dari perencanaan komunikasi?</p>
<p>Tak serumit itu  persoalannya. Anda mengatakannya hanya merasa perlu menyebutkan itu semua. Pihak lain diuntungkan ya itu rezeki dia. Kalau dirugikan, ya itu nasib dia.</p>
<p>Begitu enteng. Begitu mudah. Dalam ngeblog juga begitu. Dan tantangan bagi pemasar adalah agar orang mau menyebutkan <em>brands</em> secara suka rela. :D</p>
<p>Maka saya terkesan tetapi juga agak tak enak karena jadi berlebihan ketika Lulu, dari toko online <a href="http://lingerie.web.id/" >Lingerie</a>, pekan lalu <a href="http://memo.blogombal.org/2009/11/16/toko-lingerie-lokal/comment-page-1/#comment-9440" >mengomentari</a> posting saya dua tahun silam. Isinya:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Oh ya, sy blm sempat klarifikasi kalau mas tyo ini tidak mendapat royalti apapun. Beliau dengan inisiatif sendiri membuat ulasan tentang LWI di blog ini</em>.&#8221;</p></blockquote>
<p>Tetapi sebetulnya ada yang lebih penting dari pernyataan Lulu. Pengakses toko <em>lingerie</em>-nya itu mayoritas pria. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/04/12/beriklan-berbayar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Ngeblog: Priceless</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/03/08/hasil-ngeblog-priceless/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/03/08/hasil-ngeblog-priceless/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 08:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=920</guid>
		<description><![CDATA[Posting saya, bahwa akhirnya dalam perblogan yang berlaku adalah seleksi, masih mengundang komentar secara japri. Umumnya berisi keluhan sekaligus pertanyaan bagaimana mengembalikan gairah yang raib. Sayang sekali saya bukan motivator sehingga tak dapat menjawab. Pertanyaan lain? Banyak. Misalnya: apa sih hasil ngeblog? Dengan merujuk beberapa teman yang masih ngeblog, saya menyimpulkan bahwa jawabannya adalah &#8220;kepuasan&#8221;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="hasil ngeblog: priceless" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/d3-priceless.jpg" alt="" width="350" height="210" /></p>
<p>Posting saya, <a href="http://blogombal.org/2010/11/16/pada-akhirnya-adalah-seleksi/" >bahwa akhirnya dalam perblogan yang berlaku adalah seleksi</a>, masih mengundang komentar secara japri. Umumnya berisi keluhan sekaligus pertanyaan bagaimana mengembalikan gairah yang raib.</p>
<p>Sayang sekali saya bukan motivator sehingga tak dapat menjawab.</p>
<p>Pertanyaan lain? Banyak. Misalnya: apa sih hasil ngeblog?</p>
<p>Dengan merujuk beberapa teman yang masih ngeblog, saya menyimpulkan bahwa jawabannya adalah &#8220;kepuasan&#8221;. Dan yang namanya kepuasan ternyata &#8220;<em>priceless</em>&#8220;. Tak ternilai, bukan tak bernilai.</p>
<p>Jika merujuk <a href="http://nonadita.com/" >Nonadita</a> sebagai contoh, sebagian hasil &#8220;yang terukur di mata orang lain&#8221; itu antara lain bisa traveling karena blog. Dia menulis dengan riang, dengan topik menurut selera dia sendiri, bukan karena diharuskan oleh mesin pencari. Bahwa yang dia tulis layak kompetisi, itu lain soal.</p>
<p>Tentu ujaran klise berlaku di sini: tak semua orang bisa, dan tak harus, menjadi Nonadita.</p>
<p>Di sisi lain, seorang <a href="http://hermansaksono.com" >Herman Saksono</a> terus ngeblog (kalau sedang niat) dan saya tak tahu apa hasil &#8220;yang terukur di mata orang lain&#8221;. Begitu pula <a href="http://blontankpoer.com" >Blontank Poer</a>, <a href="http://imanbrotoseno.com" >Iman Brotoseno</a>, <a href="http://edratna.wordpress.com/" >Ibu E.D. Ratna</a>,  <a href="http://auk.web.id/" >Warm</a>, dan <a href="http://catatan.legawa.com/" >Cahya Legawa</a>, atau <a href="http://webersis.com" >Ersis W. Abbas</a> yang blognya sekarang malah nyungsep &#8212; hanya untuk menyebut contoh. Sejauh saya tahu mereka ngeblog karena memang ingin menulis.</p>
<p>Tentu, tentu, tak semua harus menjadi penulis dalam arti &#8220;<em>professional author</em>&#8221; seperti novelis, cerpenis, jurnalis, <em>ghost writer</em>, editor, dan seterusnya. Lalu?</p>
<p>Tak sedikit kawan sesama narablog yang mengakui bahwa ngeblog membantu mereka dalam berlatih menulis.</p>
<p>Ehm, menulis untuk apa? Macam-macam. Dari untuk diri sendiri, menulis laporan kerja, sampai menulis makalah, yang intinya adalah mengorganisasikan pikiran.</p>
<p>Huh, kalau soal itu sih basi, Bung!</p>
<p>Memang basi. Tapi spirit ngeblog &#8212; tak hanya menulis untuk blog sendiri tetapi juga wadah penulisan kolektif &#8212; takkan basi. Bersyukurlah mereka yang telah memetik manfaatnya, antara lain termasuk yang bernama &#8220;kepuasan&#8221;. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/03/08/hasil-ngeblog-priceless/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Sehari-hari? Semua Orang Punya!</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/02/07/cerita-sehari-hari-semua-orang-punya/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/02/07/cerita-sehari-hari-semua-orang-punya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 08:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Perjalanan saya nggak keren, nggak layak masuk blog,&#8221; kata Mas Gagah, seorang narablog yang malas meneruskan kegiatannya. Ah, masa sih?  Setiap hari ada saja yang kita lihat dan bisa diceritakan. Kalau malas bercerita panjang cukup pakai foto. Pengunggahan tidak harus dalam tempo sesingkat-singkatnya. Lihat contoh ini. &#8220;Kuliner? Aku nggak pernah jajan di tempat mahal. Malu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Perjalanan saya nggak keren, nggak layak masuk blog,&#8221; kata Mas Gagah, seorang narablog yang malas meneruskan kegiatannya. Ah, masa sih?  Setiap hari ada saja yang kita lihat dan bisa diceritakan. Kalau malas bercerita panjang cukup pakai foto. Pengunggahan tidak harus dalam tempo sesingkat-singkatnya. <a href="http://bangsari.posterous.com/toko-bergerak" >Lihat contoh ini</a>.</p>
<div id="attachment_901" class="wp-caption aligncenter" style="width: 385px"><a href="http://bangsari.posterous.com/toko-bergerak"><img class="size-full wp-image-901 " title="ipoul-toko-bergerak" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2011/02/ipoul-tokobergerak.jpg" alt="toko bergerak" width="375" height="281" /></a><p class="wp-caption-text">Toko bergerak oleh Ipoul Bangsari</p></div>
<p>&#8220;Kuliner? Aku nggak pernah jajan di tempat mahal. Malu ah,&#8221; kata Miss Kemayu.</p>
<p>Saya tak sepakat. Nasi bungkus yang dibeli dengan meminta tolong MasOpisboi pun bisa menjadi cerita. Bahkan bungkusnya pun bisa jadi cerita. <a href="http://label.blogombal.org/2009/08/07/stempel-nasi-padang/" >Lihat contoh ini</a>.</p>
<div id="attachment_907" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><a href="http://label.blogombal.org/2009/08/07/stempel-nasi-padang/"><img class="size-full wp-image-907" title="bungkus-nasipadang-antyo" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2011/02/bungkus-nasipadang-antyo.jpg" alt="bungkus-nasipadang-antyo" width="350" height="263" /></a><p class="wp-caption-text">Bungkus nasi padang dan penculikan oleh Antyo</p></div>
<p>Masih tentang jajanan, <a href="http://luwak.posterous.com/es-doto-sukasari" >lihatlah ini</a>. Selain gambar ada juga cerita sedikit. Itulah blog: bercerita dan merekam kesaksian zaman. Keren atau nggak keren, itu urusan orang lain dalam menilai.<a href="http://luwak.posterous.com/es-doto-sukasari" ></a></p>
<div id="attachment_905" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><a href="http://luwak.posterous.com/es-doto-sukasari"><img class="size-full wp-image-905" title="luwak's-esdoto-sukasari" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2011/02/luwaks-esdoto-sukasari.jpg" alt="es doto sukasari" width="350" height="263" /></a><p class="wp-caption-text">Es Doto Sukasari, Bogor, oleh Luwak</p></div>
<p>Tentang pekerjaan atau tempat kerja? Cerita, atau bahkan keluhan, tak pernah habis tanpa harus mempermalukan kantor dan membuat aib teman. Misalnya tentang kalender, <a href="http://pakde.posterous.com/januari-sudah-18-hari-baru-punya-satu-kalenda" >seperti ini</a>.</p>
<div id="attachment_910" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><a href="http://pakde.posterous.com/januari-sudah-18-hari-baru-punya-satu-kalenda"><img class="size-full wp-image-910" title="totot-kalender-bonus" src="http://pamantyo.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2011/02/totot-kalender-bonus.jpg" alt="kalender bonus pakde.com" width="350" height="269" /></a><p class="wp-caption-text">Keluhan seorang eksekutif: kalender. Oleh Pakde Totot.</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Lho, kalau hanya begitu semua orang bisa dong? Memang. Tapi percayalah sudut bidik setiap orang bisa khas, dan kalaupun gambar hampir mirip yang membedakan adalah ceritanya.</p>
<p>Posting terbaru di blog, kalau mau, tinggal dikabarkan di Twitter dan diekspor ke Facebook. Hal termahal dari pewujudan gagasan adalah mengatasi perasaan tak punya gagasan. :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/02/07/cerita-sehari-hari-semua-orang-punya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun 2011: Apakah Anda Masih Menghasilkan Konten?</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/01/06/tahun-2011-apakah-anda-masih-menghasilkan-konten/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/01/06/tahun-2011-apakah-anda-masih-menghasilkan-konten/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 19:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Jawabannya semoga masih. Memperbarui status di Facebook, Twitter, Foursquare, dan Koprol itu juga berarti menghasilkan konten untuk publik. Sungguh membosankan jika internet hanya kita pakai secara pasif, hanya membaca atau melihat atau mendengar sajian. Bahkan berkomentar dalam sebuah blog pun sudah merupakan konten kan? Kalau isinya hanya &#8220;pertamax&#8221;? Oh, itu bukan. :D Media sosial sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jawabannya semoga masih. Memperbarui status di Facebook, Twitter, Foursquare, dan Koprol itu juga berarti menghasilkan konten untuk publik.</p>
<p>Sungguh membosankan jika internet hanya kita pakai secara pasif, hanya membaca atau melihat atau mendengar sajian. Bahkan berkomentar dalam sebuah blog pun sudah merupakan konten kan? Kalau isinya hanya &#8220;pertamax&#8221;? Oh, itu bukan. :D</p>
<p>Media sosial sebagai media yang isinya diisi oleh masyarakat untuk masyarakat, bukan berisi pesan yang cenderung searah dari editor, memang semakin menggairahkan. Anda terundang untuk memperkaya isinya. Bisa di blog maupun layanan mikroblog dan jejaring sosial. Tentang konvergensi dalam pemanfaatan layanan,  <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/12/01/foto-foto-yang-terselip/" >sudah saya tulis Desember lalu</a>.</p>
<p><img class="alignnone" title="jembatan penyeberangan tak berpagar | © Koran Tempo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/jembatan-penyeberangan-korantempo.jpg" alt="" width="380" height="235" /></p>
<p>Nah pekan ini saya tersentak. Pertama, waktu melihat foto jembatan penyeberangan tak berpagar di <em><a href="http://epaper.korantempo.com" >Koran Tempo</a></em>, Selasa 4 Januari lalu. Foto hanya menyebutkan itu di Pasar Gambrong, Jakarta.</p>
<p>Esoknya, Rabu 5 Januari, <em><a href="http://epaper.kompas.com" >Kompas</a></em> memuat foto yang sama di halaman pertama. Informasinya lebih jelas: Jalan Jenderal Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur.</p>
<p><img class="alignnone" title="jembatan penyeberangan tak berpagar | © Kompas" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/jembatan-penyeberangan-kompas.jpg" alt="" width="380" height="261" /></p>
<p>Saya membayangkan alangkah bagusnya jika foto-foto itu muncul dari pengguna media sosial yang sering lewat sana. Atau mungkin sudah? Sejauh saya cari belum saya temukan &#8212; tolong Anda koreksi jika saya kurang cermat.</p>
<p>Andaikan ponsel berkamera bisa dimanfaatkan lebih, alangkah mengasyikkannya. Apalagi jika orang lain menyebarkannya dan ikut mengarsipkannya tetap dengan menghormati hak cipta. Lebih hebat lagi jika terbukti bahwa publikasi awal dilakukan oleh pengguna media sosial.</p>
<p>Ayolah!</p>
<p>© Foto jembatan penyeberangan: Tony Hartawan (<em>Koran Tempo</em>) dan Agus Susanto (<em>Kompas</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2011/01/06/tahun-2011-apakah-anda-masih-menghasilkan-konten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto-foto yang Terselip</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/12/01/foto-foto-yang-terselip/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/12/01/foto-foto-yang-terselip/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 11:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat iklan lawas itu. Hanya dia, teman saya, yang mendigitalkannya. Tapi dia belakangan malas ngeblog. Semua koleksinya dia cemplungkan ke Facebook, ada ratusan, seminggu bisa likuran reproduksi. Celakanya di Facebook saya kesulitan mencari gambar itu. Kalau harus menelusuri satu per satu, uhhh&#8230; setengah jam pun tak cukup. Sejauh ini Facebook belum memberikan cara pencarian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="foto-foto antyo rentjoko untuk blog" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/pamantyo-dagdigdug-foto2.jpg" alt="" width="380" height="170" /></p>
<p>Saya ingat iklan lawas itu. Hanya dia, teman saya, yang mendigitalkannya.</p>
<p>Tapi dia belakangan malas ngeblog. Semua koleksinya dia cemplungkan ke Facebook, ada ratusan, seminggu bisa likuran reproduksi.</p>
<p>Celakanya di Facebook saya kesulitan mencari gambar itu. Kalau harus menelusuri satu per satu, uhhh&#8230; setengah jam pun tak cukup.</p>
<p>Sejauh ini Facebook belum memberikan cara pencarian yang sama memuaskannya dengan blog. Maka saya usul kepada teman itu agar menaruh reproduksinya di blog, kemudian Notes Facebook yang akan mengangkutnya secara otomatis.</p>
<p>Sayang dia merasa tak ada waktu untuk blog &#8212; tapi cukup waktu untuk Facebook. Sayang juga setelah menjadi arsip apa yang dia bagikan sulit dicari.</p>
<p>Yang lebih merepotkan lagi adalah mencari gambar yang pernah di-<em>tweet</em> oleh beberapa kawan. Kalau saja mereka mau mencemplungkan ke layanan blog foto semacam Posterous (seperti yang saya lakukan di <a href="http://antyo.posterous.com" >Menerous</a>) tentu semuanya mudah. Bukankah di Posterous ada tombol untuk membagikan posting ke Twitter dan Facebook?</p>
<p>Tapi ah&#8230; sudahlah, itu memang soal pilihan.</p>
<p>Selain pilihan, pada kasus beberapa teman, saya menduga satu hal: blog adalah beban. Mengunggah gambar tanpa cerita panjang itu kurang mentereng. Padahal untuk membuat cerita keren perlu mengolah kata.</p>
<p>Karena bukan pilihan jadilah beban. Artinya itu semua kerja keras.</p>
<p>Padahal teks ringkas itu bisa dibuat ringan dan santai, sama seperti yang saya lakukan di <a href="http://oh.blogombal.org" >Oh!</a> dan <a href="http://memo.blogombal.org" >Memo</a>.</p>
<p>Di Facebook dan Twitter beban itu tak ada. Tinggal unggah dan bagikan. Tapi masalahnya sejauh ini arsip gambar sulit ditemukan.</p>
<p>Kenapa tidak ngeblogdan  sekaligus bisa membagikannya ke Twitter dan Facebook? Sekali ayun dua-tiga kebun terlampaui.</p>
<p>© Foto-foto: Antyo Rentjoko</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/12/01/foto-foto-yang-terselip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurusi Lebih dari Satu Blog</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/11/03/mengurusi-lebih-dari-satu-blog/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/11/03/mengurusi-lebih-dari-satu-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 19:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Satu blog saja sudah repot, bagaimana kalau lebih? Ya tetap repot. Bagaimana mengurusinya, dengan konten sendiri? Ya seingatnya, sesempatnya, toh hidup bukan cuma buat ngeblog. Bagaimana kalau lagi malas? Jangan paksakan diri &#8212; kecuali posting &#8220;Saya Lagi Males&#8221;, dengan isi yang sama dengan judul, dianggap keren dan kreatif. Bagaimana kalau kapok ngeblog? Bukan masalah. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="satu blogger dengan multiblog" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/oh/d3-multiblog.jpg" alt="" width="400" height="240" /></p>
<p><strong>Satu blog saja sudah repot, bagaimana kalau lebih?</strong> Ya tetap repot.</p>
<p><strong>Bagaimana mengurusinya, dengan konten sendiri?</strong> Ya seingatnya, sesempatnya, toh hidup bukan cuma buat ngeblog.</p>
<p><strong>Bagaimana kalau lagi malas?</strong> Jangan paksakan diri &#8212; kecuali posting &#8220;Saya Lagi Males&#8221;, dengan isi yang sama dengan judul, dianggap keren dan kreatif.</p>
<p><strong>Bagaimana kalau kapok ngeblog?</strong> Bukan masalah. Ketika senang ngeblog tak merugikan orang lain, maka ketika jera juga tak merugikan orang lain. Ngeblog itu soal hati, pasal suka-suka. Gitu aja kok repot.</p>
<p><strong>Dari mana datangnya ide dan bahan?</strong> Kadang dari langit kadang dari got. Persoalannya kita mau dan mampu mengolahnya atau tidak.</p>
<p><strong>Tapi yang kita tulis kan belum tentu dipahami apalagi disukai orang?</strong> Ada yang namanya proses belajar. Saya pun terus belajar. Kalau ternyata orang tak suka, ya itu masalah mereka.</p>
<p><strong>Baiklah, tapi sekeren apapun posting kita itu bukan jaminan jadi terkenal kan?</strong> Betul! Seratus! Soal ketenaran sebaiknya diabaikan. Boleh diingat tapi jangan jadi tujuan. Ketika ketenaran tercapai seringkali malah menjadi beban, serasa dituntut untuk ini dan itu sesuai harapan orang, bukan sesuai kemauan kita.</p>
<p>Nah kembali ke judul, dengan saya memiliki beberapa blog, apa yang akan dan telah saya raih? Tidak tahu. Tidak penting. Pokoknya saya suka. Setelah membuka dan mengikuti agregator <a href="http://antyo.rentjoko.net/" ><strong>antyo.rentjoko.net</strong></a> mungkin Anda mencibir, dan tak suka. Itu bukan masalah. Anda adalah orang merdeka.</p>
<p>Masih adakah mainan &#8220;baru&#8221;, selain <a href="http://kopi69.com/" ><strong>Kopi69.com</strong></a> yang <a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/10/16/blog-ringkas-69-kata/">kemarin saya pamerkan</a> penuh kepongahan? Ada. Sebetulnya tidak baru, tapi belakangan kerap saya <em>update</em>. Namanya <a href="http://antyo.posterous.com/" ><strong>Posterous Menerous</strong></a>. Isinya hasil jepretan melalui ponsel dan saya kirim dari ponsel. Keren atau cemen bukan urusan saya.</p>
<p><strong>&#8220;Uh, kok gampang? Santai amat? Kalau cuma begitu saya juga bisa!&#8221;</strong> begitu (mungkin) kata Anda. Maka saya pun bilang, &#8220;Memang.&#8221;</p>
<p>Mari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/11/03/mengurusi-lebih-dari-satu-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Ringkas: 69 Kata</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/10/16/blog-ringkas-69-kata/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/10/16/blog-ringkas-69-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 17:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[Ya, saya membuat blog lagi, khusus untuk dibaca di ponsel. Namanya Kopi69.com. Ringkas, setiap posting hanya 69 kata. Mengapa 69 kata? Angka 69 mudah diingat dan kebetulan mirip dua ikan, sesuai zodiak saya yaitu Pisces. Selain itu 69 kata rasanya sudah cukup banyak kalau di ponsel, apalagi dibaca sambil lalu sembari ngopi atau ngeteh. Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="kopi69.com: blog ringkas 69 kata / antyo rentjoko" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/dagdigdug/d3-kopi69com-3.jpg" alt="" width="400" height="325" /></p>
<p>Ya, saya membuat blog lagi, khusus untuk dibaca di ponsel. Namanya <a href="http://kopi69.com/" >Kopi69.com</a>. Ringkas, setiap posting hanya 69 kata. Mengapa 69 kata? Angka 69 mudah diingat dan kebetulan mirip dua ikan, sesuai zodiak saya yaitu Pisces.</p>
<p>Selain itu 69 kata rasanya sudah cukup banyak kalau di ponsel, apalagi dibaca sambil lalu sembari ngopi atau ngeteh. Kalau jumlah kata lebih dari itu tampaknya dapat membuat  pembaca penat.</p>
<p>Bagi saya sendiri, menulis dalam 69 kata, tanpa menyingkat selayaknya SMS, merupakan latihan yang baik. Latihan menulis secara efektif.</p>
<p>Apa saja isi tulisan Kopi69.com? Seperti umumnya blog-blog saya. Tentang keseharian &#8212; tapi sejauh ini minus gambar, apalagi jika saya tulis dari ponsel. Memang, dari ponsel saya bisa memasukkan gambar, semudah mengirimkan jepretan ponsel ke <a href="http://antyo.posterous.com/" >Posterous Menerus</a>. Tapi itu nantilah.</p>
<p>Karena saya mengarah pengguna ponsel maka sebisanya tak banyak tautan di sana. Adapun pembaca yang menggunakan <em>desktop</em> dapat lebih leluasa. Tampilan visual di <em>desktop</em> pun berbeda dari versi <em>mobile</em>.</p>
<p>Lantas apa manfaatnya bagi saya selain untuk selingan dan berlatih menulis? Mencoba hal baru dan membuktikan bahwa spirit ngeblog belum punah. Anda pun dapat membuat selingan lain, sesuai selera Anda. :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/10/16/blog-ringkas-69-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadan ini…</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/08/11/ramadan-ini/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/08/11/ramadan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 01:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=748</guid>
		<description><![CDATA[Benar kan saya suka sok menggurui? Maklumlah itu gampang. Maka di sini saya menagih apa yang saya tulis Ramadan tahun lalu, &#8220;Setelah Bukber, Ada Cerita Apa Lagi?&#8221; Oh banyak, kata Anda. Lihat dong di Facebook, Twitter, dan blog mulai bakda magrib nanti. Baiklah. Terima jadi. Sejauh saya tahu, Ramadan punya aspek sosial, apalagi jika dipertautkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/belanjaikandirumah.jpg" alt="belanja ikan di rumah pada hari pertama ramadan 2010" /></p>
<p>Benar kan saya suka sok menggurui? Maklumlah itu gampang. Maka di sini saya menagih apa yang saya tulis Ramadan tahun lalu, &#8220;<a href="http://pamantyo.dagdigdug.com/2009/09/07/setelah-bukber-ada-cerita-apa-lagi/">Setelah Bukber, Ada Cerita Apa Lagi?</a>&#8221; Oh banyak, kata Anda. Lihat dong di Facebook, Twitter, dan blog mulai bakda magrib nanti. Baiklah. Terima jadi.</p>
<p>Sejauh saya tahu, Ramadan punya aspek sosial, apalagi jika dipertautkan dengan tradisi setempat. Dari sisi amatan yang sekular, Ramadan bisa menjadi sumber sejumlah dokumen sosial. Bersyukurlah kita karena hidup di era media sosial, sementara orangtua kita dulu tidak. Adakah gambaran suasana sosial-ekonomis Ramadan tahun 70-an? Jika ada pasti jarang.</p>
<p>Sekali lagi, pendekatan saya sekular, dari sisi yang sangat profan. Sangat berjarak apalagi saya bukan bagian langsung dari sisi religius Ramadan. Tapi bagi saya dokumen sosial Ramadan dari tahun ke tahun sangat menarik. Potret itu tak saya batasi sebagai gambar tetapi apapun yang menjadi penampang wajah sosial kita.</p>
<p>Rumit? Twitter sudah mencatat kemarin petang sebagian Jakarta macet. Itu adalah contoh. Hari ini bagaimana suasana perkantoran dan sekolah? Bagaimana iklan di koran dan bilbor yang Anda jumpai di jalan? Untuk iklan dalam TV sudah ada dokumentasinya, tapi bagaimana dengan iklan di radio karena jarang yang menyimpan?</p>
<p>Baiklah saya melapokan hal yang saya tahu tanpa meninggalkan rumah. Tetangga tetap berangkat kerja. Abang Sayur dan bahan dapur menjadi pewarta. Harga sekilogram daging sapi Rp 70.000 (sebelumnya Rp 60.000), harga sekilogram cabai merah Rp 40.000 (sebelumnya Rp 20.000), tapi harga sekilogram ikan lele tetap Rp 15.000 dan sekilogram gurame tetap Rp 32.000. Hayah, itu seperti laporan RRI zaman dulu! Iya, kalau cuma itu.</p>
<p>Tidak saya kutip apa kata Abang Sayur dan ibu-ibu tentang harga. Biarlah itu menjadi jatah Anda. Tidak harus tentang Abang Sayur tetapi bisa juga tentang cara buka bersama di kantor, siapa tahu tahun lalu hanya di kantor, pakai katering, dan tahun sebelumnya hanya membeli nasi bungkus disantap bersama di ruang kerja, tapi Ramadan ini buka puasanya di resto anyar nan nyaman.</p>
<p>Lima tahun lalu dokumen sosial Ramadan belum banyak karena <em>mobile internet</em> (dengan foto yang langsung unggah dan siar dari peranti) belum seramai sekarang. Lima tahun lalu pemilikan alat belum meluas (HSDPA dan BlackBerry belum marak),  dan ketersediaan jaringan pun belum memadai, begitu pula layanan di internet.</p>
<p>Lima tahun lalu batik belum mendemam, tak seperti tiga tahun terakhir yang di mana-mana di segala acara dan cuaca orang berbatik. Lima tahun lalu batik cina (tepatnya: tekstil impor dengan motif <em>print</em> batik) belum dikenal.</p>
<p>Itu adalah bagian dari sejarah kita.</p>
<p>Adapun Ramadan dari sisi yang sangat personal dan spiritual, Anda lebih tahu, lebih meresapi. Bagikanlah hikmah itu. Selamat menjalani hari-hari Ramadan.</p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/08/11/ramadan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngeblog dengan Bahasa Sendiri</title>
		<link>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/07/05/ngeblog-dengan-bahasa-sendiri/</link>
		<comments>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/07/05/ngeblog-dengan-bahasa-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 09:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paman Tyo &#124; dagdigdug.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[dagdigdug.com]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>
		<category><![CDATA[menggurui]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pamantyo.dagdigdug.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Bruno Rezende, dari Brazil, selalu berbicara dalam bahasa Portugis, bahasa nasionalnya. Dalam forum resmi, termasuk jumpa pers di sela Global Media Forum di Bonn, Jerman, Juni lalu, dia juga selalu berbahasa Portugis. Sama seperti dia menulis untuk blognya, Coluna Zero. Dengan nyaman. Penuh percaya diri. Selebihnya adalah urusan penerjemah. Kenapa? Dia mengakui kurang fasih berbahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="pemenang the BOBs 2010 di Bonn" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/comotan/Gruppenbild.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p>Bruno Rezende, dari Brazil, selalu berbicara dalam bahasa Portugis, bahasa nasionalnya. Dalam forum resmi, termasuk jumpa pers di sela Global Media Forum di Bonn, Jerman, Juni lalu, dia juga selalu berbahasa Portugis. Sama seperti dia menulis untuk blognya, <a href="http://www.colunazero.com.br" >Coluna Zero</a>. Dengan nyaman. Penuh percaya diri. Selebihnya adalah urusan penerjemah.</p>
<p>Kenapa? Dia mengakui kurang fasih berbahasa Inggris. Nyatanya itu bukan halangan. Terbukti dia terpilih sebagai blog terbaik berbahasa Portugis dalam Blog of the Blogs (<a href="http://www.thebobs.com/" >BOBS</a>), yang saban tahun digelar oleh <a href="http://www.dw-world.de/" >Deutsche Welle</a>, lembaga penyiaran Peremintah Jerman. Bersama dia, terpilih pula  <a href="http://www.thebobs.com/?s=1154893190771544ZWFAYZBB" >beberapa blog lain</a> oleh sidang juri internasional.</p>
<p>Jika menyangkut blog, maka <a href="http://translate.google.com" >Google Translate</a> mampu menerjemahkannya.  <a href="http://www.thebobs.com/index.php?w=1261284092842817SPHXVFNU" >Tangkapan layar</a> pada situs The BOBs membuktikan itu. Ada tombol alih bahasa dari Portugis ke Jerman.</p>
<p>Ya, kita dapat berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya itu bagus. Akan memperluas cakrawala kita. Tapi kita tak fasih bahasa asing pun bukan hambatan. Bukan hanya karena ada mesin penerjemah yang terus diperpintar tetapi juga karena konten yang bagus tetap akan menarik bagi orang lain untuk menyebarkannya.</p>
<p>Contoh yang jauh, karena tak sebanding, adalah sastra. Karya-karya Pramudya Ananta Toer  tertulis dalam bahasa Indonesia. Karena isinya bagus maka ada yang mau menerjemahkannya. Begitu pula terhadap beberapa karya Seno Gumira Ajidarma. Tentu kita juga tahu, sastra peraih Nobel banyak yang ditulis dalam bahasa non-Inggris dan non-Prancis &#8212; dan tentu non-Swedia.</p>
<p>Blog pun bisa begitu. Beberapa tahun lalu, saya lupa posting yang mana, isi blog Firman Firdaus (sekarang di: <a href="http://firmanfirdaus.com/" >firmanfirdaus.com</a>) pun dicatat oleh sebuah lembaga penelitian di Australia. Kalau tak salah dulu di blog denbag.us. Kuncinya adalah konten.</p>
<p>Jika menyangkut bahasa Indonesia, kita memang sering tak puas terhadap hasil penerjemahan oleh mesin ke bahasa lain. Itu bukti bahwa bahasa kita, setidaknya yang kita tuliskan, belum terlalu matang untuk dipahami oleh si mesin. Tak apa. Sepanjang kita mencoba berbahasa dengan baik, misalnya dengan ejaan dan struktur kalimat yang lebih tertata, maka mesin penerjemah akan relatif lebih mudah mencernanya.</p>
<p>Siapkah Anda menghasilkan konten dengan bahasa yang tertata sekaligus mudah dipahami?</p>
<p>Jangan takut diundang ke forum internasional. Panitia akan menyediakan penerjemah. Bahkan jika tak ada penerjemah, maka pidato Anda dalam bahasa Indonesia, yang Anda Anda persiapkan jauh hari sebelumnya pun dapat dibuat versi asingnya &#8212; entah Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, atau Arab.</p>
<p>Bagaimana mendapatkan penerjemah sukarela, undanglah melalui jejaring sosial. Umumkan saja. Itulah berkah inernet. :)</p>
<p>Kalau saya? Buruk sekali bahasa Inggris saya. Saya malu tetapi terus melaju dan <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/06/23/brk,20100623-257766,id.html" >berpidato ringkas</a>. Campuran percaya diri dan tidak tahu diri. :D</p>
<p><em>© Foto: The BOBs/Deutsche Welle</em></p>
<p>+ <a href="http://www.dw-world.de/dw/article/0,,5729387,00.html" >Rangkuman opini pemenang the BOBs</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pamantyo.dagdigdug.com/2010/07/05/ngeblog-dengan-bahasa-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

