“Isin,” kata seorang senior yang sebetulnya senang menulis. Isin, dalam bahasa Jawa, berarti malu. Dia malu untuk ngeblog. Malu kepada yang muda, khawatir diledek jadul, out of date. Selain takut diejek, dia juga khawatir tak punya pembaca karena kebanyakan orang seusianya tidak memakai internet.
Maka saya pun menganjurkannya menulis Notes di Facebook. Teman-temannya sesama senior pasti membacanya. Dorongan itu kurang mempan. “Teman seangkatan saya belum semuanya masuk Facebook. Malah udah ada mati duluan,” katanya.

“Saya belum lahir!”
Ternyata ketakutannya bertolak dari dunia nyata. Akibat beda generasi dia dianggap asing, baik dari sisi pengalaman hidup maupun kekayaan kosakata.
Dia paling sebal mendengar sanggahan, “Ah nggak ngerti. Saya belum lahir.” Maka dia pun menggerutu, “Apakah mereka nggak mau paham sejarah?”
Saya hanya bisa menghibur, ya begitulah cara anak-anak muda membela diri untuk menutupi ketidaktahuan. Buktinya untuk hal yang mereka tahu, bahkan untuk hal yang sangat jadul (misalnya tentang The Beatles), mereka nggak ngeles soal tahun kelahiran. Itu hanya langkah defensif untuk menyelamatkan muka dan membelokkan topik.
Bahasa Indonesia anak muda kurang kaya?
Tentang cara berbahasa, saya tak sepenuhnya sepakat. Anak-anak muda yang banyak membaca, termasuk membaca naskah lama, tak asing dengan tuturan generasi sebelumnya. Saya contohkan blogger seperti Zen dan Anusapati itu. Tuturan mereka mengalir, enak dibaca, padahal tak menggunakan bahasa gaul.
Si senior belum sreg. Dia merasa sudah menulis dengan enak dan benar (bukan di blog), tapi belum juga dipahami oleh anak-anak muda. Saya menyergah, “Anak muda yang mana?”
Setahu saya anak-anak muda yang, katakanlah, terbiasa membaca majalah Tempo, nyaman saja membaca tulisan seperti itu. Bahkan meskipun kadang Tempo menyisipkan kata yang “kurang lumrah”, mereka pun tetap paham.
Yang jadi masalah adalah rujukan anak-anak muda terhadap teks berbahasa Indonesia. Jika mereka hanya membaca blog yang bahasanya seringkali buruk, maka cara berbahasa mereka (termasuk kosakata dan ejaan) pun semakin miskin, tak seimbang dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang ironisnya memang bertambah bagus. Sebagian dari mereka memang malas membuka kamus Indonesia karena tidak dibiasakan oleh guru (dan orangtua, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun).
Menyumbang khazanah, memperkaya sejarah
Maaf, sabar dulu ya. Ini memang posting tentang dunia orang sepuh. Saya menggambarkan proses penularan ngeblog kepada kaum senior.
Saya katakan kepadanya bahwa dengan ngeblog sebetulnya dia tak hanya berbagi isi hati dan benak, melainkan mengisi sejarah.
Tak usah yang muluk-muluk atau berat. Berceritalah tentang sepeda bermotor bermereknya Solex saja itu sejarah, karena sepeda itu pernah ada di Indonesia. Ketika Solex selesai, anak-anak muda Eropa pernah menjadikannya sebagai penarik skateboard dalam sukan ekstrem.
Begitu cerita tentang Dymo, yang hari ini masih dijual di toko. Atau juga awal penggunaan 3M ScotchLite di Indonesia. Boleh juga tentang penggunaan film dalam fotografi — padahal belum ada sepuluh tahun fotografi digital menjadi milik “semua” orang Indonesia, tapi orang sudah melupakannya.
Sampai hari ini, sejauh saya tahu, masih langka blog (bukan milis) berbahasa Indonesia yang menyajikan penggalan masa lalu. Salah satu penyebab adalah generasi tua malas memproduksi konten dan membagikannya. Bagi orang sepuh, ngeblog bukan cuma mencegah kepikunan, tapi juga menyumbangkan konten kepada khazanah Indonesia di internet.
© Sumber asli ilustrasi sebelum montase: bermacam-macam, saya lupa — tapi siap untuk ditegur dan diingatkan.
Bekasi, Jawa Barat. Itu Sunda atau Betawi? Pada sebuah warung, di sebuah kampung, antara Kranggan dan Jatiasih, belasan tahun lalu saya mendengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Dalam keseharian, saya mendengar orang-orang Pondokgede bicara dalam logat Betawi. Tentu dengan catatan tak semua kata saya pahami.
Bekasi. Betawi. Jawa Barat. Ketika 14 tahun lalu meledak berita tragedi keluarga Acan, yang anak-anak perempuannya diperkosa perampok jahanam, sebagian orang luar Bekasi tersadar tentang satu hal. Nama asli sebagian orang Bekasi memang seperti orang Betawi kebanyakan. Acan, Miih, Mi’ing, Mu’an, Bokir, Malih, Nirin. Bisa jadi saya salah, siapa tahu itu semua nicknames.
Bekasi. Sekarang. Banyak bloggers. Maka lahirlah BloggerBekasi, yang diresmikan Santu 17 Oktober kemarin. Hanya untuk kumpul-kumpul? Mestinya tidak. Dengan atau tanpa wadah, setiap blogger lebih paham wilayah huninya. Dari sanalah yang namanya konten lokal terbangun.
Konten itu bisa sekadar status di Facebook maupun Twitter: “lagi nyikat pucung gabus“. Kalau Anda belum tahu, pucung gabus adalah masakan khas Bekasi. Ketika belum mencicipi masakan ini, tujuh tahun lalu, saya menyinggahi sebuah kedai di tengah kebon, dekat pool taksi Kosti Jatiasih, pada suatu pagi saya bersepeda. Ternyata tutup. Maka meskipun jauh, siangnya saya ulangi ke sana, bermobil. Hanya karena ingin tahu, ingin mencicipi.
Konten lokal bisa juga berupa obrolan sejarah. Misalnya sekadar berbagi foto rumah tua warisan tuan kebon bernama Meneer Hooymans yang menjadi asal-asul nama Pondokgede. Bangunan itu diruntuhkan pada 1992. Di lahan itu berdiri Pondok Gede Asri, yang berisi plaza dan ruko.
Konten lokal tak harus yang “arkais” seperti Gereja Katolik Santo Servatius yang berusia seabad lebih (sejak 1896) di Kampung Sawah, yang tak jauh dari Gereja Kristen Pasundan yang lebih tua (1874). Kedua gereja itu bertetangga dengan Masjid dan Pesantren Fisabillilah.
Konten lokal juga apapun yang ada hari ini. Misalnya arsitektur rumah asli. Siapa yang bisa menjamin lima tahun masih ada? Sayang jika tak diabadikan padahal banyak ponsel yang berkamera.
Konten lain yang lebih menarik masih menantang. Yaitu toponimi. Informasi perihal asal-usul nama wilayah. Kenapa bebarapa tempat bernama depan Jaka (ternyata Jakasampurna dulunya Kampung Dua) dan Jati? Mengapa ada Kampung Cerewet dan Kampung Siluman?
Yang sangat kini juga ada. Rambu lalu lintas, penunjuk arah, di samping Mal Metropolitan itu menggunakan tipografi yang kurang lazim. Aksara indah gaya Hermann Zapf itu kurang legible, sulit dibaca dengan cepat.
Yang sangat lokal, sangat Bekasi, sudah ada, dan akan terus ada. Yaitu serial Bekasih Begaya dari Bang Komar. Tuturannya mengingatkan kita kepada Firman Muntaco yang pada tahun 70-an memindahkan khazanah Betawi ke latar modern. Misalnya ini: “Makan tuh Pecakan Jengkol!” Paparan Vavai tentang istilah-istilah Bekasi juga bisa dikembangkan menjadi halaman glosari.
Yang lebih mendesak? Posting tentang kondisi pelayanan umum di Kota maupun Kabupaten Bekasi. Untuk kota, bloggers Bekasi bisa membandingkan kondisi jalan sekarang dan nanti setelah janji Pak Walikota terpenuhi — dengan maupun tanpa hadiah total Rp 45 juta.

Keriuhan media sosial dan layanan jejaring sosial telah mengukuhkan hal lama: manusia memang butuh berkawan. Kebutuhan itu, dalam kasus Indonesia, mulai terasa ketika kopdar ada di mana-mana (dua orang boleh dianggap kopdar, apalagi ketika bersua pertama kali) dan komunitas blogger bermunculan (lengkap dengan portalnya).
Perkembangan berikutnya yang menarik adalah Plurk yang muncul tahun lalu. Pemain lama, yaitu bloggers, nyemplung ke sana. Microblogging menjadi menarik untuk bloggers yang terbiasa menulis melebihi kuota SMS. Yang bukan bloggers, untuk kasus Indonesia, cenderung tak digubris — kecuali dia memang dotcomer dan sejenisnya.
Lantas belakangan ini Twitter, yang merupakan barang lama, menjadi bertambah riuh. Kenapa? Ada banyak kawan di sana. Lebih penting lagi, layanan pendukungnya bertambah. Aplikasi untuk desktop dan mobile kian mempermudah microblogging. Semuanya semudah menulis SMS. Misalkan benar tahun ini 40 persen aktvitas internet dilakukan secara mobile, tahun depan kayaknya lebih 68 persen.
Apapun yang dihasilkan dalam keriuhan itu adalah konten. Isinya macam-macam. Dari keluhan pribadi, pamer pengalaman, menggerakkan kepedulian dan pertolongan, sampai berbagi tautan. Respon (komentar) dan reaksi (menyebarkan, membagikan) berkemungkinan langsung didapat.
Intinya konten saja tidak cukup. Tetapi kepada siapa ditujukan, itu juga harus jelas, demikian pula tanggapan yang diharapkan. Konsep dasar blogging sebagai personal journal tak berubah, tetapi muara penyalurannya kian berkembang.
Orang hanya mau berkomunikasi dengan yang cocok. Itulah moral ceritanya. Bagusnya, manusia memang multidimensi. Maka yang doyan diskusi politik pun masuk Politikana. Apa yang ditulis di sana berkemungkinan lebih ditanggapi daripada di blog. Hal sama berlaku untuk Ngerumpi, dan seterusnya. Ada perasaan nyaman karena jelas siapa yang jadi kawan. Meskipun orang lain tak berkomentar tetapi setidaknya mereka membaca judul.
Itulah media. Itulah konten. Maka konsep informasi, bahkan berita, pun ditimbang ulang. Apakah yang sebetulnya dibutuhkan oleh khalayak? Ternyata masih berpijak pada pakem lama. Salah satunya: kedekatan. Bisa geografis, bisa emosional, atau gabungan keduanya. Setelah itu dicampur dengan minat dan manfaat.
Artinya, soal korupsi Jackie Salibi nun di Afrika Selatan itu tak penting. Begitu pula kemenangan Pasok di Yunani. (Duh, ngapain juga dipikir, emang orang sana juga mikir Indonesia?)
Lebih penting perasaan hati kawan kita, di Twitter, yang ditinggal kekasih. Lebih asyik meledek dan mempergunjingkan kawan yang bolak-balik memamerkan barang barunya di segala kesempatan dan cuaca dengan banyak cara di Facebook.
Apakah internet telah menyodorkan paradoks, penggunanya hanya mau tahu apa yang dekat padahal menggunakan layanan global? Tidak. Internet mengikuti nature kita. Sayangnya, sebelum era media sosial dan jejaring sosial, apa yang disebut “informasi yang perlu” (=”layak berita”) adalah menurut para tuan editor.
Sekarang, konten dari media utama hanya kita baca dan preteli seperlunya. Lalu kita sebar, dan kita tafsir, yang kesemuanya di luar kontrol para tuan editor.
Lantas, haruskah semua orang aktif, bahkan hiperaktif, di media sosial dan jejaring sosial? Itu soal pilihan. Soal kenyamanan hati. Masih ada orang yang ngeblog dalam sepi, bahkan punya beberapa blog, dan dia merasa damai.
© Ilustrasi: abduzeedo.com

Lebih dari sekali saya mendengar semacam ini: “Si Anu itu isi blognya nggak bagus, ceritanya nggak asyik, update juga jarang apalagi setelah ada Facebook, ejaannya banyak yang salah, kemampuan bahasa Indonesianya kayaknya pas-pasan, tapi kenapa dia top ya?”
Hanya jika merupakan penugasan dari sekolah maka sebuah blog dapat menjadi bahan penilaian bagi guru, terutama guru bahasa.
Di luar itu blog adalah urusan suka-suka. Sesuka yang menulis, dan sesuka pembaca yang menyukainya. Bukankah setiap blog punya pembaca, minimal si penulis dan server?
Maka kita lihat saja apakah semua blog guru bahasa itu menyenangkan, dan apakah semua blog editor majalah dan buku itu mengasyikkan bagi Anda — siapa pun Anda.
Jadi? Anggap saja isi blog itu soal kecocokan si penulis dengan pembacanya. Lebih menarik berbicara soal lain.
Misalnya? Soal bisnis. Inilah peluang Anda, tetapi sayang tak semua orang akan meraihnya. Ya, mirip showbiz: sama-sama bisa tampil, bahkan bisa menyanyi, tapi ujung peruntungannya beda.
Diniati atau tidak, setiap blogger membangun citra diri sebagai sebuah brand. Tepatnya personal brand. Sosok pribadi si blogger di mata penggemarnya punya nilai tertentu. Kata “tertentu” itu nggak cuma berarti bagus, tetapi juga mewakili sebuah dunia.
Di situlah urusan bisnis bisa masuk — baik Anda undang maupun karena mereka yang mengetuk pintu. Tapi ingat, yang namanya bisnis tidak harus berbau komersial. Bisa saja teman Anda menjadi duta merek laptop, ponsel, atau sneakers, sementara Anda menjadi duta kampanye stop merokok dan donor darah. Kesemuanya atas dasar kesepakatan.
Oh, harus popular dulu ya? Ya. Popular itu tak hanya tenar, tetapi juga diterima dalam pergaulan, punya pengaruh, punya pengikut. Tulisan Ndoro Kakung tentang pemuka puak bisa Anda rujuk.
Tapi ingat, seorang blogger tenar yang popular belum tentu memiliki sosiabilitas yang bagus, baik di dunia maya maupun nyata. Pemilik merek takkan mau menggunakan blogger yang malas kopdar, kurang showy, cenderung pemalu bahkan introvert, sok misterius, malas mengisi status dan dinding Facebook, jarang mengisi Twitter, Plurk… dan minim bergaul maul dalam aneka layanan online untuk komunitas.
Walah, nggak gampang ya? Memang. Kalau tujuan Anda adalah menjadi duta merek atau dipercaya oleh industri, itu tak gampang — apalagi jika sekian syarat kesuksesan tak cocok dengan kepribadian Anda. Tetapi saya pribadi menganggap itu sebagai semacam garis nasib seperti dalam showbiz. Matematikanya rada membingungkan.
Jadi, lakukan saja apa yang Anda senangi dalam ngeblog dan aktivitas online lainnya. Jadilah diri sendiri — dengan maupun tanpa niat menjadi tenar bahkan popular. Jangan mudah iri apalagi dengki — kasihan hati kalau diracuni. Melihat bloggers lain mendapatkan rezeki, mestinya senang — meski nggak kebagian. Simpel kan?
Lebih bagus lagi kalau Anda sering “menjual” bloggers lain dalam arti positif. Yang ini butuh ketulusan. Padahal ketulusan itu, kata beberapa orang kikir, sangatlah mahal.
© Ilustrasi: Study for a House of Sociability, oleh Hermann Finsterlin (1887-1973), Museum of Modern Art, New York

Buka bersama (bukber). Biasanya di kedai. Terus cerita dari sana ada apa saja? Banyak. Ada fotonya? Tentu. Terutama foto bareng. Layak masuk Facebook. Sesekali foto makan dan minuman juga ada.
Cuma itu? Habis mau cerita apa lagi? Banyak yang bisa diceritakan, terutama melalui foto. Tak peduli kamera apa yang Anda gunakan, dari kamera pada ponsel sampai kamera DSLR, semua gambar bisa menjadi cerita.

Gambar itu bisa berhubungan dengan suasana bukber. Bisa juga tidak. Tapi lokasinya sama. Sejumlah contoh saya sertakan. Bisa menjadi posting tunggal di blog Anda. Atau bisa juga membuat blog khusus kartu pos seperti saya di Oh!.

Tapi… apanya yang harus diceritain? Tenang. Kadang gambar bisa berbicara melebihi stok kata kita.

Maka cobalah. Tanpa mencoba, Anda hanya bisa berkata, “Bingung, gak tau harus motret apa.” Tanpa mencoba, Anda akan tergoda pada kilah, “Sebetulnya udah kepikir sih, tapi… nganu anu anu anu…”

Manfatkanlah bukber di tempat yang tidak biasanya untuk memanen foto. Mari!
Mendengar kata warok, segera terbayang lelaki berkumis baplang, berbusana hitam, memamerkan dada berbulu. Di Ponorogo, Jawa Timur, Blogger Warok tak sesangar itu. Tutur kata mereka halus, bahkan ber-krama inggil jika diajak berbahasa Jawa halus. Di Ponorogo, wayang kulit masih ditonton, dipentaskan sebulan sekali pada minggu keempat. Untuk hari jadi ke-513, Pemerintah Kabupaten menanggap Ki Warseno Slank Harjodarsono.

Oooo… Ponorogo. Yang panas dan kering itu kan? Malam terang pada musim kemarau ini terasa sejuk, sehingga ketika berdesakan di pasar malam alun-alun, bersama puluhan bloggers pelbagai kota, tubuh tak berpeluh. Mau lebih sejuk? Di Telaga Ngebel, setinggi 734 meter di atas permukaan laut — 600 meter lebih tinggi dari kawasan terendah Ponorogo.
Bagaimana siang di kota? Kering, panas. Bagaimana di pinggiran kota? Perjalanan dari Sala ke Ponorogo melalui Wonogori terasa panas. Memang alamnya begitu. Berbukit-bukit kapur dan padas, hanya bisa memberikan sedikit sawah menghijau. Mungkin harimau Jawa dan merak tinggal cerita, karena lingkungan sudah rusak. Reog Ponorogo masih berbulu merak, tetapi sudah pada tempatnya jika kepala macan diganti tiruan.
Meskipun panas, tidak ada alasan untuk tidak ramah. Mbah Biyanti, 60 tahun lebih, pemilik warung ukuran sekitar 2 x 2 meter di Jalan Diponegoro, bisa riang ceria kepada orang asing yang singgah.
Dia hanya membuka warung selama pukul sepuluh pagi sampai dua siang. “Untuk mengisi waktu katanya. Rezeki sudah ada yang Mengatur,” katanya, sambil menawarkan kawista, buah kegemaran Kyai Slamet, blogger Tuban cabang Madura yang sorenya tiba di Ponorogo.

Seperti kota-kota kecil lama lainnya, Ponorogo terus berubah, menapaki modernitas. Rumah-rumah tua tak semuanya bertahan, sementara di pertigaan muncul rumah dari peti kemas. Beberapa rumah hadir penuh percaya diri dengan warna yang mencolok.

Ponorogo terus menjalani zaman dengan segala perubahannya. Pentas festival reog mini dengan tata suara rubuan watt, tentulah tak ada pada masa listrik belum merambah ke mana-mana.
Inilah pesta reog modern dengan tata cahaya, yang sudut pentasnya meniru lampu lalu lintas: merah berarti stop.
Ada sesaji di semua sudut pentas, agar semua berjalan aman lancar tanpa gangguan, adalah bagian dari nilai-nilai lama untuk menjalani kekikinian.
Di kota itulah sekumpulan bloggers dengan gagah perwira mengibarkan semboyan, “Dari Ponorogo menyapa dunia.”
Mereka itulah, dengan segala upaya untuk menularkan semangat ngeblog, yang akan memperkenalkan Ponorogo, dan membangun konten dari kekayaan habitatnya.
Mereka itu, para blogger Kota Reyog, yang memilih ejaan latin secara Jawa: “re-yog”, dan bukan reog, dalam ranah gaul digital. Mungkin bukan sekadar keterbatasan nama domain tetapi memang karena sebuah kesadaran dalam bernama. Selamat ulang tahun, kawan!

Apa yang Anda ketahui tentang Wonosobo di Jawa Tengah? Lihatlah peta Pulau Jawa, maka wajar saja jika Bupati Kholiq Arif dapat berkata kotanya memang tepat di tengah Jawa. Informasi lain dapat Anda cari di internet, baik dari bloggers Wonosobo maupun portal e-Wonosobo.
Apa yang saya ketahui tentang Wonosobo? Tidak banyak. Beberapa kali, dalam selang waktu berjauhan, saya melewati kota adem itu. Saya sangat berjarak.
Begitu berjaraknya saya sehingga kepongahan saya pun muncul. Saya gumun dan terkesan oleh temuan tak sengaja. Suatu petang, 24 Juli lalu, selagi menunggu bloggers pelbagai daerah datang ke pendopo kabupaten, saya berjalan-jalan bersama Iman Brotoseno dan Sita. Antara lain untuk mengudap ronde.
Mereka berhenti di depan sebuah warung rokok. Di situ ada parit. Apa menariknya? Saya mendekat. Ada grojokan di situ, ikan-ikan emas hidup dalam kolam deras. Gemuk-gemuk.
Pak Prayit, berusia 50-an lebih, pemilik warung yang memiara ikan itu (”Sudah lama, sedari saya muda,” katanya) menyatakan bahwa ikan-ikannya aman. Belum pernah sekalipun dicuri. Maka setiap kali ada pemesan dia tinggal menjaring ikan, tak pernah ada yang hilang sebelum terjual.
Saya bayangkan, tanpa dijaga preman, atau pemiliknya memang jagoan yang sedikit bicara banyak tikam, di Jakarta sulit sekali memiara ikan di parit deras yang terbuka (tanpa karamba) — kecuali di taman yang tertutup dan terjaga. Itu pun dengan catatan air paritnya memang takkan membunuh si ikan.
Lantas apa hubungan ikan Pak Prayit dengan kepongahan saya? Dengan segala maaf, saya merasa ikan-ikan itu adalah bagian dari cerita lokal Wonosobo yang perlu diketahui oleh orang luar. Ada romantisisme membuat berita kisah (features) dalam ajakan saya kepada teman-teman.
Padahal bisa saja itu tak menarik bahkan tak penting. Terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang Wonosobo dan harus jujur saya akui bahwa saya tak ikut tur siang sebelum saya datang petang, yaitu menengok kerajinan batik. Wonosobo punya batik dan saya belum pernah dengar. Bukan perajin batiknya yang kebangetan tetapi saya sering pakai sarung batik (tapi tak tahu nama motifnya).
Tentang Wonosobo, yang terbayang tentu Dieng. Padahal sebagian besar kawasan wisata Dieng adalah wilayah Kabupaten Banjarnegara. Wonosobo menjadi gerbang dan pengumpan wisatawan masuk ke Dieng.
Wonosobo dan kawasan sekitar juga berubah, termasuk yang negatif: berkurangnya sumber air akibat penebangan liar. Untunglah Pak Bupati tidak bosan mengingatkan (saya dengar dari orang lain, dia pernah mengeluarkan ancaman keras yang kontroversial). Bekas wartawan Jawa Pos itu menjadikan khotbah Jumat-nya untuk penyadaran lingkungan.
Hanya ikan Pak Prayit, batik lokal, dan tentang birokratkah yang dapat dikuak dari Wonosobo? Bersyukurlah kepada internet dan anak-anak muda kawannya Tyovan. Merekalah, dan kemudian bloggers dari wilayah lain, yang terus memperkenalkan isi kota itu. Termasuk di antaranya memperkenalkan mi ongklok.
Mi ongklok? Saya lupa asal mula kata “ongklok”. Inilah kuliner lokal yang menyajikan mi rebus dan kol, dengan guyuran kuah kental kanji berbumbu ebi. Rasanya sedap. Aroma dan rasa udang terhidang di sebuah pegunungan yang jauh dari laut. Masih ditambah lauk tempe kemul dan sate sapi.
Hanya makanan, kata Anda. Cuma kudapan, kata Anda lagi. Tapi mi itulah salah satu cerita yang diingat dan diceritakan para bloggers tetamu peresmian komunitas blogger Wonosobo. Sebuah public relations yang menarik.
Kelak akan semakin banyak bupati dan walikota yang memanfaatkan bloggers untuk mengkomunikasikan wilayahnya. Para bloggers tak hanya ngeblog, mereka juga aktif di jejaring sosial. Mereka membangun konten.
Yang kemudian diperlukan adalah pemeliharaan isu, bukan cuma one shot saja karena proses komunikasi memang merupakan langkah panjang.
Kelak pertanyaan “Apa yang Anda ketahui tentang Wonosbo (dan kota lainnya)?” akan terjawab dengan cepat, baik secara lisan maupun penunjukan tautan oleh mesin pencari.

Lembar transfer sebuah bank. Kursi plastik. Dan handuk kecil. Ketiganya terpisah di sebuah ruangan. Lalu dipertemukan. Tentu bukan kebetulan. Jangan percaya judul.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Teman saya menyebut bubur itu makanan orang sakit. Makanya dia nggak maiu diajak jajan bubur karena merasa dirinya sehat. Siang tadi, sekitar pukul sebelas, di pertigaan dekat kantor, saya lihat penjaja makanan pasien itu. Harganya Rp 6.000 per gelas. Rasanya? Supermanis. Pengidap diabetis bisa kambuh.

No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Malam hari dia seperti tersesat edar, sendirian masuk ke ruang kerja saya, dan hinggap di monitor. Terus bergerak. Mengganggu pekerjaan saya. Gerakannya sulit ditangkap dengan jepretan kamera saku. Dasar lalat.
© Foto: saya
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.