
Rada berbau ghibah,seseorang bilang ke saya, “Si itu dan si anu kan lebih punya kompetensi dalam musik. Liat aja blognya. Reviunya keren. Seleranya bagus. Kenapa bukan mereka yang dapat orderan buat paid review sebuah portal musik?”
Saya hanya tertawa, lalu menyahut, “Jangan suudzon. Bisa saja mereka ditawari tapi nggak mau atau nggak sempat. Atau bingung.”
Dia tak menyerah, “Misalnya mereka gak bisa kenapa tawaran jatuh ke orang-orang yang nggak teruji ngikutin musik? Bahkan dengar demo dari anak-anak indie pun jarang?”
Jawaban sok bijak untuk menghentikan diskusi bisa saja seperti ini, “Namanya juga jalan rezeki. Jangan dibikin iri.”
Tapi sesungguhnya bukan itu masalahnya. Ini era media sosial dan jejaring sosial. Kompetensi dalam konten di blog pribadi bukan segalanya. Masih ada faktor lain yaitu sosiabilitas. Dalam istilah yang gampang: seberapa dia gaul.
Penjelasan operasionalnya kalau disederhanakan adalah seberapa dalam dia diterima di blogosfer dan komunitas tertentu di layanan online.
Pengertian seberapa dalam itu antara lain mencakup seberapa kuat pengaruhnya bagi pengikutnya. Ketika dia bilang blogombal itu asli gombal, maka pengikutnya berkemungkinan sepakat — meski tak serta merta memusuhi blog maupun narablognya karena tak ada alasan.
Pengaruh itu bukan hasil sekali jadi dengan setiap hari memperbari status Twitter 30 kali, yang secara serentak juga masuk ke Facebook dan lainnya, selama sebulan.
“Uh nggak adil! Kenapa kalo si anu suka nge-tweet cemen malah disambut, tapi kalo si nobody sering nge-tweet malah dibilang lebay, minimal dicuekin?” sergah teman itu.
Adil tak adil itu bergantung pada lingkup. Terhadap orang yang disukai, pintu lebih banyak dibuka. Terhadap yang kurang disukai (bedakan dengan dibenci), cukup sedikit pintu terkuak.
Sebagai merek, dalam hiruk pikuk perebutan “eksistensi dan hegemoni di tengah media sosial” (istilah karangan supaya keren) itu ada faktor brand personality.
Mereknya berjiwa karena mempribadi. Orang yang semanak, terbuka, membuat teman yang curhat nyaman, jelas lebih diterima ketimbang orang yang (sok) misterius, soliter, impulsif, dan selfish. Cara dia berbicara dan berperilaku menentukan orang lain suka atau tidak.
Pengikut dari seorang narablog ber-brand personality bagus, karena image-nya juga bagus, tahu bahwa reviu yang mereka baca itu tertaja tapi nyaman-nyaman saja, karena mereka memang sudah menerima sosoknya. Di dalamnya ada kepercayaan dari pengikut bahwa si narablog tak asal sambar tawaran rezeki.
Berbeda halnya dengan si sok misterius. Meski reviunya dalam hal tertentu kritis dan tajam, kalau sering sinis maka orang hanya menikmati kontroversinya. Sekali dia memuji maka penggemar malah kuciwa. Lebih dari itu, si sok misterius yang sinistis itu tidak socially life. Untuk kasus Indonesia, narablog yang tak pernah kopdar, jarang diwawancara “media lama”, dan tak pernah diundang seminar, tak lebih dari nickname tenar — antara tiada dan ada (atau sebaliknya).
Wajah kawan yang bertanya tadi antara puas dan kuciwa (yang gimana sih?). Tapi tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan, “Kalo misalnya saya ngereviu karena suka, tapi sebelum program kampanye dijalankan, saya boleh ngajuin reimburse nggak?”
Saya teringat rencana seseorang untuk memposting ulang tulisan lama karena ada kompetisi tulisan di blog. Dulu ketika dia menulis belum ada lomba, padahal lomba memberlakukan rentang waktu pemuatan.
Kali ini saya ganti bertanya, “Dalam kasus macam ini, bedanya kreatif dan bokis apa ya?”
Trek lama: Menulis saja tak cukup
© Ilustrasi: Synthopia

“Maaf dilarang memesan minuman sendiri dari warung sebelah (lagi ada konflik).” Pemberitahuan di bawah daftar harga Ayam Goreng Ponyo, Bandung, itu membuat saya terbahak.
Saya menemukan info itu, berikut fotonya, dalam sebuah posting di Nicetry. Masih ada ratusan contoh foto unik bahkan aneh dan gila di blog keren itu. Di sana saya melihat sebuah potret Indonesia dari pelbagai sumber. Memang tak selurunya 100 persen peristiwa di tnah air, tetapi warna Indonesianya kental sekali.
Ada lagi contoh blog dengan konten lokal yang keren: Blogsemprul, Dab! milik LekDjie. Isinya stiker dan tulisan pada sepeda motor. Sebagian besar dengan ponsel berkamera dia bidik temuan yang menarik lalu dipindah ke blog.
Lek Djie, demikian dia menyebut diri sejak SMP, juga ngeblog semprul di Blogspot. Di Blogspot pula dia menjadi Cah Gemblung.
Ngeblog dengan konten unik, menurut pria asal Karanganyar, Jawa Tengah, yang kini bekerja di industri otomotif di Cikarang itu, “Asalkan ada yg komentar saja sudah matur nuwun…” Sungguh sebuah contoh ngeblog dengan hati.
Ada passion dalam Nicetry dan Blogsemprul. Apa yang didapat layak dibagi. Mungkin mereka tak pernah “berteori” tentang konten Indonesia. Mereka pun mungkin tak peduli apakah postingnya akan dibahas di Boingboing.

Blog dan narablog macam itulah yang sangat layak mendapatkan iklan — kalau ada yang berminat. Isinya bagus, orisinal (termasuk yang “submitted by temans”), bermanfaat, merupakan potret sosial Indonesia — dengan maupun tanpa kontes SEO.
Mereka telah memberi bukti bahwa menjadi kreatif itu tidak berat-berat amat, dengan santai dan riang, bahkan cengengesan, pun bisa. Kalaupun suatu saat trafik mereka meninggi, itu bukan karena berhasil mengecoh mesin pencari. Tapi kalau sejak awal ingin meggenjot SEO pun bagus karena kontennya memang layak baca dan layak bagi.
Baiklah, Anda bisa bilang, “Ah udah biasa itu. Udah banyak posting gituan. Di Kaskus ada. Di Facebook juga ada. Basi, tau?”
Sebut saja saya basi, tapi izinkanlah saya mengajukan pertanyaan basi: dari ribuan foto tentang konten Indonesia, manakah yang hasil jepretan Anda? :P
Bonus:
1. Contoh konten lokal lain: pesanlewat.com
2. Ajakan Pitra: 365 Shots!
© Ilustrasi: Garansi, oleh LekDjie; Durian, oleh Baihaqi/Nicetry
Memang Priyadi, salah satu pemain lama itu, sudah lama rehat dari ngeblog. Tapi dari halaman Formspring-nya saya mendapatkan pencerahan. Jawaban Priyadi, seperti biasa, jernih dan masuk akal. Itu adalah jawaban terhadap pertanyaan, “Apakah Mas Pri mempercayai ada orang Indonesia punya penghasilan ribuan dollar per bulan dari AdSense? Kok bisa ya.”
Silakan Anda baca sendiri jawaban lengkapnya. Saya hanya mengutip ini:
“praktik2 tersebut tidak memberi kontribusi positif ke dalam ekosistem internet. melainkan sebaliknya, berbagai sumber daya harus dikeluarkan untuk memberantas masalah2 tersebut”
Tetapi, yeahhhh… bagaimana lagi. Jika bicara kontribusi, terutama dengan cara scrapping atau main comot dan pasang, maka bagi pelakunya mungkin itu dianggap positif karena “kreatif”. Pengertian “kreatif” di sini adalah “ngapain capek nulis kalo ada cara yang lebih gampang buat ngeraup konten dan bisa dapetin duit”.
Kapan itu saya ditanya seseorang tentang pengertian blog(er) ideal. Tentu saja saya bingung karena belum pernah memikirkannya.
Jangan-jangan bagi orang tertentu jalan pintas — dengan aneka trik itu — juga ideal karena langsung memberikan manfaat ekonomis “dengan cara membagikan hasil kemampuan pihak lain dalam menghasilkan konten”. Kalaupun ada orang tersesat oleh blog semu akibat tuntunan mesin pencari, ya itu salah sendiri. Mungkin saja to?
Saya menaruh hormat kepada bloggers yang mendapatkan manfaat ekonomis karena menghasilkan konten sendiri dan aktif mempromosikan blognya. Mereka layak mendapatkan keuntungan (termasuk bayaran) atas kerja kerasnya — memang sih mereka menyebutnya “hobi”.
Lebih utama lagi, mereka itu telah dan terus memperkaya konten Indonesia, apapun bahasa yang mereka gunakan dalam menulis. Personal brand kuat yang mereka dapatkan itu juga layak. Mereka paham dan menghayati bahwa esensi blog adalah menuliskan isi pikiran dan perasaan.
Apakah itu juga ideal? Yang disebut ideal biasanya berbau impian, padahal yang mereka lakukan itu nyata, begitu pula manfaatnya.
Meskipun begitu saya pernah mendengar, “Emang sih semangat ngeblog udah turun, tapi tetap aja sulit buat orang baru yang pengin cepet ngetop. Nah nggak asyik nih kalo nggak dikenal lagian nggak dapet duit. Mendingan nggak ngetop tapi dapet duit. Atau sabar dikit, bikin yang beneran, tapi sambil ternak banyak blog buat njaring duit apapun caranya — iya sih pake nama lain. Setuju nggak, Mas Paman?”
Lebih baik saya memikirkan laptop saya yang bermasalah. :D
© Ilustrasi: Rosebud
Layak baca: Enyahkan Niat Busuk itu!

Sekarang zamannya ponsel berkamera. Bahkan kamera digital pun makin banyak pemiliknya. Jadi, mestinya, kata saya dalam diskusi via e-mail tadi, setiap orang yang bisa menjepret bisa bikin posting tentang masalah sekitar. Tepatnya masalah kota. Dari urusan kaki lima, peturasan, sampai angkutan umum.
Eits, nanti dulu. Apa tadi? Mestinya? Siapa yang mengharuskan?
Tidak ada. Tidak dilakukan pun tak akan berbuah sanksi. Hanya lontaran saja. Kata “mestinya” bisa diganti “sewajarnya”. Bisa juga “semoga”.
Sebetulnya ini masalah niat dan kesempatan — dan tentu mood. Hanya itu? Tidak. Ada juga soal kepekaan. Apa yang sering lihat kita anggap biasa sehingga kita tak menangkap “masalah” dari yang kita lihat. Ini antara lain karena kita kurang berjarak. Tapi ketika kita ke daerah baru, apalagi luar negeri, maka banyak hal menjadi menarik.
Tentu tidak semua blogger kurang peka. Lihat saja Mpok Bina yang melaporkan kualitas Koantas Bima. Atau Reza yang melaporkan modifikasi “sok gaul” ala angkot, padahal itu membahayakan keselamatan penumpang.
Lho, kalau kita melaporkan apakah bakal ada perbaikan? Belum tentu. Tapi setidaknya kita telah melakukan dua hal mulia. Pertama: mendokumentasikan masalah kota. Kedua: memperkaya konten Indonesia di internet. Tak hanya berupa teks tetapi juga gambar.
Maka suatu hari bisa saja kita meledek anggota DPRD yang mendapatkan laptop baru dari anggaran daerah, “Tuan, pahamkah Tuan akan masalah sekitar yang disuarakan oleh warga di internet?”
Kalau mereka menjawab gagap sambil garuk-garuk kepala, berarti mereka paham. Kalau tidak? Berarti juga paham. Ingat, kita tidak boleh menghina wakil rakyat. Jadi anggap saja mereka semua pintar dan memahami masyarakatnya. :D
Siapkah Anda bersaksi tentang lingkungan dan kota Anda? Manfaatkan blog Anda, Facebook, dan Twitter. Bagilah pengalaman Anda. Internet merekamnya.
© Foto ilustrasi: Reza Rumit (diambil tanpa permisi — maaf dan terima kasih)

Ujung-ujungnya adalah spirit dan kreativitas dalam menghasilkan konten. Mau mikroblog “atau” megablog maka yang paling sip adalah “dan”. Saling melengkapi — seperti kata Akang Matt. Untuk saya berarti sesuai kebutuhan, selera, dan… kepribadian kita. Hah? Jauh amat?
Ya. Cara kita berkonten dan berkonversasi juga menyangkut kepribadian kita. Jika Anda orang yang terbuka, bahkan mengaggap “privacy is so yesterday“, maka batas berbagi dan pamer bukan soal. Jika Anda tertutup, bahkan soliter, mana kelewat berhati-hati pula, maka untuk berbagi pun berpikir lebih dari sekali. Begitu berpikir lebih dari sekali maka Anda (mungkin) batal posting. :D
Tak apa. Itu soal kenyamanan hati. Setiap orang punya cara. Setiap orang punya teman dan penggemar sendiri-sendiri — bahkan mungkin seteru masing-masing. Begitu pula lontarannya. Itulah kehidupan sosial.
Lantas mengapa kita melontar? Pertama dan yang utama memang pasal benak dan perasaan. Ada yang harus dituangkan supaya kewarasan terjaga. Setelah itu adalah konversasi atau percakapan.
Dulu, abad lalu, ketika Anda masih menggunakan web statis ala Geocities, penambahan buku tamu untuk menampung respon sudah membahagiakan. Anda tak merasa sendirian di internet karena ada yang menunjukkan perhatian.
Lantas ketika awal abad ini Anda menggunakan Blogspot yang tak menyediakan komentar, maka layanan semacam Haloscan pun terpaksa Anda pasang. Itu untuk menemani Tagborad, Shoutmix, Shoutbox, Oggix, dan sebangsanya. Seterusnya ada Twitter, Plurk, Facebook, dan akhirnya Formspring.me bikinan Formsping.com.
Jalur konversasi publik bertambah. Akan matikah blog konvensional? Tidak. Tetap ada penulis, dan (semoga) tetap ada pembaca yang memberikan respon serta reaksi.
Artinya, bisa saja seorang Hasan Aspahani merangkai puisi dari sejumlah pertanyaan terjawab via Formspring kepada Golda, Totot, Enda, Joko Supriyanto, Ichanx, Rudyanto, dan Atikah. Kenapa mereka, ya cuma contoh yang mudah saya temukan.
Sementara Aan Mansyur secara serius mencomoti pertanyaan dan jawaban yang terserak di internet untuk dikualikan lantas diberi bumbu. Dan Anda, blogger yang bingung sekaligus gerah terhadap blog semu untuk meraih duit, akan mendapatkan jawaban dari Priyadi, seorang pemain lama. :D
Di manakah menariknya? Tentu bukan sekadar memancing apalagi menjaring bahan untuk blog. Ada hal penting dalam konversasi melalui media sosial: setiap orang cenderung tampil sebagai dirinya. Bahwa dia menggunakan nama alias — atau brand menurut Totot (”Pakde is not my name. It’s my brand,” katanya) — itu soal lain.
Dalam lalu lintas percakapan yang terpantau publik, sosok-sosok nyata menjadi menarik. Mereka bukan manusia dari planet luar seperti di milis tertentu dan beberapa forum. Pikiran bahkan pandangan hidup mereka menjadi lebih lengkap dan barangkali mudah dipetakan (oleh orang yang sok tahu). Lebih dari itu, setiap pribadi berkesempatan untuk membuat klarifikasi (kalau ditanya).
Hanya itu? Di Formspring orang bisa bertanya-jawab sendiri. Sinting? Tidak. Setiap orang sering, bahkan selalu, bertanya-jawab dengan diri sendiri meskipun dibatin. Bertanya-jawab sendiri adalah cara mengorganisasikan pikiran. Hasilnya adalah percikan permenungan.
Oh soal medianya? Antara ya dan tidak. Semua layanan online yang terbuka bisa diisi tanya-jawab sendiri karena itu hanyalah soal berkalimat. Formspring secara khusus menyediakan itu.
Ah, sudahlah, blog pasti tamat. Tidak juga. Bahwa blogger aktifnya berkurang, dan beberapa pemain tidak rajin posting seperti dulu, mungkin saja iya karena saluran untuk bercerita dan bercakap-cakap sudah lebih banyak.
Ini persoalan konten, bukan jenis wadah. Yang namanya air toh bisa dikemas dalam botol, batok kelapa, dan kantong plastik — bahkan, maaf, dalam kondom. Iya, sesuai anjuran dalam survival: sebuah kondom bisa menampung 500-750 ml air.
Selamat bertahun 2010. Lakukanlah cara berkonten yang cocok. Bahkan misalkan Anda gemar kopas dan merangkai kata kunci untuk menguangkan blog, karena bisanya memang itu, ya silakan. Bahwa di dalamnya minim konversasi, itu juga pilihan. :P

Saya termasuk blogger yang beruntung. Kok bisa? Pertama, karena diundang ke perayaan ulang tahun ketiga komunitas blogger Makassar Angingmamiri dua pekan lalu. Kedua, saya diberi kesempatan mengintip isi buku Sop Konro bagi Jiwa jauh hari sebelum terbit.
Ada dua hal yang menarik dalam acara Angingmammiri ini. Tentang buku, sempat diikrarkan bahwa setiap ulang tahun komunitas akan menerbitkan buku. Selain itu topik diskusi perayaan kemarin, tentang pergaulan virtual, menjadi aktual karena saat itu gerakan koin untuk Prita barusan digelindingkan.
Kenapa buku, tentu bisa muncul pertanyaan usil: ini zaman digital, kenapa mundur ke zaman kertas dengan cara membungarampaikan sejumlah tulisan yang sudah terpampang di web?
Dari satu sisi saya melihat satu hal. Karakteristik buku adalah bisa dipegang, dibawa ke mana saja, untuk membacanya tak bergantung listrik (termasuk baterai). Untuk sekian abad manusia akrab dengan buku kertas sebagai penyimpan informasi. Jadi ya apa salahnya diteruskan. :)
Selain itu, ada yang lebih utama sebetulnya. Sebagai capita selecta, buku menuntut proses pemilahan dan pemilihan tulisan. Di dalamnya ada proses yang mensyaratkan ketersediaan bahan mentah yang layak — ya, posting yang bagus.
Itu berarti buku akan memacu setiap blogger anggota Angingmammiri untuk terus menulis dengan bagus. Syukur jika dalam penulisan itu yang namanya konten lokal sangat kental sehingga bisa menjadi jendela bagi orang luar untuk memahami Makassar.
Informasi oleh warga, bukan oleh pemerintah daerah dan pelaku bisnis pariwisata maupun bisnis lainnya. Itulah kekayaan konten lokal. Setidaknya orang luar Makassar bisa terjawab penasarannya kenapa Ujungpandang yang dipakai oleh penerbangan masih ditenggang oleh warga. :)
Tentang pergaulan virtual, yang menjadi topik diskusi itu, sebetulnya menyadarkan kita semua tentang satu hal: tak semuanya melulu virtual. Akhirnya toh kontak di dunia nyata juga terjadi. Bahkan silang informasi dalam komunitas pun sebetulnya berpangkal pada pergaulan nyata.
Di luar urusan koin untuk Prita, beberapa bloggers Makassar sudah saya kenal di dunia maya dan akhirnya bersua di dunia nyata. Ketika masih di dunia maya — nah ini menariknya — kerja sama pun bisa terjadi karena asas kepercayaan. Misalnya membolehkan saya mencicipi Sop Konro bagi Jiwa. :)
Selamat!

Masa sih setiap orang dari 30 juta pengguna internet di Indonesia cuma menghasilkan satu halaman konten web? Maka, meskipun Facebook dan Twitter menyenangkan, jangan lupa untk ngeblog. Begitu kira-kira ajakan Donny B.U. dari ICTWatch dalam perayaan ulang tahun kedua komunitas Tugu Pahlawan di Surabaya kemarin.
Memang ada keluhan blog mulai surut, sepi, miskin interaksi, sehingga Facebook dan Twitter pun disukai. Saya juga mendengar ada sebagian anggota Politikana, Ngerumpi, dan lainnya lebih terpuaskan di wadah baru karena mendapatkan respon.
Interaksi, konversasi, silaturahim (eh, silaturahmi), memang sangat dibutuhkan. Apalagi untuk masyarakat yang guyub, doyan kopdar. :D
Tentang konten Indonesia oleh orang Indonesia, itu sudah sering saya lontarkan. Saya jadi mirip MP3 player dengan koleksi lagu yang terbatas. Misalkan di-shuffle, ya munculnya itu-itu melulu, baik di Bekasi, Ponorogo, maupun Wonosobo. Spirit yang sama saya lontarkan ketika menyambut Pesta Blogger 2009 di Jakarta. Mirip kondektur bus AKAP (antarkota antarpropinsi): jualannya sama ke mana pun trayeknya.:D
Stiker sedot WC
Maka ajakan Donny sungguh menggembirakan. Bahwa dalam blogging terdapat ranjau — sejak HAKI sampai pencemaran nama baik versi UU-ITE — bagi saya itu bukan alasan untuk menyerah. Bahwa pasal 27 UU-ITE ayat 3 itu adalah ranjau yang sangat berbahaya, ya marilah kita perdalami untuk mengenal kiat aman, lalu kita menawar lagi.
Dengan maupun tanpa pasal itu, sesungguhnya setiap lontaran pendapat di ranah publik (tak hanya di internet) mengandung risiko — dari respon sosial yang negatif sampai urusan pengadilan.
Saya bisa saja disebut represif, “prokapitalis”, “neoliberal” (halah!), antiekonomi rakyat, dan congkak, jika menggugat penempel stiker sedot WC di pagar rumah saya — stiker yang kalau hari ini saya lepas maka besoknya stiker baru tertempel lagi (begitu pula di tetangga saya). Risiko cara penyampaian pesan ada di penyedot WC, dan risiko terkena opini negatif ada di pihak saya. Padahal saya dan penyedot tak hanya sama-sama rakyat tetapi juga masing-masing menjadi pengisi septic tank.
Persoalannya adalah sejauh apa kita mengenal ranjau-ranjau itu? Anda berhak menyatakan keberatan, bahkan minta penghapusan berkas, jika foto Anda dalam pose yang tidak keren, bahkan memalukan, saya pasang di web. Tentang ranjau silakan Anda konsultasikan di Lintasan. Bisa juga ke ICTWatch.
Menulis di blog
Sesungguhnya inilah masalah umumnya orang: “Apa yang bisa saya tulis, bagaimana menuliskannya?” Malu juga kalau saya lagi-lagi menjadi pemutar musik. Sejumlah tulisan saya di blog ini dan tempat lain sudah menjadi contoh yang mengesalkan karena sok tahu, sok menggurui.
Begawan blog Sawali Tuhusetya dalam acara kemarin melontarkan satu hal yang penting: pemanfaatan bahasa sesuai “mazhab” setiap blogger. Sebagai guru bahasa (”Bukan ulang tahun TPC kedua, tapi ulangtahun kedua TPC,” katanya), Sawali tidak bisa menerima “cara Tarzan”: setiap blogger menciptakan pola kebahasaan sendiri tanpa hirau konteks kultural dan latar sosialnya.
Sebagai harapan, lontaran Sawali berinterseksi (bertumpuk irisan atau bertumpangsuh) dengan tulisan saya tentang termehek-mehek, Cicak versus Buaya, dan penulisan bilangan. Tak usah Anda klik tautan tadi. Saya hanya ingin menyatakan bahwa blog (mestinya) bisa memperkaya bahasa Indonesia, syukur jika blog tidak menjadikan kita sebagai dwibahasawan yang tanggung.
Memang perlu waktu. Menulis itu tidak mudah — padahal mengasyikkan (asal mood cocok dan koneksi tersedia). Jika ditambah faktor minimnya respon maka semakin lengkaplah alasan untuk tidak menulis. Apalagi jika ditambahi kemalasan (sesaat) karena saya pun kadang malas membaca maupun terlebih menulis.
Microblogging vs Megablogging
Di tengah situasi itu muncullah Facebook dan Twitter. Menurut Donny, status di Facebook itu tidak (atau belum?) terindeks oleh Google, sehingga hamburan kata-kata kita tak berjejak.
Harap dicatat, Donny tidak melecehkan status di mikroblog, karena dia pun memberi contoh bahwa pengeboman di J.W. Marriot dan Carlton di Jakarta tempo hari itu muncul pertama di Tweeter-nya Danny Tumiwa. Donny juga mengingatkan, bahwa mainsteam media (misalnya CNN) selalu memantau kata “bomb” di Twitter.
Hari ini saya membaca lontaran juragan WordPress Matt Mullenweg: Micro-blogging vs Mega-blogging. Pertumbuhan WordPress jalan terus, sementara Twitter cenderung datar. Saya sepakat bahwa persoalannya bukan “versus” melainkan “dan”. Tak perlu dipertentangkan.
Mikroblog dan megablog saling melengkapi. Bahwa tak semua penggemar Tweeter dan Facebook itu rajin ngeblog cara lama, demikian pula sebaliknya, itu adalah pilihan. Semuanya mengasyikkan. Bahwa sampai ada blogger yang lupa caranya ngeblog karena sudah lelah akibat seharian nongkrongin Facebook dan Twitter itu juga pilihan. Janganlah kita merampas kebahagiaan orang padahal dia tak merugikan kita.
Karena alam telah mengajarkan seleksi, maka terhadap mereka yang masih tetap ngeblog –justru “di tengah menurunnya tren ngeblog” — layak kita beri apresiasi. Merekalah yang meninggalkan jejak melalui tulisan, termasuk di Facebook Notes.
Selamat ulang tahun bloggers eh narablog dari Kota (Sura dan) Buaya! Harap judul posting ini dibaca sebagai [(Spirit Ngeblog) (Menantang) (Tugu Pahlawan)].
“Isin,” kata seorang senior yang sebetulnya senang menulis. Isin, dalam bahasa Jawa, berarti malu. Dia malu untuk ngeblog. Malu kepada yang muda, khawatir diledek jadul, out of date. Selain takut diejek, dia juga khawatir tak punya pembaca karena kebanyakan orang seusianya tidak memakai internet.
Maka saya pun menganjurkannya menulis Notes di Facebook. Teman-temannya sesama senior pasti membacanya. Dorongan itu kurang mempan. “Teman seangkatan saya belum semuanya masuk Facebook. Malah udah ada mati duluan,” katanya.

“Saya belum lahir!”
Ternyata ketakutannya bertolak dari dunia nyata. Akibat beda generasi dia dianggap asing, baik dari sisi pengalaman hidup maupun kekayaan kosakata.
Dia paling sebal mendengar sanggahan, “Ah nggak ngerti. Saya belum lahir.” Maka dia pun menggerutu, “Apakah mereka nggak mau paham sejarah?”
Saya hanya bisa menghibur, ya begitulah cara anak-anak muda membela diri untuk menutupi ketidaktahuan. Buktinya untuk hal yang mereka tahu, bahkan untuk hal yang sangat jadul (misalnya tentang The Beatles), mereka nggak ngeles soal tahun kelahiran. Itu hanya langkah defensif untuk menyelamatkan muka dan membelokkan topik.
Bahasa Indonesia anak muda kurang kaya?
Tentang cara berbahasa, saya tak sepenuhnya sepakat. Anak-anak muda yang banyak membaca, termasuk membaca naskah lama, tak asing dengan tuturan generasi sebelumnya. Saya contohkan blogger seperti Zen dan Anusapati itu. Tuturan mereka mengalir, enak dibaca, padahal tak menggunakan bahasa gaul.
Si senior belum sreg. Dia merasa sudah menulis dengan enak dan benar (bukan di blog), tapi belum juga dipahami oleh anak-anak muda. Saya menyergah, “Anak muda yang mana?”
Setahu saya anak-anak muda yang, katakanlah, terbiasa membaca majalah Tempo, nyaman saja membaca tulisan seperti itu. Bahkan meskipun kadang Tempo menyisipkan kata yang “kurang lumrah”, mereka pun tetap paham.
Yang jadi masalah adalah rujukan anak-anak muda terhadap teks berbahasa Indonesia. Jika mereka hanya membaca blog yang bahasanya seringkali buruk, maka cara berbahasa mereka (termasuk kosakata dan ejaan) pun semakin miskin, tak seimbang dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang ironisnya memang bertambah bagus. Sebagian dari mereka memang malas membuka kamus Indonesia karena tidak dibiasakan oleh guru (dan orangtua, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun).
Menyumbang khazanah, memperkaya sejarah
Maaf, sabar dulu ya. Ini memang posting tentang dunia orang sepuh. Saya menggambarkan proses penularan ngeblog kepada kaum senior.
Saya katakan kepadanya bahwa dengan ngeblog sebetulnya dia tak hanya berbagi isi hati dan benak, melainkan mengisi sejarah.
Tak usah yang muluk-muluk atau berat. Berceritalah tentang sepeda bermotor bermereknya Solex saja itu sejarah, karena sepeda itu pernah ada di Indonesia. Ketika Solex selesai, anak-anak muda Eropa pernah menjadikannya sebagai penarik skateboard dalam sukan ekstrem.
Begitu cerita tentang Dymo, yang hari ini masih dijual di toko. Atau juga awal penggunaan 3M ScotchLite di Indonesia. Boleh juga tentang penggunaan film dalam fotografi — padahal belum ada sepuluh tahun fotografi digital menjadi milik “semua” orang Indonesia, tapi orang sudah melupakannya.
Sampai hari ini, sejauh saya tahu, masih langka blog (bukan milis) berbahasa Indonesia yang menyajikan penggalan masa lalu. Salah satu penyebab adalah generasi tua malas memproduksi konten dan membagikannya. Bagi orang sepuh, ngeblog bukan cuma mencegah kepikunan, tapi juga menyumbangkan konten kepada khazanah Indonesia di internet.
© Sumber asli ilustrasi sebelum montase: bermacam-macam, saya lupa — tapi siap untuk ditegur dan diingatkan.
Bekasi, Jawa Barat. Itu Sunda atau Betawi? Pada sebuah warung, di sebuah kampung, antara Kranggan dan Jatiasih, belasan tahun lalu saya mendengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Dalam keseharian, saya mendengar orang-orang Pondokgede bicara dalam logat Betawi. Tentu dengan catatan tak semua kata saya pahami.
Bekasi. Betawi. Jawa Barat. Ketika 14 tahun lalu meledak berita tragedi keluarga Acan, yang anak-anak perempuannya diperkosa perampok jahanam, sebagian orang luar Bekasi tersadar tentang satu hal. Nama asli sebagian orang Bekasi memang seperti orang Betawi kebanyakan. Acan, Miih, Mi’ing, Mu’an, Bokir, Malih, Nirin. Bisa jadi saya salah, siapa tahu itu semua nicknames.
Bekasi. Sekarang. Banyak bloggers. Maka lahirlah BloggerBekasi, yang diresmikan Santu 17 Oktober kemarin. Hanya untuk kumpul-kumpul? Mestinya tidak. Dengan atau tanpa wadah, setiap blogger lebih paham wilayah huninya. Dari sanalah yang namanya konten lokal terbangun.
Konten itu bisa sekadar status di Facebook maupun Twitter: “lagi nyikat pucung gabus“. Kalau Anda belum tahu, pucung gabus adalah masakan khas Bekasi. Ketika belum mencicipi masakan ini, tujuh tahun lalu, saya menyinggahi sebuah kedai di tengah kebon, dekat pool taksi Kosti Jatiasih, pada suatu pagi saya bersepeda. Ternyata tutup. Maka meskipun jauh, siangnya saya ulangi ke sana, bermobil. Hanya karena ingin tahu, ingin mencicipi.
Konten lokal bisa juga berupa obrolan sejarah. Misalnya sekadar berbagi foto rumah tua warisan tuan kebon bernama Meneer Hooymans yang menjadi asal-asul nama Pondokgede. Bangunan itu diruntuhkan pada 1992. Di lahan itu berdiri Pondok Gede Asri, yang berisi plaza dan ruko.
Konten lokal tak harus yang “arkais” seperti Gereja Katolik Santo Servatius yang berusia seabad lebih (sejak 1896) di Kampung Sawah, yang tak jauh dari Gereja Kristen Pasundan yang lebih tua (1874). Kedua gereja itu bertetangga dengan Masjid dan Pesantren Fisabillilah.
Konten lokal juga apapun yang ada hari ini. Misalnya arsitektur rumah asli. Siapa yang bisa menjamin lima tahun masih ada? Sayang jika tak diabadikan padahal banyak ponsel yang berkamera.
Konten lain yang lebih menarik masih menantang. Yaitu toponimi. Informasi perihal asal-usul nama wilayah. Kenapa bebarapa tempat bernama depan Jaka (ternyata Jakasampurna dulunya Kampung Dua) dan Jati? Mengapa ada Kampung Cerewet dan Kampung Siluman?
Yang sangat kini juga ada. Rambu lalu lintas, penunjuk arah, di samping Mal Metropolitan itu menggunakan tipografi yang kurang lazim. Aksara indah gaya Hermann Zapf itu kurang legible, sulit dibaca dengan cepat.
Yang sangat lokal, sangat Bekasi, sudah ada, dan akan terus ada. Yaitu serial Bekasih Begaya dari Bang Komar. Tuturannya mengingatkan kita kepada Firman Muntaco yang pada tahun 70-an memindahkan khazanah Betawi ke latar modern. Misalnya ini: “Makan tuh Pecakan Jengkol!” Paparan Vavai tentang istilah-istilah Bekasi juga bisa dikembangkan menjadi halaman glosari.
Yang lebih mendesak? Posting tentang kondisi pelayanan umum di Kota maupun Kabupaten Bekasi. Untuk kota, bloggers Bekasi bisa membandingkan kondisi jalan sekarang dan nanti setelah janji Pak Walikota terpenuhi — dengan maupun tanpa hadiah total Rp 45 juta. :)

Keriuhan media sosial dan layanan jejaring sosial telah mengukuhkan hal lama: manusia memang butuh berkawan. Kebutuhan itu, dalam kasus Indonesia, mulai terasa ketika kopdar ada di mana-mana (dua orang boleh dianggap kopdar, apalagi ketika bersua pertama kali) dan komunitas blogger bermunculan (lengkap dengan portalnya).
Perkembangan berikutnya yang menarik adalah Plurk yang muncul tahun lalu. Pemain lama, yaitu bloggers, nyemplung ke sana. Microblogging menjadi menarik untuk bloggers yang terbiasa menulis melebihi kuota SMS. Yang bukan bloggers, untuk kasus Indonesia, cenderung tak digubris — kecuali dia memang dotcomer dan sejenisnya.
Lantas belakangan ini Twitter, yang merupakan barang lama, menjadi bertambah riuh. Kenapa? Ada banyak kawan di sana. Lebih penting lagi, layanan pendukungnya bertambah. Aplikasi untuk desktop dan mobile kian mempermudah microblogging. Semuanya semudah menulis SMS. Misalkan benar tahun ini 40 persen aktvitas internet dilakukan secara mobile, tahun depan kayaknya lebih 68 persen.
Apapun yang dihasilkan dalam keriuhan itu adalah konten. Isinya macam-macam. Dari keluhan pribadi, pamer pengalaman, menggerakkan kepedulian dan pertolongan, sampai berbagi tautan. Respon (komentar) dan reaksi (menyebarkan, membagikan) berkemungkinan langsung didapat.
Intinya konten saja tidak cukup. Tetapi kepada siapa ditujukan, itu juga harus jelas, demikian pula tanggapan yang diharapkan. Konsep dasar blogging sebagai personal journal tak berubah, tetapi muara penyalurannya kian berkembang.
Orang hanya mau berkomunikasi dengan yang cocok. Itulah moral ceritanya. Bagusnya, manusia memang multidimensi. Maka yang doyan diskusi politik pun masuk Politikana. Apa yang ditulis di sana berkemungkinan lebih ditanggapi daripada di blog. Hal sama berlaku untuk Ngerumpi, dan seterusnya. Ada perasaan nyaman karena jelas siapa yang jadi kawan. Meskipun orang lain tak berkomentar tetapi setidaknya mereka membaca judul.
Itulah media. Itulah konten. Maka konsep informasi, bahkan berita, pun ditimbang ulang. Apakah yang sebetulnya dibutuhkan oleh khalayak? Ternyata masih berpijak pada pakem lama. Salah satunya: kedekatan. Bisa geografis, bisa emosional, atau gabungan keduanya. Setelah itu dicampur dengan minat dan manfaat.
Artinya, soal korupsi Jackie Salibi nun di Afrika Selatan itu tak penting. Begitu pula kemenangan Pasok di Yunani. (Duh, ngapain juga dipikir, emang orang sana juga mikir Indonesia?)
Lebih penting perasaan hati kawan kita, di Twitter, yang ditinggal kekasih. Lebih asyik meledek dan mempergunjingkan kawan yang bolak-balik memamerkan barang barunya di segala kesempatan dan cuaca dengan banyak cara di Facebook.
Apakah internet telah menyodorkan paradoks, penggunanya hanya mau tahu apa yang dekat padahal menggunakan layanan global? Tidak. Internet mengikuti nature kita. Sayangnya, sebelum era media sosial dan jejaring sosial, apa yang disebut “informasi yang perlu” (=”layak berita”) adalah menurut para tuan editor.
Sekarang, konten dari media utama hanya kita baca dan preteli seperlunya. Lalu kita sebar, dan kita tafsir, yang kesemuanya di luar kontrol para tuan editor.
Lantas, haruskah semua orang aktif, bahkan hiperaktif, di media sosial dan jejaring sosial? Itu soal pilihan. Soal kenyamanan hati. Masih ada orang yang ngeblog dalam sepi, bahkan punya beberapa blog, dan dia merasa damai.
© Ilustrasi: abduzeedo.com