
Maksud saya sih keminggris. Kebetulan si empunya kaos ini bernama Happy — dia seorang pria, tapi ada juga yang menyangkanya wanita karena hanya menilik nama. Sebetulnya dia sering memotret, lalu sebagian hasilnya dia cemplungkan ke Facebook. Apakah posting tentang kaos photoblog ini termasuk photoblogging?
Masuk? Masup? Entah. Kaos pelesetan ini saya dapat dari Hasan Aspahani, penyair yang bermukim di Batam. Dia percaya akan kata, mantera, dan makna. Maka soal bolak-balik kata bukan soal mainan, tetapi bukti terhadap kesadaran. Apa maksud yang sesungguhnya, dia lebih paham.

Ini kaos hadiah. Oleh-oleh dari liburan di negeri jiran. Isinya edukatif. Menjelaskan cara kerja mesin bernama komputer. Lantas output atau keluarannya apa? Ah pantasnya kaos ini jadi bonus untuk pendaftar kursus komputer bagi pemula.

Maka pemilik merangkap pemakai kaos tanpa rangkapan ini mengakuinya di punggung. Emang nggak capek? Kalau lagi nggak mood, atau habis berantem sama lawan main, gimana?


Saya mendapatkan hadiah kaos dari Yogyes.com. Isinya pelajaran sejarah, seperti yang mereka sebarkan melalui widget. Menarik sekali cara untuk mengingatkan orang ini. Dari Madukismo nun di Bantul sampai ke River Kwai. Dari film ini pula muncul siulan atau singsotan serdadu baris yang kemudian diambil oleh iklan Bodrex itu. Terima kasih, Dab!

Saya kaget ketika tadi menjemput putri saya ke SMA-nya sehabis 17-an. Baju bebas yang dia pakai adalah kaos lama saya. Kaos yang sudah saya singkirkan saat bersih-bersih lemari dan saya pikir sudah jadi lap. Ternyata kaos itu dicuci ulang dengan pemutih, dan entah pakai upaya apa lagi, jadilah barang yang masih layak pakai.

Desain kaos ini merupakan kolaborasi EddiE haRa dan Ong Hari Wahyu dari Yogyakarta. Tentu, teks dalam sajian pop art ala Roy Lichtenstein itu mengundang komentar teman-temannya. Entahlah apakah guru dan suster membacanya. Buat saya sih biarin aja. Lebih menarik membahas latar Yogya — dialog njawani — dalam ilustrasi yang kebule-bulean. Nggak nyambung tapi lucu.
Gaog? Nama orang? Bukan. Itu sebutan warga lama Yogya untuk sirene yang dipasang di atas atap Pasar Beringharjo. Sejarah gaog itu kemudian dijadikan salah satu entri oblongklopedia Dagadu. Entri lain yang pernah muncul di sini adalah Vorstenlanden.

Nah, kaos ini saya dapatkan dari sobat saya, pri(y)ayi Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga blogger ternama tiada tara karena pesona, karisma, wibawa, kearifan, piwulang, dan kedermawanannya. Dia barusan menengok kampung halaman. Kebetulan rumahnya tak terlalu jauh dari markas Dagadu. Matur nuwun nggih.

Apa beda keduanya? Lantas kenapa Toyota Kijang memakai logo (yang kata orang) adalah kepala menjangan? Ah entahlah. Yang pasti saya mendapatkan bingkisan berupa pundi-pundi bercorak koran, dengan pita keemasan eh ketembagaan, yang isinya kaos berdesain hijau. Bahannya hijau, sablonannya hijau. Gambarnya menjangan. Pesannya: “no bullet screamdeers’s”. Terbikin oleh Consina.


Posting lama di sebuah blog keroyokan itu masih bisa ditemukan oleh mesin pencari. Lalu muncullah di posting Ndoro Sontoloyo Sentulkenyut Mlekotho alias Den Bei Loring Pasar Ngobrok ing Kathok. Inilah yang jadi sumber tulisan: sebuah kaos bergambar penggembala bebek. Memang itulah arti sontoloyo.
Karena posting itu ditulis dalam bahasa Jawa, maka di sini saya terjemahkan. Judulnya “Bajingan, Germo Sontoloyo!”
“Maafkanlah saya jika membuat Anda risih karena saya mengumpat, mengumbar kata tak sopan. Tapi nanti dulu. Pada mulanya bajingan itu berarti kusir pedati, sehingga kusir pengganti disebut sedang ‘mbajing’.
“Adapun sontoloyo itu berarti penggembala bebek. Itulah sebabnya mengapa ada ungkapan, ‘Sontoloyo menggembalakan bebek hilang dua’.
“Sedangkan germo, itu berarti pemburu harimau. Entahlah sejak kapan germo akhirnya berarti juragannya pelacur.
“Pun belum jelas mengapa bajingan bisa berarti kaum yang sebangsa pencuri, begal, dan perampok, lantas setelahnya menjadi makian kasar. Begitu pula sontoloyo yang akhirnya menjadi umpatan yang tak terlalu kasar.”
Kenapa waktu itu saya menulis dalam bahasa Jawa? Saya, saat itu, sedang menguji kemampuan mother tongue melalui teks, dan sebisa-bisanya dalam bahasa yang genah. Lumayan, masih bisa sedikit.
Kaosnya bikinan siapa? Sarapan, Yogya. Iya, mereknya memang Sarapan. Sayang, gambar asli hilang. Kalau tak salah ingat, penjelasan dalam kaos itu menggunakan bahasa Inggris.
BTW, apa arti semprul? Tanyakan ke semprulsontoloyo.com.
Bukan ultah blogger-nya tapi ultah blognya. Baru eh sudah setahun. Beruntung saya dapat jatah.
Selamat, Bu Ventura Elisawati! Semoga tetap bermurah hati. Peminat kaos silakan menghubungi beliau, langsung, tanpa perantara.
