Sudah lebih dari sekali saya numpang baca Sentana dan koran kota lainnya di warung rokok dekat warung penjual nasi gule di kaki lima itu. Tapi pagi itu, karena tak membelakangi jalan, saya tersadar akan satu hal: di depan saya adalah lorong.
Saya tanya orang-orang apa nama lorong itu. Mereka pun saling tanya. Akhirnya seseorang bilang, “Namanya Gang Sempit.” Oh ya, ada inisial “GS” di mulut gang.
Ini hanyalah satu dari ribuan gang sempit di kampung besar Jakarta yang mengaku sebagai megalopolitan. Gang-gang yang menyerupai labirin.
Tak ada yang istimewa dari gang yang kurang memadai untuk berpapasan ini — bahkan ada ruas yang hanya cukup untuk satu badan pelintas.

Kita semua pernah melihatnya. Bahkan mungkin sebagian dari kita pernah atau masih bermukim di lorong sempit. Tentang gang sempit, teman-teman BHI pasti lebih paham ketimbang saya.
Gang yang tidak istimewa. Tapi di sana ada kehidupan. Sama seperti mansions yang tak semua kamarnya berpenghuni di Pondok Indah, Simprug, dan Pluit sekitar Regatta the Icon : tetap ada kehidupan.

Gang sempit. Miskin sinar matahari. Sumuk. Jamur dan lumut pun berbahagia. Ketika lorong hanya diapit tembok-tembok tak berpintu maka siapa yang dipertuan tak begitu jelas. Dan lihatlah, dari sebuah tembok mencul dua bonggol pipa PVC untuk membuang air. Lorong diperlakukan sebagai got.

Gang sempit bukanlah pilihan, tapi karena keadaan — lantaran kahanan, kata orang Jawa. Penamaan Gang Sempit pun belum jelas: oleh penghuni gang atau orang luar. Ini persoalan cara pandang. Cara membagi dunia.

Ada ribuan lorong sempit di Jakarta, sebagian bahkan tak bernama. Saya ingat lorong sempit lembab yang diapit dinding berlumut di Kota. Tak ada lampu, gelap kalau malam.
Saya takjub oleh dua hal. Pertama: butuh seni untuk memasukkan perabot, dan juga material bangunan, melalui lorong sempit. Kedua: dari gang sempit beberapa kali saya lihat wanita cantik, putih, berambut lurus, bermata sipit, berpakaian bagus, berjalan bergegas, keluar dan masuk dari sana. Wanita yang berbeda.


Ribuan gang sempit di perkotaan. Sebagian hanya kita lalui karena ada alasan. Sebagai jalan tikus (tanyakan kepada Zen). Sebagai keterpaksaan karena harus menghindar dari, misalnya, huru-hara. Atau harus datang karena mencari alamat — seperti dulu sering saya lakukan ketika bekerja di media. Dari mencari seseorang yang mengiklankan jasa di koran sampai mencari penyedia barang haram (atau juga jasa haram).
Gang-gang sempit itu. Ketika kantor pos belum digilas SMS dan internet, hampir setiap Pak Pos hapal gang-gang di wilayah edarnya. Saya ingat Pak Pos Baru yang sekian lama harus edar tandem mengikuti Pak Pos Lama.

Menyusuri gang sempit, sekadar mengayun kaki dan celingak-celinguk, apalagi memotret tanpa membaur, baik dengan bidikan cermat maupun asal jepret karena memperlakukan kamera saku selayaknya kamera video secara handheld dengan risiko gambar kabur, adalah sebuah kekurangajaran. Asosial.Bersiaplah dengan risiko.

Jika seharian tak ada lelaki muda maupun tua nongkrong di gang berarti banyak orang yang bekerja. Relatif aman.
Gang sempit. Lorong di antara tembok bisu. Itu bagian dari ruang hidup kota. Kita melihat semangat untuk bertahan, untuk merayakan kehidupan. Gadis kecil yang ngempanin anak ayam piaraan.Perempuan yang mengedarkan kue murah. Ibu yang memasak. Lagu dangdut dari stereo sember. Semuanya bersama bau busuk selokan. Dan di atas selokan ada jembatan kecil yang bertemu tembok bolong agar orang tak perlu memutar.
Radikalisme, dan bahkan revolusi, bisa muncul dari penjebolan tembok. Apapun yang tak masuk akal, dari sudut pandang dunia mereka, berarti harus dilawan. Kalau perlu secara destruktif.
Jika persoalan kian serius, kita hanya kaget dan tak paham.
Tak lebih dan tak kurang, posting ini hanya unjuk kepongahan warga kelas menengah yang nanggung dan tak pernah paham masyarakatnya. Jangan bandingkan dengan kesaksian para pekerja sosial yang tarikan napasnya adalah bagian dari persoalan kampung-kampung padat nan kumuh.
TIP: Jangan sembarangan berlagak turis, apalagi memotret, di kawasan kumuh dan padat yang terancam penggusuran. Mereka sensitif. Ponsel mereka juga ganti merekam wajah Anda, untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada kebakaran yang diartikan sebagai pembakaran.

Stasiun Gambir Jakarta sudah berubah. Sedikit. Beberapa kios baru sudah terisi. Kafe ber-hotspot sudah ada. TV Gambir terus menayangkan gambar hidup. Dan di bawah peron, tempat menunggu serta masuk-keluar penumpang ke gerbong, tetap ada warung. Itu warung kecil yang dinaungi bibir peron.
Sabtu pagi kemarin pemilik warung masih tidur terlelap. “Yah, masih ngimpi dia,” keluh seorang kuli angkut (manol,porter) seusai berganti baju.
“Begadang kali semaleman,” kata seorang petugas parkir yang juga barusan berganti baju kerja.

Pelanggan datang dan pergi. Membeli rokok. Memesan teh atau kopi hangat. Sambil kongko melepas penat. Juga ngobrol di tengah kebisingan roda besi dan gemuruh diesel saat kereta berhenti dan melintas.
Pelanggan datang sekalian mematut diri. Ada cermin di sana. Setelah rapi dia akan melompat ke atas, ke peron. Lebih praktis ketimbang berjalan dulu ke ujung peron yang terbuka.

Selalu ada kantong ekonomi murah di setiap tempat. Seperti warung murah untuk pramuniaga dan satpam di mal — atau di bandara. Warung-warung yang kadang membolehkan kita berutang. Sama seperti saya mengutang di angkringan Wetiga Langsat — tapi tak berlaku di kafe-kafe tetangga. Serupa warung internal tepat saya berutang rokok tapi tak berlaku di Circle K terdekat.
Warung di Gambir, di Jalur 4 itu, tak semua orang tahu apalagi peduli. Selalu ada dunia kecil yang bukan urusan kita. Bahkan mungkin tak terendus petugas sensus ekonomi. Apalagi jika itu dunia yang keras. Itu dunia warung yang pada malam hari tak mendapatkan listrik dari stasiun, sehingga mengandalkan dua lampu berkemah.

Warung yang tak resmi, tak tercatat. Kepala stasiun mungkin menutup mata. Dalam beberapa soal itulah cara manusia menjaga kehidupan bersama.
Tapi jangan tanya saya lebih jauh. Ini hanyalah nota turistis, bukan laporan jurnalistik. Serba permukaan dan berjarak, penuh pengandaian, miskin penggalian. Biarlah bloggers lain, dan juga desk kota koran-koran, yang meneruskannya. :P

Mau gerakan sebatang pohon, atau sejuta pohon, sebetulnya ada persoalan lain. Yaitu setelah pohon ditanam, lantas siapa yang merawat? Jawaban gampang: ya masyarakat. Tapi nanti dulu, masyarakat yang mana?
Memobilisasi orang, asal caranya pas, kayaknya gampang. Apalagi yang berbau seremonial, ada seragam dan foto bersama segala. Lantas dokumentasi visual masuk ke blog dan Facebook.
Nasib si pohon? Entah. Dalam hati kita berharap semoga ada yang mengurusi entah siapa. Sudah bersedia menanam kok masih diminta jadi tukang kebun. Celaka nian.
Berkelanjutan dan rasa memiliki
Yang kita butuhkan adalah program yang berkelanjutan, bukan cuma one shot. Pelibatan khalayak tak cukup hanya hanya saat menanam tapi juga merawat.
Kesediaan merawat hanya bisa muncul jika ada rasa memiliki. Nah, ini yang agak berat. Proses komunikasinya lebih serius, karena ada pemantauan. Kalau digampangkan, ya pemantauan yang melibatkan para penanam.
Tahun lalu, ketika bersua di sebuah kedai kopi, seorang kawan dari LSM bercerita bahwa kelompoknya mengajak masyarakat menanam pohon di sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Setiap pohon (saya lupa pohon apa) diberi nama. Lantas secara berkala, sekian bulan sekali, penanam akan diajak ke pulau.
Memang berupa obrolan ringan sehingga saya lupa detilnya. Tapi bagi saya ini menarik. Ada pendekatan berkelanjutan dalam kegiatan itu. Setiap relawan yang terlibat menjadi pemilik pohon.
Untuk hari esok
Tentang penanaman pohon, saya teringat cerita yang saya baca saat saya masih SD. Seorang kakek menanam pohon entah apa. Lantas tetangganya, yang lebih muda, bertanya apa manfaatnya karena setelah pohon berbuah si kakek sudah mati.
Si kakek kurang lebih menjawab, “Aku menanam pohon ini untuk cucu-cucuku.”
Ini serupa alasan yang menjiwai Wahyu Nurdiyanto (Nothing) sehingga saya kutip dalam random quote di kolom pinggir Memo: menanam pohon kelapa untuk hari esok, untuk anak-anaknya (19 Februari 2010).
Trembesi: pilihan dan kontroversi
Pohon apa yang sebaiknya ditanam? Beberapa kalangan menganjurkan trembesi (Samanea saman).
Pohon ini cepat tumbuh (dalam lima tahun, diameternya 25-30 cm), berumur lama (bisa seabad, bila merujuk kasus Malang, oleh Nothing), kanopinya meneduhkan, kayu tuanya bisa untuk perabotan (bahkan gitar), dan yang lebih penting lagi bisa menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
Menurut Endes N. Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam berita Kompas, sebatang pohon trembesi berdiameter tajuk 10-15 meter bisa menyerap 28,5 ton karbon dioksida per tahun.
Akan tetapi Mochammad Na’im, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam berita yang sama, mengingatkan bahwa trembesi juga memberikan evaporasi (pemguapan) yang tinggi sehingga mengancam sumber air.
Adapun Mustaid Siregar, ahli ekologi tumbuhan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyarankan kehati-hatian dalam menerapkan gerakan menanam trembesi mengingat trembesi adalah tanaman asing, padahal tanaman lokal ada yang terbukti tepat.
Manakah yang benar, termasuk benar dalam arti tepat sesuai lingkup penerapannya, tentu butuh kajian lebih jauh.
Lantas, dikaji dulu baru ditanam atau langsung tanam saja? Saya tidak tahu jawabannya karena saya bukan ahli. :D
© Ilustrasi: Wikipedia Indonesia
Blog ini mendapat penghargaan dari The BOBs Deutsche Welle, Jerman. Terima kasih, terutama kepada pengusul yang tidak saya ketahui. Bagi saya ini adalah penghargaan untuk banyak bloggers Indonesia. Saya hanya wakil.
Ya, wakil dari teman-teman yang memiliki spirit sama: mengisi konten di internet. Menjadi saksi zaman, yang setahap demi setahap menghasilkan banyak kepingan jigsaw puzzle bernama potret Indonesia pada suatu kurun. Jigsaw puzzle yang tak pernah dan tak perlu selesai.
Konten (tentang) Indonesia
Kalau saya rumuskan, proses bersaksi terhadap zaman itu adalah “menghasilkan konten Indonesia di tengah belantara teks”.
Sungguh kalimat yang gagah, dan tentu gegabah, tapi keren dan memberi kesan terpelajar.:D Tak apa, di tengah snobisme akademis gaya scientistic memang lebih penting ketimbang prinsip scientific. :P
Konten Indonesia. Belantara teks. Ini abstrak sekaligus nyata.
Abstrak, karena butuh penjelasan — beberapa posting saya menyentil itu.
Nyata, karena sudah dan terus kita lakukan: melaporkan amatan terhadap keseharian (tidak harus saban hari), baik berupa kesaksian maupun opini, bahkan berupa puisi dan solilokui prosais.
Berbarengan dengan itu mesin pencari semakin pintar, temboloknya kian tambun. Mesin penerjemah pun terus ditingkatkan kemampuannya — tapi pasti kalah dalam menangkap konteks dan nuansa bila dibandingkan manusia.
Lima tahun silam salah satu blog saya dipergoki oleh seorang bloger dan desainer grafis Spanyol (Papel Continuo). Karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia maka dia manfaatkan mesin penerjemah versi dini (ToggleText) yang ditaja oleh Telkomsel. Hasilnya dimasukkan ke Boingboing, salah satu situs pencatat “apapun yang unik” saat itu.
Yang terserak, yang terangkum
Bukankah semuanya terserak, bahkan kadang tak saling hubung? Saya percaya kepada para penafsir dan peramu. Kicauan singkat pada Twitter, yaitu “Lapar”, jika jelas konteksnya maka bernilai. Misalnya dia sedang diperiksa polisi dan sudah memasuki jam keenam.
Begitu pula kicauan yang mungkin ganjen lagi eksibisionistis dari seorang pria urban, eksekutif biro iklan, bahwa penumpang sebelah dalam KRL memperhatikan kuku jari tangannya dicat hitam dan perak. Di tangan peramu dan pembingkai, kasus cat kuku dan info lain yang relevan adalah sebentuk kepingan potret Indonesia. Blog mampu melakukannya.
Apa bagusnya? Inilah era media sosial. Konten yang kita cerna tak melulu disediakan oleh media lama yang sangat bergantung pada Tuan Editor yang mengerahkan barisan reporternya tapi kita tak tahu proses dan bahan mentahnya, kecuali ada kasus sehingga ombudsman internal turun tangan. (Catatan: media terlembagakan tetap kita butuhkan karena mereka punya organisasi dan prosedur yang tak dapat dilakukan perorangan).
Kini di internet setiap orang bisa menjadi penerbit merangkap penulis, editor, dan distributor — bahkan kolportir. Itu sebuah lompatan jauh setelah sekian abad kita hanya memperpanjang langkah Johannes Gutenberg yang menemukan mesin cetak untuk memperbanyak Alkitab agar teks dan tafsir tak hanya dimonopoli oleh biara.
Di internet setiap orang berkemungkinan menjadi seleb dalam jaringan perkawanannya sehingga lontaran pribadi di public timeline disimak banyak orang. Sebelumnya pesohor hanya diciptakan oleh koran, majalah, radio, dan TV. Suka tak suka khalayak pun menerimanya. Tepatnya: terpaksa jadi tahu. Karena dipilihkan.
Memang boleh saja dibilang apa yang terjadi pada media baru, yaitu media dan jejaring sosial, hanyalah perpanjangan dari dunia nyata: obrolan, rasan-rasan, diskusi dengan topik sebatas judul. Tapi menurut saya berbeda.
Obrolan di internet sudah berubah menjadi teks (berupa tulisan, gambar, suara, dan video). Itu terdokumentasikan dan tersebarkan. Bahkan di internet, persebaran dan pemaknaannya sudah di luar kendali penyumbang isi. Berbiak dan semuanya tercatat, jauh melebihi kemampuan mesin cetak koran tercepat. Siapapun bisa mencomot tanpa mengetik ulang — dengan ekses pengunyah terakhir tak tahu asal muasal konten dan hak cipta pun terabaikan. Itulah belantara teks.
Dalam peramuan itu, yang kalau digagah-gagahkan adalah mengonstruksikan pretelan menjadi sebuah wacana, blog masih paling pas. Bahannya bisa dari wadah lain, sejak milis, forum, situs web atas nama alias tertentu, blog lain, situs berita, sampai Wikipedia dan kamus online.
Maka dapat saya katakan bahwa pengkaji cultural studies akan terbantu oleh Fuck Yeah Alays!. Di tengah ledekan terhadap “alay(isme)”, blog yang comot sana-sini itu adalah sebuah dokumen berharga.
Merekam jejak perubahan
Blog, yang dihasilkan oleh sistem pengelolaan konten, adalah saksi zaman. Blog merekam perubahan. Mesin pencari dan temboloknya, dengan bantuan mesin penerjemah, membantu kita menemukan jejak sejarah: kita bukan orang yang tiba-tiba tercipta dan hadir.
Jika bicara potret zaman dan perubahan sosial mungkin terdengar muluk-muluk. Baiklah kita becermin. Sepuluh tahun lalu sulit membayangkan sekelompok wanita Indonesia, nona-nona dan ibu-ibu muda, yang mungkin tak saling kenal secara pribadi, bisa berbagi info dan foto belanjaan berupa lingerie. Salah satu foto jeroan itu melibatkan Pop Mie sebagai penindih alas. Sungguh sebuah teks Indonesia. Konten Indonesia. Coba lihat. :D

Sama seperti kita menikmati NiceTry, sebuah wadah penampung kelucuan Indonesia melalui foto dari pelbagai sumber. Sepuluh tahun lagi kita masih punya jejak langkah perjalanan Indonesia. Sama seperti saya membuat blog Memo yang ringkas dan berilustrasi, dengan pengisian lebih kerap ketimbang blog ini.
Jejak langkah tak hanya berupa esei yang membingungkan, seperti tulisan ini. Dia juga bisa berupa fashion blog yang mewakili sebuah gaya hidup dan arus konsumsi urban. Misalnya Diana Rikasari (Hot Chocolate & Mint), cewek 25 tahun yang akhirnya mendapatkan manfaat ekonomis dari kegemarannya ngeblog dan berdandan (dan berbelanja), serta Evita Nuh (The crème de la crop) yang masih berusia 11 tahun.
Blog mereka sama bernilainya dengan posting orang lain tentang halte Transjakarta yang rusak, kemacetan, got mampet, pasar becek, gedung sekolah roboh, dan juga sensasi belanja obralan tengah malam di mal maupun pengalaman rave party di Jakarta dengan DJ dari Negeri Belanda.
Salam blog. :)
© Sumber ilustrasi: FemaleDaily, dimuat tanpa izin

Tidak, saya tidak antibahasa Inggris. Saya juga bukan orang yang antibahasa gado-gado. Kenapa? Bahasa saya juga gado-gado, kadang Jaklish (“Jakarta English”), atau Javlish (“Javanese English”), atau apapun sehingga bisa membuat bingung (atau geli) penutur bahasa Inggris yang menggunakan bahasa itu sejak dalam kandungan.
Karena menyangkut bahasa, semuanya terpulang pada maksud sebuah pesan dalam berkomunikasi. Misalnya tas-tas kresek degradable (apa bahasa Indonesianya? “Siap-urai”?) dari waserba. Banyak yang menggunakan bahasa Inggris.

Ya, saya paham bahwa sasarannya adalah kelas menengah. Saya juga paham bahwa dalam urusan dan konteks tertentu pesan berbahasa Inggris lebih nyantol — dan yang lebih penting lagi: ringkas, bahkan bisa berefek mantera. Go green, misalnya. Atau dari Circle K ini: Red Goes Green. Untuk selengkapnya lihatlah foto utama.
Saya tak mempersoalkan asal muasal Circle K maupun toko lain. Saya juga tak mempersoalkan berapa persen dari pembelanja yang bukan orang Indonesia. Saya menenggang alasan-alasan bisnis tanpa kerisauan akan dicap snob.
Jadi, apa dong masalahnya? Khusus untuk kasus ini, kampanye penggunaan tas degradable, saya berharap lebih. Kelas menengah adalah perantara. Tapi pesan akan lebih sampai jika isinya juga menyapa kelas di bawahnya. Yaitu menggunakan bahasa Indonesia.

Dengan pesan berbahasa Indonesia, sebagai pelengkap pesan berbahasa Inggris, para pembantu rumah tangga non-TKI/TKW, tukang sayur, pemulung, dan segenap mata rantai pengguna maupun penglihat tas, akan lebih cepat mencerna pesan.
Lho, bukannya masyarakat harus dibiasakan melek bahasa Inggris? Ya. Dan itu sudah serta masih. Biasanya sih berupa teks ringkas, sebangsa “office“, “exit“, “no smoking“, “pull“, “push“, “play“, dan “eject“. Itu tadi serangkaian pesan yang sudah lama beredar.

Adapun tuturan berupa kalimat, dalam kasus ini, merupakan hal baru. Pesan berbahasa Indonesia, syukur jika disertai gambar, akan sangat membantu penyerapan. Alfamart sudah melakukannya — tapi sayang kurang jelas (berapa lama tas akan terurai?
Saya yakin penggunaan dwibahasa pada tas takkan menambah biaya produksi. Menurut Anda?
Dua iklan, pada hari yang sama, di halaman berbeda, di Kompas. Mereka sadar bahwa manusia tak sempurna; karena itu perlu diingatkan, dihasut, diyakinkan, bahwa kesempurnaan bisa diupayakan. Dengan membayar. Dengan harapan ini: lekuk memukau sesosok tubuh. Setidaknya memukau diri sendiri di depan cermin.
Mereka, dua klinik kecantikan itu, juga sadar bahwa sejak dulu sebagian manusia menolak menjadi tua. Tepatnya: menolak tampak tua.
Muda adalah hari ini. Adapun tua adalah dua wilayah linier di belakang dan depan, tentang masa lalu dan masa esok. Itu dua hal yang seringkali tak menarik untuk dibahas, sehingga di era media sosial foto lama yang kurang keren jangan sampai terpampang dan menyebar.

Selalu tampak muda adalah serupa ilusi bahwa seseorang bisa tiba-tiba muncul dari batu kapur atau buah kelapa. Tanpa asal-usul panjang. Tak perlu penelusuran ke hulu riwayat.

Apakah kesempurnaan ragawi itu? Iklan itu sudah menjawab. Dan lagi-lagi sejumlah tentangan pun berbunyi, mirip paduan suara liturgis yang lagu dan cara menyanyikannya tak pernah berganti.
Misalnya tentang kriteria kecantikan sebagai hasil konstruksi industrial — yang tentu saja peran lelaki ikut dipersalahkan. Untuk Indonesia adalah sosok perempuan berkulit putih alumna Pond’s Institute, berambut hitam lurus seperti model sampo, dan tentu saja langsing.
Lantas muncullah sanggahan. Dari yang berupa pengecualian tentang contoh si cantik yang tak seputih iklan (dan tetap pengecualian sebagai sempalan arus utama) sampai ajakan menjadi diri sendiri.
Sinisme tentu ada. Misalnya mengapa yang putih-cantik-langsing tak ikut memprotes, bahkan terus mempertahankan ke-putih-an (bedakan dari “keputihan”), kelangsingan, dan rambut hitam lurusnya?

Yang lebih menohok juga ada. Berupa tanya: “Misalkan Diajeng lahir kembali dan boleh memilih kemasan, jujurlah ingin berkulit apa, berpostur apa, berambut apa?”
Tentu saya punya saran berupa jawaban taktis bagi yang kurang percaya diri: “Karena cuma berandai-andai, dan saya butuh aman, maka saya ingin cantik sesuai kriteria zaman saya dilahirkan kembali.”
Biro iklan punya jawaban pamungkas. Itu semua berdasar`survei. Apa yang dipersepsikan sebagai cantik ya seperti itu. Secara hiperbolis saya bumbui, “Jangan rewel. Terimalah kondisi diri sendiri kalau berbeda dari keinginan pasar.”
Jadi mengapa harus sewot setiap kali industri menghasut perempuan untuk mewujudkan keinginan tersembunyinya? Jawaban bijak bilang, “Masalahnya anak-anak dan cewek remaja bisa terpengaruh. Jangankan mereka, yang dewasa pun terpengaruh iklan. Ingat kasus Barbie dan anoreksia?”
Silakan tambahkan contoh sendiri. Tapi saya yakin iklan sejenis akan terus nongol: kemarin, hari ini, dan esok.
Sebesar-besarnya koreksi dan perlawanan tetaplah catatan, belum mengalahkan arus kuat — arus yang ditentang, bahkan mungkin dibenci, tapi bagi yang lain masih diamini.
Lantas kita pura-pura cuek kalau tak sependapat sambil mengulang mantera, “Be yourself, be yourself…”
Oh ya, carilah aneka opini di Kaskus dan Twitter tentang “kulit putih”. Salah satu kicauan berbunyi, “Percuma kan kalo muka cantik, badan ideal, kulit putih mulus tapi iman bobrok kelakuan busuk. Ahzek .” Waduh.
NB: Kita tunggu kampanye kosmetik dengan isyu “kulit putih” (atau “kulit terang, sehat, dan bersih”) di media sosial dengan mengerahkan sejumlah influencers. Akan munculkah perlawanan terbuka?

“Lima puluh deh, Bos,” kata pengasong boneka besar itu. Maksudnya Rp 50.000. Kalau antrean kemacetan lebih panjang, dan saya ngeyel, mungkin bisa berkurang Rp 5.000. Seperti belasan pengasong lain di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Sabtu malam lalu, dia menjajakan boneka berbentuk kursi, bisa diduduki. Bukaan pertama penawaran adalah Rp 160.000.
Misalkan dagangan yang bikin sewot pengendara sepeda motor (besar, menghalangi pandangan dan celah) itu laris, mungkin hari ini tak dijajakan lagi.
Ya, seperti dulu. Penjaja globe ada di mana-mana, lalu habis. Pemasoknya menggantinya dengan apa, yang terakhir adalah korek api jumbo. Sebelumnya adalah tabir surya untuk mobil. Dan sebelumnya lagi adalah boneka Barbie tiruan. Selain itu silakan Anda tambahkan sendiri.

Mereka, para pengasong itu, riel. Sebelum ada kepusingan negosiasi Indonesia dalam perdagangan bebas Cina-ASEAN mereka sudah ada. Karena pemasoknya juga ada. Bagaimana barang bisa masuk dengan harga amat sangat murah, itulah ekonomin abu-abu. Ada yang menyebut ekonomi bawah tanah.
Abu-abu. Antara jelas dan tidak. Dalam bahasa pedagang, bergantung kontrol di pelabuhan. Pernah seorang kawan kerepotan mengganti tuas transmisi BMW, di bengkel resmi, karena di Tanjung Priok sedang ketat. Atau dalam tuturan Oom Muchtar, bekas penyalur audio Mark Levinson di Glodok, “Pusing Bos kalo douane lagi ngepres. Barang susah masuk.” Dalam guyon konsumen produk RRC adalah, “USB flash disk dan kelengkeng itu masuk dalam kontainer yang sama.”
Tadi di Twitter, Danny Oei Wirianto (@dwirianto), salah satu juragan Kaskus, berkicau, “God made heaven and earth, the rest was MADE IN CHINA.”

Ya, kita mau bilang apa? Pemerintah dan industri lokal boleh pusing, sementara kita tak mau tahu matematika barang legal berupa smartphone ber-Wi-Fi seharga Rp 700.000-an. Itu belum ditambah barang gelap yang tentu saja tak bayar pajak sehingga murahnya entah sampai batas mana.
Jangan berpikir jangka pendek, kata orang bijak. Yang hari ini menyenangkan, akhirnya melenakan. Kalau pabrik tutup banyak orang kehilangan pekerjaan.
“Tapi itu bukan urusan saya. Tanpa bacin (batik dari Cina) saya ndak bisa batikan — padahal saya orang sini. Bahwa barang murah mungkin dihasilkan melalui penindasan buruh, itu juga bukan urusan saya. Sampeyan, pemerintah dan orang-orang pinter, bisa sediakan apa untuk daya beli saya? Ini kehendak zaman!”
Saya pernah mendengar seperti itu di sebuah kedai. Jangan-jangan itu mewakili banyak kepala. Termasuk kepala saya. Kita sering mendua.

Anda dulu melakukan ini: menggunakan uang jajan untuk membeli mainan yang dijajakan di luar sekolah. Ya, kan? Namanya uang jajan; orangtua memberikannya untuk membeli penganan dan minuman. Bukan untuk membeli barang.
Tadi pagi saya juga melihat penjaja mainan di dekat sebuah SD negeri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ada tiga lapak di sana.

Bagi saya ini menarik karena sekarang tak semua murid SD di Jabodetabek bisa membeli mainan dan jajanan di luar pagar. Bahkan penjaja pun terusir oleh satpam maupun penertib lain. Lihat saja di sekolah-sekolah mentereng berkurikula berkurikulum internasional itu.
Tidak, saya tidak mengeluh. Kalau semua tempat boleh menjadi pasar kaget memang bakal semrawut. Hari ini lima penjual, lantas bulan depan jadi sepuluh — dan malamnya ada pecel lele dan nasi uduk dan bahkan penyedia sewa tubuh. Kota memang kudu ditata untuk kepentingan bersama.

Dan marilah kita lihat. Selain yo-yo kayu Rp 2.000, gasing kayu Rp 1.000, sekantong plastik uang mainan (lima lembar) seharga Rp 1.000, sekantong plastik kelereng (sepuluh butir) seharga Rp 1.000, gelang pegas Rp 1.000, dan mobil-mobilan Rp 15.000, ada pula anak-anak unggas.
Ya, unggas. Dalam kandang, bekas keranjang plastik buah impor. Anak ayam “negeri” seharga Rp 3.000 per ekor, anak ayam kampung seharga Rp 10.000, dan anak bebek seharga Rp 5.000 per ekor.

Lho bukannya itu lumrah, anak ayam sering dibarter dengan barang rombeng rumah tangga di kampung-kampung?
Ya. Tapi ini di Jakarta. Permukiman kian sesak.
Memang tak semuanya sepadat blok tertentu di Tambora, kawasan terpadat di Jakarta. Di sana, lorong tertentu itu, pada malam hari, tak sedikit lelaki kongko di luar dengan bertelanjang dada karena malam adalah saat rumah sesak, padahal anak sekolah harus belajar. Ini Jakarta; di manakah anak-anak ayam dipelihara karena anak manusia pun berdesakan sehingga kelak pada tahap kesekian evolusinya manusia warga kota padat (tapi malas mengerem kelahiran) bisa tidur sambil berdiri?

Terlalu jauh bicara evolusi sebagai respon spasial, sebagai tanggap keruangan. Sekali lagi persoalan aktualnya ini: di manakah, dan dengan cara apakah anak-anak ayam itu dipiara? Di kali manakah anak bebek diumbar?
Penjual dan orang sekeliling hanya tertawa. Apakah anak ayam hanya untuk mainan, kalau mati (atau dibiarkan mati akibat pengampunya bosan) pun tak soal?
Lagi-lagi hanya tawa jawabannya. Ada yang menyelutuk, “Namanya juga anak, Pak.”
Ketika kita melintasi permukiman padat, kadang sedikit ayam yang berlalu lalang. Malah tikus yang lebih banyak — kalau malam bisa membuat kaki tersandung. Nyerimpungi, kata orang Jawa.

Kalau saja saya ada waktu menunggu hingga bubaran sekolah, dan ada anak membeli anak unggas, lalu saya datang ke rumahnya, tentu saya beroleh jawab. Tapi blog ini bukanlah sebuah wadah jurnalistik. Hanya sekadar catatan turistik eh turistis yang justru bukan oleh orang luar kota apalagi luar negeri.
Boleh jadi anak ayam dan yo-yo dan gasing hanyalah pemuas hasrat homo ludens — manusia pemain, manusia bermain. Sama seperti (mungkin) blog ini di tengah riuh media sosial.

Kasus korupsi menarik jika menyangkut angka besar, wanita cantik, dan kehidupan berkilau. Kasus Gayus Tambunan menambahkan satu syarat: keajaiban seseorang yang tergolong biasa, cuma pegawai negeri golongan IIIA dengan masa kerja sekitar lima tahun.
Itulah yang saya tangkap dari obrolan kanan-kiri-depan-belakang, pokoknya Dolby Surround. Di mana-mana ngomongin Gayus. Bahkan kemarin, menjelang tengah malam, sepulang dari warung pinggir kali, saya dipersilakan mampir ke gardu ronda. Ada batang talas goreng, wedang jahe, dan kepulan Gayus.
Cara media memberitakan Gayus pun bernada sama. Tentang kerakusan seorang pegawai yang bukan kerani, beserta lompatan jauh dalam kehidupannya, dari rumah reyot di kampung kumuh ke gedung mentereng di Kelapa Gading.
Jika korupsinya menyangkut petinggi — menteri, jenderal, direktur utama BUMN — masyarakat kurang tergetar. Hanya membicarakannya sepintas, dan perihal angka mudah dilupakan.
Tapi ketika angkanya (sejauh ini) sekitar Rp 27 milar, dari seorang pegawai bergaji bulanan Rp 12 juta, itu tak hanya mengundang takjub. Dalam kasus Gayus ada juga semacam iri. Oh bukan iri maupun dengki, tapi apa ya… semacam rasa tak bisa menerima.
“Dik, saya ini dari hari pertama kerja sampe mau pensiun, misalnya mau nakal-nakalan, ndak bisa ngumpulin duit sebanyak Gayus,” kata seorang pegawai BUMN kepada saya.
Pasal magnitude dalam kelayakan berita Gayus memang tinggi. Begitu pula unsur dramatisnya. Ini yang menggerakkan sentimen negatif khalayak.
“Kalo liat di pasfoto sih culun banget. Tapi ngeliat di TV waktu dia sampe di bandara, woahhh nyebelin banget tampangnya. Itu anak sudah keliatan melek duit,” kata seorang bapak, bekas pegawai yang kemudian berwiraswasta.
Baiklah, itu opini. Saya tak meminta argumentasi dari pendapatnya. Biar saja. Tafsir terhadap penampilan seseorang yang sedang terpuruk maupun melambung memang bisa bermacam-macam. Blog ini pun mungkin ikut menganiaya dia secara opinionatif karena mengabaikan asas praduga tak bersalah.
Faktor tambahan penguat obrolan adalah bidang kerja Gayus: pajak. Dan kita tahu, pajak sedang aktual karena bulan lalu orang sedang dikejar tenggat pelaporan pajak pribadi — sebagian besar untuk pertama kalinya.
Tak perlu saya perpanjang aneka rempah obrolan maupun serapah. Pemeriksaan masih berlangsung. Merembet ke sekeliling pula.
Tapi saya mendapatkan satu kesan kuat dari sejumlah arena obrolan: rasa gemas yang panas. Mereka ingin soal ini diusut tuntas tas-tas-tas…
Pemberantasan korupsi butuh waktu. Tak cukup dalam lima tahun beres. Namun ada satu hal yang mestinya tak disia-siakan oleh siapa pun yang berkehendak politik mulia: jangan sia-siakan kepercayaan dan harapan masyarakat.
Kalau itu terlewat maka hasilnya adalah apatisme lagi. Padahal apatisme adalah stadion pelingkup lapangan hijau para koruptor.
Saat merawat kepercayaan dan harapan, masyarakat harus disadarkan bahwa korupsi hanya menghasilkan ekonomi berbiaya tinggi, sekaligus menghina rasa keadilan dan fairness karena anak curang dimanja tapi anak manis malah celaka. Jika dibiarkan maka etos kerja dan kompetisi sehat, sebagai bagian dari syarat kemajuan, pun masuk ke got.
Sayang, hati dan akal sehat saya seringkali tak bersua. Malah kadang optimisme dan ilusi pun bertumpang tindih. Kalau Anda?
© Ilustrasi: sumber foto asli Yuniadhi Agung/Kompas; diolah oleh Antyo Rentjoko

Bahkan sampai empat tahun lalu tak semua orang kantoran tertarik kepada ponsel Symbian dan lainnya, pokoknya ponsel pintar. “Kalo cuma buat ngemail kan bisa di kantor. Buat chatting juga. Gratis,” kata seseorang waktu itu.
Memang tak sedikit yang memakai ponsel bulky ala Nokia Communicator. Ternyata ada juga yang alasan pakainya adalah, “Bisa nyimpen nomor lebih banyak. Ada fitur nulis dan ngedit dokumen kerja.”
Kini semuanya berubah. Internet lebih murah — begitu pula laptop. Operator bersaing banting harga, terutama untuk prabayar. Ponsel juga semakin murah, terutama merek dan buatan Cina, yang bisa didapat dengan harga di bawah Rp 1 juta. Mungkin kini tak ada lagi yang cuma berbangga-bangga dengan ponsel 3G (atau 3,5 G) padahal tak pernah dipakai untuk berinternet.
Cuma itu? Bukan. Ini rumus saktinya: layanan dan killer apps/platforms. Seperti halnya pada desktop/laptop, media sosial menjadi pendorong banyak orang untuk aktif berinternet.
Dulu ketika hanya ada messenger untuk interaksi, tak semua orang (tua) tertarik. Begitu pula ketika ada blog. Bahkan tak sedikit orang berusia 45 ke atas yang merasa bingung, atau cepat bosan, ketika membuka web. Maklumlah, itu era web 1.0 yang kurang memberi ruang untuk partipasi dan kolaborasi.
Kini Facebook, Twitter, dan layanan lainnya menjadi alasan bagi the luggards untuk berinternet. Maaf, sebutan the luggards itu cuma meminjam sinisme penuh kepongahan dari early adopters terhadap late adopters.
Baiklah saya tak mau memperpanjang masalah, itu sebabnya saya tidak menyertakan data. Lebih asoy kalau saya cerita ini: ponsel pintar nan murah, apalagi dengan Wi-Fi, adalah sahabat baru bagi Bang Opisboi, Mas Kurir, dan Mas/Mbak Kliningserpis. Sahabat bagi korps yang kadang dilecehkan oleh sebagian dari mereka yang dulu menolak smartphones (lihat paragraf pertama) tapi sekarang tidak bisa bercerai dari BlackBerry barang sehari.
Bagi saya itu bagus. Mestinya internet memang untuk sebanyak-banyaknya orang.
“Bos, kalo mau pake Wi-Fi-nya kantor sini password-nya apa? Bagi dong,” pinta Mas Opisboi pemilik ponsel murmer anyar Cina kepada seorang pegawai. Hasilnya? Akses nirkabel menyebar ke pantry kantor depan dan sebelah.
Sayang demokrasi dan egalitarianisme belum tentu melegakan semua orang. “Njrit! OB gue nge-add gue di FB, follow gue di Twitter!” keluh seorang priyayi kantoran.
Foto: Ponsel Cina dual SIM card, dengan Wi-Fi, harga di bawah Rp 1 juta. Maaf ini bukan iklan atau sejenisnya. Kalau vendor diuntungkan, itu rezeki mereka.
![]()