Salah satu hal yang saya ingat dari warung Mbah Parto, tetangga sebelah kiri saya di Jalan Banyubiru, adalah lemarinya. Pintunya penuh coretan dan bekas coretan kapur. Daun pintu dan dinding lemari jati itu menjadi papan tulis pencatat piutang. Si A utang berapa, si B utang berapa.
Mungkin tak banyak jumlah orang yang berutang sehingga papan tulis darurat pun cukup. Tak perlu buku catatan semacam notes cap munyuk. Atau jangan-jangan Mbah Parto memakai kalender sebagai buku catatan, karena kalender lawas milik saya juga mengingatkan saya kepada Mbah Parto?
Rumah saya di Jalan Banyubiru 57 itu (selama 1964-1969) memiliki sumur di halaman samping. Hampir saban hari ada saja pelintas, semuanya perempuan, yang memanfaatkannya untuk numpang pipis. Datang ke sumur, menyisingkan jarik (kain batik), membungkuk atau jongkok, lalu juezzzzhhh… Setelah itu jarik diturunkan, lalu si pengencing berdiri, menimba air untuk membersihkan diri dan mengguyur lantai area sumur tak beratap itu.
Jadi jelaslah bahwa saya bukan pengintip pantat perempuan. Saban hari melihat ya biasa saja. Lagi pula kan masih bocah. Sudah sumurnya terbuka, di samping halaman ada gang pula. Pelintas gang kalau mau juga bisa melihat acara pipis simbok bakul itu.Para simbok atau mbakyu itu juga cuek saja.
Entah berapa kali sehari para pelintas menyinggahi rak kayu itu untuk meraih kendi lalu menenggak isinya. Air mentah. Dari sumur. Penyedia kendi itu adalah Mbah Parto, pemilik warung di sebelah saya di Sinoman. Adapun peminumnya adalah pelintas, sebagian besar padang, yang jalan kaki dari-dan-ke Sraten, Jombor, Bandungan, dan sekitarnya.
Saya tak begitu ingat, di sana hanya ada satu atau dua kendi. Yang saya ingat si Jarwo, bujang di warung itu, dua kali sehari mengisi kendi dengan air sumur. Air sumur, mentah tak dijerang, yang tampaknya sat itu diimbangi oleh kekebalan para peminum. Itu saya lihat sampai 1969 sebelum keluarga saya berpindah ke Jalan Andong (Osa Maliki).
Ya pilihannya cuma itu-itu saja, yang Mbak Idakirei lebih tahu. Yaitu Foto Dewi, Young (nama marga), Lauw (Lawu?), dan Jaya. Yang top ya Dewi. Selain Dewi yang terima panggilan buat motret acara keluarga adalah Hot Pasaribu. Adapun tukang foto keliling yang misuwur adalah Pak Nursin yang selalu naik motor gede entah Norton entah AJS. Sedangkan Bah Untung, saya lupa-lupa ingat apakah selain berburu pakai senapan dia juga pakai kamera.
Hari ini Yusro Muhammad Santoso, orang Kalioso (dulu mukim di Jetis) itu berulang tahun ke-47. Perayaan sederhana berlangsung tadi sore, di rumah dagdigdug.com (Jakarta Selatan), dengan tumpengan tiwul berlauk getuk, ketan putih, ketan ireng, dan jenang.
Selamat ya, Kang! Ayo bagi cerita di guyubABC ini.
© foto: warung wedangan wi-fi (wetiga)
Yang saya bayangkan, dan butuhkan, dari halaman maya guyubABC ini adalah salatigaisme. Sepaket info tentang Salatiga, dari-dan-untuk siapa pun yang hirau Salatiga. Untuk hal yang bukan Salatiga, sudah ada di banyak blog.
Termasuk di dalamnya tentu saja info terkini yang tak harus berupa berita dan siaran pers pemkot. Info terkini bisa dari kita, terutama yang (sedang) berada di Salatiga.
Tanpa itu, info yang ada hanya nostalgia, khas orang tua. Tepatnya seperti apa yang saya tulis selama ini di sini: cuma petikan masa lalu, bukan cerita hari ini dan teropongan hari esok.
Bagaimana sodara-sodara?
Inilah contoh "modernitas" (hahaha) untuk Salatiga yang cuma sembilan kelurahan, pada akhir 60-an sampai awal 70-an. Kota kita itu punya taksi, salon, floris, dan toko piringan hitam. Mari kita urutkan…
Taksi? Begitulah sebutannya. Itu adalah mobil-mobil pelat hitam, berupa sedan njembluk (misalnya Desoto dan Plymouth) untuk dicarter ke luar kota. Mereka mangkal di depan salon Mimosa. Lokasinya di sebelah terminal bus bergaya art deco yang kemudian menjadi "shopping center" kumuh itu.
Nah, salon (lengkapnya beauty salon) itu juga termasuk barang modern untuk Salatiga. Dulu orang mengartikan salon sebagai boks spiker. Salon kecantikan itu ada dua yang menjadi pelopor (seingat saya), yaitu Mimosa dan Wanda (Jalan Kotamadya atau Jalan Sukowati), diapit oleh apotek Itrasal dan kelenteng. Mimosa punya anak lelaki, namanya Jie Ie. Wanda juga punya anak laki, kalau tak salah bernama Sioe Liong.
Taksi sudah (nanti ada lanjutannya di bawah). Salon sudah. Lantas? Floris. Satu-satunya floris di Salatiga (waktu itu) adalah Hyacinth, di Jalan Solo (Sudirman). Warga saat itu sudah terbiasa mengirim karangan bunga ("krans"), terutama untuk ucapan selamat dan duka cita.
Kemudian inilah simbol modernitas lainnya di Salatiga: Istana Nada. Ini nama toko piringan hitam (dan kemudian kaset) di Jalan Sudirman. Tokonya tak pernah ramai, maklumlah pelanggannya sedikit karena pemilik turn table juga tak banyak. Toko yang lokasinya kemudian menjadi apotek Wahid ini menyediakan musik pop (Heintje, Tom Jones, Bee Gees) sampai rock[n' roll] (Beatles, Deep Purple, Black Sabbath, Led Zeppelin, Grand Funk Railroad).
Itulah sisa kenangan lama Salatiga. Kemudian Mitsubishi Colt bersimaharajalela menjadi angkutan antarkota, disusul oleh pikap Honda dan Daihatsu (orang bilang "Honda mini") sebagai angkuatan dari pinggiran ke kota. Taksi tadi lenyap, dikalahkan oleh Colt carteran yang lebih hemat bensin.
Tentang musik, jelas sudah bahwa maraknya kaset dan VCD bajakan (juga CD kompilasi MP3) di kaki lima menjadikan konsumsi hiburan kian merakyat. Bukan zamannya lagi toko sepi ala Istana Nada (tapi toko kaset/CD Waringin masih bertahan).
Adapun floris, saya tak tahu berapa jumlahnya sekarang di Salatiga. Hyacinth pun tampaknya sudah lama tamat. Salon? Saya tak tahu berapa jumlahnya, karena di setiap kampung ada.
Tentang taksi, sebetulnya ada dua macam, dan lokasi mangkalnya berbeda. Yang pertama dekat Mimosa tadi. Yang kedua di seberangnya. Beberapa kali saya melihat orang masuk ke taksi ini dengan terburu-buru – biasanya mereka berkelompok, bukan orang yang ngeluyur sendirian.
Taksi jenis ini hanya melayani rute Kota – Sembir (Alaska, "alas karet") vice versa. Maklumlah waktu itu tak semua orang punya sepeda motor.
Cuma ditemani lampu teplok dan satu asisten, wanita tua yang sering terkantuk-kantuk itu menjalani malam dengan berjualan ronde, wedang tape, kopi, teh, jadah, tahu dan penganan lainnya. Dia membuka angkringan di sebuah sudut mirip bekas gardu ronda di pertigaan yang mempertemukan Jalan Merbabu dan Jalan Merapi. Namanya nenek itu Mak Pari. Nama dia sekalian menjadi nama tempat.
Mak Pari menjadi semacam pub rakyat, tempat bermacam warga Salatiga bersua. Ada anak SMP/SMA (seperti saya waktu itu), ada juragan toko (saya ingat salah satu pelanggan adalah pemilik toko Lily), ada mahasiswa, ada pegawai negeri, dan entah siapa lagi.
Di sanalah saya mendengar aneka bualan, dari bualan soal mancing sampai pasang nomor lotere. Sesekali ada obrolan politik, tapi kalah seru dibanding obrolan sepakbola dan badminton (kalau ada All England, Thomas Cup/Uber Cup, dan entah apa lagi).
Juga dari warung Mak Pari saya mendengar bualan campur guyonan saru dari orang-orang dewasa yang sering ke Sembir, lokalisasi pelacuran yang sering disebut sebagai Alaska (alas karet).
Pada awal 1980-an Mak Pari pindah lokasi, ke Jalan Merapi. Setelah dia wafat, anak-anaknya meneruskan warung wedangan itu dengan brand yang sama. Tentu pada masa jayanya Mak Pari belum memasang wi-fi seperti Wetiga di Jakarta, karena waktu internet "belum ada".
Seperti halnya Mak Nin, Mak Pari adalah pusat info. Yang satu buka siang, yang lain buka malam. Bedanya, Mak Pari tak ikut menjadi pembicara atau komentator seperti Mak Nin.
BTW, mana saja ronde yang enak selain Mak Pari? Yang enak, bahkan menurut saya paling enak, adalah ronde di dekat salon Mimosa, dekat studio foto (Jaya?), di Jalan Jenderal Sudirman. Setiap kali pulang saya sebisanya menyempatkan diri ke sana. Ada ronde, ada lumpia, ada tahu isi. Semuanya enak.
Banyak kota yang kehilangan nama lama karena berganti nama baru. Misalnya nama jalan yang "sangat lokal" diganti dengan nama pahlawan.
Pengertian "sangat lokal" itu mungkin juga rancu sehingga sehingga saya mengapitnya kata dengan tanda kutip.
Berikut nama lama jalan yang saya ingat. Saya harap Anda akan menambahkannya. Kalau sudah lengkap mungkin bisa dituang ke halaman tersendiri. Oh ya soal beginian, Mas Edy Supangkat (penyusun buku sejarah Salatiga, yang bergiat di Pesta Air Salatiga) mestinya lebih paham. Kenapa dia tak diajak gabung kemari?
Baru pada 1970 becak masuk Salatiga. Sebelumnya warga hanya mengenal dokar (sebagian orang menyebutnya andong padahal andong beroda empat dan berkuda dua).
Dari manakah datangnya becak? Saya tak tahu dari kota mana. Kalau melihat modelnya mungkin dari Semarang. Yang pasti naik becak merupakan pengalaman baru. Orang ingin tahu bagaimana kalau mendaki tanjakan dan bagaimana kalau meluncur di turunan. Kesimpulan saya: mengerikan juga ketika becak turun di Jalan Kantor Pos.
Setahu saya becak tak sampai ke Mrican atau ABC. Terlalu berat naiknya ke kota atas dan terlalu cepat meluncurnya ke arah pusat kota.
Adapun helicak, itu juga sempat masuk Salatiga. Hanya ada satu. Pemiliknya orang Jangkungan (kampung dekat alun-alun). Dia membawanya dari (tentu saja) Jakarta. Tapi becak bermesin yang seperti helikopter tanpa baling-baling itu seingat saya cuma bertahan beberapa bulan. Kurang laku. Saya pun belum pernah mencobanya –– namanya juga masih bocah, pergi naik angkutan bergantung kepada orangtua.
Betulkah helicak seperti helikopter? Agak mirip. Bedanya, kokpit (atau kabin?) hanya berisi penumpang, sementara pilotnya (ya si kusir becak it) ada di luar, di belakang.
Sedangkan Bajaj setahu saya belum pernah masuk Salatiga.