
Mau bilang Cina, Chinese, Tionghoa, Huaren, bahkan di-krama-inggil-kan sebagai “Cinten”, kekikukan itu kadang terasa, pakai “maaf” pula, bahkan ketika dalam obrolan tak ada yang keturunan Cina.
Penambahan kata “keturunan” sering tak diberlakukan untuk orang Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Minang…
Kata “keturunan” diberlakukan untuk orang India, Jerman, Belanda… Mungkin untuk membedakan dengan status kewarganegaraan non-Indonesia. Tapi tidak ada “keturunan Israel”; yang ada “keturunan Yahudi”. ”Keturunan Arab”? Banyak negeri Arab.
Maka dalam konteks tertentu, satu kata “keturunan“ saja berarti orang Cina Indonesia.
Selama ada kekikukan, berarti ada masalah. Dalam bahasa lisan itu tecermin. Sampai kapan?
Sampai kita sepenuhnya menerima keragaman.
Di luar 100 Kata | Ilustrasi: Terima kasih untuk Meisia Lucia Chandra yang menyumbangkan kata “huaren” (artinya orang beretnis Cina) dalam karakter Mandarin.

Jika situasinya cocok, dia teman bertengkar yang menyenangkan.
Humornya cerdas, kadang sinis. Kata “cerdas” maupun “kecerdasan” sering muncul dalam tuturannya, terutama jika menyangkut perjalanan nasion cap Indonesia. Dalam Facebook-nya dia ber-contradictio in terminis kocak: “Demi Tuhan saya ateis”.
Totot Indrarto, yang hari ini genap 46, adalah lelaki urban: keturunan Jawa berjuluk “pak-dhé” yang menempatkan diri sebagai warga mondial, early adopter aneka hal baru, tak pernah risau dengan “identitas (ke)Indonesia(an)”, percaya kepada spirit bernama niat baik, yakin kepada rasionalitas sebagai syarat kemajuan.
Dia, yang menyadarkan saya bahwa sepakbola adalah potret kebudayaan, memang multimatra.
Selamat. Menjadi tua itu bukan aib maupun prestasi.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber foto praolah karya Leonard Wiguna

Saya berprasangka, pengedepanan “pasal tidak cacat moral” (publikasi zina) bagi calon kepala daerah itu adalah cerminan kegerahan birokrat karier dan politisi karier terahadap bintang baru yang hanya mengandalkan ketenaran.
Mereka gerah: orang-orang yang jarang merumuskan pandangannya tentang cara memajukan masyarakat dan daerah tiba-tiba hendak memimpin. Misalnya Maria Eva.
Ah! Serahkanlah kepada masyarakat. Bahwa dalam kampanye akan terjadi serangan dari lawan politik terhadap “moral” si kandidat di luar urusan korupsi dan tindak pidana lain, itulah dinamika.
Khalayak berhak menolak maupun menenggang calon-calon yang bertaut dengan erotika. Sama seperti masyarakat Italia dulu terhadap bintang porno Ilona “la Cicciolina” Staller. Ngapain Mendagri ngotot?
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: Kapanlagi

Kadang, atau sering, Twitter itu macet. Bisa pada saat saya ingin berkicau (untuk khalayak maupun japri), dan bisa juga ketika saya cuma melongok.
Kuciwa? Tidak. Toh dalam sebentar akan normal lagi. Bahkan kadang saya tinggal, lalu seharian prei.
Kalau mail server macet, begitu pula layanan BlackBerry ngadat padahal sedang butuh, pun saat jaringan GSM bermasalah, pastilah mengganggu, lalu bikin gusar.
Setiap kali Twitter macet karena beban berlebih, saya merenungkan satu hal: terlalu banyak kicauan di ranah publik atas nama interaksi — termasuk kicauan saya.
Dalam kasus saya ternyata saya lebih mudah berkicau daripada mendengarkan. Padahal menyimak dan menanggapi itu menyita waktu.

Dalam sebentar, blog yang mengatasnamakan sebuah sekolah Katolik untuk menghina dan menyebarkan kebencian terhadap Islam itu menyebar. Bikin resah bahkan marah kalangan tertentu. Ketika saya tengok Twimpact memang ajakan retweet-nya cukup kencang.
Ternyata sore ini isi halaman sudah sudah berubah. Judul blog juga. Anak itu membuat blog karena kesal terhadap para bekas gurunya. Dia pernah bersekolah di sana. Intinya, dia mencatut nama sekolah dan yayasan.
Kalau sudah begini bagaimana? Pertama: kita jangan gampang terpancing. Kedua: misalkan sempat terpancing, lain kali tak terulang. Ketiga: pihak yang tercatut namanya sebaiknya segera membuat klarifikasi dengan memanfaatkan segala saluran media sosial.
Menurut Anda?

Ini bukan cerita yang bagus karena menyangkut rokok. Tapi dalam ketidakbagusan ada moral kisah.
Kemarin, selesai membayar di kasir Aquarius Mahakam, Jakarta Selatan, tiba-tiba hujan deras. Karena sudah terlalu lama di dalam saya ingin menghirup udara luar.
Dingin. Saya ingin merokok. Padahal seperti biasanya, kalau pergi berjalan kaki sebentar saya tak membawa rokok.
Warung rokok terdekat tak mungkin dipanggil. Akhirnya saya beranikan diri untuk membeli sebatang rokok Sampoerna kretek kepada tukang parkir yang berteduh di teras.
Dia menolak keras pembayaran. “Nggak usah. Sudah, ngerokok aja, Mas,” katanya sambil menyodorkan korek gas.
Namanya Pak Waris. Dia mewarisi sejumlah kebaikan. Terima kasih.

Alay belum basi? Beberapa menit lalu Twitter Search masih melaporkan kicauan yang mengandung “alay” sehingga tak sampai semenit halaman harus dipersegar.
Dalam waktu 0,13 detik Google Indonesia melaporkan 3.750.000 temuan — dengan sejumlah anjuran pencarian dari “alay adalah” sampai “alay itu apa”.
“Alay” adalah “apapun yang gagal untuk tampak keren”.
Di dalamnya terkandung pelecehan. Pejoratif.
Secara sosio-kebahasaan itu ada di segala zaman dan tempat. Sekelompok orang melecehkan kelompok lain yang dianggapnya lebih rendah dalam hal tertentu.
Di tengah kegalauan itu ada Fuck Yeah Alays!. Memang akhirnya ada permintaan maaf, tapi bagi saya blog ini berharga; bisa membantu kajian tentang potret sosio-kultural urban Indonesia.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: hak cipta gambar asli tidak diketahui, ditemukan di sini

Judul berita detik.com: “Kronologi Lengkap Penangkapan Gayus…“. Selama ini ada radio, TV, dan online news yang menggunakan kata “kronologis” untuk kata benda. Ah nggak penting? Ya, pokoknya sama-sama ngertilah.
Baiklah. Tapi coba Anda sebut “batu” untuk “baju”, maka orang yang bilang nggak penting akan marah: “Itu namanya ngeledek! Jangan gitulah!”
Media cetak, meski lambat, mengenal editor bahasa. Media berita internet, meski memakai newsroom, belum tentu sempat mengoreksi, misalnya menyebut apapun yang berbau upacara sebagai “prosesi” padahal tak ada iring-iringan.
Lebih sial media penyiaran. Laporan langsung hanya mengandalkan kemampuan bahasa reporter.
Celakanya anak-anak sekolah belajar bahasa dari media penyiaran dan internet.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: hak cipta gambar asli praolah tidak diketahui

Mahkamah Agung akan langsung memberhentikan hakim yang menerima suap. Oh ya? Ehm. Orang biasa saja alot kalau mau dicopot apalagi ahli hukum. Tapi kalau pede, pencopot mestinya tak gentar.
Anda sudah bosan membahas korupsi dan kapok berharap pemerintah akan memberantas? Kalau sesekali Anda jenuh berarti normal. Memang kebosanan kita berarti angin surga buat koruptor. Apa boleh bikin tahi kambing mungkin asin.
Sesungguhnya kita tahu ada korupsi bahkan sangat mungkin di lingkungan kita tapi kita dalam posisi tak enak: “Udahlah, itu mainan dia. Yang penting gue nggak ikutan. Rezeki dia, risiko dia.”
Menjadi masalah ketika kita diam pun dihambat bahkan dikorbankankan.
Di luar 100 kata | Ilustrasi: © hak cipta foto praolah tidak diketahui

Paling banter dua bulan sejak pekan lalu soal Gayus Halomoan Tambunan ramai dibahas. Setelah itu khalayak bosan, para editor jemu. Bagi mereka tak ada yang menarik setelah antiklimaks — kecuali bumbu dramatisnya masih terus menetes.
Gayus tak sendirian. Masih ada Gayus lainnya. Kita menganggap dia apes — seperti pengendara motor tak berhelm yang tertilang, padahal yang lain juga tak berhelm.
Kasus Gayus menarik karena ada magnitudo dan nilai-nilai insani: seorang pegawai negeri golongan IIIA punya rekening Rp 28 miliar dalam lima tahun kariernya, berpindah dari rumah kusam di kampung kumuh ke permukiman mewah.
Di luar itu kita anggap lumrah. Soal basah dan kering.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber gambar-gambar asli praolah tidak diketahui