
Begitulah. CD memang bagian dari gimmick paket sahur tiga orang. Seolah bonus padahal ada harganya. Selebihnya adalah pintar-pintarnya label dan manajemen artis mengelola brand musisi, mau dapat duit dari mana saja. Tapi bagaimana menghitung “bonus” itu dan paketnya? Tahu-tahu dikasih CD dan struk. Orang yang membayari saya malah bingung.

Ketika semua kabel dan colokan berwarna hitam maka mata perlu pembeda.
---
Bukan kerakap. Tumbuh di dekat kotak sampah, tidak teperhatikan.
---
Hijau ngejreng. Mentereng.
---
Atau tembok lukisan? ---
Sent from BaldBerry® 3.2 MP camera BlackMarket Edition • Sinyaletoy Network • Use http://regex.info/exif.cgi to chek my image dataIni juga foto jelek tapi saya suka. Selama puasa nggak ada kerupuk dalam kotak mirip microwave oven itu. :D
---
Foto ini jelek tapi saya memasangnya karena tadi saat menjepret saya teringat lagu Koes Plus "Bunga di Tepi Jalan". Dari biografi Yon Koeswoyo terungkaplah kisah itu: tentang seorang groupie yang dia pungut dan memberinya anak.
---

Koneksi internet saya bisa tiba-tiba ngedrop bahkan macet. Dan salah satu blog saya, yaitu Oh!, tak kunjung selesai tertampilkan. Tapi kok malah nyeni ya? Dalam nahas bisa muncul ide bernas: menangkap tangkapan layar sekilas. Hidup ini indah jika kita tak hanya berkeluh kesah. Percayalah. :)
Nggak penting. Iseng saja. :D
---

Judul tadi seperti kata lagu. Maka inilah bingkisan kedua Lebaran yang saya terima: sehelai kemeja dari keluarga Ndoro Kakung, dibelikan oleh Nyonya Wicaksono karena kemarin saya bilang kepada suaminya, “Bajumu kok apik Kang? Mbok aku dibelikan.” Terima jadi, Dik Wi. :)