
Judul berita detik.com: “Kronologi Lengkap Penangkapan Gayus…“. Selama ini ada radio, TV, dan online news yang menggunakan kata “kronologis” untuk kata benda. Ah nggak penting? Ya, pokoknya sama-sama ngertilah.
Baiklah. Tapi coba Anda sebut “batu” untuk “baju”, maka orang yang bilang nggak penting akan marah: “Itu namanya ngeledek! Jangan gitulah!”
Media cetak, meski lambat, mengenal editor bahasa. Media berita internet, meski memakai newsroom, belum tentu sempat mengoreksi, misalnya menyebut apapun yang berbau upacara sebagai “prosesi” padahal tak ada iring-iringan.
Lebih sial media penyiaran. Laporan langsung hanya mengandalkan kemampuan bahasa reporter.
Celakanya anak-anak sekolah belajar bahasa dari media penyiaran dan internet.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: hak cipta gambar asli praolah tidak diketahui

Mahkamah Agung akan langsung memberhentikan hakim yang menerima suap. Oh ya? Ehm. Orang biasa saja alot kalau mau dicopot apalagi ahli hukum. Tapi kalau pede, pencopot mestinya tak gentar.
Anda sudah bosan membahas korupsi dan kapok berharap pemerintah akan memberantas? Kalau sesekali Anda jenuh berarti normal. Memang kebosanan kita berarti angin surga buat koruptor. Apa boleh bikin tahi kambing mungkin asin.
Sesungguhnya kita tahu ada korupsi bahkan sangat mungkin di lingkungan kita tapi kita dalam posisi tak enak: “Udahlah, itu mainan dia. Yang penting gue nggak ikutan. Rezeki dia, risiko dia.”
Menjadi masalah ketika kita diam pun dihambat bahkan dikorbankankan.
Di luar 100 kata | Ilustrasi: © hak cipta foto praolah tidak diketahui

Paling banter dua bulan sejak pekan lalu soal Gayus Halomoan Tambunan ramai dibahas. Setelah itu khalayak bosan, para editor jemu. Bagi mereka tak ada yang menarik setelah antiklimaks — kecuali bumbu dramatisnya masih terus menetes.
Gayus tak sendirian. Masih ada Gayus lainnya. Kita menganggap dia apes — seperti pengendara motor tak berhelm yang tertilang, padahal yang lain juga tak berhelm.
Kasus Gayus menarik karena ada magnitudo dan nilai-nilai insani: seorang pegawai negeri golongan IIIA punya rekening Rp 28 miliar dalam lima tahun kariernya, berpindah dari rumah kusam di kampung kumuh ke permukiman mewah.
Di luar itu kita anggap lumrah. Soal basah dan kering.
Di luar 100 kata | © Ilustrasi: sumber gambar-gambar asli praolah tidak diketahui
Barik di atas barik pada suatu lintasan pejalan kaki.
…

Promo layanan iklan otomotif di classified ads Kompas. Sepatu terparkir. Terlalu jauh?

Kaki kursi di Taman Ayodya, Jakarta Selatan, ini diikat besi, ditancapkan ke beton. Supaya kuat, tidak membuat pemakainya terjengkang, dan… agar tidak dicuri. Hidup Indonesia!


Berarti juga penanda teritori. Sebangsa jejak si kaki empat yang kencing dengan mengangkat satu kaki dekat tiang listrik dan telepon.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tersandar pada sebatang pohon. Hanya itu ceritanya.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Gerobak yang ceria. Lihat pula “interiornya”. Di gerobak itu pula pemiliknya menginap. Sebuah cerita dari Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dua lubang. Yang satu buntu. Mereka sama-sama mengalami pemiuhan. Mungkin akhirnya membentuk hati.
…