antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Archive for February, 2010


Luntur tidak Ditanggung

Feb 2010
28

Yang penting kudu baca aturan pakai. Sudah diwanti-wanti oleh produsennya, UNKL347 van Bandung, dalam dua bahasa. Masalahnya setelah stiker dilepas, kemudian baju diserahkan ke binatu atau pembantu, urusan bisa jadi lain.

Share/Bookmark


Bener, Buat Sepeda?

Feb 2010
28

Papan petunjuk di atas trotoar depan kedai burger di Tebet, Jakarta Selatan. Kata tukang parkir, “Gak ada tuh yang bawa sepeda. Yang pasti sepeda lipet gini mahal ya, Oom?”

Share/Bookmark


Apa Kriteria Motor Besar?

Feb 2010
28

Dulu yang disebut motor gede adalah yang mesinnya di atas 250 cc. Lantas ditambahi penjelasan tak tertulis, motor tambun kuno di luar Harley-Davidson dan BMW tidak dihitung — misalnya Norton 350 cc tahun 50-an, mungkin karena penunggangnya kurang keren. Makin ke sini kriterianya makin membingungkan. Dalam bahasa satpamwan dan juru parkir, “Pokoknya motor apa aja yang mahal, lebih mahal dari bebek Jepang.” Walah, Harley-Davidchiang dari RRC, meski digembungkan jadi cempluk padahal cuma 125 cc, tidak layak disebut moge. Saya ingat seseorang yang dengan enteng bilang, “Yang rewel mempertanyakan kriteria biasanya orang sirik.” :D Untunglah saya ndak sirik apalagi dengki.

Share/Bookmark


Humor Produsen Sepatu

Feb 2010
28

Jamaknya sepatu kasual ala mokasin adalah dikenakan tanpa kaos kaki. Bagaimana membuat lapisan dalam yang menyerap keringat sekaligus menyirkulasikan udara dengan bagus, agar kaki tak bau, itulah seninya merancang sepatu. Cukup? Humor pun perlu ditambahkan pada sol luar. Saya melihatnya di sebuah toko. Bahwa tulisan takkan terbaca setelah sepatu dikenakan, itu perkara lain. :D

Share/Bookmark


Rumah Burung

Feb 2010
27

Kukila itu berarti burung. Kalau kompleksnya dinamai Wisma Kukila, maka ingatan orang Jawa akan sampai ke status kemapanan pria: wisma, kukila, turangga, curiga, wanita. Den Mas Kukila Ornitologiwan layak bermukim di sana, dekat Lubang Buaya itu. Rajawali, garuda, elang, itu juga termasuk kukila. Burung tak harus kecil mungil lucu kan?

Share/Bookmark


Kompetensi bukan Segalanya

Feb 2010
27

Rada berbau ghibah,seseorang bilang ke saya, “Si itu dan si anu kan lebih punya kompetensi dalam musik. Liat aja blognya. Reviunya keren. Seleranya bagus. Kenapa bukan mereka yang dapat orderan buat paid review sebuah portal musik?”

Saya hanya tertawa, lalu menyahut, “Jangan suudzon. Bisa saja mereka ditawari tapi nggak mau atau nggak sempat. Atau bingung.”

Dia tak menyerah, “Misalnya mereka gak bisa kenapa tawaran jatuh ke orang-orang yang nggak teruji ngikutin musik? Bahkan dengar demo dari anak-anak indie pun jarang?”

Jawaban sok bijak untuk menghentikan diskusi bisa saja seperti ini, “Namanya juga jalan rezeki. Jangan dibikin iri.”

Tapi sesungguhnya bukan itu masalahnya. Ini era media sosial dan jejaring sosial. Kompetensi dalam konten di blog pribadi bukan segalanya. Masih ada faktor lain yaitu sosiabilitas. Dalam istilah yang gampang: seberapa dia gaul.

Penjelasan operasionalnya kalau disederhanakan adalah seberapa dalam dia diterima di blogosfer dan komunitas tertentu di layanan online.

Pengertian seberapa dalam itu antara lain mencakup seberapa kuat pengaruhnya bagi pengikutnya. Ketika dia bilang blogombal itu asli gombal, maka pengikutnya berkemungkinan sepakat — meski tak serta merta memusuhi blog maupun narablognya karena tak ada alasan.

Pengaruh itu bukan hasil sekali jadi dengan setiap hari memperbari status Twitter 30 kali, yang secara serentak juga masuk ke Facebook dan lainnya, selama sebulan.

“Uh nggak adil! Kenapa kalo si anu suka nge-tweet cemen malah disambut, tapi kalo si nobody sering nge-tweet malah dibilang lebay, minimal dicuekin?” sergah teman itu.

Adil tak adil itu bergantung pada lingkup. Terhadap orang yang disukai, pintu lebih banyak dibuka. Terhadap yang kurang disukai (bedakan dengan dibenci), cukup sedikit pintu terkuak.

Sebagai merek, dalam hiruk pikuk perebutan “eksistensi dan hegemoni di tengah media sosial” (istilah karangan supaya keren) itu ada faktor brand personality.

Mereknya berjiwa karena mempribadi. Orang yang semanak, terbuka, membuat teman yang curhat nyaman, jelas lebih diterima ketimbang orang yang (sok) misterius, soliter, impulsif, dan selfish. Cara dia berbicara dan berperilaku menentukan orang lain suka atau tidak.

Pengikut dari seorang narablog ber-brand personality bagus, karena image-nya juga bagus, tahu bahwa reviu yang mereka baca itu tertaja tapi nyaman-nyaman saja, karena mereka memang sudah menerima sosoknya. Di dalamnya ada kepercayaan dari pengikut bahwa si narablog tak asal sambar tawaran rezeki.

Berbeda halnya dengan si sok misterius. Meski reviunya dalam hal tertentu kritis dan tajam, kalau sering sinis maka orang hanya menikmati kontroversinya. Sekali dia memuji maka penggemar malah kuciwa. Lebih dari itu, si sok misterius yang sinistis itu tidak socially life. Untuk kasus Indonesia, narablog yang tak pernah kopdar, jarang diwawancara “media lama”, dan tak pernah diundang seminar, tak lebih dari nickname tenar — antara tiada dan ada (atau sebaliknya).

Wajah kawan yang bertanya tadi antara puas dan kuciwa (yang gimana sih?). Tapi tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan, “Kalo misalnya saya ngereviu karena suka, tapi sebelum program kampanye dijalankan, saya boleh ngajuin reimburse nggak?”

Saya teringat rencana seseorang untuk memposting ulang tulisan lama karena ada kompetisi tulisan di blog. Dulu ketika dia menulis belum ada lomba, padahal lomba memberlakukan rentang waktu pemuatan.

Kali ini saya ganti bertanya, “Dalam kasus macam ini, bedanya kreatif dan bokis apa ya?”

Trek lama: Menulis saja tak cukup

© Ilustrasi: Synthopia


Daun di atas Bak Sampah

Feb 2010
27

Tidak, ini tidak natural. Saya sudah menggeser daun itu supaya masuk lengkung pegangan bak sampah dalam posisi yang enak di depan lensa. Lantas apa bedanya rekayasa dan alami, toh orang hanya melihat hasil?

© Foto: saya

Related posts:

  1. Daun Beringin di Atas Trotoar Namanya juga daun, tidak bisa diperintah kapan boleh gugur…
  2. Daun di atas Rumput Biasa, tak istimewa, selalu terjadi, sering terlihat. Helai daun…
  3. Daun Jendela Oh, daun? Tak pernah ada cerita orang memetik daun…

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


Jembatan di atas JORR

Feb 2010
27

JORR? Mana? Jakarta Outer Ring Road – South. Lalu ganti nama menjadi Jalan Lingkar Luar Jakarta. Jembatan ini  nyeni (dan semoga juga kokoh).

© Foto: saya

Related posts:

  1. Jembatan BaReLang Menjemput fajar pada suatu ahad. Ternyata ada saja orang…
  2. Sticky Note di Atas Tisu Tempelan yang mulanya diperkenalkan oleh Scotch 3M ini, dengan…
  3. Sudut Bangku Ini kelanjutan posting sebelumnya. Saya hanya mau mengatakan bahwa…

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


Cuci Helm

Feb 2010
27

Yang pertama? Bener? Tolong kabari kalau ada pelopor sebelum dia. Sebuah jepretan di Lubangbuaya, Jakarta Timur.

Share/Bookmark


Stiker Pembungkus Angkot

Feb 2010
27

Sudah setahun lebih rasanya mikrolet Jakarta dibungkus oleh stiker besar iklan. Ada bagusnya sih, tampang mikrolet itu, terutama bagian belakang, jadi mendingan. Berterima kasihlah kepada cetak digital.

Share/Bookmark


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.