
Ya, siapa yang belum pernah membeli atau memanfaatkan CD/DVD bajakan silakan tunjuk jari. Kios barang bajakan kian meluas, merambah ke perumahan. Bukan mencuri, kata yang propembajakan. Alasannya karena tak ada barang yang hilang dari pemilik/pemegang karya cipta. Manfaat ekonomisnya yang hilang, kata yang antipembajakan. Sudah kaya kok masih kurang terima, kata yang pro.

Ini termasuk cara pengawasan yang kuno: cermin lebar di dalam toko. Kemudian muncul cermin cembung yang sudut tangkapannya lebih luas. Lalu kamera mini. Apapun teknologinya tentu masih memerlukan orang untuk memantau hasil amatan. Yah, barangkali ada saja pengunjung toko yang terlalu tinggi rasa memilikinya, sehingga setiap kali berbelanja serasa di toko milik sendiri.

Buku tulis ini dibuat untuk CSR sebuah perusahaan minyak (CNOOC), dibagikan di Kepulauan Seribu, Jakarta. Saya mengetahuinya tanpa sengaja di angkringan Wetiga. Ada informasi ringkas tentang sejarah fotografi. Sungguh tepat karena fotografi bukan lagi dunia yang mewah karena ponsel di bawah sejuta rupiah pun bisa memotret. Ide ini, dengan isi topik lain, bisa ditiru oleh produsen buku tulis.



Berapa lama akan terurai? Nah tas kresek degradable dari KemChicks ini mencantumkan informasi kapan akan terurai oleh tanah. Di situ ada perbandingan bahwa tas plastik biasa butuh waktu 500 tahun dan tas kresek degradable akan terurai kurang dari 24 bulan. Benar tidaknya entah, yang penting ada info dulu kan?


Slogan di dekat perempatan. Saya melihat yang sejenis di beberapa tempat, biasanya tentang “persatuan, kesatuan, musyawarah, dan mufakat”. Bedanya, yang Jalan Ahmad Dahlan ini tak bersanding dengan spanduk Kodim. Lantas apa yang mereka maksudkan “isu” — apalagi yang “tidak bertanggung jawab”? Obrolan sehari-hari mengartikan isu sebagai desas-desus atau rumor — bahkan gosip. Barangkali karena itulah dalam obrolan sehari-hari orang tak mau mengindonesialan “not a big issue” supaya maknanya tak melenceng. Oh ya, “terprovokasi atas isu…” atau “terprovokasi oleh isu…”? Juga kenapa tidak memilih salah satu dari “warga” dan “masyarakat” jika berhubungan dengan wilayah kelurahan?
Ah itu urusan Iqbal sang pemabuk!

Mereka harus diinjak, ditindas, bila perlu sampai bengkok dan patah. Tugas mereka adalah menangkap debu, pasir, dan lumpur. Kadang berhasil kadang gagal. Itulah keset berbahan karet.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Saya membayangkan di Indonesia ada wadah seperti 9gag.com dengan foto-foto Indonesia pula. Konten lokal begitulah, dan mestinya mudah. Apa? Mudah? Iya makin banyak orang punya kamera saku dan ponsel berkamera. Kalau konten cuma menyambar dari luar, seperti (sebagian dari posting) blog ini, kayaknya kurang sreg. Memang sekarang zaman serbamondial, tapi kalau kita bisa menghasilkan konten sendiri tentu lebih bagus. Eman-eman internetnya kalau ndak kita isi dengan konten lokal.

Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang dengan cetak digital, spanduk (plastik) yang berukuran sama cuma berongkos Rp 72.000 ribu –– biaya per meter perseginya Rp 18.000.
Plastik lebih kaku tapi kedap air. Usia pakainya, untuk luar ruang dengan tinta murah, bisa enam bulan. Karena ini negeri pemulung, plastik bekas spanduk itu selalu ada yang memanfaatkan. Misalnya untuk alas tikar.

Baiklah ini soal kemajuan teknologi. Apapun, kalau massal, dan kompetisinya ketat, akan memurah. Tapi saya kehilangan sesuatu: sentuhan tangan berupa gambar dan tulisan.
Sebagian besar gambar-gambar pada spanduk kain itu tak mencontoh buku grafis apalagi sumber di internet. Untuk tipografi pun demikian. Paling banter mencontoh “buku letter” murah meriah yang oleh penyusunnya dikerjakan penuh percaya diri karena mengabaikan semua teori tipografi ala sekolahan.

Saya kehilangan tapi tak saya ratapi. Saya hanya mencoba mengapresiasi sebelum itu semua punah. Sama seperti terhadap baliho bioskop yang wajah aktor dan aktrisnya tak jarang mengundang tebakan.
Para pembuat spanduk dan baliho secara manual itu juga berhak menyebut diri artis. Kalau istlah artis kadung disalahkaprahkan dengan bintang hiburan yang berkilau, maka bolehlah mereka menyebut diri seniman.
Di Yogya dulu ada “ahli papan nama dan letter”, namanya Potho. Pintu truk pun bisa dia tulisi dengan rapi, memakai cat, dan awet pula. Saya tak tahu bagaimana sekarang bisnis Potho dan lainnya, karena stiker hasil cetak digital dan stiker potong hasil olahan pisau plotter kian murah.
Tentang istilah “artis”, ada kawan saya, seorang desainer grafis, yang lebih suka kata “artist“. Menurutnya artinya beda. Antara lain ya tersebab konotasi itu. Dulu malah ada teman saya yang bingung untuk membedakan “artis” dan “aktris”. :)
Bonus: untuk hasil karya seniman pada bak truk, lihat Pesanlewat.com

Setiap pagi, sebelum pukul setengah tujuh, ada gerobak mangkal di dekat Taman Gandaria, Jakarta Selatan. Jualan gerobak itu antara lain ubi rebus, singkong rebus, kacang rebus, dan penganan lain berbahan ubi/singkong. Ada sedia pula minuman bandrek. Dengan Rp 3.000 Anda bisa dapatkan pengganjal perut dan minuman hangat. Apalagi pagi ketika sisa hujan tinggal gerimis berkepanjangan. Nikmat tenan.


Di kawasan bisnis Mega Kuningan, penjual beginian juga ada lho.
Apa boleh bikin. Ini Indonesia. Maka saban hari di pertigaan Mayestik-Kyai Maja-Ahmad Dahlan itu ada saja sepeda motor yang belok kanan. Sesekali ada juga polisi yang menunggu. Lantas “urusan adminstrasinya” di sekitar Jalan Langsat.
