
Murah meriah, kemriuk pula. Ada sedia di warung-warung rokok sekitar rumah. Harga Rp 1.000. Pakai sambal, gratis. Dari manakah bahan pewarna, apakah pengawet sambalnya aman, tanyakan ke pihak berwenang. Kriukkkk…

Ulangi gaya lama, sampaikan pesan melalui kaset, tetapi dengan cara yang lebih praktis. Sebuah dagangan dari Suck.uk. Bukan kandungan digitalnya yang bernilai (karena bisa ditransfer secara nirkabel) melainkan kemasan fisiknya yang aduhai. Jika Anda berusia di atas 15 tahun maka Anda punya kenangan terhadap kaset.
Kita tunggu versi murah yang masuk ke Glodok bersama peti kemas berisi buah.


Desain yang berani, dan jika tanpa komunikasi yang baik bisa menimbulkan salah sangka: hiasan natal berupa granat. Dirancang oleh Dorothy untuk Ctrl.Alt.Shift dan Suck.uk, hiasan ini dinamai Xmas Declarations. Kenapa granat? Karena Ctrl.Alt.Shift ingin menghentikan konflik global. Apakah barang ini, ketika melalui pemeriksaan x-ray bandara, termasuk jenis yang merepotkan pembawanya?

Paramanager? Ini sebangsa paramiliter, paramedis, paralegal, dan paranormal. Apapun namanya, bos kudu punya privilese. Tapi ada lho kantor besar, dengan ratusan karyawan, yang direkturya pun kadang sulit memarkir mobil, dan tidak menjadi masalah.

Kita memang pengguna bahasa gado-gado. Tapi berapa banyakkah orang yang akrab dengan “muster area” dan “muster point”? Kata “apel” pun, jika tertulis, bisa diartikan sebagai nama buah. Tempat (ber)kumpul, mungkin lebih enak. Baik berkumpul untuk upacara maupun saat darurat. Ah, tapi nggak kerenlah.

Jam session? Traffic jam? Chocolate jam? Mungkin papan nama ini di Tunjungan Plaza, Surabaya, ini segenerasi dengan papan petunjuk lawas di kantor birokrat: operation room.

Orang Jawa bilang “wang-sinawang”. Kehidupan orang lain tampak lebih menyenangkan. Misalkan saya sopir angkot mungkin juga akan menganggap pekerjaan sopir bus bandara ini kepenak. Hanya mengantar penumpang dari terminal ke tangga pesawat. Rutenya pendek. Tak perlu kejar setoran. Tak ada Pak Polantas penguntip setoran. Tak ada preman dan timer yang minta duit rokok. Tapi tidak bisa menikmati adrenalin dengan kebut-kebutan sampai hampir selalu mencelakai pengguna jalan.


Saya tak paham sepakbola tapi kadang bisa menikmati sejenak bal-balan ngawur anak kecil. Saya sebut ngawur karena tanpa sepatu, tanpa pelatih, lokasi di mana saja, dengan aturan yang dibuat sendiri. Dari sana saya selalu melihat ada saja bocah yang gesit, lincah, ulet, dan bisa menjadikan bola sebagai bagian dari dirinya.
Tak istimewa, kata Anda. Setiap anak lelaki pernah mengalami, kata Anda. Bahkan anak perempuan saya pun mengalami. Dulu setiap kali saya atau istri menjemput ke SD-nya, si genduk sudah basah kuyup dan gosong, awut-awutan seragamnya, karena sedang bermain bola dengan anak laki-laki. Sampai sekarang dia lebih paham bal-balan ketimbang saya.
Anak dalam, anak luar
Bal-balan bocah itu saya nikmati tadi siang selagi berteduh di gardu pinggir lapangan beton. Lapangan yang tak sampai setratus meter dari rumah itu multifungsi: untuk basket, voli, dan futsal — tidak ada tenis. Saya berada di sana karena sepulang dari warung tiba-tiba hujan deras. Harus berteduh.
Mulanya anak-anak itu tetap di gardu. Satu anak berani berbasah melakukan dribbling di bawah guyuran hujan, dua lainnya ikut. Lalu tak sampai lima menit dua lainnya terpancing.
Siapakah mereka? Bukan anak-anak di RT saya. Tampaknya juga bukan anak RT sebelah. Tapi mau anak dalam atau anak luar kebutuhannya sama: ruang bermain.
Rasan-rasan tentang anak dalam dan anak luar sempat terdengar ketika lapangan itu dulu baru selesai ditata dengan iuran warga RW. Anak-anak kompleks dari RW lain ikut memanfaatkan. Mereka datang karena berteman dengan anak-anak RW pemilik lapangan. Ini hukum pergaulan.
Juga ada rasan-rasan bahwa (maaf) “anak kampung”, yaitu warga luar kompleks, ikut memanfaatkan. Ini hukum ruang hidup. Liebensraum. Setiap organisme butuh ruang untuk bermukim, makan, kawin-mawin, dan bermain (apalah semut dan lalat juga bermain-main tanpa tujuan?). Bahwa kebutuhan akan ruang hidup akhirnya menganeksasi teritori lain, sehingga peta hegemoni bisa berubah, itu adalah hukum kehidupan — tapi peradaban mestinya bisa menjinakkan, sehingga Amerika tak perlu menyerbu Irak demi minyak.
Saya berlebihan? Mari kita lihat. Warga sebuah kompleks makmur yang lingkungannya bagus (banyak pohon), punya jogging track, cenderung kurang suka dengan warga luar yang memanfaatkan area untuk olahraga. Bahkan ketika sebuah sport center berbayar pun akhirnya disesaki orang luar, lengkap dengan berjubelnya kendaraan di parkiran, warga dalam pun merasa terganggu. Kolam renang kayak cendol, keluh beberapa warga. Banyak alay, keluh anak-anak priyayi.
Dalam urusan beginian, definisi warga luar tak cukup dilihat dari kawasan periferal yang rendah proksimitasnya dari sentrum. Beberapa tahun lalu di Kompas ada surat pembaca, dari warga Kota Wisata “Cibubur” (sebetulnya sudah di luar DKI), yang mengeluhkan keriuhan orang-orang dari jauh yang berwisata di kompleksnya pada akhir pekan. Strategi pengembang dengan menjual arsitektur aneh (menurut beberapa arsitek) akhirnya menjadi bumerang: orang-orang ingin melihat-lihat, padahal itu mengusik ketenangan penghuni.
Pelengkap bernama ruang terbuka

Tentang anak-anak yang bermain bola itu, jelas banget persoalannya. Mereka butuh ruang. Naluri mereka akan selalu mencari ruang, bahkan kuburan pun untuk bermain layangan dan perang-perangan.
Keterbatasan ruang juga melahirkan kreativitas semacam streetball (OOT: Aha! Di Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, ada perempatan yang punya ring basket). Maka dulu, ketika ada teman pulang dari Brazil, saya menagih dua hal: foto anak-anak bermain bola dan cerita tentang pembibitan maupun pengembangan bakat. Sayang sebagai pecandu bola hal itu terlewat olehnya. Dia lebih bersemangat berbagi pengalaman dan foto tentang cewek latinas.
)
Keterbetasan ruang? Versi siapa? Lihatlah beberapa kompleks perumahan kota besar pada hari libur. Tak sedikit anak-anak yang tetap di dalam rumah karena dalam tempurung hunian ada bacaan, TV, video, PlayStation, dan… internet! Kalau tidak di rumah, mereka diajak orangtuanya ke mal.
Mal adalah kebun binatang yang komplet, tetapi kandang satwanya (dan penghuninya) sudah berganti wujud sebagai branded shops, salon, kafe, resto, game arcades, dan… bioskop. Pengunjung cukup datang pagi dan pulangnya malam. Datang tanpa keringat, pulang tanpa peluh.


Masa sih setiap orang dari 30 juta pengguna internet di Indonesia cuma menghasilkan satu halaman konten web? Maka, meskipun Facebook dan Twitter menyenangkan, jangan lupa untk ngeblog. Begitu kira-kira ajakan Donny B.U. dari ICTWatch dalam perayaan ulang tahun kedua komunitas Tugu Pahlawan di Surabaya kemarin.
Memang ada keluhan blog mulai surut, sepi, miskin interaksi, sehingga Facebook dan Twitter pun disukai. Saya juga mendengar ada sebagian anggota Politikana, Ngerumpi, dan lainnya lebih terpuaskan di wadah baru karena mendapatkan respon.
Interaksi, konversasi, silaturahim (eh, silaturahmi), memang sangat dibutuhkan. Apalagi untuk masyarakat yang guyub, doyan kopdar. :D
Tentang konten Indonesia oleh orang Indonesia, itu sudah sering saya lontarkan. Saya jadi mirip MP3 player dengan koleksi lagu yang terbatas. Misalkan di-shuffle, ya munculnya itu-itu melulu, baik di Bekasi, Ponorogo, maupun Wonosobo. Spirit yang sama saya lontarkan ketika menyambut Pesta Blogger 2009 di Jakarta. Mirip kondektur bus AKAP (antarkota antarpropinsi): jualannya sama ke mana pun trayeknya.:D
Stiker sedot WC
Maka ajakan Donny sungguh menggembirakan. Bahwa dalam blogging terdapat ranjau — sejak HAKI sampai pencemaran nama baik versi UU-ITE — bagi saya itu bukan alasan untuk menyerah. Bahwa pasal 27 UU-ITE ayat 3 itu adalah ranjau yang sangat berbahaya, ya marilah kita perdalami untuk mengenal kiat aman, lalu kita menawar lagi.
Dengan maupun tanpa pasal itu, sesungguhnya setiap lontaran pendapat di ranah publik (tak hanya di internet) mengandung risiko — dari respon sosial yang negatif sampai urusan pengadilan.
Saya bisa saja disebut represif, “prokapitalis”, “neoliberal” (halah!), antiekonomi rakyat, dan congkak, jika menggugat penempel stiker sedot WC di pagar rumah saya — stiker yang kalau hari ini saya lepas maka besoknya stiker baru tertempel lagi (begitu pula di tetangga saya). Risiko cara penyampaian pesan ada di penyedot WC, dan risiko terkena opini negatif ada di pihak saya. Padahal saya dan penyedot tak hanya sama-sama rakyat tetapi juga masing-masing menjadi pengisi septic tank.
Persoalannya adalah sejauh apa kita mengenal ranjau-ranjau itu? Anda berhak menyatakan keberatan, bahkan minta penghapusan berkas, jika foto Anda dalam pose yang tidak keren, bahkan memalukan, saya pasang di web. Tentang ranjau silakan Anda konsultasikan di Lintasan. Bisa juga ke ICTWatch.
Menulis di blog
Sesungguhnya inilah masalah umumnya orang: “Apa yang bisa saya tulis, bagaimana menuliskannya?” Malu juga kalau saya lagi-lagi menjadi pemutar musik. Sejumlah tulisan saya di blog ini dan tempat lain sudah menjadi contoh yang mengesalkan karena sok tahu, sok menggurui.
Begawan blog Sawali Tuhusetya dalam acara kemarin melontarkan satu hal yang penting: pemanfaatan bahasa sesuai “mazhab” setiap blogger. Sebagai guru bahasa (“Bukan ulang tahun TPC kedua, tapi ulangtahun kedua TPC,” katanya), Sawali tidak bisa menerima “cara Tarzan”: setiap blogger menciptakan pola kebahasaan sendiri tanpa hirau konteks kultural dan latar sosialnya.
Sebagai harapan, lontaran Sawali berinterseksi (bertumpuk irisan atau bertumpangsuh) dengan tulisan saya tentang termehek-mehek, Cicak versus Buaya, dan penulisan bilangan. Tak usah Anda klik tautan tadi. Saya hanya ingin menyatakan bahwa blog (mestinya) bisa memperkaya bahasa Indonesia, syukur jika blog tidak menjadikan kita sebagai dwibahasawan yang tanggung.
Memang perlu waktu. Menulis itu tidak mudah — padahal mengasyikkan (asal mood cocok dan koneksi tersedia). Jika ditambah faktor minimnya respon maka semakin lengkaplah alasan untuk tidak menulis. Apalagi jika ditambahi kemalasan (sesaat) karena saya pun kadang malas membaca maupun terlebih menulis.
Microblogging vs Megablogging
Di tengah situasi itu muncullah Facebook dan Twitter. Menurut Donny, status di Facebook itu tidak (atau belum?) terindeks oleh Google, sehingga hamburan kata-kata kita tak berjejak.
Harap dicatat, Donny tidak melecehkan status di mikroblog, karena dia pun memberi contoh bahwa pengeboman di J.W. Marriot dan Carlton di Jakarta tempo hari itu muncul pertama di Tweeter-nya Danny Tumiwa. Donny juga mengingatkan, bahwa mainsteam media (misalnya CNN) selalu memantau kata “bomb” di Twitter.
Hari ini saya membaca lontaran juragan WordPress Matt Mullenweg: Micro-blogging vs Mega-blogging. Pertumbuhan WordPress jalan terus, sementara Twitter cenderung datar. Saya sepakat bahwa persoalannya bukan “versus” melainkan “dan”. Tak perlu dipertentangkan.
Mikroblog dan megablog saling melengkapi. Bahwa tak semua penggemar Tweeter dan Facebook itu rajin ngeblog cara lama, demikian pula sebaliknya, itu adalah pilihan. Semuanya mengasyikkan. Bahwa sampai ada blogger yang lupa caranya ngeblog karena sudah lelah akibat seharian nongkrongin Facebook dan Twitter itu juga pilihan. Janganlah kita merampas kebahagiaan orang padahal dia tak merugikan kita.
Karena alam telah mengajarkan seleksi, maka terhadap mereka yang masih tetap ngeblog –justru “di tengah menurunnya tren ngeblog” — layak kita beri apresiasi. Merekalah yang meninggalkan jejak melalui tulisan, termasuk di Facebook Notes.
Selamat ulang tahun bloggers eh narablog dari Kota (Sura dan) Buaya! Harap judul posting ini dibaca sebagai [(Spirit Ngeblog) (Menantang) (Tugu Pahlawan)].

Merayap bersandingan. Kadang bus sedikit lebih cepat daripada saya, kemudian giliran saya yang lebih cepat. Sama-sama bergerak. Tak ada kesempatan untuk sama-sama diam. Sepeda motor lebih sering bergerak. Bahkan bisa melesat. Tapi saya hanya melihat tangan-tangan dalam bus. Pemilik tangan tak melihat saya. Bahkan saya yakin sesama pemilik tangan asyik dengan lamunan masing-masing.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.