Yang bagus kita puji, tapi yang kita cari adalah yang jelek: untuk diledek. Padahal kita ini egoistis, nggak mau jadi bulan-bulanan.
Posting lengkap dapat ditemukan di: http://ngerumpi.com/baca/2009/09/30/menghakimi-penampilan-orang.html
Ada yang melongok, mencuri baca Ngerumpi. Ada juga sejumlah kritik. Tak apa. Yang penting asyik. Jangan keburu reaktif.
Posting lengkap dapat ditemukan di: http://ngerumpi.com/baca/2009/09/30/ngerumpi-yang-gayeng-tapi-bukan-untuk-semua-orang.html
Mereka ada di mana-mana. Menjadi penghibur karena meledek. Atas nama humor. Tak peduli sakit hati orang terhina.
Posting lengkap dapat ditemukan di: http://ngerumpi.com/baca/2009/09/30/sang-pencela-agung.html
Dan bahkan The Jakarta Post pun menjaring opini pembacanya tentang rencana kedatangan Diajeng Maria Ozawa.

Tapi dari semua kehebohan di blog, yang paling bagus adalah pernyataan Budiyono:
“Bukannya kami gak suka Miyabi, tapi kami biasa melihatnya telanjang dengan mendownload GRATIS. Sekarang kami harus BAYAR untuk melihatnya memakai baju?? (ini sarkasm!)”
© Ilustrasi Miyabi: Paydjo
Siapa bilang masyarakat Barat itu permisif dalam banyak hal? Kanal fashion Glamour toh menyensor payudara (dan puting) seorang model.

SMS penawaran dagangan menyusup ke ponsel kita tanpa izin kita. Sudah saatnya konsumen melindungi diri agar tak jadi keranjang sampah.
Posting lengkap dapat ditemukan di: http://publikana.com/baca/2009/09/29/spamming-via-sms-kita-bisa-apa.html
Nilai-nilai lama menjadikan pemaksaan oleh pasangan nggak dianggap sebagai pemerkosaan. Namanya ngeledanin. Namanya juga sayang. Lho?
Posting lengkap dapat ditemukan di: http://ngerumpi.com/baca/2009/09/29/marital-rape-dan-sikap-kita.html

Inilah kemasan “botol jalan-jalan”. Dirancang untuk jalan-jalan, dan semoga setelah isinya habis lantas botol tak dibuang di sembarang tempat. Tapi yang menarik bukan itu. Lihatlah barcode yang meniru kontur botol.

Iklan sehalaman penuh di Kompas hari ini. Dipasang oleh tim Aburizal Bakrie. Untuk seantero Nusantara, Saudara-saudara! Nusantara! Termasuk Sidoarjo, terutama wilayah lumpurnya.

Rumah kita bisa seperti kantor dan sekolah karena banyak kertas nempel. SMS dan mobile internet menggantikannya.
Posting lengkap dapat ditemukan di: http://ngerumpi.com/baca/2009/09/28/majalah-dinding-di-rumah-kita.html