Ibaratnya isi web proyek musik Indra Lesmana, Kembali Satu, ini berisi teks “lorem ipsum”. Suatu yang wajar untuk dummy atau percobaan desain web dan grafis kertas. Masalahnya, kalau diaggap masalah, halaman di Facebook-nya lebih dulu jalan.

Mestinya ini bukan baru, saya lupa pernah melihatnya di mana. Yang pasti, ini lebih “jujur” daripada rumah kaset (separo pula) yang cuma jadi cangkang iPod. Kalau yang ini, kedua sisinya memang bertampang kaset. Uniknya, dia bisa menelan kartu memori eksternal. Dengan harga US$ 22, paketnya sudah termasuk car charger, earphones, dan kabel mini USB.

Mari kita tunggu banjir barang serupa yang murmer dengan merek apa saja dari RRC — atau jangan-jangan sudah, karena saya jarang ke Mangga Dua dan Glodok. Tapi… ngapain juga beli model kaset, karena MP3 player yang lebih mungil banyak sekali. Jangan-jangan gaya retro hanya cocok untuk kelas konsumen tertentu.
© Foto: lupa dari mana
Masa iya sih sampai segitunya bikin perbandingan? Jumping on free Wi-Fi is easy, but only while it lasts, and you gotta watch for viruses…
Mini compo? Micro hi-fi? Akhirnya, gara-gara iPod, pasar punya kategori baru: docking audio. Ini produk terbaru Altec Lansing, Mix Boombox. Cangkingan bukan di atas tapi di depan. Mirip audio model susun. Ada juga menyebut pemutar musik tentengan ini sebagai “digital ghetto blaster”. Jadi ingat anak-anak hitam Amrik memanggul mini compo.

Cerita lama sih ada gunting operasi tertinggal dalam rongga badan manusia. Seperti meninggalkan obeng dalam celah mesin. Kecerobohan medis mempercepat ajal. Persoalannya ada kesadaran untuk menguranginya atau tidak? Lihat laporan.

Orang Jawa menyebut ketel ini “mèncèng”. Artinya ya lurus tapi tidak tegak lurus. Itulah Vera Kettle dari Bugatti. Tapi bagus kan?

Salah jika Anda mengira foto-foto ginian berasal dari layanan web untuk pria. Foto-foto berisi penghakiman terhadap penampilan orang lain (terutama wanita) ini berasal dari portal wanita milik majalah Glamour. Pria? Ikut menikmati gambar dan mungkin sekalian menghakimi.

Disebut dialog antariman kalau “pesertanya” berdialog. Tapi sebagai wadah tampungan non-sektarian, tak pandang latar belakang dan wadah keagamaan, unik juga situs Dear God ini.

“Tembok bombing”, kata penyuka mural (dan grafiti). Tapi Jakarta ternyata nggak ikutan acaranya Muslim Hands dan Aerosol Arabic. Semoga bukan karena istilah “tembok bomber” dan “ngebom tembok” itu bikin ngeri. Sebelum “marak” teror bom di sini, istilah bom-boman tembok sudah ada. :)
