KALAU SAJA INI BISA LEBIH DISERIUSI.
Pagi yang gelap pekan lalu, karena Matahari masih di utara, sekitar pukul lima seperempat, seruas jalan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, macet. Biasa, karena mobil-mobil menurunkan anak sekolah. Sepagi itu orangtua (atau sopir) sudah terpaksa mengantar anak-anak ke sekolahnya.
Ketika hari mulai terang, kemacetan pun berganti wajah. Lalu lintas tersendat karena [...]
TENTU BUKAN RELAKAN SEMUANYA, IKHLASKANLAH…
Wadah sampah di Jalan Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu sudah karatan dan borot, tetapi dia terikat rantai. Si pemasang rantai pastilah khawatir bahwa wadah sampah akan diangkut oleh, misalnya saja, pemulung.
Siapakah yang salah? Saya hanya merasakan satu hal: rasa aman itu mahal. Apapun yang bisa diambil akan dirantai, seperti [...]

Bisa habis sepertiganya saja sudah hebat. Nasi putih, buntil, tempe, gembus, kepala bandeng . Tambah es buah. Pasti mblenger. Kalau doyan pete juga tersedia barangnya. Cerita dari jajanan lesehan di Jakarta Selatan, buka pukul 22.00-01.00. Kok pakai “titik-nol-nol”, emang tepat? Nggak. Oh ya ada sedia sayur tumpang (atau sambel tumpang?) bagi yang doyan — saya sih nggak.

Mobil terus bertambah, kapling parkir tak mengimbangi. Maka trotoar pun dipakai. Mobil ini terparkir di sebuah tikungan berlampu merah di Jakarta Selatan. Akan disebut jagoan parkir kalau menempatkan mobilnya bukan dengan mundur (pakai bantuan kaca spion dan pemberi aba pula), tetapi maju. Sisa ruang di kanan-kiri roda sudah mepet. Tetapi mau sepintar apapun parkirnya, kalau di atas trotoar itu di manakah hak pejalan kaki?

Antrean panjang ketika hari sudah malam. Yang terjadi adalah semangat coba-coba dan sekaligus ketamakan dari konsumen. Banyak orang membeli dua lusin donat bahkan lebih. Sehingga orang d belakangnya hanya dapat dua-tiga dari belasan jenis donat. Kalo soal harus antre, itulah keadilan. Adapun soal kemaruk, itu etika sosial.
Tak sedikit pegawai toko yang pulang kerja dan mengantre hanya gigit jari, padahal cuma mau beli enam buah donat.


Namanya juga daun, tidak bisa diperintah kapan boleh gugur dan kapan tidak. Maka pada pukul berapa pun trotoar di Jakarta Selatan ini selalu dihiasi daun. Padahal pada pagi buta kawasan di Jalan Ahmad Dahlan itu selalu disapu oleh petugas kebersihan. Lebih baik ada guguran daun ketimbang sampah plastik di mana-mana.
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Di mana? Bukan dalam liang bawah tanah di tengah padang rumut, melainkan di Jalan Ahmad Dahlan, Kebayoran baru, Jakarta Selatan. Tamu yang datang dan pamit selalu disambut dan dilepas dengan, “Saatnya berpelukan…”
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Cermin besar tersandar di dinding. Menjadi hiburan bagi siapa pun yang iseng kurang pekerjaan. Sebuah cerita dari halaman belakang.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tiang listrik (atau telepon karena pendek?) di halaman belakang sebuah rumah di Jakarta Selatan ini sudah tak berfungsi tetapi masih dipertahankan. Agak mengganggu memang, tetapi rasanya mewah juga punya tiang dengan kabel-kabel yang sudah terpotong. Tidak semua rumah memilikinya.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tiada aturan baku bagaimana harus duduk saat berteleponan. Juga tak ada patokan di mana pesawat harus diletakkan, yang penting penggunanya nyaman dan bahagia. Masih penting juga, lawan bicara tak melihatnya. Lawan? Oh mitra bicara di seberang sana.
© Foto: saya
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.