Teman-teman, saya minta maaf posting Jacko hilang. Entah apa sebabnya, baru saya ketahui beberapa belasan menit yang lalu. Yang mengganggu adalah hilangnya komentar Anda. Misalkan posting itu hilang dan belum dikomentari, mungkin bisa saya relakan karena hanya karya saya yang lenyap, bukan komentar yang merupakan bukti perhatian, yang bagaimana pun juga karya.
Saat ini saya sedang [...]
Padha waé. Yèn nganggo basa Indonesia ya ojèk. Yen nganggo basa Jawa ya ojèg. Iku kaya déné “gerobak” (Indonesia) lan “g[e]robag” (Jawa). Ewa semono, basa Indonesia ngakoni “gudeg“, dudu “gudek”. Anèhé, ora sathithik wong Jawa kang nulis “gudeg”, dudu “gudheg”. Tegesé wong Jawa wis mèlu basa Indonesia. Kepriyé miturut panemuné para sutresna?
Oh ya, bab ojèk, iku sangertiku asalé saka Jakarta, sautamané ing Kota (pecinan) lan Tanjungpriok. Biyèn isih awujud pit utawa sepedha onthèl amarga pit montor isih arang tur larang.
Ini kabarnya rokok dari tim sukses salah satu capres. Saya tak menyebutkan nama karena belum membuktikan. Memang sih si pemberi mengaku kepada saya bahwa dia mendapatkan “rokok jamu” ini dari pendukung salah satu kandidat, tetapi bisa saja itu cuma rokok traktiran. Apakah rokok cukup mendidik, itu wewenang Anda untuk menjawab.

Tentang merek, ehm… boleh juga: Kesra. Masihkah kata ini sakti? Cukup kuatkah sebagai brand? Mungkin tak penting. Sama tak pentingnya dengan “herbs cigarettes kretek”, dan bukan “herbal kretek cigarettes”, karena cengkeh ternyata bukan termasuk jejamuan.
Rokok gratisan juga cocok untuk orang kesrakat. Orang tak berpunya. Tentu bukan itu maksud PT MIRI, pembuatnya di Kudus sana.
Masuk? Masup? Entah. Kaos pelesetan ini saya dapat dari Hasan Aspahani, penyair yang bermukim di Batam. Dia percaya akan kata, mantera, dan makna. Maka soal bolak-balik kata bukan soal mainan, tetapi bukti terhadap kesadaran. Apa maksud yang sesungguhnya, dia lebih paham.

BERSYUKURLAH, SELALU ADA ORANG YANG BERMURAH HATI.
Seusai rapat dengan beberapa eksekutif BUMN, seorang kawan, sebagai orang luar, dihampiri salah satu manajer. “Pak, usulan yang tadi disetujui itu, kalo entar udah mateng diserahin ke saya, ya. Biar saya nanti yang kasihkan ke para bos. Saya kan butuh credit point, Pak!” kata si manajer.
Sebuah keterusterangan yang [...]
KITA MENYELEKSI, TANPA PERNAH MENANYA DIRI SENDIRI.
Awal 90-an, jika Anda berfotoria di dalam mal akan dianggap kurang lumrah. Bersama keluarga berfoto di depan taman berpancur Plaza Indonesia (bukan Bunderan HI), Anda akan dikira sok turis — atau memang orang dari luar kota.
Bukan sedang merayakan ulang tahun lalu berfotoria di kedai siap saji, pakai kemera SLR [...]
KELAK DIA AKAN LEBIH MENJADI.
Seumur itu saya belum mengunyah banyak teks. Bahkan sampai sekarang pun tak banyak teks yang saya cerna. Tetapi dia tidak. Dari cara menulis, dari mencuplik saat merujuk, saya segera tahu endapan di benaknya. Gumpalan kognisi dalam dirinya terus membesar. Anak muda itu. Yang lahir ketika saya masih kuliah.
Belum lama saya mengenalnya. [...]

Sebuah piknik menyambut fajar yang menyenangkan. Dan memang piknik dalam pengertian yang benar. Kalau merujuk KBBI adalah: “bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dng membawa bekal makanan dsb.” Di Webster dan Oxford silakan Anda cari sendiri.
Pagi, sebelum pukul lima, teman-teman Batam (Joko Geblek Supriyanto, Dev Syam, dan Keqi Authorized Kampret) sudah di Circle K sebelah Hotel Mercure. Mereka harus sebisanya bangun pagi. Sama seperti saya dan Enda Nasution juga.
Sebagai tuan rumah mereka ingin buktikan kepada tetamunya tentang pesona Jembatan Barelang, penghubung pulau-pulau Batam-Rempang-Galang dan empat pulau kecil lainnya. Terbukti itu bukan hanya piknik tetapi perjalanan yang menyenangkan, termasuk napak tilas pengungsi Vietnam di Galang.

“Bloggerhood” tecermin di sana. Begitu pula di kota-kota lain. Ada kesadaran untuk memperkenalkan pesona lokal kepada orang luar, termasuk kepada rekan-rekan maya yang baru sekali itu bersua. Hal sama berlaku untuk “miliser”. Komunikasi maya pada akhirnya membentuk persaudaraan.
Jika bicara pesona lokal, dalam hal apa saja bloggers lokal akan melakukannya? Salah satunya adalah kompetisi blog oleh Batam Blogger Community (BBC) selama 1-25 April, yang hasilnya diumumkan Sabtu 13 Juni lalu (dan tanpa rencana: sekalian perayaan ultah Ismu Surizan, ketua panitia). Temanya adalah Melihat Batam Melalui Blog — dan melalui CoolJuz Cafe.
Hasilnya adalah sekitar 587 posting dari kalangan umum mahasiswa serta sekitar 217 dari kalangan pelajar. Memang, satu orang bisa menulis beberapa posting — dari kalangan pelajar, misalnya M. Haryadi Futra, sampai menghasilkan 62 posting. Sungguh sebuah gairah.
Berhasilkah upaya memperkenalkan Batam yang bukan cuma kawasan bisnis dan industri kepada orang luar? Waktu yang akan menjawabnya. Google dan pencari lain akan mencatatnya. Blogger yang kebetulan wakil walikota Batam, Ria Saptarika, akan terus berupaya.
Tentu, misalkan keseluruhan paket posting dikemas lebih ramah SEO yang pintar pun (karena beberapa aktivis BBC paham baget soal ini) tetap butuh upaya lain, tak hanya kompetisi blog. Temuan siang ini, dari 10 hasil pertama pencarian “batam” di Google (dari sekitar 5.660.000 hasil telusur), yang dari blog hanya satu, itu pun tahun 2006.

Tak ada hasil instan. Tetapi semangat memperkenalkan daerah itu yang layak diacungi jempol. Memperkenalkan aspek wisata, sejarah, tradisi, dan kuliner.
Bagi orang Batam mungkin menggelikan jika sampai hari ini ada orang terpelajar (dari luar Batam) yang menganggap Tanjungpinang ada di pulau itu. Saya sendiri jujur saja, sejak SD sampai SMA hanya tahu bahwa Tanjungpinang itu di Riau tetapi saya tak tahu di pulau apa.
Sekian lama, orang-orang di luar Riau dan Kepulauan Riau lebih tahu Tanjungpinang dan Tanjungbalai Karimun. Dan sebagian orang (tua) mengenal Galang sebagai kamp pengungsi Vietnam.
Batam? Kemudian lebih dikenal, antara lain pada masa jayanya barang-barang murah di sana, bahkan pada tahun 90-an, ibu-ibu di Jawa tahu bahwa harga bawang putih (tak hanya elektronik) lebih murah di Batam.
Meskipun begitu, apa itu Otorita Batam dan apa itu Kota Batam, orang luar (menurut kesan saya) masih bingung.
Nah kemudian dari blog saya tahu bahwa Batam lebih banyak. Ada 24 resto vegetarian di sana (pelanggan lebih dari 3.000 orang). Ada kampung suku Anak Laut (cerita Menixnews dan Bambang Syahputra). Ada klub untuk “s8erboyz” Bascom. Ada cerita tentang reservoir air di pulau panas itu. Dan… ini yang menyentuh: rumah liar (ruli) yang selama ini muncul di koran-koran sebagai potret sosial. Batam bukan cuma pabrik, karaoke (dan dulu: judi), dan air api yang lebih murah daripada Pulau Jawa.
Dari kunjungan yang kali ini relatif lebih lama, saya mendapatkan kesan bahwa Batam adalah kota dengan banyak ruko. Saya belum mendapatkan data jumlah ruko untuk sekitar 950.000 penduduknya. Kelak akan muncul cerita dari sana, sebagai kelanjutan dari posting Iqbal Rois: Kota 1001 Ruko.
Foto-foto di Facebook
JANGAN-JANGAN MEREKA TAK PAHAM ANGKUTAN UMUM.
Beberapa hari belakangan ini terus muncul keluhan pengguna angkutan umum: bepergian jadi tak nyaman karena kawasan Cawang, seberang kampus UKI, “ditertibkan”. Terminal bayangan, untuk kesekian kalinya, digebah. Bus AKAP tidak boleh berhenti di sana. Dan seterusnya.
Sumber kekusutan adalah perencanaan kota. Para tuan birokrat sepertinya pura-pura tidak tahu bahwa [...]
Ini kaos hadiah. Oleh-oleh dari liburan di negeri jiran. Isinya edukatif. Menjelaskan cara kerja mesin bernama komputer. Lantas output atau keluarannya apa? Ah pantasnya kaos ini jadi bonus untuk pendaftar kursus komputer bagi pemula.
