Siapa yang brewok? Si Tathoon. Apa itu tathoon? Itu penulisan bergaya untuk “thathun”. Apa artinya, orang Yogya lebih tahu. Anehnya mobil ini berpelat B, bukan AB, dan hanya ngider di Jabodetabek.

Bloggers itu paling suka kopi darat. Naik apa? Ya penyu darat. Kenapa penyu, bukan buaya? Kalau buaya banyak pesaingnya. Aneh, gak nyambung. Biarin.

Ini cerita dari Solo. Namanya juga strategi sehingga para pengguna jalan tak tahu ada apa di balik strategi dalam bak truk itu. Mungkin calon wali kota Solo, Kanjeng Ngabehi Blontank ingkang Mbois lebih tahu. Maklumlah dia itu sakti mandragade.
Cuma kerupuk biasa, yang dibungkus plastik, isinya banyak (sepuluh?), tetapi diberi label. Ada sedia di beberapa warung dan pasar di Jakarta Selatan dan selatan Jakarta. Rasa udangnya? Bergantung pada kepekaan lidah konsumen.
)
Mereknya sungguh meneduhkan: Cinta Damai. Padahal kalau dimakan menimbulkan kegaduhan di rongga mulut. Saat ruangan sepi, kemriuk krupuk bisa terdengar oleh orang lain sejauh lima meter.

Maka terbukti sudah bahwa yang riuh, dan kadang gaduh, tidak mesti dekat dengan kekacauan. Krupuk dan penggemar krupuk tetap cinta damai. Ketika harga-harga naik, sehingga harga kerupuk juga naik (tetapi ukurannya kadang terpaksa mengecil), penggemar kerupuk tak perlu demo sampai gerbang gedung DPR, tak perlu merapat ke pagar kantor presiden. Penggemar kerupuk suka mengeluh, tetapi ya itu tadi, tetap Cinta Damai.

Mau awan ana sawijining blogger kemayu kang kangsènan karo tukang jahit keliling. Sakjané mono duduk tukang jahit kang bisa yasa busana apa waé kanthi apik lan wangun asilé, ananging mung sadrema mermak. Iya, tukang permak — saka basa Landa vermaak.
Sadurungé, nalika mulih menyang pondhokané, ing Gandaria Tengah, Jakarta Kidul, kenya siji kang aslinés aka Ngayogyakarta iku wis ketemu tukang permak, ananging dhèwèké nembé kemrungsung amarga akèh urusan.
Banjur kenya iku nemu akal: kangsènan ketemu ing kantor dagdigdug.com, Langsat, kra-kira 700 meter saka pondhokané. Sidané tukang permak iku teka. Banjur dhèwèké langsung nggarap kathok dawané si kenya wagu iku.
Mung mbayar limang nem èwu rupiyah, kathok dawa kang kaaran blue jeans cap Mango iku banjur dikethok. Tuju rahayu ora jégrang utawa jonjing ndhèk sisih.
Bareng wis dadi, kathok iku langsung dienggo pethakilan mènthèl kemayu mideringrat, malah “kopdar” karo bloggers liyané.
Sadurungé kathok rampung dijahit, bocah iku diajak lunga déning Ki Ageng Mbarep, ananging dhasar ya bocah, dhèwèké mangsuli, “Nanti dulu to, itu celanaku lagi dijahit di depan, jé!” Lha Ki Ageng banjur gumujeng kemekelen karo gèdhèk-gèdhèk kok sajak kaya tobat amarga dhahar soto babat campur kawat.
Sajroning blue jeans dipermak, mesthi waé kenya iku tetep kathokan. Lha kok nganti dipermak barang? Karang ya awaké cilik, saben tuku kathok dawa mesthi kedawan. Tujuné ana “tukang permak lèpis”.
Para sutresna, coba to dibedhèk, sapa to blogger siji mau iku?

Ada kawan yang ragu ngeblog karena, “Saya nggak intelek. Nggak bisa nulis yang keren, yang kutipannya sama referensinya intelek atau ilmiah, gitu. Malu jadinya.”
Oh, barangkali yang dia maksudkan adalah blog dengan isi seperti jurnal ilmiah, yang penuh catatan kaki, pakai “Ibid.” dan “Op.cit?”
Ternyata bukan. Blog intelek, menurut kawan itu, adalah yang mengutip pendapat ilmuwan, sastrawan, dan orang hebat lainnya.
“Misalnya ngutip (Karl) Marx dan Tan Malaka. Atau ngutip Woody Allen, atau Andy Warhol, atau Pram(oedya Ananta Toer) dan Goenawan Mohamad,” katanya. “Kutipan itu nunjukin kalo penulisnya banyak baca. Artinya intelek, kan?”
Aha! Saya bilang, kutipan mah bisa dicari pakai Google. “Tapi kalo saya belum baca bukunya malu juga dong. Masa sih cuma ngutip doang?” sanggahnya.
Baiklah, memabaca itu memang baik dan bermaslahat. Lantas apa lagi ukuran “intelek”?
“Anu, itu lho, pakai kata-kata yang ilmiah, yang keren, pokoknya bukan bahasa Pos Kota,” katanya. Hmmm… rada bingung saya. Maka saya pun minta contoh.
“Gini, misalnya pakai kata liyaning liyan, hermeneutika, holistik, ontologis, marginal, tepermanai…”
Aha! Bagi saya yang penting adalah kita, sebagai bloggers, nyaman dan cocok dengan pilihan kata kita dalam menulis. Syukur jika pilihan kata kita itu dipahami para pembaca karena secara semantik benar. Misalnya “konsumerisme” yang kita maksudkan adalah paham yang memperjuangkan kepentingan konsumen, dan bukan perilaku konsumtif yang berlebihan.
Selain itu ya keseluruhan tulisan dapat dipahami, tidak menimbulkan salah tafsir, dan syukur jika enak dibaca.
Kita boleh melahap banyak bacaan lalu kita serap inti pemikirannya. Itu memperkaya kita. Tanpa sadar hasil serapan kita terhadap dunia teks (tak hanya verbal berupa tulisan, tetapi juga yang auditif dan visual) bisa tecermin di blog.
Memang sih kita bisa dituduh sebagai penjiplak, yang mengaku-aku ucapan orang lain sebagai tuturan sendiri, padahal penyebabnya hanyalah semata-semata kita lupa itu ucapan siapa dan di mana, atau malah menyerapnya dari penutur kesekian. Misalnya kata-kata “perjuangan ingat melawan lupa” dan “maka hanya satu kata: lawan!” Tak apa, itu risiko. Justru bagusnya blog adalah ini: kita terbuka terhadap pengingat dan bahkan koreksi.
“Jadi kita nggak perlu pamer apa yang kita baca?” tanyanya.
Terserah. Itulah jawaban saya.
Dianggap kurang intelek pun bukan soal bagi saya karena saya memang bukan (cerdik-) cendekiawan maupun pengamat yang tumbuh seperti cendawan. Dan yang lebih penting lagi saya memang tak pernah merasa sebagai intelectueel.
“Huh mentang-mentang si anu dan si itu udah punya nama, apa aja yang mereka tulis pasti dikomentarin, dibahas. Padahal isinya ya estede gitu. Cemen,” keluh Joko Blogawanto.
Mereka itu siapa? Yang Joko maksudkan adalah beberapa bloggers yang menurutnya “sudah punya nama”. Lho, bukannya semua bloggers punya nama, baik lengkap, panggilan, maupun samaran. Uh, kriuk. Maaf.

Lain lagi keluhan Arimbi Nuliselalu: “Ah, kalo soal yang itu aku udah duluan nulis, tahun kemarin. Dicari di Google juga ketemu. Tapi kenapa yang mereka rujuk postingnya si Ngehekmehek Tebarpesonawan? Padahal punyaku lebih komplet, pake foto supaya nggak disangka hoax.”
Mereka yang dia maksudkan adalah bloggers juga, yang dia sebut fans dari si anu dan si itu.
Joko dan Arimbi mengatakan itu kepada saya pada kesempatan dan tempat yang terpisah. Keluhan yang sama, kadang dengan bersungut-sungut, juga datang dari beberapa teman bloggers.
Kesimpulannya? Ada ketidakadilan di blogosfer. Yang sering dikutip dan ditaut oleh beberapa bloggers hanyalah bloggers tertentu. Penyanyi menjadi lebih penting daripada lagunya, padahal cara menyanyikannya — menurut para pengeluh — nggak oke-oke amat.
Itu pun masih ditambahi kuah dan sedikit sambal, “Padahal orang-orang itu postingnya jarang, paling sebulan cuma tiga kali. Udah gitu mereka jarang datengin blog lain apalagi ninggalin komen. Bilangnya sih baca banyak blog di RSS reader. Ya gitu, deh. Biasa…”
Akan menjengkelkan jika saya menyahut bahwa itu cuma persoalan minta perhatian dari blogosfer tetapi tak mendapatkan.
Apa boleh bikin, kehidupan dunia maya kadang mencerminkan sebagian dari kehidupan nyata. Ada pilih kasih, ada suka tak suka, ada keinginan untuk diakui dan tenar, dan seterusnya. Itu semua bisa berimpit maupun terpisah dengan alasan ngeblog sebagai “pokoknya ngeblog, pokoknya nulis, yang komen dikit juga nggak masalah”.
Jumlah blog terus berbiak. Demikian pula layanan penampung tulisan, misalnya di layanan jejaring sosial. Maka dunia maya pun kian riuh. Belantara teks semakin rimbun.
Seorang teman mengeluh, “Sebagai pendatang baru aku nggak dianggep. Akibatnya yang penting bukan harus rajin posting tapi justru rajin komen di blog yang rame supaya dikenal.”
Memang saya pernah mengatakan bahwa beberapa pemain di blogosfer itu diuntungkan oleh waktu, karena mereka start lebih awal ketika blogosfer belum riuh. Akan tetapi dari jejalan blog baru itu ada saja yang cepat mencuat, padahal mereka tak berlebihan mempromosikan diri, bahkan sebagian tak peduli SEO.
Di mana saja rahasianya, saya malah tak dapat memastikan. Mungkin isi — tetapi bloggers lain juga menulis bagus. Wajah? Beberapa tak menampilkan potret, kadang malah gambar apel atau jeruk. SEO-nya dimanfaatkan secara sadar? Tampaknya tak semua peduli SEO. Bikin tag saja semaunya. Begitu pula ketika bikin judul. Strategi branding barangkali? Sebagian tak peduli dengan itu.
Lantas apa dong? Nasib? Ini sih jawaban ngawur untuk mengakhiri diskusi. Jadi saya harap Andalah yang memberikan pencerahan kepada saya dan para pembaca.
Maka baiklah omong kosong ini saya tutup dengan pengakuan seorang sastrawan tenar (penyair-cerpenis-novelis), yang beberapa kali meraih penghargaan. Dia yang bukan blogger itu bilang, “Orang-orang itu, para pemula, nggak mau tahu kalau saya dulu mengalami tulisan saya selalu ditolak oleh redaksi dan penerbit. Bahkan sampai sekarang pun tulisan saya belum tentu langsung dimuat oleh Kompas.”
© Ilustrasi: HowStuffWorks — diambil tanpa izin

Microwave cap Electrolux jualan Golda di dagdigdug.com, dalam rangka garaga sale Mei tahun lalu, terjual seharga Rp 1,75 juta. Bagaimana dengan mukena Cinte untuk anak-anak dari Astrid di Bunga Mukena? Belum ada laporan — karena dagdigdug.com memang bukan kantor Kodim zaman dahulu, yang senang mewajibkan siapa pun melapor.
Begitulah, blog memang bisa dipakai untuk jualan. Blog menjadi etalase sederhana. Dan pengelola dagdigdug.com pun memperbolehkannya.
Untuk blogger lain, yang tidak ngeblog di layanan gratis, misalnya di domain dan hosting sendiri, ada beberapa tema WordPress yang menampilkan konten sebagai toko online.
Lho bukannya ngeblog itu soal hati, tentang menulis yang menyenangkan, dan berbagi hasil jepretan yang mengesankan mata? Kalau buat dagang, bukan ngeblog dong?
Oh tak masalah. Konten blog kan beragam. Makanya ada blog yang isinya label produk, sebagian memang berkelas jadul. Nah, label-label itu punya cerita. Bahwa labelnya tak dijual, bahkan dihibahkan kepada sebuah tim kajian grafis di sebuah sekolah seni rupa, itu soal lain.
Bagaimana kalau koleksi hasil perburuan itu dijual, seperti yang dilakukan fotografer Daniel Supriyono di blog Warung Barang Antik? Juga tak soal.
Yang penting, jika Anda ingin berjualan melalui blog, adalah tidak menipu, dan dagangan Anda tak melanggar hukum maupun aturan pakai penyedia layanan blog (bukan narkoba, bukan materi pornografis, bukan barang bajakan, bukan bom maupun petunjuk merakit bom).
Wooo… asyik dong? Memang. Tak ada yang salah dengan memanfaatkan layanan online untuk berjualan, dari blog sampai milis dan jejaring sosial. Sepanjang penyedia layanan membolehkan ya silakan saja.
Yang penting kontennya Anda susun sendiri. Maksud saya tidak asal copy-and-paste (secara manual maupun secara otomatis dengan aplikasi) sambil menyisipkan tautan yang tidak relevan, semata demi trafik dan pendapatan iklan.
Kalau yang itu sih, copy-and-paste tadi, bukan ngeblog. Cuma memanfaatkan layanan blog buat bereksperimen SEO dan meraup duit iklan, dengan cara yang sangat tega karena mengecoh orang yang tergiring oleh direktori dan mesin pencari.
Lebih menyedihkan lagi, cara macam itu telah meracuni calon bloggers bahwa “ngeblog bisa dapat banyak duit”, tetapi tanpa etos kerja selain betah melek buat online.
Jika Anda punya dagangan yang bener, nggak terlarang, bahkan mungkin titipan orang lain, pasang saja di blog. Bisa sebagai posting selingan di antara cerita patah hati dan reviu film, bisa juga ditampung dalam blog khusus.
Sudah menambah teman, eh masih menambah pendapatan pula. Enak, kan? Itulah seninya ngeblog.
Tentu Anda harus berhati-hati. Sekali Anda dianggap menipu maka ceritanya akan menyebar.
Tentu Anda tak mau dianggap menipu, karena kalau berjualan di blog umumnya orang mencantumkan nama, e-mail, dan nomor telepon. Artinya sulit untuk berlaku curang.
Itulah beda Anda dari para pembuat blog tipuan. Mereka tak ingin dikenali, cenderung hanya mau berteman dengan sesama pemain SEO hitam, untuk bertukar ilmu dan kiat.
Sama-sama mencari uang tetapi beda alasan dan cara.

Jan ana waé akal lan impèné sekabat saka Bengawan iki. Piyambaké émut (dudu emut) kenya ayu loro misuwur saka Nipong, kang kaaran Sora Aoi lan Maria Ozawa, amarga kerep nyepur Prambanan Express.
Lha sapa iku Sora Aoi (dudu putu wayahé Gajah Sora) lan Maria Ozawa alias Miyabi (ora ana hubungan nak sanak karo Isuzu Miyabi), sumangga diluru dhéwé menyang internet. Aku ora pati wanuh, ananging ya ngerti yèn kenya loro iku ndemenakaké anggoné ngupaya jiwa nggolèk pangan.
Yèn ngrembuk sepur, Jepang pancèn luwih lan linuwih. Mulané ora mung sepur, lha wong bus kota lawas waé dilungsuraké nyang rakyat Indonesia. Nalika tekané, gerbong lan bus kuwi isih karumat. Lha bareng wus sauntara mlaku, wah.., ya kurang kopen.
Apa ya angèl to sinau bab transportasi umum? Masa bisané mung sinau bab Diajeng Miyabi lan Diajeng Sora, karo mbayangaké olèh lungsuran kinyis-kinyis lan cèkli kaya déné paparingan jaman kraton?
© Foto: Guneman
Beberapa teman mulai agak bosan, atau bingung, dengan blognya. Di Facebook, meski merasa sebagai orang baru, mereka justru lebih nyaman mengisi Notes. Salah satu alasan, kata seseorang, “Di sana jelas, siapa saja yang kita tuju dan siapa saja yang bakal memberi respon.”
Rasa nyaman itu muncul karena mereka merasa menulis untuk teman sendiri. Seperti menulis surat terbuka untuk kalangan terbatas. Yah, rada mirip di milis. Bedanya, di milis seringkali tak mungkin menulis panjang, mirip artikel, karena bisa disangka akan mendominasi.
Oh, menulis surat! Itu pula yang dilakukan beberapa kawan dengan Facebook-nya. Mereka mengirim pesan ke sejumlah kawan untuk mendiskusikan sejumlah hal yang menurut mereka cocok.
Berbagi pengalaman dan lamunan memang hanya lancar jika kita nyaman. Rasa nyaman muncul jika kita merasa memercayai dan dipercayai kawan, setidaknya untuk hal tertentu. Bahwa ternyata saat membaca tulisan kita itu ternyata satu-dua teman sedang tidak mood, itu lain soal.
Bagaimana dengan posting di blog? Dapatkah diperlakukan seringan menulis surat dan Notes di Facebook?
Anda yang lebih tahu jawabannya. Dan saya tahu sebagian dari Anda menulis blog selayaknya menulis surat, padahal Anda belum tentu mengenal pribadi pembaca Anda, apalagi dekat.
Memang sih, boleh jadi ketika menulis Anda tak merasa sedang menulis surat. Akan tetapi Anda merasa sedang bercakap, secara searah, dengan orang lain. Mirip ceramah, memang. Tak apa. Yang penting sudah menulis hal yang boleh diketahui orang lain. Itu akan mengentengkan beban benak.
Terima kasih Anda telah membaca ceramah saya. Salam untuk tetangga sebelah.
NB:
Apakah orang yang menulis dalam kungkungan dan keterbatasan juga bisa disebut “tanpa beban”?
© Ilustrasi: Lone Inmate at San Quentin Prison Writing Letter in Mess Hall (Charles E. Steinheimer), allposter.com