Ana sawijining prawira kang biyèn naté nyulik lan nyiksa warga. Mbok manawa wis wataking panjenengané sing karepé njaluk menangé dhéwé, rumangsa bener terus, eh kok sakndilalah brangasan ora sabaran. Iku kaya déné urip bebrayan dipadhakaké tangsi. Brak-bruk, bak-buk, pithes kana pithe kéné.
Ana manèh proyagung kang lagaké alus ananging sakjané ya kejem, yèn perlu ngurbanaké anak buahé amarga piyambaké ora seneng tanggung jawab. Rakyat padha congkrah ya sakarepmu, salahmu dhéwé kenapa gampang diadu kaya jangkrik – kira-kira mangkono panemuné. Jan sawiyah-wiyah temenan.
Apa para sutresna karsa yèn kapimpin déning para candhikala iku? Kojur tenan Indonesia iki.
Dia, si centil mènthel ganjen tapi lucu itu, adalah blogger tenar. Beberapa kali blognya yang berdomain sendiri itu macet karena trafik kelewat tinggi. Pengunjung membanjir, dan komentar pun datang tak terkira untuk setiap postingnya.
“Blogmu laku, Nduk. Pasangi iklan saja,” kata saya sok menasihati.
“Wah, bisa ya? Gimana caranya?”
Ini jawaban ngeselin. Sok rendah hati. Dia sebetulnya sudah tahu Adsense dan sejenisnya. Bahkan untuk iklan direct placement dia tinggal pasang.
“Tapi aku nggak mikir itu hé, Paman,” katanya.
Bukan pertama kali saya menganjurkan beberapa teman menyediakan kapling iklan berbayar di blognya. Alasan saya, salah satunya, untuk mengongkosi hosting.
Alasan lain? Mereka memang layak menyediakan kapling iklan karena blognya ramai pengunjung. Ramai karena isinya memang layak baca. Layak baca karena memang sangat subjektif, ditulis dengan hati.
Saya sebut dengan hati karena mereka menulis apa yang ingin mereka tulis. Bukan menulis apa yang lagi laris dan bakal terendus dengan cepat oleh mesin pencari dengan isi yang asal-asalan bahkan cenderung mengecoh.
Sebagai bloggers yang menulis dengan hati mereka layak mendapatkan manfaat ekonomis dari kegiatannya. Mereka berhak memetik hasil dari upaya meng-SEO-kan blognya karena diimbangi oleh konten yang tidak asal-asalan.
Menulis memang bukan soal gampang. Kalau itu gampang maka setiap orang akan melakukannya, tak perlu asal copy-and-paste dengan dalih berbagi.
Sederhana, bukan? Ah tidak juga. Ada yang punya cara lebih sederhana tapi diyakini lebih smart: lakukan semua trik SEO lantas isinya bisa apa saja. Yang penting bukan ngeblog tetapi memanfaatkan mesin blog, lagi pula pelakunya tak ingin disebut sebagai blogger.
Meskipun begitu saya akan menolak keras jika ada yang menyebut mereka itu kaum santai yang tak mau bekerja keras. Beternak sejumlah halaman blog semu, bahkan sekian domain pengecoh, tetap membutuhkan pemantauan, kadang dari tengah malam nan sepi hingga saat anak tetangga berangkat sekolah.
Dunia blog kian sesak. Pemain baru terus bertambah, sehingga yang terjadi pada bloggers tertentu sebetulnya perebutan respon. Bahasa kasarnya: rebutan popularitas. Bagaimana bisa disebut berbagi gagasan dan pengalaman jika ternyata tak ada yang baca?
Justru di sinilah bloggers perlu berguru kepada para pemanfaat mesin blog yang pintar mengulik SEO. Buat apa? Supaya kerja kerasnya untuk mendapatkan respon akhirnya berbuah: blognya dikenal, isinya ditanggapi, trafik meninggi, dan layak dipasangi iklan.
Kerja keras? Iya, yang dilakukan dengan hati, karena penulisan sebuah paragraf bisa menuntut waktu hingga 15 menit, semata agar tulisannya bisa dipahami — dan syukur bila disukai — oleh orang lain.
Bagaimana kalau mereka tetap ogah menerima iklan, karena tetap larut dalam romantisisme lawas bahwa ngeblog bukan untum cari duit? Itu soal pilihan.
Ngeblog pastilah menggunakan mesin blog –– tetapi tidak sebaliknya.
© Ilustrasi: mediabistro.com
Gawéyan kok ora ndang bar. Banjur ana sawijining kanca kang nilpun, “Mbutgé terus, ha njuk hasilé apa? Mbok kuwi nggawé blog sing ngasilké dhuwit!”
Aku banjur takon kepiyé carané. “Gampang, pokoké ana ilmuné. Kowé ora perlu nulis sig sok keminter nganggo mikir. Ngéné lho carané…”
Wah anèh temanan. Ngeblog kok ora nulis. Mung njupuk darbèné leliyan banjur plak-plek dipasang ing blogé dhéwé. Sing penting ana iklané. Kanggo narik wong supaya teka (durung mesthi maca) kudu nganggo ngèlmu aji nggiring leliyan, yèn perlu nganggo ngapusi barang. Pokoké piyé carané supaya kapacak ing Google banjur ana wong keblusuk.
Ana manèh cara kang luwih digdaya, mbutuhaké pokok utawa modal. Tuku domain nyang sawijining toko domain, ananging domain iku ora diisi blog lan sapanunggalané. Mung diisi iklan kang bisa digonta-ganti déning mesin.
“Kaya ngono kuwi sing jenengé ngeblog secara cerdas. Nggo apa nulis keminter, kakèhan mikir, ning ara ngasilké dhuwit?” mengkono kancaku micara.
“Lho yèn tulisané ndemenakaké, akèh sing mampir, mesthiné waé bisa dipasangi iklan sing mayokaké dagangan to?”
“Kuwi cara kuna! Ndésa! Kamso! Saiki jamané praktis. Ra sah kangèlan!”
Oh aku pancèn ndésani. Kamso. Nasib.
“Ada nggak sih undang-undang atau peraturan untuk wartawan yang ngeblog?” tanya seorang ibu tadi siang. Dia seorang blogger dan pelaku komunikasi pemasaran.
Lantas dia contohkan sejumlah hal. Misalnya saja, tulisan seorang reporter yang dimuat korannya itu “positif” (secara implisit merekomendasikan sebuah produk), tetapi yang dimuat blognya “negatif” (secara eksplisit menonjolkan kekurangan produk).
Menurut ibu itu, sang pewarta beralasan, “Yang dimuat di koran sudah diedit atasan, nah yang lengkap sesuai kata hati ada di blog saya.”
Bagi vendor dan penasihat komunikasinya, soal seperti ini mengesalkan. Perencanaan komunikasi mereka bisa berantakan.
Kepada ibu itu saya mencontohkan hal lain, yang dilakukan oleh jurnalis lain yang punya blog pribadi (bukan blog dinas). Isi blog pribadinya itu tak hanya pengalaman dan opini pribadi, melainkan juga copy-and-paste dari beberapa tulisannya di koran.
Jika menyangkut sumber berita, apakah posting dobel itu mengesalkan, apalagi kalau terbukti bahwa penggandaan itu memperluas peredaran konten (positif)?
Umumnya produsen, orang public relations, dan pejabat, menyukai publisitas yang luas. Tak rugi mengongkosi jamuan makan, hotel dan tiket pesawat — misalkan dalam peliputan terundang. Minimal tak rugi waktu telah merelakan diri diinterviu.
Dua kaki di dua wilayah
Bagaimana dengan pembaca setia blog tersebut? Sebagai “pelanggan”, bisa saja mereka kesal karena dilolohi tulisan yang merupakan produk sebuah lembaga penerbitan. Bukan tulisan pribadi, begitulah. Masih terasa sebagai tulisan orang yang terlembagakan.
Akan tetapi bisa juga pelanggan lain malah merasa dipermudah, serasa melakukan one stop shopping. Sekali kunjung blog dapat semua tulisan.
Jadi, gimana dong baiknya? Yang baik dan buruk, serta benar dan salah, kita diskusikan nanti. Kalau “gimana dong” enaknya?”, saya punya pandangan yang semoga enak.
Baiklah saya menyodorkan misal. Taruh kata ada seorang redaktur majalah teknologi digital yang juga blogger. Isi blognya jauh berbeda dari majalahnya. Misalnya tentang pasar becek dan angkutan umum. Adapun majalahnya membahas router dan kamera video.
Kalaupun sesekali dia ngomongin soal teknologi digital dalam blognya, itu tak ada hubungan dengan laporan utama majalahnya maupun (apalagi) reviu produk di majalahnya. Misalnya tentang manfaat ponsel bagi seorang penjaja sayur gerobak untuk melayani pelanggan.
Perihal reviu produk, alasannya sederhana: pengujian produk dilakukan secara dinas, atas nama lembaga, dengan fasilitas kantor. Tidak pada tempatnya itu dimunculkan di blog pribadi, apalagi muncul lebih dini.
Dia menarik garis tegas dan itu ternyatakan dalam disklaimer. Alasannya: supaya pembaca blognya dan pembaca majalahnya, termasuk para vendor dan pengiklan, bisa memilah. Apa yang dinyatakan dalam blognya tak ada hubungan dengan majalahnya (demikian pula sebaliknya), apapun kandungan opini di dalamnya.
Dari repot sampai memperalat dan diperalat
Alasan lain pemilahan tadi, si blogger memang tak ingin merepotkan maupun direpotkan bagian iklan majalahnya.
Yang namanya urusan repot itu misalnya opini “negatif” dalam blognya tentang sebuah produk. Dengan [sic!] atau tanpa uji dengan fasilitas kantor, opini “negatif” bisa mengurungkan niat pengiklan. Gara-gara satu orang ngoceh, kantornya kena getah. Bagian iklan akan menyumpah serapah.
Itulah sebabnya dia tak membuat penghakiman terhadap produk apapun yang bakal bersinggungan dengan majalahnya.
Bagaimana kalau isi blognya kebetulan “positif”, sehingga vendor dan penasihat komunikasinya girang?
Inilah yang diprasangkakan si blogger: orang iklan akan menggunakan blognya untuk merayu pengiklan, bila perlu dijadikan bundel paket (tapi tak ada dalam kontrak). Bikin repot karena diperalat.:) Jadi lebih baik tak membahas produk.
Godaan memang banyak. Si blogger yang jurnalis itu bisa memperalat majalahnya untuk kepentingan blognya.
Misalkan saja, karena hubungan yang baik dengan vendor, dia minta dipasangi iklan untuk blognya, atau minta dipinjami barang atas nama reviu di blog dan majalah, atau minta ditaja (misalnya berupa door prize) ketika si blogger bikin kopdar.
Jika vendor dan produk yang dia mainkan itu merupakan incaran orang iklan di majalahnya, bisa-bisa dia menambah seteru di kalangan internal. Pihak yang berpotensi dirugikan merasa peluangnya dibajak rekan sendiri. Jadi? Lebih baik tak ada urusan begituan. Blog ya blog. Majalah ya majalah.
Soal HAM, kenyamanan kota, politik…
Paparan contoh tadi sepintas simpel. Lantas bagaimana dengan liputan perihal kasus pelanggaran HAM — bukan liputan terundang ke pabrik mobil di Jepang atau ke galangan kapal di Eropa — tapi muncul di sebuah blog wartawan?
Dikarenakan komitmennya terhadap HAM, bisa saja seorang reporter membuat dua tulisan untuk korannya dan untuk blog pribadinya. Isinya berbeda, tetapi salah satu lebih lengkap.
Hal sama berlaku untuk reporter desk kota sebuah koran yang juga gatal mempersoalkan tata kota dan pelayanan pemkot di blognya. Di koran kritis, di blog gatal. Kemasan berbeda, tapi intinya sama.
Nah, bagaimana enaknya untuk kasus ini, saya mengajak Anda bertukar pikiran.
Blog sebagai penerbitan pribadi
Sebelum ada blog, ladang jurnalis memang hanya di medianya. Memang sih sesekali mereka menyampaikan pikirannya di seminar, ruang kuliah, dan jurnal — tetapi itu tak saban hari.
Hanya dalam situsi represif, sehingga kebebasan arus informasi terhambat, maka jurnalis bisa memperluas lapangan ke media bawah tanah. Di koran dan majalahnya mereka menulis manis dan aman, tetapi di media gelap mereka bersaksi lebih banyak — disertai risiko keamanan pribadi dan keluarganya.
Kemudian internet tumbuh dan mengenal pengayaan bentuk. Akhirnya setiap orang bisa punya penerbitan pribadi yang bernama blog. Dalam setiap orang itu termasuk pula wartawan. Artinya wartawan yang blogger (seperti) bekerja untuk dua media (yang berbeda).
Sebagai karyawan dari perusahaan media, para wartawan diikat oleh peraturan perusahaan serta standar dan etika kerja profesional, baik dari internal redaksi maupun korps profesi. Beberapa persinggungan urusan peliputan dan blog pribadi mungkin bisa merujuk ke sana.
Selebihnya ya merujuk kepada kepantasan yang antara lain dibentuk oleh khalayak. Termasuk dalam khalayak adalah narasumber dan pembaca koran/majalahnya (cetak maupun online) serta pembaca blognya.
Pembaca blog yang akan menimbang manakah posting uring-uringan penuh kesewenangan, mana pula posting yang sangat partisan jika menyangkut politik, dan manakah posting yang terasa bau advertorialnya jika menyangkut uang. Justru karena blog pribadi adalah penerbitan milik sendiri…
© Ilustrasi: modifikasi dari Typewriter oleh John Olsen (dclips.fundraw.com)
“Ada nggak sih undang-undang atau peraturan untuk wartawan yang ngeblog?” tanya seorang ibu tadi siang. Dia seorang blogger dan pelaku
“Nanti kalo wis pensiun aku mau jadi penulis. Ha, mulai sekarang aku kudu belajar. Tapi piye carane?” kata seorang kawan. Padahal pensiunnya masih sepuluh tahun lagi.
“Maksudmu jadi kolumnis? Nulis di koran?” tanya saya. Dia mengangguk mantap. Lantas dia menyeruput tehnya, di angkringan di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, tiga pekan lalu.
Dengan jumawa bin pongah saya bilang, “Lupakan itu. Ndak usah.”
Tentu saja dia bingung. Sejak kuliah dia ingin menjadi penulis. Setelah bekerja di Pemkot dia sempat berurusan dengan naskah. “Lha kalo ndak nulis di koran, aku mau apa?”
Saya bilang manfaatkanlah blog. Kalau malas bikin blog, jadikan saja Notes di Facebook-nya sebagai ladang untuk menulis.
“Mulai kapan enaknya, Dab?”
“Kemarin. Atau sebelumnya.”
Memang menulis di blog tak akan mendapatkan honor, kecuali ada yang mensponsori. Tapi yang penting, menulis di blog itu merdeka, pemuatan naskah tak perlu bergantung pada editor.
Menulis di koran? Artikel harus antre, kecuali kalau tulisan itu adalah pesanan redaksi. Di koran cetak, penulis tak akan langsung mengetahui tanggapan pembaca, bahkan tak tahu persis berapa jumlah pembacanya.
Di blog, penulisnya akan mendapatkan tanggapan langsung (jika ada yang bersedekah komentar), tahu jumlah pembaca (kalau memasang pencatat), dan bisa mendapatkan kawan baru. Sial-sialnya, yang menjadi pembaca yang kaum sebaya, karena diikat oleh cohort yang sama.
Ya, ya, ya, ya. Kawan saya mulai tertarik.
Ehm. Saya akui ini bukan ceramah pertama kali secara tatap muka. Juga saya akui sebagian tak membuahkan hasil padahal korban sudah membuat akun di layanan blog. Banyak sebab, banyak kilah. Ngeblog memang susah.
Salah satu sebab adalah ketika mulai nginternet: pasangan seringkali merasa tak ditemani. Seperti halnya buku, internet adalah dunia diam. Anteng di fisik tapi berkecamuk di benak. Orang lain tak mudah dilibatkan seperti halnya menonton TV.
Bedanya, internet itu melebihi buku dan majalah. Ada interaksi di sana, bisa lebih dari seorang. Maka berbagialah kaum sepuh yang sejak awal tak pernah dihalangi pasangan untuk membaca buku, menikmati musik, dan aktivitas pribadi lainnya. Online hanyalah babak kelanjutan.
Seorang kawan bercerita, jikalau dia mancing seharian, atau bersepeda, atau mengurusi ikan dan burung sendirian, itu tak pernah dipersoalkan oleh istrinya.
“Tapi kalo baca atau online sendirian, katanya bikin orang lain kesepian. Lebih baik suami pergi daripada di rumah tapi asyik dengan diri sendiri,” keluhnya.
Saya pun berpikir satu hal. Menjadikan internet sebagai aktivitas hari tua rupanya memerlukan “penyuluhan” (aha, pakai istlah jadul sekalian). Tak hanya bagi seorang suami atau istri, tetapi juga pasangannya.
Jejaring sosial semacam Facebook bisa membantu mereka merasakan senangnya berinternet. Bisa ketemu kawan lama. Juga bersua pacar lama — tapi sudah sama-sama sepuh dan bercucu, tak ada alasan pasangan untuk cemburu. Sekadar catatan, pengguna baru Facebook matang di beberapa negara memang tumbuh cepat, melebihi remaja (misalnya data di sinii).
Lebih dari itu, layanan internet bisa dipakai untuk berbagi cerita dan pengalaman, setidaknya untuk cucu, bahkan kontennya bisa diwariskan. Dan yang lebih penting lagi, karena aktivitas itu bisa mengerem kepikunan.
Lantas siapa yang akan mengajari kaum sepuh itu? Bloggers belia dan bloggers (rada) tua, mestinya.
Ada saran?
© Gambar asli untuk ilustrasi: Lions Recycle for Sight
Ing atasé kampanye wus gumelar ing ngendi-endi, nyatané isih akèh kang bingung arep nyéntang apa lan sapa. Apa iku ateges partai. Lha yèn sapa iku ateges caleg.
Lho apa bisa dipethal-pethal – endi badan (partai), endi uwong (caleg) — kaya déné dhahar pithing? Ora.
Yèn aku kepareng ngerti, kira-kira para sutresna mengko bakal nyenthang eh nyontrèng apa ora?
Kagem kang nyénthang, apa alasan panjenengan. Kagem kang golput apa sajané kersané panjenengan.