
Dari Gresik Anang datang ke Solo bersama rombongan. Tentu Anang the living legend tak memakai jas cokelat yang menjadi bagian dari ikon dirinya di blogosfer.
Sabtu malam itu, dalam peluncuran Bengawan pekan lalu di Loji Gandrung, Anang datang dengan kemeja merah jambu. Ketika diajak menyanyi oleh Sita dari Cah Andong Yogya dia tampak malu-malu. Keesokan siangnya, pada Ahad yang sumuk, Anang sudah berbandana, duduk di jok kiri depan mobil, kembali ke asal, dan semoga akan dijemput oleh hari-hari baru.
Tak hanya Anang dan rombongan Gresik. Teman dari kota lain, baik sebagai pribadi maupun duta komunitas, juga datang ke Solo. Misalnya Ponorogo (datang bermotor), Surabaya, Semarang, Jakarta, Purworejo…
Itulah kopdar. Kopi darat (dari “copy darat”). Lintas-komunitas. Mirip bus AKAP: antarkota antarprovinsi. Temu tampang bloggers dari sejumlah titik.
Bila ditilik dari sudut pandang gaul sosial, itu biasa saja. Penggemar perkutut (dengan maupun tanpa milis) melakukannya. Penggemar motor bebek cap Honda juga. Membentuk paguyuban lalu bersilaturahmi dengan kepesertaan yang besar.
Maka pertanyaan kita adalah buat apa sih komunitas blogger, dari yang berbasis geografis sampai keagamaan? Orang komunitas punya beragam jawaban. Salah satu yang default, dalam bahasa saya, adalah supaya saling kenal dan tahu.
Setelah itu? Ada yang merasa cukup bila dapat melakukan perjumpaan berkala. Ada yang merasa itu tak cukup, sehingga melakukan serangkaian kegiatan, dari yang berhubungan langsung dengan blog (mengajari orang ngeblog atau bertukar kiat dalam SEO) sampai yang tidak (misalnya membersihkan pantai atau jalan bareng ke museum). Ada pula yang menghasilkan web, bukan agregator, yang bertema khusus.
Selain itu? Entah. Terserah.
Iya, terserah. Karena itu terpulang kepada masing-masing komunitas. Juga terpulang kepada setiap komunitas apakah akan terus bergantung pada motor tertentu (pentolan, gegedug, tokoh) atau mencoba menghidupkan pengaderan sehingga setiap orang akan siap menjalankan kendaraan.
Sampai di situ urusannya bukan lagi layanan teknologi digital. Itu soal kemasyarakatan yang melekati setiap kelompok manusia. Internet hanya menjadi alat. Tetapi dalam kasus komunitas blogger, internet bukan sekadar alat. Kalau tidak ngeblog bagaimana bisa bikin wadah blogger kan?
Tak penting, kata Anda. Yang penting bergaul, dan jumlah maupun frekuensi posting bukanlah syarat keanggotaan. Itu juga betul bahkan benar. Gitu aja kok repot.
Juga betul jika seorang blogger memilih tak terkandangi oleh komunitas mana pun. Komunikasi dengan manusia lain cukup dilakukan via internet dan kopdar terbatas nan privat.
Ujung-ujungnya memang manfaat. Merasa gayeng, itu juga manfaat.
Lantas manfaat bagi kalangan eksternal? Tugas suci dan pertama-tama setiap komunitas adalah mengurusi diri sendiri. Setelah itu baru orang lain.
Maaf, saya tak bermaksud berjawa-jawa secara berlebihan dengan mengabaikan keragaman. Tanpa berjawa-jawa pun saya tetap Antyo Rentjoko yang orang Jawa. Tepatnya: Jawa nanggung.
Bacalah ini:
“Ganep sewulan, Nyonyah Limbuk kaya wong mabuk. Sapa wae kang nyedhak disepak, sing ngajak ngguyu malah disatru. Pikirane buneg, atine sumpeg. Rina-wengi tansah mikirake nasib putrine sawiji, Konyil, kang nembe njago lurah ing Desa Alasbrukut.”
Terjemahan ada di catatan kaki.*
Di sini saya bertanya kepada Anda yang tersebab nasib maka berstatus sebagai orang Jawa: pahamkah Anda akan teks itu?
Sekarang persoalannya saya perlebar. Misalkan Anda keturunan Minang, masih fasihkah Anda dengan bahasa leluhur? Misalkan Anda keturunan Madura, masih oneng-kah Anda acacap Madura?
Contoh lain silakan Anda tambahkan sendiri. Yang pasti lebih mudah menanyakan arti sebuah kata Sunda kepada seorang Enda Nasution daripada menanyakan sebuah arti kata Mandailing.
Ya begitulah. Saya sedang memperbincangkan bahasa daerah, tepatnya bahasa kesukuan. Kalau saya ringkas, inilah pendapat saya: bahasa-bahasa itu hanya akan bertahan jika masih fungsional.
Tentu yang saya sebut fungsional itu memberikan pemakluman bahwa yang baku akan berhadapan dengan nonbaku (kasus Jawa: kanca atau konco, apa bedanya lara dan loro?), yang asli akan bersanding dengan serapan dari bahasa Indonesia (lagi-lagi kasus Jawa: nggatèk[a]ké atau m[emp]erhatèkké, amarga/margané atau soalé?).
Seberapa fungsional juga berarti seberapa banyak yang masih membutuhkan. Dalam era blog (hahaha, mirip pembukaan pidato) persoalan ini menjadi menarik. Blog berbahasa Indonesia saja, termasuk blog saya, tak menjamin sebuah keberlangsungan apalagi blog berbahasa kesukuan.
Pada wilayah butuh itu ada kebutuhan si penulis dan pembaca. Pada tahap dasar, si penulis sekadar ingin menulis dalam bahasa sukunya, tanpa peduli ada yang menanggapi atau tidak. Pada tingkat lanjut sih bisa bermacam-macam, dari mengasah kemampuan sampai menjaring pertemanan dengan orang yang seminat.
Adapun bagi pembaca, manfaat minimumnya adalah mendapatkan selingan dalam pemanfaatan bandwidth – kemudian boleh lupa. Selebihnya adalah soal nostalgia sampai upaya belajar bahasa ibu — oh bukan, ini bahasa nenek (”bahasa pembantu” kata seorang anak) — secara “baik dan semoga benar”.
Untuk saya pribadi, blog berbahasa Jawa, begitu pula tulisan berbahasa Jawa (bukan beraksara Jawa), kadang saya perlukan sebagai selingan kecil untuk mengasah bahasa Jawa.
Saya masih bertutur secara Jawa bahkan ketika menulis dalam bahasa Indonesia. Jangan tanya logat saya. Masih kelihatan Jawanya — bahkan ketika berbahas Inggris (saya masih sering menyebut “d” dalam “drama” dengan “d” lunak). Saya tidak malu namun juga tidak bangga.
Kenapa saya menyebut diri sebagai si Jawa nanggung? Saya masih berbahasa Jawa, tapi dengan cara yang salah bahkan kadang ngawur, baik lisan maupun tertulis — malah ketika membaca teks latin berbahasa Jawa saya seringkali memperlambat tempo. Di sisi lain, dalam berbahasa Indonesia saya masih sering tersandung. Dalam berbahasa asing? Parah.
Ini berbeda dari generasi lama, katakanlah bapak saya. Ketika menjadi orang Jawa dia berbahasa Jawa baca dan tulis (kadang dia menggunakan kidung gereja dengan not balok — dua jenis informasi yang tak dapat saya cerna), bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan lebih dari satu bahasa asing (untuk mencari arti sebuah kata Sunda dia menggunakan kamus Sunda-Belanda).
Sejauh saya tangkap tak ada kegelisahan identitas dalam diri ayah saya. Semuanya persoalan biasa. Dia orang Indonesia bersuku Jawa yang hidup di zaman modern (pada masa dia hidup).
Saya poskan tulisan ini untuk menyambut Caturan Surakarta, Tumetesing Kabar, Lik Paijo, dan menyemangati Padhang Mbulan (saya pernah ikut mengisi). Untuk bahasa suku lainnya, silakan Anda contohkan di sini.
Tentu saya masih usil: masih butuhkah Anda akan blog berbahasa kesukuan (yang Anda pahami) dalam sebuah ruang bernama Indonesia? Untuk apa?
Saya ulang, ya. Untuk apa?
—
*) Terjemahan bebas: “Genap sebulan sudah, Nyonya Limbuk bak orang mabuk. Siapa pun yang mendekat akan dia sepak, yang mengajak tertawa bersama akan dia perseteru. Benaknya keruh, hatinya sumpek. Siang-malam memikirkan Konyil, putri semata wayangnya, yang sedang mencalonkan diri sebagai lurah Desa Alasbrubut.” — Sumber: Ati Gapuk Nyah Limbuk
—
Bonus: Tulisan Mas Saul