antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Archive for January, 2009


Jauh Ku Selingkuh

Jan 2009
22

Gombal betul ikrar si akang. Kalau dekat maunya nyayang, kalau jauh ngakunya kangen. Padahal… ehm… siapa tahu kan? Ah jangan suudzon. Lihat tulisan penutup ban: “utamakan sholawat”.


Belajar dari Blog Wajah Jogja

Jan 2009
13

Tapi ia khilaf karena suatu sebab. Dilanggarnya pantangan, dimamahnya nasi dan datanglah hukuman: cincin itu hilang begitu saja. “Saya hampir gila,” ujarnya.

Siapa dia? Mungkin tak penting bagi Anda. Saya pun baru tahu setelah membaca laporan Fian Khairunissa yang diposkan oleh Zen sang pejalan jauh. Dia, lelaki tua itu, adalah penjaga kuburan Taman Sari, Yogyakarta. Dia bernama Mbah Arek.

Yogyakarta bukan hanya Sultan, Suharti, Purdie E. Chandra, Nindityo Adipurnomo, Djaduk Ferianto, Tikabanget, Herman Saksono, Antobilang, dan sebut nama lain yang Anda tahu (sengaja tanpa tautan). Ngayogyakarta Hadiningrat juga ruang huni bagi Mbah Arek, Widodo si Dokter Mesin, Pak Mugi Becak, Bu Slamet Warni Juru Parkir, dan masih banyak lagi.

Mereka, yang saya sebut belakangan, adalah orang-orang biasa. Kemudian bloggers Yogya nenampilkannya. Sudah agak lama sih, mulai Oktober tahun lalu.

Januari ini saya buktikan blog keroyokan itu masih bernapas. Dan mestinya terus bernapas. Sudah termaktub dalam penjelasan:

“Dari merekalah situs ini menularkan spirit yang membuat Jogja… beda”.

Saya mengagumi semangat teman-teman. Saya, yang pernah menjadi wartawan (yang yah… cuma gitu-gitu aja), tak pernah sanggup membuat blog profil semacam itu — pun tak sanggup mengawal wiki kenthir ala Cah Andong.

Tulisan-tulisan yang pendek (tak senyinyir posting saya umumnya), bernas, tanpa meniatkan diri menjadi karya jurnalistik bernama berita kisah (features), tanpa mengibarkan slogan kultur tandingan, itu semua terasa menyentuh dan seringkali ilhami. Selain itu sentuhan personal justru memperkuat laporan. Seperti dalam penutup Mbah Arek:

“… Saya malah menemukan kembang kamboja berkelopak enam. Saya tidak tahu, adakah enam keberuntungan yang akan saya dapatkan.”

Kini yang saya rindukan adalah wajah-wajah lain, dari wilayah lain, berupa blog dengan tema lokal yang kuat dan khas, tak hanya jajanan dan tempat bersejarah tetapi juga tentang manusia-manusia penghuninya. Manusia-manusia biasa, yang hanya menjadi kode dalam registrasi kependudukan, tetapi sebagai makhluk, yang tentu berjiwa dan berkehendak, masing-masing dari mereka adalah sebuah unikum.

Konten internet di Indonesia (akan) menjadi lebih kaya justru karena diisi oleh orang-orang Indonesia dan orang-orang non-Indonesia yang bersentuhan dengan Indonesia. Dua puluh tahun lagi — oh tidak, cukup sepuluh tahun lagi, atau malah kurang — tulisan tentang orang-orang itu, sebagai bagian dari potret sosial Indonesia, akan terasa manfaatnya.

Ayolah, kawan. Siapkanlah komunitas Anda untuk menggarapnya. Rangsanglah. Paculah.


Sinoman 3: Lemari Berisi Catatan Piutang di Warung Mbah Blangkon

Jan 2009
08

Salah satu hal yang saya ingat dari warung Mbah Parto, tetangga sebelah kiri saya di Jalan Banyubiru, adalah lemarinya. Pintunya penuh coretan dan bekas coretan kapur. Daun pintu dan dinding lemari jati itu menjadi papan tulis pencatat piutang. Si A utang berapa, si B utang berapa.

Mungkin tak banyak jumlah orang yang berutang sehingga papan tulis darurat pun cukup. Tak perlu buku catatan semacam notes cap munyuk. Atau jangan-jangan Mbah Parto memakai kalender sebagai buku catatan, karena kalender lawas milik saya juga mengingatkan saya kepada Mbah Parto?

read more


Sinoman 2: Jika Ada Sumur di Halaman Bolehlah Mampir Kencing

Jan 2009
08

Rumah saya di Jalan Banyubiru 57 itu (selama 1964-1969) memiliki sumur di halaman samping. Hampir saban hari ada saja pelintas, semuanya perempuan, yang memanfaatkannya untuk numpang pipis. Datang ke sumur, menyisingkan jarik (kain batik), membungkuk atau jongkok, lalu juezzzzhhh… Setelah itu jarik diturunkan, lalu si pengencing berdiri, menimba air untuk membersihkan diri dan mengguyur lantai area sumur tak beratap itu.

Jadi jelaslah bahwa saya bukan pengintip pantat perempuan. Saban hari melihat ya biasa saja. Lagi pula kan masih bocah. Sudah sumurnya terbuka, di samping halaman ada gang pula. Pelintas gang kalau mau juga bisa melihat acara pipis simbok bakul itu.Para simbok atau mbakyu itu juga cuek saja.

read more


Sinoman 1: Kendi Berisi Air Minum Gratis

Jan 2009
08

Entah berapa kali sehari para pelintas menyinggahi rak kayu itu untuk meraih kendi lalu menenggak isinya. Air mentah. Dari sumur. Penyedia kendi itu adalah Mbah Parto, pemilik warung di sebelah saya di Sinoman. Adapun peminumnya adalah pelintas, sebagian besar padang, yang jalan kaki dari-dan-ke Sraten, Jombor, Bandungan, dan sekitarnya.

 

Saya tak begitu ingat, di sana hanya ada satu atau dua kendi. Yang saya ingat si Jarwo, bujang di warung itu, dua kali sehari mengisi kendi dengan air sumur. Air sumur, mentah tak dijerang, yang tampaknya sat itu diimbangi oleh kekebalan para peminum. Itu saya lihat sampai 1969 sebelum keluarga saya berpindah ke Jalan Andong (Osa Maliki).

 

read more


Akhirnya Semakin Sulit Ngumpet

Jan 2009
04

Saya tak tahu bagaimana perkembangan blog tahun 2009 ini. Ralat: bukan hanya blog tetapi juga semua layanan online yang membuat orang mau berbagi. Termasuk di dalamnya adalah jejaring sosial. Lantas apa hubungannya dengan ngumpet?

Pada awal blog menjamur, bisa saja seseorang (termasuk saya) menggunakan identitas samaran. Begitu juga sebelumnya di milis. Tetapi ketika layanan online kian kaya, karena interaksi semakin tinggi, maka penyamaran akan semakin tak berhasil. Yang tertinggal hanyalah nickname atau screen name, dan setiap orang (tepatnya: anggota komunitas, lebih khusus lagi admin) akan tahu siapa dia.

Interaksi langsung yang paling sederhana dan primitif tentu saja tatap muka dalam kopdar. Setidaknya satu orang tahu bahwa si Anu adalah Anda. Selanjutnya alam pertemanan akan menyebarkan.

Adapun bentuk lanjutannya adalah simpul interaksi yang mau tak mau harus menyertakan identitas. Misalnya dalam kontes blog. Anda jadi juara dengan nama alias, tetapi ketika harus menerima hadiah, termasuk uang, apakah Anda akan hadir ke puncak acara dengan topeng, dan memakai rekening orang lain untuk menampung uang?

Kemudian ada layanan web yang memungkinkan anggotanya berbater barang, bahkan berjual beli (misalnya kaos). Mau tak mau Anda harus menyatakan identitas bukan?

Memang ada cara berkelit. Misalnya membayar pesanan dengan setoran tunai, bukan transfer, dan itu pun meminta tolong orang lain. Tetapi ketika harus mengajukan klaim, atau urusan lainnya pokoknya ada masalah, mau tak mau Anda harus menyatakan diri.

Jangan tanya soal bergaul di jejaring sosial. Menjadi si orang lain berarti tak dikenali, dan Anda tak akan diperteman oleh siapa pun, kecuali mungkin oleh orang sama anehnya dengan Anda.

Di luar urusan kopdar dan hadiah adalah jika Anda sebagai blogger menjadi korban plagiasi. Si pencontek tak hanya mengajak Anda bermain peran “kerbau punya susu, sapi punya nama”, tetapi lebih dari itu. Dia mendapatkan uang, dan bahkan dia melakukan propganda bahwa Andalah yang mencontek.

Begitu pula misalnya jika nama alias Anda dicatut oleh orang jahat untuk menipu bahkan yang lebih jauh dari itu. Masa sih Anda tetap misterius?

Untuk membereskan soal macam ini tentu lebih mudah jika Anda menyatakan diri. Dukungan sesama bloggers bisa diharapkan, dan pengacara pun pasti lebih senang berurusan dengan orang yang bukan pahlawan bertopeng temannya Crayon Shinchan.

Nah, jika Anda memang ingin menyendiri dengan penyamaran, toh itu belum tentu merugikan orang lain, maka jangan lakukan kontak di luar urusan komentar. Jangan melakukan transaksi. Jangan mau diwawancara — apalagi mewawancarai blogger lain. Jangan menggunakan nama domain sendiri dan sewa hosting. Jangan kepincut iming-iming kiriman hadiah. Oh ya, jangan menulis (misalnya di Plurk) bahwa Anda sedang beradu punggung dengan blogger Anu di kedai kopi. Tentu jangan meminta bantuan blogger lain kota ketika Anda dalam situasi darurat di tengah perjalanan.

Kalaupun Anda ingin melakukan itu semua dalam rangka berbagi, siapkanlah asisten tersumpah (yang siap Anda sumpahi) untuk menjadi bemper. Baik bemper untuk menerima kekesalan maupun kekaguman bahkan cinta (hayah!).

Menjadi orang (sok) misterius, bahkan dalam urusan filantropis, belum tentu mudah. Apalagi jika ada hubungannya dengan pajak.

Yah, internet (untuk urusan berbagi) kian terbuka dan membuka kita. Apa boleh bikin.


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.