
Jadi, tahun depan, ya 2009 besok, Anda masih ngeblog? Tapi, tapi, ngeblog yang bagaimana? Lebih suka nge-Plurk karena ringkas? Atau memilih layanan jejaring sosial yang lebih ramai, macam Friendster dan Facebook? Manakah yang lebih bermanfaat? Atau ambil saja semuanya, tapi penyelancaran dan pengisian semua layanan bergantung pada cuaca hati dan kesemanakan lingkungan maya?
Abaikan semua pertanyaan. Tak usah mengarang jawaban. Jalani saja kehidupan online Anda sesuka hati. Dengan riang, dengan semangat, tetapi sebisanya, sesempatnya, seingatnya.
Wah, itu ngeblog tanpa fokus dong? Cuek saja.
Cuma angin-anginan dong? Biarin aja, yang penting kagak masup angin.
Kalau akhirnya semua membosankan, tinggalkan saja. Tak ada yang melarang — kecuali Anda ngeblog karena tuntutan tugas, baik tugas kantor maupun tugas sosial. Tapi yang ini pun ada jalan keluarnya. Ketika Anda mentok, limpahkanlah kepada orang lain. Bahwa tunjangan atau honor Anda akan dipotong itu soal lain.
Ehm, kurang mengasyikkan ya? Masa sih ngeblog tanpa target, tak hirau peringkat? Beda orang beda pilihan. Yang penting nyaman di hati dan syukur jika tidak membuat orang lain berang.
Saya punya cerita. Seorang kawan tak kunjung ngeblog padahal berulangkali mengaku tulisan si Anu sudah terlintas di benak sebulan sebelumnya. Tempo hari dia resah: kalau jumlah bog kian banyak, topik apa yang masih tersisa baginya. Dia juga masygul masih adakah pembaca jika dia ngeblog. Kalau pun ada pembaca, dia gamang tentang khalayak yang menjadi target: siapa, di mana, dan seterusnya.
Jawaban saya, seperti biasa, sangat gombal. Terlalu banyak menimbang hanya akan menambah kebingungan. Daripada binatang bernama kebingungan itu dipiara sendiri lebih baik dicemplungkan ke blogosfer sebagai serangkaian posting dalam blog. Orang lain tak mau ikut-ikutan mengelus? Biarkan saja. Suatu saat akan ada yang singgah karena arahan mesin pencari. Bahkan tanpa Anda urus pun si binatang bernama kebingungan dalam posting itu tampaknya tidak akan mati.
Intinya adalah selama ada kebutuhan untuk menyampaikan pesan, misalnya atas nama berbagi, maka segala layanan di internet bisa dimanfaatkan. Selain berbagi tentu kebutuhan akan dokumentasi pengalaman dan “pemikiran”.
Selanjutnya silakan baca ulang paragraf pertama sampai kelima — kalau Anda tak sayang buang waktu. Selamat tahun baru.

Sakit hati bisa lama sembuhnya. Dan rasa sakit itu bisa menular, meluas, bahkan sampai ke orang lain yang yang oleh si sakit hati diyakini sebagai sumber luka.
Siapa benar siapa salah, bagi penonton kadang membingungkan.
Itu wajar karena posisi seseorang dalam setiap kemelut akan menentukan cara pandang. Termasuk di dalamnya posisi sebagai orang luar.
Luka. Kesumat. Niat mulia untuk meluruskan yang bengkok dengan menyajikan semua aib. Semuanya bisa bercampur dalam kuali didih bernama blog.
Kuali itu bisa berkuahkan kekesalan terhadap bekas kekasih. Biasa juga kualinya berisi kuah amarah teradap bekas tempat bekerja, bekas sejawat, dan bekas juragan.
Siapa benar siapa salah butuh pembuktian.
Di luar bukti adalah siapa yang lebih kuat dan lebih cerdik. Itu pun dengan mengingat perbedaan menentukan sasaran. Pemilik kuali mungkin cukup merasa puas bila titik didih tercapai, kuahnya tumpah, lalu api dibiarkan padam, dan orang lain diharapkan takkan lupa.
Adapun si (bekas) pemilik sumber daging dan sayur isi kuah mungkin menetapkan sasaran lebih jauh. Tak cukup hanya memadamkan api dan bara melainkan juga meniriskan seluruh kuah dan menghancukan kuali itu, bila perlu menghentikan kiprah si pemasak. Jika kuasa dalam genggaman, maka olah gerak lebih leluasa. Jaringan organisasi yang berintikan perseroan berhadapan dengan perorangan.
Kemudian hukum dibawa-bawa. Polisi bertindak. Mungkin pengacara juga akan bersengketa. Pembaca blog didih kian bingung.
Siapa benar siapa salah butuh timbangan. Bandul pemberat neracanya adalah nalar dan nurani. Tetapi ini pun sulit.
Maka yang terjadi adalah perebutan opini khalayak yang berujung pada menang dan kalah dalam meyakinkan orang banyak.
Dalam perebutan itu, cara bertutur ikut menentukan. Ungkapan yang terlalu kasar dan mentah, meski sesuai kenyataan, berkemungkinan menggerogoti simpati dan dukungan. Ujung-ujungnya sebagian orang akan menganggap si pemilik kuali bermasalah dengan dirinya sendiri, lagi pula ingin mencari sensasi — padahal bukan begitu potret nyatanya. Kita pun, dalam batas tertentu, paham bahwa amarah dan dendam sering tak memberi kesempatan kepada budi bahasa.
Blog memang mengasyikkan, namun itu bisa menjadi ranjau manakala keasyikan sepihak dianggap mengganggu keasyikan orang lain.
(Layak simak: Rahasia kumpeni dalam blog)
© Foto ilustrasi: ttt.astro.su.se
Ya pilihannya cuma itu-itu saja, yang Mbak Idakirei lebih tahu. Yaitu Foto Dewi, Young (nama marga), Lauw (Lawu?), dan Jaya. Yang top ya Dewi. Selain Dewi yang terima panggilan buat motret acara keluarga adalah Hot Pasaribu. Adapun tukang foto keliling yang misuwur adalah Pak Nursin yang selalu naik motor gede entah Norton entah AJS. Sedangkan Bah Untung, saya lupa-lupa ingat apakah selain berburu pakai senapan dia juga pakai kamera.
Ehm, judul dan sekaligus pertanyaan yang aneh. Jawabannya juga berupa tanya balik: apakah mungkin?
Boleh saja kita tidak menggunakan internet dan tak peduli dengan itu. Lalu cobalah minta tolong Pak RT atau Bu Minah penjual nasi uduk untuk mencari nama kita di Google.
Jika nama kita ada dalam hasil pencarian, maka bolehlah Bang Ojek dekat portal akan berseru, “Selamat datang di rimba internet!”
Internet telah menjadi belantara teks dan belukar informasi. Halaman web bisa memuat apa saja, termasuk nama kita. Bahkan tanpa saya inginkan, seseorang memasukkan titik rumah saya pada sebuah peta online hasil foto udara (satelit). Bukan nama saya yang masuk melainkan nama anak-anak saya.
Tanpa kita inginkan, informasi tentang diri kita bisa tersimpan di internet. Menjadi ketua panitia tujuhbelasan dan dikutip di sebuah buletin fotokopian untuk warga, lalu seseorang menyalinnya ke internet, maka nama kita (bahkan tampang kita) akan tersimpan di sana.
Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin asin (bagi yang pernah ngerasain), kita tak mungkin mengelak dari internet. Bung Besar dalam cerita George Orwell (1984) menjelma sebagai sekumpulan bung kecil yang tak kita kenal.
Adakah yang berubah dari kita? Barusan seorang teman saya anjurkan masuk ke Plaxo untuk menyimpan alamat kontak dan agendanya, agar suatu kali bisa disinkronisasikan dengan komputer lain.
Memang Google dan layanan lain pun akhirnya bisa melakukan itu — tapi diskusi kami tetap soal Plaxo. Pada tahun 2000 jejaring sosial belum dikenal, sehingga tampaknya Plaxo lahir terlalu dini. Tak lebih itu hanya personal information manager versi online.
Menurut teman saya, namanya Happy, yang sekarang merasa happy karena sudah menjadikan sejumlah blognya sebagai heritages, orang-orang telah berubah. Katanya, dulu ada kecenderungan orang untuk ngumpet dari internet, tapi sekarang orang ringan saja mengumumkan kehadiran dirinya di alam maya.
Mungkin dia benar. Lihatlah segala layanan online berbasis komunitas. Keterhubungan telah menggiring kita untuk menyatakan diri, dari blogging sampai microblogging. Sulit membayangkan bahwa sepuluh tahun lalu, saat belum ada Plurk, Anda dengan enteng akan mengumumkan diri sedang ngopi sendirian sementara istri Anda ikut bertamak diri dalam pesta diskon gila-gilaan tengah malam di toserba besar.
Apakah internet telah menggelincirkan orang menjadi eksibisionis yang tak sungkan membagikan sebagian dari sisi privat kehidupannya?
Mungkin. Pernah saya baca blog, dari orang tak jelas, yang mengeluhkan perilaku istrinya. Pernah juga saya baca seorang istri, entah siapa, yang menumpahkan serial kekesalan kepada suami melalui blog. Bahkan ada blog yang memuat lalu lintas konflik seorang suami dengan bekas istrinya. Mirip “infotainment” (dalam pengertian Indonesia) tetapi ditulis sendiri oleh pria itu.
Misalkan dia tak menulis, bukan tidak mungkin blog lain yang akan membahas kehidupan rumah tangganya.
Ketika urusannya melebar ke mana-mana, termasuk blog yang membahas keburukan bekas tempat kerja dan bekas sejawat (serta bekas juragan), maka seorang kawan menghentikan niatnya untuk ngeblog. Baginya konten pribadi internet punya sisi yang menggelisahkan.
Persoalannya bukan sekadar domain dan hosting traktiran saya itu tak akan saya perpanjang melainkan soal kenyamanan bagi dia. Justru itu yang lebih wigati.
Mungkinkah dia menghindar dari internet, khususnya penerbitan pribadi yang bernama blog?
Dia penulis yang baik. Karyanya yang ilhami (inspiring) malah disalin oleh orang lain untuk sebuah blog.
Dengan segala sesal baiklah kita akui bersama bahwa kita tak dapat menghindar dari internet padahal kita mempersetankannya.
© Ilustrasi tentang Andy Warhol: tak diketahui
Ehm, judul dan sekaligus pertanyaan yang aneh. Jawabannya juga berupa tanya balik: apakah mungkin?
Boleh saja kita tidak menggunakan internet dan

Ini long weekend. Sayang tanpa hari kejepit. Ah pokoknya waktu luang tersedia. Apakah ngeblog menjadi lebih ramai? Masing-masing dari kita bisa menjawab. Bisa saja membaca atau nonton TV lebih menyenangkan. Begitu pula dengan perjalanan menikmati prei.
Nah sekarang coba tengok temuan Pitra. Bukan hal baru sih tapi tetap menarik: ngeblog terbanyak itu dari kantor! Artinya kantor tetap menjadi warnet gratis.
Empat tahun lalu blog belum sebanyak sekarang. Pemilikan laptop pun belum seramai hari ini. Sementara hotspot dan data card juga belum seriuh sekarang. Jadi kenapa sekarang kantor masih laris? Kenapa pada hari libur trafik blog cenderung turun?
Ehm, lihat dulu blogging-nya. Kalau microblogging, misalnya Plurke, apalagi yang dari gadget, malah bisa tak kenal waktu. Menulisnya mudah, ringkas, boleh disingkat-singkat, pokoknya si blogger tak perlu berlagak kolumnis — padahal sedikit yang membaca.
Masih pakai pasal “pokoknya”, microblogging itu lebih fun, tidak terlalu asosial (karena masih bisa diajak bicara orang lain), isinya pun langsung ke jantung persoalan: “Semprul_sontoloyo sedang nunggu pembagian daging kambing”.
Menulis blog pada hari libur, dengan artikel yang panjang, seringkali malah terkendala oleh keluarga. Bisa suami, bisa istri, bisa anak, bahkan tamu. Pengecualian berlaku kalau isi posting berkaitan dengan orang-orang tadi, terutama foto. Dukungan akan melebihi suara untuk caleg. Komputer akan dirubung.
Kenapa nginternet dan ngeblog di kantor tidak (terlalu) terganggu? Aha! Beda, Saudara-saudara! Beda!
Semanis apapun tampangnya, yang namanya komputer (baik desktop maupun laptop) kadung bercitrakan business machine. Sebagai “alat kerja”, pengaktifan komputer di rumah butuh penyesuaian dengan sikon — apalagi jika orang rumah kurang ramah terhadap internet. Di kantor, asal ada internet, orang tahu sama tahulah. Apalagi jika komputernya batangan: satu alat untuk satu orang.
Nah, di dalam maupun luar kantor, hari kerja maupun libur, dengan peranti genggam seperti ponsel maka urusan ngeblog (tepatnya: microblogging) relatif lebih mudah. Orang sekitar akan menganggap Anda cuma ber-SMS sambil hahahihi sendiri.
Kemarin-kemarin, dan hari ini, buka laptop apalagi desktop dianggap serius atau sok serius. Yang lebih mendasar: laptop memang lebih gede dan lebih berat dari ponsel dan pengaktifannya tak selekas ponsel. Pokoknya lebih kentara.
Hari ini dan esok makin banyak layanan internet yang mengarah ke mobile. Di sisi lain ponsel pintar pun memurah. Mungkin suatu hari akan kuat anggapan orang bahwa yang membuka laptop memang orang serius — apalagi kalau cuma buat ngeblog.
© Sumber ilustrasi selain kalender: tidak diketahui