
Lebih mahal, lebih berkelas, tipografi lebih berselera. Ini yang namanya barang dagangan berjalan, bagian dari servis, belum tentu semua orang sudi memakainya untuk kepentingan pribadi. ![]()
Percuma saya menjelaskan kepada anak-anak saya yang masih di bawah umur agar hati-hati dalam mengungkap identitas di internet. Misalnya alamat rumah. Kenapa? Lihatlah yang dilakukan oleh Depdiknas. Sungguh amat sangat mendidik nian: mengumumkan identitas 36 juta siswa, termasuk tanggal lahir dan alamat rumah. Seluruh data siswa Indonesia, sejak SD sampai SMA (sampai siang ini 36.782.605 anak) bisa diunduh sebagai berkas Excel.
Unsur “dik” dalam akronim “depdiknas” adalah “pendidikan”. Pastilah dalam lembaga itu isinya para ahli pendidikan sehingga tahu apa artinya konten yang mendidik. Termasuk dalam konten yang mendidik itu adalah privasi dan keamanan si empunya nama. Maka melalui sajian info itu saya menjadi warga yang sedang belajar memahami pendidikan. Tepatnya pendidikan versi diknas yang supercerdas.
Saya mendapatkan kabar ini dari Budi Putra. Dia sudah meneropong masalahnya di blognya dengan tajam: “Stupidity in the New Media Era“. Blogger lain, misalnya Treespotter, menulis “This is very serious and one wonders why the Ministry done it in the first place.” Adapun Fajar Jasmin menyatakannya dengan tajuk “This Could be Stopped“.
Sudah jelas kan pesan mereka? Saya tak perlu mengulanginya. Saya hanya khawatir data itu akan ditambah dengan nomor telepon semua anggota keluarga, gambar KK dan KTP orangtua, nomor rekening bank, NPWP, surat nikah, dan informasi lain yang menurut negara harus dipublikasikan.
Saya berlebihan? Maafkan kenaifan saya. Maklumlah saya bukan ahli pendidikan apalagi ahli internet.
Percuma saya menjelaskan kepada anak-anak saya yang masih di bawah umur agar hati-hati dalam mengungkap identitas di internet. Misalnya alamat
Heboh pekan lalu tentang “serangan jantung yang dialami Steve Jobs” itu sudah reda. Harga saham Apple Inc. sempat turun 5,4% karena lontaran kabar di iReport.com, situs “jurnalisme warga” (yang berslogankan “Unedited. Unfiltered. News”) milik CNN itu.
Kalau kabar bohong itu munculnya di blog utama saya tentu tak akan dipercaya, bahkan misalnya saat itu saya sedang berada di Cupertino, kota Apple di California, sekalipun. Cuma gombalan mirip igauan kenapa dihiraukan? Akan tetapi ini menyangkut nama besar media: CNN.
Mantera bernama partipasi dan kolaborasi
Begitulah yang terjadi sekarang. Blog sebagai sebuah penerbitan personal akhirnya dilirik oleh penerbit media. Partisipasi dalam penyajian informasi mulai mendapat tempat yang lebih luas dan lebih lekas melebihi apa yang bisa disediakan oleh kapling surat pembaca.
Bentuk awal partisipasi, untuk kontrol dan pengimbang, adalah penyediaan kotak komentar dalam setiap berita di koran online.
Internet telah memberikan kebaruan: respon yang cepat dari pembaca, dan jika tidak dimoderasi akan langsung terbaca oleh khalayak ramai maupun sepi, bahkan mungkin si jurnalis penulis berita tahunya belakangan. Perkecualian berlaku untuk jurnalis yang selalu bangun dari tidurnya setiap kali gadget-nya melaporkan komentar masuk pada pukul dua pagi.
Kemudian mainstream media pun menyediakan blog. Mulanya untuk orang dalam, seperti yang dimulai oleh USA Today. Urusan beginian pernah saya percandakan sebagai blog dinas yang hanya menambahi pekerjaan.
Oh, tak hanya menambahi pekerjaan melainkan juga merepotkan. Sudah menulis untuk koran atau majalah sendiri, secara by line tapi sekaligus (akan tercitrakan) sebagai cerminan haluan penerbit, eh… masih membuat kolom tambahan yang merupakan opini pribadi tapi tidak bebas juga karena blog tetap menjadi subdomain atau folder dari situs kantornya. Sudah begitu tanpa tambahan gaji pula.
Ibaratnya, (sebagian) khalayak akan membedakan pepihnugraha.com dan pepihnugraha.kompasiana.com.
Kemudian pintu partisipasi dibuka lebih lebar. Media yang punya web menampung laporan dari masyarakat, baik berupa foto, video, maupun tulisan. Atas nama kecepatan dan sekaligus kepercayaan (juga: kontrol oleh masyarakat), orang luar boleh langsung mengeposkan ceritanya.
Maka muncullah produk media hasil kolaborasi. Isi tak hanya disusun oleh editor melainkan juga diperkaya, bahkan bisa didomininasi, oleh orang luar kantor.
Editor bukan lagi si serbatahu karena pembaca, melalui internet, juga mendapatkan akses yang sama terhadap sumber informasi — sejak siaran kantor berita sampai ensiklopedia. Bahkan pembaca bisa memproduksi informasi sendiri dari pengalamannya dan sumber-sumber yang dapat diaksesnya.
Ini pun sebetulnya tak terlalu baru. Radio sudah melakukannya. Salah satu hasil di luar laporan lalu lintas adalah kesaksian pendengar saat Kerusuhan Mei ‘98 di Jakarta. Cerita via telepon yang diudarakan Radio Sonora, berdasarkan apa yang dilihat maupun didengar seseorang, menjadi warta bagi khalayak.
Baiklah, itu karena situasi darurat; informasi kadung simpang siur dan radio (waktu itu mobile internet dan microblogging belum ada) adalah media yang efektif. Serupa zaman Soeharto ketika penerbitan bawah tanah menjadi sexy karena bisa memberikan alternatif tabu di luar media ber-SIUPP, sementara media cetak impor disensor.
Adapun televisi kita, tapi masih dalam kerangka peyuntingan, sudah pernah memperkaya isi dengan video kiriman pemirsa — meniru America’s Funniest Home Videos. Kemudian yang lebih newsy dan monumental muncul: video tsunami di Metro TV.
Pada kasus video kiriman di TV, media telah memformat sebuah konteks. Video yang tertayang hadir melalui proses editorial, bukan asal tayang tanpa jadwal juragan seperti di YouTube.
Kearifan khalayak
Apakah semua yang disampaikan oleh pendengar radio, dan kemudian netters, itu faktual? Misalkan faktual, apakah sudah dengan sendirinya memenuhi kaidah jurnalistik — sejak pencarian, perolehan, sampai penyajian berita?
Di sisi lain bisa juga muncul pertanyaan: apakah laporan yang disampaikan oleh warga biasa, bukan oleh jurnalis, harus disusun menurut standar kerja jurnalistik, lengkap dengan etika profesinya? Bukankah media dan penulisnya bisa memanfaatkan kontrol oleh khalayak sebagai bagian dari “wisdom of the crowd“?
Bisa juga muncul ledekan: memangnya yang disajikan oleh jurnalis media selalu benar? Setiap media punya rubrik tidak tetap yang bernama “Ralat” — tetapi yang tak diralat belum tentu benar.
Jadi, bagaimana dong? Aha! Mari berdiskusi. Pendekatan saya terhadap masalah bisa jadi salah. Begitu pula klaim lama saya ketika awal ngeblog dengan nama asli dan domain sendiri: “Blog ini Bukan Halaman Jurnalistik“.
Soal lain masih ada. Jika terjadi kesalahan atau apapun yang berarti masalah dari sebuah komentar dan tulisan dalam blog di portal milik media, dalam batas apakah penerbit (editor) turut bertanggung jawab? Cukup dengan disklaimer?
Beberapa kali seorang jurnalis, warga Tengerang, menolak meng-update langsung sebuah blog kolaboratif yang berisi opini. Mulanya dia selalu mengirimkan naskah via e-mail ke admin. Dia beralasan, “Sesuai kelaziman dan standar media mana pun bahwa semua naskah harus melalui editor.”
Di sini, blog Kompasiana, saya menulis langsung tanpa campur tangan editor. Misalkan apa yang saya tulis itu muncul di versi cetak Kompas, pasti akan tersunting. Setidaknya kata “internet” akan menjadi “Internet” (”i” kapital).
Di sini semua langsung lolos. Sebagai itikad baik dan bentuk pertanggungjawaban, saya memasang semacam disklaimer. Yang maksimal dapat dilakukan penanggungjawab Kompasiana adalah menghapus tulisan saya, tetapi ada kemungkinan tembolok Google sudah menyalinnya.
Ada saja hal baru di internet. Atau tak baru, hanya berganti rupa? Sekadar meneruskan tembok demokrasi, yang siapa saja boleh menempelkan pamflet, dan suatu saat pemilik tembok bisa melepasnya?
Ketika blog, atau apapun namanya kelak, kian banyak sehingga internet menjadi belantara teks, maka kearifan (atau kewarasan?) kita dalam memperlakukan informasi selalu diuji. Ini mengasyikkan.
© Sumber gambar worth1000.com (contoh media kolaboratif)
Heboh pekan lalu tentang “serangan jantung yang dialami Steve Jobs” itu sudah reda. Harga saham Apple Inc. sempat turun 5,4%
Kemarin, ketika baca Kompas, saya melihat banyak air. Hari ini juga melihat air. Yang kemarin itu air muncul di The Amazing Spider-Man. Di sana Nona Lopez berendam di bak mandi sambil halo-halo, sementara di halaman sebelahnya, tapi jauh dari New York, warga Jakarta Utara kekurangan air bersih (di Blora juga). Dan di Jakarta Barat, sembilan dari 48 pengusaha binatu maupun pewarnaan jins telah menutup sumur bor mereka.
Adapun hari ini, Jakarta diwartakan butuh 13 polder untuk menyambut banjir. Berita ini menjadi susulan bagi kabar sebelumnya, bahwa Pemprov DKI akan mengeruk 12 sungai.
Apa yang sebetulnya terjadi? Tidak ada apa-apa. Anggap saja saya sedang meracau.
Saya belum pernah belajar hidrologi dan sejenisnya, tetapi setahu saya manusia di mana pun dikaruniai akal budi untuk mengelola air.
Celakanya, karena akal budi itu mewah, maka kita (tepatnya: saya) hanya memiliki sebagian kecil saja, itu pun tak saban hari. Maka saya pun malas mencari tahu ke mana air di tempat pencucian mobil itu akan disalurkan (baca: dibuang).
Dengan akal budi yang tanggung, mirip kéré munggah balé (kere naik ke dipan), saya juga bisa berendam di bathtub hotel karena merasa sudah (di)bayar(i), sayang kalau tak dimanfaatkan — maklum di rumah saya tak ada. Bahwa penduduk kampung di belakang hotel harus membeli air gerobakan, itu masalah mereka. Entahlah apakah mereka berurusan dengan T. Bone Pickens (raja air) lokal.
Saya sering melewati beberapa proyek high-rise building. Satu-dua liflet penawaran sampai ke tangan saya dan saya belum tidak memutuskan membeli karena tak ada uang. Saya sering membatin, selama dewatering (membuang air tanah untuk pancang konstruksi) dikemanakankah airnya?
Pernah saya baca berita ada kontraktor properti yang menyalurkan semburan dewatering ke warga sekitar. Pernah juga saya dengar keluhan tentang penurunan air tanah warga di sekitar proyek-proyek properti.
Kesan saya, sebagian dari kita gemar membuang air dalam pengertian harafiah. Air cucuran hujan dan air abu-abu bekas keperluan rumah tangga langsung masuk ke got. Dari got menuju kali. Dan seterusnya sampai ke laut.
Kita berlagak lupa bahwa kita berutang air kepada tanah yang menjadi bagian dari Tanah Air kita.
Terlalu panjang kalau saya deretkan semua gerundelan. Dengan segala keawaman saya hanya bisa bertanta ke mana itu “air minum” sebagai terjemahan “drinking water“?
Hanya di tempat bagus lagi mahal, misalnya sports center, kita bisa mendapatkan water tap — tapi hotel-hotel berbintang lima pun tak berani menggaransi air dari keran sehingga menyediakan dua botol air kemasan.
Untuk air langsung minum, ini memang persoalan rumit. Buka hanya soal air melainkan juga higiene perpipaan dan purifikasinya. Mungkin kita butuh waktu panjang. Tapi menurut blogger Rendy Maulana, ITB punya water tap.
Yang mestinya tak rumit apa dong kalau menyangkut air?
Coba amati, berapa banyak iklan perumahan yang tak hanya mengklaim “bebas banjir” tetapi juga “tersedia sumur resapan”?
Saya bukan ahli tata lingkungan. Tapi saya bayangkan drainase yang bagus bisa disediakan oleh setiap perumahan, bahkan perumahan RSS 21 yang halamannya sempit sekalipun. Untuk setiap empat rumah misalnya, tersedia satu sumur resapan di tengah jalan.
Kalau air berlebih, limpahannya masuk ke got. Dari got tak langsung ke kali dan seterusnya.
Selama kita bebal maka setiap kemarau akan meratap kekurangan air dan setiap musim hujan akan menyumpahi banjir.

Apa saja bisa diceritakan. Jangan takut bakal mirip dengan cerita orang lain. Kalau mirip, anggap saja kebetulan.
Bahwa seorang pembaca menemukan kemiripan cerita Anda dengan blogger lain, itu juga kebetulan. Yang mirip toh hanya peristiwanya (misalnya bertemu teman masa kecil saat mudik), bukan cara penuturan.
Apa saja bisa diceritakan bahkan ketika pengalaman dua bloggers atau lebih itu sama.
Setiap orang punya sudut pandang masing-masing dari suatu peristiwa yang dialami di tempat dan waktu yang sama. Si kakak lebih terkesan oleh ragam batik yang bertebaran pada sejumlah silaturahmi. Si adik lebih terkesan oleh variasi rasa nastar setiap kali bertamu.
Apa saja bisa diceritakan secara berbeda bahkan terhadap hal yang sama.
Sama-sama menyoroti masalah batik, si suami melamunkan usaha kecil dan menengah yang berada di balik batikisme, sementara si istri mencatat ragam motif baru yang dilihatnya (dan ditangkapnya melalui kamera ponselnya).
Apa saja bisa diceritakan secara berbeda bukan karena masing-masing ingin lain, tetapi memang lantaran minat dan kepentingan setiap orang itu berbeda.
Taruh kata cara menilik topik sama, karena dilandasi minat yang serupa, tapi hasilnya tetap berbeda karena rujukan dan cara bertutur setiap orang tidak sama.
Apa saja bisa diceritakan di blog.
Bolehkah saya tahu cerita Anda tentang perayaan dan atau libur Lebaran? Sampaikanlah di sini, bila perlu beserta URL-nya.
Sudah jamak bila sopir atau juragan mengisengi bak pikapnya. Yang ini tidak jelas apa maksudnya. Merek baru? Akronim? Pelesetan?

Lebaran hari kedua. Sore itu banyak kedai penuh. Menurut beberapa pramusaji dua-tiga kedai, banyak tamu yang berlama-lama nongkrong. Bahkan ada meja dengan dua sofa untuk empat orang yang sejak berjam-jam lalu diduki satun orang. Malah ada meja yang akan saya duduki bersama keluarga langsung diserobot sebuah keluarga dengan memalangkan kereta bayi. Ternyata mereka hanya ingin ngobrol dengan keluarga di meja sebelah sambil beristirahat. Pramusaji tak berdaya. Alhirnya kami mendapatkan tempat di kedai tetangga.

Lebaran hari kedua, tenaga yang melayani berkurang. Banyak yang masih libur dan ambil cuti. Yang bertugas tampak kelelahan. Inilah saat untuk melatih kesabaran. Baki pramusaji bisa menyenggol bahu tamu. Minuman tumpah, mengotori baju. Hanya canggung bingung yang tampak dari wajah si pramusaji.
Lebih berat ujian kesabaran bagi mereka daripada tamu.
Jadi uang segitu itu berapa banyak? Bisa beli apa saja? Cuma tujuh kalinya gabungan PDB seluruh Afrika? Cukup untuk memborong 3,5 miliar buah iPhone — atau membeli empat perusahaan Apple Inc. (menurut Brad Reed di ComputerWorld)?
Jika menyangkut angka, pertanyaan awam seringkali naif. Dalam banyak urusan saya juga awam seperti anak-anak sekolah. Kalau gurunya tak siap, pertanyaan lugu ini bisa dikira mengetes.
Yang saya maksudkan adalah rencana talangan US$ 700 miliar pemerintah AS untuk menyelamatkan sektor finansialnya. Bagi ekonom, bankir, dan desk ekonomi, soal angka pastilah langsung menjadi variabel dalam formula penghitungan akibat. Sosok angka US$ 700 M (miliar, bukan million) sudah terbayangkan.
Bagi pembaca umum? Jika menyangkut angka, maka magnitude yang kelewat besar akan cenderung jauh dari pengandaian. Magnitude berhubungan dengan pengalaman dan kepentingan.
Kalau angka menjadi terlalu asing maka yang utama bagi pembaca adalah moral ceritanya. Yang pertama adalah akibat terdekat: bakal memengaruhi keuangan kantor dan juragan saya atau tidak. Yang kedua, kalau mau sedikit sok tahu, adalah kesimpulan tentang berbahayanya keuangan sebuah bangsa dan negara di tangan korporasi besar.
Lantas? Sejauh saya tahu tak semua media bersedia memintarkan pembacanya. The Jakarta Post (edisi cetak, belum di-online-kan) pagi ini masih bersedia, dengan merujuk beberapa sumber. Misalnya, selama terlibat perang di Afghanistan sejak 2001, AS telah menghabiskan US$ 800 M.
Talangan US$ 700 M itu bisa dilunasi oleh 12 orang Bill Gates — dengan catatan semua aset sudah diuangkan. Jika seperti jembatan keledai pada paragraf pembuka (tentang PDB Afrika), lantas PDB rata-rata berapa, dan berapa itu PDB-nya Indonesia?
Zaman kliping kertas sudah meluntur. Buku saku Atlas Bank Dunia sudah ada PDF-nya. Banyak data yang sekarang dapat diakses oleh khalayak melalui internet. Akan tetapi itu bukan alasan bagi orang-orang koran untuk membuat jembatan keledai, bahkan misalnya khalayak sasarannya adalah kaum urban kelas menengah ke atas.
Besar atau kecil, angka hanya akan berarti jika punya konteks. Termasuk dalam konteks adalah perbandingan. Dagelan rakyat kesrakat mempertanyakannya sebagai, “Duit segitu bisa buat beli kerupuk berapa banyak?”
Ya, berapa banyak? Saya tak sanggup menghitung. Saya hanya tahu harga eceran selembar (?) kerupuk itu Rp 500. Kalaupun saya bisa menjawab, maka murid cerdas seperti Lintang, anak nelayan dalam film Laskar Pelangi, bertanya, “Apakah terigunya cukup?”
© Ilustrasi: blogombal.org