antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Archive for September, 2008


Ngeblog kok nggak Spontan!

Sep 2008
30

Beberapa orang memergoki saya mengetik di Notepad. “Buat blog?” begitu umumnya pertanyaan mereka. Saya mengiyakan. Salah seorang bilang, dengan nada seperempat menyesal dan tiga per empat meledek, “Aku pikir Paman itu nulisnya langsung, secara online.”

Tentu lihat kasusnya. Untuk tulisan pendek seperti di Memo Blogombal, apalagi Twitter dan Plurk, ya langsung saja. Di Blogombal pun kadang langsung.

Kalau di sini, di blog ini? Jujur saja saya mengetik dulu di Notepad atau aplikasi sejenis, bergantung komputernya.

Kenapa saya kurang spontan? Karena kecelakaan. Dulu pada awal ngeblog (misalnya di Blogdrive) saya menuliskannya secara langsung, apalagi kalau pakai internet kantor. Ketika koneksi tiba-tiba terputus, nasib tulisan saya pun ikut terputus dalam arti nyungsep entah ke mana.

Sejak itu saya menuliskannya terlebih dahulu di Notepad. Kenapa tak pakai Word atau lainnya? Ukuran berkas Notepad lebih kecil.

Ketika saya nginternet di rumah dengan dial up, penggunaan Notepad terasa mujarab untuk menghemat durasi online.

Seterusnya adalah kebiasaan. Bahkan pada awal saya ngeblog dengan domain sendiri, dan kebetulan memakai WordPress versi awal yang sudah diperkosa, saya tetap asyik dengan Notepad. Semua tagging, termasuk class untuk gambar, blockquote, caption dan lainnya saya tulis secara manual.

Setelah itu tinggal select all, Ctrl C dan Ctrl V. Memang kurang spontan. Tapi saya nyaman. Saya juga tak malu.

Dengan menuliskannya di Notepad, saya bisa menyimpannya. Tapi yang sering terjadi, ketika kegiatan itu tersela oleh sesuatu — dari SMS bertubi-tubi, banjir telepon, sampai tamu dan rapat — maka tulisan yang belum jadi itu bisa terhenti tanpa kelanjutan.

Ketika saya ingin meneruskan maka mood kadung hilang, ingatan malah meluntur, dan fokus berbelok entah ke mana. Hard disk saya menyimpan sejumlah calon posting yang malas saya teruskan. Bersama dengan teks, terkuburkan pula beberapa gambar yang sudah saya siapkan.

Itulah kekurangan saya. Apakah saya menyesalinya? Tidak. Ngeblog tetap nikmat bagi saya, meskipun ya itu tadi: kadang tidak spontan.

Lantas kalau di Notepad saya jarang membongkar tulisan kenapa kebiasaan ini tetap diteruskan? Saya kadung nyaman. Itu saja. Pembaca juga tak peduli bagaimana saya mengetik posting. :)

Kalau Anda bagaimana?

© Ilustrasi: allposters.com

UPDATE 1 Oktober 2008: Terima kasih untuk Notepad. Dua tulisan pertama saya pekan lalu (Balap F1 dan Mudik Bermotor), yang menguap dari Kompasiana, bisa saya kirim ulang. :)


Sepeda Motor AKAP Ikuti Daendels

Sep 2008
29

Para prinsipal di Jepang sana pasti tahu bahwa sepeda motor bebek mereka selalu diuji saban tahun, bisa menempuh seribu kilometer pergi-pulang. Tersedia jutaan relawan untuk melakukannya. Tahun ini diperkirakan ada 2,5 juta relawan.

Apa? Relawan? Mohon maaf. Ini istilah yang sangat jahat. Mereka, para pemotor itu, melakukannya lebih karena terpaksa. Mudik Lebaran dengan sepeda motor, membawa anak pula, bukanlah touring untuk hahahihi.

Dari satu segi, motor menjanjikan kepraktisan. Tiada kerepotan dari rumah ke terminal atau stasiun, dan tanpa keribetan dari titik henti bus ke rumah asal.

Untuk hal kedua, yakni dari perhentian bus ke rumah tujuan mudik, beberapa pemudik sudah melakukan cara praktis. Sepeda motor dipaketkan. Setiba di tujuan kendaraan bisa dipakai untuk ke sana-sini. selebihnya adalah “habis, mau gimana lagi?”.

Waktu saya masih remaja, motor (terutama bebek 70 cc) saya bayangkan hanya cocok untuk antarkota sejauh kurang dari 100 km. Saya pun beberapa kali melakukannya dan merasa gagah (baca: pongah), selangkah lebih maju dalam petualangan. Sama seperti ketika masih bocah saya berlibur ke Sala (dari Salatiga), naik sepeda. Adik saya, dalam usia 13, lebih jauh lagi bersepedanya: Salatiga – Kartasura – Yogya – Magelang – Bawen – Salatiga. Tanpa keterpaksaan. Bukan sebagai sebuah keapabolehbuatan.

Sekarang? Sebagai uji otomotif memang mencengangkan. Motor 100-an cc dipaksa menempuh sebagian dari panjang rute Jalan Daendels. Pergi pulang setidaknya menempuh separuh dari 1.000 km Anyer-Panarukan.

Sepeda motor kecil untuk jarak jauh, selain soal nyali dan sekaligus niat, adalah bukti kompromi terhadap ketidakberdayaan pemerintah dalam menyediakan transportasi publik yang manusiawi dan beradab.

Jika merujuk Adinoto,seorang blogger Bandung yang pernah mencalonkan diri sebagai walikota, transportasi publik telah dimaknai sebagai transportasi yang diupayakan oleh publik.

Maka jadilah sepeda motor sebagai sarana transportasi antarkota antarprovinsi (AKAP). Lingkup AKAP-nya bukan lagi dari Ciputat (Banten), lewat Pondokpinang (DKI), menuju ke Pondokgede (Jawa Barat) tapi lebih jauh lagi. Juga bukan setara dari Salam (Magelang, Jawa Tengah) ke Turi (Sleman, DIY).

Dari tahun ke tahun jumlah pemudik bersepeda motor bertambah. Pemerintah ikut mengaturnya — kata lain untuk “(terpaksa) menyetujui”. Beberapa perusahaan menjadikannya sebagai saluran CSR bahkan kanal pemasaran (terutama produsen sepeda motor dan penunjangnya) — artinya mudik bermotor diterima sebagai sebuah kenyataan.

Ditambah pemudik bermobil pribadi dan lainnya, berikut kesiapan sarana, maka setiap Lebaran rapor pemerintah dalam pelajaran transportasi publik selalu digelar dan dibaca oleh rakyat. Bukan dalam rupa buku tetapi jalan raya dan bahkan udara dan laut.

Karena bukan pelajaran wajib, maka nilai merah tak menentukan kenaikan kelas.

© Foto asli sumber ilustrasi: Timbuktu Hartana/ Kompas, dimuat di sini tanpa minta izin. Maaf dan terima kasih.

(Kirim ulang dari artikel yang hilang)


Balap F1 Singapura di Jakarta

Sep 2008
28

Saya tak menonton F1 di Tumasik karena dua hal. Pertama karena tak punya ongkos. Kedua karena bertahun-tahun diracuni seorang editor senior di Gramedia Majalah, namanya Eddy Suhardy. Dia bilang, “Nonton F1 di sirkuit itu percuma. Kepala kita cuma gini soalnya mobil cuma ngueng-ngueng-ngueng wuezzz cepet banget di depan mata kita.”

“Gini” yang dia maksudkan adalah peragaan kepala menoleh dari kanan ke kiri lalu ke kanan lagi dan seterusnya.

Ah sudahlah. Saya malah memikirkan hal lain. Bahwa Singapura itu maju dalam segala hal, itu soal yang menjengkelkan untuk kita didiskusikan.

Akan tetapi izinkanlah saya menambah kejengkelan Anda. Saya mengangankan jalan protokol Jakarta seperti jalanan utama Singapura. Bisa dipakai buat balapan F1. Kalau kolam renang bisa dibangun sesuai standar olimpiade dan lapangan glf bisa dibikin sesuai standar dan selera para juara dunia, mengapa jalan raya tak dibangun sesuai standar F1?

Bahwa jalan di Ibu Kota itu nantinya tak dipakai buat balapan, itu lain soal. Yang penting pembuatan dan perawatannya bagus. Tak ada gronjalan penghajar kaki-kaki mobil dan motor. Lebih penting lagi — aha ini dia! — pemakaiannya benar.

Jalanan mulus tanpa penegakan hukum hanya akan menjadi lahan parkir yang menyenangkan (tapi aspal akan melesak karena beban statis?) dan sirkuit liar bagi siapa pun ingin membuktikan keunggulan otomotif (itulah sebabnya ada swasaya sesat bernama polisi tidur).

Untuk urusan proyek nonfisik itulah kita keteteran. Kita menyukai low enforcement, bukan law enforcement. Dengan atau tanpa F1, kita semua adalah orang-orang menjadikan diri sebagai hukum.

(Kirim ulang dari artikel yang hilang)


Angkot cap Warok

Sep 2008
18

Jakarta adalah kota pendatang. Identitas kedaerahan ada di mana-mana. Termasuk reog ponorogo. Mungkin juragan atau sopir bus ini warok. Lantas siapa gemblaknya? Hussss… reog adalah satu hal, dan warok adalah hal lain.

reog ponorogo


Bagi hasil, gitu ya?

Sep 2008
18

Tulisannya “paronan”. Dalam bahasa Jawa berarti bagi hasil separo-separo. Mungkin yang dimaksud bagi hasil sopir dengan kernet dari sisa netto uang setoran. Duh… beratnya hidup…

bagi hasil


Kopaja Rasa Volvo dan Scania

Sep 2008
18

kopaja rasa volvo

Apa yang menjadi idaman sopir (atau juragannya) boleh dipampangkan di kaca bus. Termasuk di antaranya adalah merek bagus yang diimpikan untuk memperkuat armada. Volvo di angan. Scania dalam lamunan. Tapi hanya Mitsubishi yang di tangan — itu pun bulukan, termehek-mehek untuk kejar setoran.

kopaja rasa scania


Kalo minjem ketauan

Sep 2008
18

Mobil inventaris kantor ini pakai tulisan besar “operasional”. Mungkin supaya karyawan yang pinjam pakai jadi tengsin. :D

mobil operasional


Blog yang bukan Blog

Sep 2008
16

Lho? Saya lupa siapa yang mengatakan apa yang kemudian saya jadikan judul itu. Intinya adalah konten yang menggunakan mesin blog tetapi isinya bukan blog seperti yang lazim kita kenal.

Memangnya blog lazim itu seperti apa? Ya seperti yang sedang Anda baca. Saya tulis, serasa melakukannya dengan penuh pikir, padahal ada bumbu salah ketik segala, lalu saya publikasikan.

Ah tapi itu kan identifikasi secara kuno?

Mungkin juga. Malah saya berpikir, jangan-jangan blog saya tentang label, barang, dan kartu itu juga bukan blog. Barangkali cuma gambar dan teks tak mutu yang dipampangkan di web dengan bantuan mesin blog karena saya tak puas dengan aplikasi galeri di web. Artinya, urutan kronologis sebetulnya tak bermakna, itu hanya konsekuensi dari pemakaian mesin.

Namun percayalah, teks tak mutu itu saya tulis dengan darah, keringat, dan air mata. Maaf, sudah berdusta. Berlebihan sih, tapi intinya bukan sekadar copy and paste.

Jadi begini saja supaya diskusinya gampang. Yang saya yakini sebagai blogging, untuk kepentingan pribadi, ternyata salah. Beberapa kali saya dikritik bahwa blog-blog saya kuno karena tidak mempermudah kerja mesin pencari.

Jawaban saya selalu kuno. Pertama: biarin aja, yang penting saya nyaman. Kedua: nanti toh akan ada ahli yang membantu supaya blog saya jadi cerdas. Yang penting saya tetap merasa sebagai blogger.

Begitu naifnya saya sehingga dulu ketika belajar CSS saya menamai gaya teks untuk judul blog sebagai “judul besar”, lantas judul artikel sebagai “judul tulisan”, dan untuk teks isi sebagai “isi”. Header saya namai “kepala” bahkan kadang “herder”, lantas footer sebagai “bawah” atau “kaki”.

Saya tak berkepentingan dengan validasi, yang penting menurut mata saya tampilannya nyaman dan layak pandang. Begitu kacaunya desain saya sehingga beda browser beda hasil. Supaya tampak cerdas, saya cuma mengganti meta-name dengan kata apa saja yang menurut saya lucu. Khas ilmu HTML tahun 90-an. Jadul. Bodoh. Tapi saya bahagia.

Lantas hubungan semua perkara tadi dengan “blog yang bukan blog”?

Karena di blogosfer banyak isi membingungkan yang menggunakan mesin blog. Di blogspot.com, misalnya, banyak sekali. Sebagai teks tampak rapi (secara visual). Tapi dari nilai kandungan jadi membingungkan. Ada tulisan yang isinya cuma tags — biasanya berhubungan dengan yang saru atau cabul. Ada yang hurufnya warna-warni seolah berniat mempermudah mata. Ada yang, hehehe, cuma copy and paste dari mana-mana. Atau cuma berisi tautan ke halaman pengunduhan, dengan bumbu teks yang mirip template karena hampir sama. Lebih aneh lagi, ada yang tak memuat tanggal apalagi jam publikasi.

Tapi blog-blog aneh itu punya persamaan: banyak iklannya! :D

 

Kategori dalam tulisan pun mengarah ke bisnis, misalnya “USA holiday” dan “vacation package”. Tidak ada itu kategori “jalan-jalan”, “ngeluyur”, atau “dolan”. Untuk kategori berbau erotis dalam bahasa Indonesia, tidak ada itu “syuur atau “kangen” atau “pengin” atau “demen aja” atau “uh, maunya!”.

Salahkah itu? Tidak. Itu soal pilihan penulisnya. Kalau penyedia blog hosting tak berkeberatan maka apa salahnya kan?

Saya sama sekali bukan orang yang anti terhadap upaya duitisasi blog. Malah bagus kalau orang ngeblog lantas mendapatkan manfaat ekonomis. Minimal bisa untuk menutupi biaya akses internet dan ongkos melek. Syukur kalau bisa kaya raya — sama seperti musisi, aktris, dan perupa yang tiba-tiba jadi makmur. Oh ya, saya juga pengin.

Bagaimana jika ada pembaca terkecoh, baik karena giringan mesin pencari maupun pampangan dari sebuah halaman direktori? Mengesalkan juga sih, karena orang tersesat tampaknya memang harapan si pemilik blog.

Artinya, saya pun termasuk mengesalkan karena sebagian pengunjung blog-blog saya adalah orang yang tersesat. Mungkin satu dari seratus suka, tapi sisanya kuciwa parah dan jera.

Apakah cara blogging mereka yang aneh-aneh itu kreatif?

Penganut ngeblog dengan sepenuh hati — disertai darah, keringat, dan air mata — mungkin menganggapnya kurang kreatif. Barangkali malah akan meledeknya, “Mereka nggak akan bisa cerita ’seperti pernah saya tulis dalam salah posting saya…’ soalnya nggak ada yang bisa diceritain.”

Ah nanti dulu. Bisa jadi pelakunya justru merasa kreatif dan rasional karena tak perlu buang waktu dan energi untuk menye-menye nggak jelas, mana miskin kunjungan pula.

Apakah mereka itu layak disebut blogger?

Itu terserah masing-masing orang. Hak setiap orang untuk mengaku sebagai blogger maupun bukan blogger. Bisa saja saya menyebut diri sebagai blogger tapi Anda tak sepakat.

Tapi misalnya mereka mengaku sebagai bloggers, maka pemilik blog aneh-aneh itu selayaknya ditampilkan dalam Pesta Blogger. Kita tak mungkin memonopoli kebenaran, dan cara yang berbudaya adalah mempersilakan yang beda dari kita untuk bicara agar cakrawala pemahaman kita kian terbentang.

Siapa tahu dari sana kita mendapatkan pencerahan. Bukan begitu bukan?

© Gambar pohon uang: entah


Blog: Kemewahan dan Semangat Gerilya

Sep 2008
15

Begitulah, Sang Ndoro yang kemarin genap 43 tahun itu menjadikannya sebagai sebuah tanya di Koran Tempo. Kami secara selintas juga pernah mendiskusikannya. Kesimpulan sementara: ngeblog bukan dan atau belum menjadi kesempatan semua orang.

Jika masalahnya adalah fasilitas, mungkin benar. Belum semua orang punya komputer pribadi dengan akses internet. Juga tak semua orang bisa leluasa meninggalkan rumah untuk ke warnet — bisa karena waktu (malam harus keluar?), bisa juga karena kesempatan (”Ma, mau ke mana? Ikut dong…”), bisa juga karena biaya.

Jika Anda menggunakan aplikasi pencatat dalam blog Anda, besar kemungkinan Anda pernah mendapati kenyataan ini: pembaca hanya ramai pada jam dan hari kerja, bahkan beberapa alamat IP malah menyatakan milik sebuah kantor.

Ya, kantor adalah warnet paling oke. Saya pernah mendengar, atas nama efisiensi bandwidth maka manajemen sebuah penerbitan ingin mengeblok beberapa layanan blog, tapi dengan segera ide itu dipatahkan seorang petinggi (bukan blogger) yang paham manfaat internet.

Apa sih kemewahan? Sesuatu yang kita inginkan tapi belum dapat kita miliki atau belum dapat kita alami. Maka bisalah kita maklumi jika ngeblog menjadi kemewahan. Lain halnya jika tidak ngeblog — termasuk sama sekali tidak ngeblog — semata karena pilihan, bukan ketidakberdayaan.

Jika kemewahan, seperti saya contohkan tadi, bukan hanya soal fasilitas melainkan juga kesempatan, itu pun dapat saya pahami. Tak semua orang dewasa yang memiliki komputer di rumahnya itu leluasa berinternet.

Ada saja kasus pasangan minta ditemani nonton TV (kalau tertidur tak dimarahi, yang penting jangan berinternet!), anak minta ditemani bikin PR (ini harus!), atau datang tamu tanpa janji yang berisiko mengintip apa yang ada di layar (ini mengganggu).

Pada ranah domestik, tepatnya pribadi, bisa saja kegiatan online bukan lagi kemudahan. Di kantor berurusan dengan kemepetan waktu, ditambah rasa sungkan, proxy, blokade, dan log yang dilaporkan ke bos. Di rumah berurusan dengan soal interaksi insani.

Jika menyangkut kasus khusus, bisa saja masalahnya sederhana bagi orang lain tetapi berat bagi si korban. Ada seorang istri, blogger, yang terus dimata-matai oleh suaminya. Komentar dia di blog lain (milik pria) bisa berbuah interogasi setelah dibangunkan pada suatu dini hari.

Jadi, inilah intinya: ngeblog itu tidak gampang karena bukan cuma soal menulis dan membaca.

Lantas takkan bertumbuhkah blog, media sosial, jejaring pergaulan, atau apapun namanya kelak?

Saya masih optimistis. Itu akan terus bertumbuh.

Tentu semuanya butuh penyesuaian. Ketika plurking dan twittering dapat dilakukan dari ponsel, demikian pula facebooking, maka semuanya menjadi lebih mudah.

Ketika komputer kian terjangkau, dan akses internet kian memurah (apalagi RT/RW-net berlaku luas), bahkan free hotspots kian bertebaran, maka setelah komunikasi via e-mail dan chatting, orang butuh dan sadar perlunya halaman web pribadi. Ngeblog tinggal selangkah lagi.

Memang sih, dalam beberapa urusan, kegiatan online itu serupa membaca, yang berbeda dari menonton TV. Menonton TV memberi kesempatan adu celoteh dan rebutan remote controller, yang intinya adalah interaksi secara langsung dalam ruang yang sama. Bagi pendamba kemesraan itu adalah keharusan ritual.

Adapun membaca dan nginternet adalah sebuah dunia diam yang kadang tak dibagi, kurang melibatkan orang sekitar. Bedanya dengan membaca, meski sama-sama diam, nginternet memberi kesempatan berbagi di ranah maya, tanpa mengenal jarak geografis, sementara orang terdekat — apalagi kalau belum suka nginternet — hanya bisa gelisah merasa terasing.

Pada ranah personal, itu semua adalah kompromi. Dihalangi di kantor, dijepit di rumah, orang tetap akan mencoba selama dalam perjalanan atau rehat siang dengan alat masing-masing — bahkan saat duduk di atas kloset. Inilah gerilya agar yang mewah menjadi murah.

© ilustrasi: www.kersplebedeb.com


Blog sebagai Ruang Arisan Penuh Gunjing

Sep 2008
11

Teman saya mengeluh, mulai “banyak blog” (tak menyebut jumlah) yang hanya memindahkan topik komunal di milis tapi kurang bermanfaat bagi orang lain. Misalnya? “Si A ngopi sama si B, lantas C nggabung, dan D nyusul. Lalu foto bersama, hahahihi, nggak ada yang penting, lalu disebarin,” katanya.

Dia menyayangkan, blog yang dibaca oleh khalayak ramai itu tak hanya memindahkan isi milis melainkan juga mengeluarkan isi dari halaman keanggotaan layanan jejaring sosial semacam Friendster dan Facebook. Terlalu internal, begitulah maksudnya.

Teman lain bilang, dari TV dan koran mendapatkan gosip pesohor. Tapi ketika masuk ke blogs dia mendapatkan hal serupa, bedanya yang asyik bergosip dan saling sindir adalah bloggers yang “ingin jadi atau sudah merasa sebagai seleb”. Intinya: mengabaikan orang lain.

Saya tak langsung membantah maupun mengiyakan.

Saya justru merenung, jangan-jangan saya pun begitu. Apa yang saya bagikan di blog terlalu personal, cuma menjadikan orang lain sebagai penonton.

Termasuk di dalamnya adalah strip foto dagelan tentang beberapa bloggers yang dimuat di blog para sahabat — itulah sebabnya mereka menyebut saya suka cuci tangan.

Teman saya lainnya, bukan blogger tapi sering membaca beberapa blog, berkesimpulan, “Mulai banyak blog yang seperti ruang arisan. Si blogger dan jaringannya asyik dengan diri mereka sendiri, ngobrol sendiri. Isinya cuma gunjingan dan saling sindir.”

Sampai di sini rumusannya mulai agak jelas. Jika bicara “manfaat bagi orang lain” maka yang pertama disorot justru pengertian “orang lain”.

Siapa saja mereka, “orang lain” itu? Teman si blogger di jagat maya? Atau teman di ranah virtual sekaligus alam nyata? Atau siapa pun yang membaca sebuah blog?

Ah, lagi-lagi saya merenung. Bagaimana dengan Plurk, Twitter, Kronologger, dan microblogging lainnya? Kesan selintas saya, tanpa survei mendalam, sebagian besar pemainnya adalah bloggers. Mereka pemain lama di tempat lain. Sebagian sudah saling kenal, minimal di ranah maya.

Misalkan pemain microblogging itu bukan bloggers di tempat lain, dan bukan prominen di sektor lain, apakah juga menarik?

Tentu sudah ada jawaban. Microblogging dibuat untuk menghubungkan orang. Meski setiap pemain boleh memilih untuk menyendiri, secara umum orang masuk ke sana untuk memperluas perkawanan, antara lain dengan berbagi pengalaman, opini, lihatan, dengaran, dengan cara yang ringkas, bahkan melalui ponsel pun bisa.

Isinya boleh pernyataan kangen kepada pacar, boleh pula kesal terhadap PLN, atau pamer sedang menikmati kepulan Cohiba dan cicipan Champagne Aubry Brut di sebuah “ruang privat di tempat publik” (contradictio in terminis?).

Artinya, pembaca di Twitter dan apalagi Plurk, sejak awal sudah terseleksi secara sosial. Jika mereka bukan bagian dari pusaran gaul di sana maka takkan merasa nyaman dan kagak nyambung.

Bagi seorang sinis, Plurk tak beda dengan tembok berisi grafiti. Siapa yang paling sering mencorat-coret dengan pengibaran nama diri, rajin bersalam di plurk orang lain, berarti sedang berupaya mendirikan tonggak kemasyhuran. Tak beda dengan coretan spidol “Slamet loves Marni” dan “Poniman Top 2008″ di mana-mana.

Misalkan memang begitu, apakah itu salah?

Hak setiap orang untuk mencari perhatian dan mengibarkan nama tanpa merugikan orang lain. Bandingkan dengan jaksa yang menerima suap dan anggota parlemen yang doyan sogok dengan menggadaikan keputusan bermoral.

Satu hal lagi, seperti halnya kehidupan nyata, jejaring sosial di dunia maya juga mengenal seleksi. Mereka yang dianggap menyebalkan akan dijauhi. Begitu juga mereka yang postingnya tidak dipahami sesama anggota: akan diabaikan. Posting yang tak mengena di hati tidak bakal mengundang respon. Artinya, meraih popularitas– dalam arti tenar dan sekaligus disukai — itu bukan urusan mudah meskipun “Slamet loves Marni” dan “Poniman Top 2008″ muncul 13 kali sehari.

Bagaimana dengan “orang lain” di luar anggota dan di luar jaringan perkawanan? Ada resep sederhana. Kalau tak suka ya jangan mendatangi, jangan membaca. Carilah, semoga mendapatkan blog yang cocok di hati.

Oh ya, ada tambahan. Bergunjing adalah bagian dari kehidupan sosial manusia. Dan itu biasanya dimulai dari, “Gimana kabar dia?”

© Foto orang gigit kaki: news.filefront.com


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.