antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

menampung yang terserak

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

100 Kata ahmad dahlan Biasa Bisnis Blog blogger Desain Entahlah fashion gandaria Hiburan humor iklan Internet Jajan jakarta jakarta selatan jejaring sosial jepretan ponsel kebayoran baru kesehatan kotareyog.com kuota kata langsat lebaran lingkungan Media microblogging mudik musik otista payudara Perjalanan ponorogo promosi properti Sejarah Seni sepatu Silaturahmi solo Teknologi toilet twitter yogyakarta

Bookmarks


Archive for August, 2008


Ngeblog Riang, Nama Kondang, Duit Datang, Hati Girang

Aug 2008
31

panen uang dari blog“Mas punya blog juga? Namanya apa? Kok aneh? Nggak serius nih. Kurang selling. Bentar saya buka. Lho kok nggak ada iklannya, cuma banner main-main? Rugi dong ngeblog kalo nggak ada duitnya…”

Anak muda itu nyerocos tanpa bisa direm. Serba-multitasking. Bertanya, bercakap, mengetik sementara matanya sesekali menatap layar laptop kecil.

Bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Tempo hari saya juga ditanya beberapa orang dalam rekat kopi seminar. Mereka tahu saya seorang blogger karena saya dipersilakan maju ke podium untuk menerima doorprize.

Inti pertanyaan, tidak hanya dalam rehat seminar itu, adalah bagaimana ngeblog supaya dapat duit. Separuh dari penanya — bahkan kayaknya enam dari sepuluh — adalah orang yang mengaku belum punya blog. Mereka hanya mau ngeblog serius kalau ada duitnya.

Salah satu orang mengartikan serius itu sebagai “saben hari di-update, banyak yang baca, kita terkenal, tapi kitanya santai, terus duit datang…”

Sayang saya bukan orang yang berwenang menjawab begituan. Malah jawaban saya mungkin sering bikin kuciwa. Tentang banner atau advertorial, misalnya, ya saya jawab kalau harganya cocok atau hati saya kena atau saya sempat atau karena berteman baik.

Dari mana mengongkosi hosting di blogombal.org dan anak-anaknya, ya saya jawab, “Kalo ada duit ya saya ongkosin, kalo lagi bokek nggak bisa bayar ya saya biarin blog saya diturunin sama yang punya server. Simpel kan? Semoga Google mau menyimpannya.”

Lantas menulis, bahkan memotret dan melakukan perjalanan itu kan butuh biaya? Jawaban saya tetap: “Kalo ada ongkos ya jalan, kalo nggak ada ya nggak usah.”

Bagaimana kalau tidak ada ide? “Ya nggak usah nulis. Bahkan kebosanan terhadap internet kadang saya turuti. Sebaiknya ngeblog karena seneng, dari dorongan hati, bukan mau nyari duit.”

Saya mohon maaf kepada sorot-sorot mata yang kuciwa karena tak beroleh pencerahan. Saya menjawab apa adanya. Maka jujur juga saya jawab, saya ngebog di sini, dagdigdug.com, tidak ditariki ongkos.

“Lha kalo dagdigdugnya nggak bisa ngongkosin blognya Mas, gimana coba?” tanya seseorang. Jawaban saya selalu enteng, “Makanya Anda cariin duit.”

Dia garuk-garuk kepala. Mungkin gatal. Mungkin kesal.


Dari Slametan Cerpenista

Aug 2008
19

Saya dan rombongan menginap di Wisma Djoglo, Yogya, untuk acara peluncuran Cerpenista. Tiba sudah petang, begitu masuk kamar langsung disodori kopi hangat (bukan panas). Saya pikir lumayan juga layanan tempat lama di timur kota ini. Ternyata setelahnya pesanan demi pesanan minuman selalu lama selesainya. Teh dan kopi paling cepat 20 menit. Entah berapa lama lagi untuk teh poci — misalkan ada. Selebihnya adalah perjalanan berkereta api yang melelahkan (pergi-pulang), Ndoro Bedhes yang ketinggalan pesawat, dan gayeng-gayengan bareng teman-teman seusai acara. Yang penting senang — terutama selama di Yogya.


Kaos yang Terlupakan

Aug 2008
17

Saya kaget ketika tadi menjemput putri saya ke SMA-nya sehabis 17-an. Baju bebas yang dia pakai adalah kaos lama saya. Kaos yang sudah saya singkirkan saat bersih-bersih lemari dan saya pikir sudah jadi lap. Ternyata kaos itu dicuci ulang dengan pemutih, dan entah pakai upaya apa lagi, jadilah barang yang masih layak pakai.

Desain kaos ini merupakan kolaborasi EddiE haRa dan Ong Hari Wahyu dari Yogyakarta. Tentu, teks dalam sajian pop art ala Roy Lichtenstein itu mengundang komentar teman-temannya. Entahlah apakah guru dan suster membacanya. Buat saya sih biarin aja. Lebih menarik membahas latar Yogya — dialog njawani — dalam ilustrasi yang kebule-bulean. Nggak nyambung tapi lucu.


Mengawasi Sopir

Aug 2008
04

Tadi siang, di lampu merah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, di depan saya ada mobil boks. Ada tulisan dari juragan pada pintu belakang (lihat foto). Intinya meminta masyarakat ikut mengawasi perilaku sopir di jalan raya. Kalau perilaku sopir di warung atau di rumah, sepanjang tak berhubungan dengan mobil bawaannya, mungkin tak perlu dilaporkan.

Kenapa sopir harus diawasi? Mungkin bagi juragan adalah supaya mobil tak menabrak orang maupun pohon dan tiang yang menyeberang. Bagi sopir mabuk, ngebut pula, mana benda diam mana benda berjalan memang bisa membingungkan.

Lagi-lagi, dari kepentingan juragan, kalau mobil menabrak jembatan yang tiba-tiba mundur dan belok (lho?), itu berarti kerugian. Mobil rusak.

Itu tadi dari sisi kepentingan juragan. Dari sisi kepentingan di luar juragan, yakni sesama pengguna jalan, sopir pencilakan sok lincah akan membahayakan orang lain. Intinya bikin suasana tidak nyaman.

Bagaimana dengan blogger dan penyedia blog hosting? Tentu urusannya bukan sopir dengan juragan. Tanggung jawab si blogger adalah terhadap sesama pengguna jalan, eh maksud saya sesama bloggers di komunitasnya.

Jadi, kalau suka hiburan untuk orang dewasa, termasuk yang explicit hardcore, silakan saja. Itu hak. Tapi mempertunjukkan di tempat yang terbuka untuk semua orang, itu mengganggu kenyamanan.

Kenapa menganggu? Blog hosting yang dipameri hiburan cabul itu memang bukan layanan hiburan dewasa. Kasihan orang lain yang terganggu karena sergapan info penjebak dan penggiring itu.

Apa tadi? Cabul? Salah satu ukuran cabul adalah: orang paling doyan sajian paling saru pun menggap apa yang disukainya harus disembunyikan. Kalau dia menontonnya di layar kaca maka tetangga melintas tak boleh memergoki pesawat TV-nya.  Kalau dia memasang posternya maka anak-anak tetangga tak boleh melihat dari luar jendela sekalipun.

Oh, berarti mengajak orang hipokrit dong? Oh tidak. Semua ada rambunya. Di negeri paling permisif  pun produk adult entertainment tidak bisa sembarangan dijajakan. Di negeri-negeri Barat tak ada lapak penjual DVD cabul seperti di Glodok.

Tak hanya dalam urusan hiburan dewasa. Dalam perilaku dewasa pun, misalnya minum bir, di negeri tertentu orang tidak bisa semaunya. Begitu keluar dari halaman rumah dia masih menenggak bir maka tetangga boleh lapor ke polisi. Membawa bir di bawah jok mobil juga dilarang, kalau ketahuan akan ditilang, tak peduli kaleng birnya masih tertutup rapat atau sudah terbuka.

Uh, nggak bebas dong? Apa boleh buat, kemerdekaan setiap orang itu dijamin sepanjang tidak mengganggu kebebasan dan kenyamanan orang lain. Masyarakat yang dewasa bisa memisahkan ranah privat dan publik.

Kembali ke hiburan dewasa, itu sudah ada salurannya sendiri. Termasuk juga untuk ngeblog soal begituan. Tapi dagdigdug tidak termasuk di dalamnya. Pengelola maupun mayoritas anggota komunitasnya tidak mau.

Simpel kan?

NB: Kalau memasang gambar wanita (atau pria) berpakaian seksi? Aha mari kita diskusikan… :)


Hikayat Kiai Gaog

Aug 2008
02

Gaog? Nama orang? Bukan. Itu sebutan warga lama Yogya untuk sirene yang dipasang di atas atap Pasar Beringharjo. Sejarah gaog itu kemudian dijadikan salah satu entri oblongklopedia Dagadu. Entri lain yang pernah muncul di sini adalah Vorstenlanden.

 

Nah, kaos ini saya dapatkan dari sobat saya, pri(y)ayi Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga blogger ternama tiada tara karena pesona, karisma, wibawa, kearifan, piwulang, dan kedermawanannya. Dia barusan menengok kampung halaman. Kebetulan rumahnya tak terlalu jauh dari markas Dagadu. Matur nuwun nggih.


Menjangan dan Kijang

Aug 2008
02

Apa beda keduanya? Lantas kenapa Toyota Kijang memakai logo (yang kata orang) adalah kepala menjangan? Ah entahlah. Yang pasti saya mendapatkan bingkisan berupa pundi-pundi bercorak koran, dengan pita keemasan eh ketembagaan, yang isinya kaos berdesain hijau. Bahannya hijau, sablonannya hijau. Gambarnya  menjangan. Pesannya: “no bullet screamdeers’s”. Terbikin oleh Consina.


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.

© Contents by Antyo Rentjoko