antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

menampung yang terserak

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

100 Kata ahmad dahlan Biasa Bisnis Blog blogger Desain Entahlah fashion gandaria Hiburan humor iklan Internet Jajan jakarta jakarta selatan jejaring sosial jepretan ponsel kebayoran baru kesehatan kotareyog.com kuota kata langsat lebaran lingkungan Media microblogging mudik musik otista payudara Perjalanan ponorogo promosi properti Sejarah Seni sepatu Silaturahmi solo Teknologi toilet twitter yogyakarta

Bookmarks


Archive for July, 2008


Blog yang Unik, yang Berbeda, yang…

Jul 2008
22

unik kok dicela

Ada yang isinya bersajak, seperti Nona punya. Seolah gampang tapi tak semua bloggers bisa. Ada yang isinya “hanya” rekaan dagangan toko seperti punya Hani — tapi apakah semua orang bisa bikin ini? Ada yang isinya komik, seolah cuma “rekapaksa” gambar (misalnya komikfoto), tapi ternyata ide dan ketelatenan bukanlah milik semua orang. Ada sih layanan generator komik, tapi yang namanya ilham dan setrum kelucuan kadang menjadi barang mewah.

Lantas? Ada blog yang khusus kaos. Ada yang tentang tulisan pada kendaraan. Ada yang tentang mug. Ada yang tentang kantong gula. Semua contoh tadi adalah blog yang menurut saya unik. Maksud saya bukanlah satu-satunya, atau tiada kembaran, tetapi rada berbeda dari arus yang ada.

Haruskah seorang blogger baru membuat blog yang berbeda dari yang ada? Terserah. Itu soal pilihan. Tetapi andaikata seorang blogger memulai blognya seperti umumnya orang lain, itu pun juga unik — kecuali copy and paste atau sekadar memasang plugins penjaring posts orang lain tanpa dia pedulikan isinya.

Bagi saya setiap blog memiliki pembaca sendiri-sendiri. Minimal si blogger itu sendiri dan segala mesin internet. Jadi, jika niat ngeblog adalah memindahkan muatan benak dan menuangkan isi hati, maka soal nyeleneh, beda dari yang berbeda, itu tidak penting.

Yang lebih penting, selain untuk memanjakan diri, ngeblog adalah sarana untuk belajar. Minimal belajar menata kata, karena bahasa adalah cerminan olah pikir. Dari mana belajarnya? Semua penulis hebat juga belajar dari orang lain. Ada yang dia ingat sumbernya, ada yang tidak. Begitu pula musisi dan perupa — oh ya, dan fotografer.

Pada dasarnya setiap orang itu unik — dengan maupun tanpa lagak eksentrik.

© Ilustrasi: John & Jessica Williams

 

 


Kepartaian dalam Blog

Jul 2008
07

Ngomongin pemilu? Tidak. Sobat saya punya ungkapan tentang blogger A yang separtai dengan blogger B. Mungkin yang dia maksudkan adalah posting si A yang sering membicarakan tentang B, juga C, plus D, dan E, kemudian saling berbalas, tetapi publik tidak mendapatkan banyak manfaat. Cuma gojek kere berlingkup internal yang dilemparkan ke ranah maya.

Sobat saya yang lain kemarin mengirimkan pengingat, berupa tautan dari tulisan lama Rovicky, geolog yang pandai bercerita itu, yang mempersoalkan “suara baru Indonesia”. Apa manfaatnya bagi khalayak jika blogger hanya bicara dirinya sendiri?

Ini hal menarik. Memang kelebihan dan pembeda blog adalah pada isinya yang personal. Soal subyektivitas, memang demikianlah adanya. Bukankah laporan lembaga riset pun punya subyektivitas — dalam arti sudut pandang sesuai khittah lembaga?

Lantas, di mana masalahnya?  Dulu, dalam beberapa obrolan, saya mencontohkan rubrik tertentu majalah gaya hidup (terutama yang bersegmen wanita). Ada sajian yang secara jurnalistik kurang lengkap tapi jika pembaca tak paham maka merekalah yang salah.

Rubrik apa? Nama rubrik tak penting, tapi dikemas sebagai album foto para sosialita. Cuma ada nama Anu, Anu, dan Anu. Tanpa keterangan.

Pembaca yang tak paham berarti kurang gaul, bukan party goers, dan sebaiknya menambah pengetahuan umum. Pembaca lain (mayoritas, semoga sesuai asumsi segmentasi) yang paham, meskipun bukan sosialita, akan dianggap melek informasi.

Misalnya seperti ini: “Si Cempluk itu istrinya si Tambun. Nah, si Tambun itu anaknya Tuan Gembrot, pemilik pabrik tusuk gigi. Lha si Cempluk itu yang tempo hari bersama kelompok arisannya mendatangkan koleksi Manolo Blahnik untuk show kalangan terbatas.”

Seorang pembaca, sebagai pemakai setia produk diskonan Yongki Komaladi, dan ketika dulu belum diledek masih mau pakai tas Sophie Martin, akan dianggap maju oleh lingkungannya: tahu dunia lain.

Saya bicara konteks media cetak. Rubrik-rubrik aneh tapi konon mengasyikkan itu (karena orang ingin tahu si Anu pakai gaun dan tas apa, juga arloji apa) bisa menyugesti orang untuk belajar hal yang entertaining tapi tak penting. Penerbit dan editor bisa memformat orang lain.

Bagaimana dengan blog? Dari sisi kelengkapan informasi, posting antarkawan berisi tautan. Selanjutnya Ki Ageng Google akan membantu. Bedanya dengan media cetak, blog telah menjadikan pemiliknya dan kalangan dekatnya sebagai pesohor di lingkungan komunitas blogger tertentu. Tak perlu editor.

Dalam konteks itu, setiap blogger telah memposisikan dirinya sendiri, lengkap dengan risikonya. Tapi pendapat ini pun ngawur. Blogger yang sering jadi bulan-bulan kawan keparatnya, dan tak mau atau tak dapat membalas, akhirnya telah menjadi sosok yang terformat di luar kehendak diri. Gunjing canda dan fitnah mesra menemukan salurannya. Hasilnya adalah citra diri (yang belum tentu benar).

Itu baru blog (di luar blog tentang sosialita Jakarta), belum ke keranjang jejaring sosial di ranah maya. Kalau yang ini, adab gaulnya — dalam beberapa hal — tak beda dari lingkup RT dan RW. Hanya saja kemasannya lebih urban dan mondial. Yang penting orang tahu siapa sedang apa dan mau ngapain — perlu bantuan atau tidak ketika akan melakukan hal terpuji. Entertaining dan penting (pun inspiring) bagi para pelakunya. :)

Kembali ke blog yang cuma memindahkan gaul kepartaian dan barangkali cuma ekstensi dari guyon berlingkup milis (yang disimak kalangan terbatas, kecuali dibiarkan bocor). Apa manfaatnya bagi publik?

Mungkin menghibur, mungkin menyebalkan, sekadar memindahkan gunjingan dan gojek kere ke internet, tapi yang pasti saya tak dapat tegas menjawab itu bermanfaat atau tidak bagi pembaca secara umum.

Untuk para pemasar yang akan memanfaatkan blog mungkin penting. Untuk pengamat perilaku sosial mungkin menarik. Guyon, saling ledek, dan saling pamer (bahkan mungkin saling keluh dengan meratap) telah mendapatkan medianya sendiri, dan itu adalah sebuah etalase kehidupan.

Lantas di mana “suara baru Indonesia”-nya?

Saya tak tahu. Baru bisa merenung. Jangan-jangan sebagian orang terlalu berharap dari blog. Berharap akan mendapatkan resensi film yang layak rujuk, kritik seni rupa yang menggugah, telaah musik yang memperkaya, bedah sastra yang mencerahkan, reviu hi-fi yang andal (ya andal barangnya, ya pendapatnya), pencontohan modifikasi mobil yang hebat, kajian aristektural yang ilhami, perbincangan lingkungan hidup yang menyadarkan, sketsa sosial-politik yang lucu tapi mencerdaskan, dan seterusnya yang serba subyektif dan personal, berbeda dari media lawas…

Singkat kata, orang berharap sebuah blog akan bicara pengalaman dan pandangan pribadi tapi bermanfaat bagi orang lain. Wdauh.

Saya sendiri — mohon maaf — adalah termasuk blogger yang kadang melempar gojek kere. Apa yang saya tulis tak ada manfaatnya bagi khalayak ramai maupun sepi. Lebih celaka lagi, orang yang saya sasar pun tak peduli. Termasuk tak peduli terhadap blog apa pun.

Barangkali inilah egosentrisme saya dalam ngeblog. Mentang-mentang punya media sendiri — pemilik merangkap penulis dan penyunting — maka saya sesuka hati. Pinjam filosofi pede-istik jomblo angkuh yang seret peminat (padahal kesepian): naksir (eh, baca) ya syukur, nggak mau ya kebangetan.

Lantas Anda pun bertanya: ngeblog untuk apa dan siapa?

© Ilustrasi: unknown


Wartawan (tidak) Harus Ngeblog

Jul 2008
03

Beberapa kawan punya asumsi seperti ini. Blog adalah dunia penulisan. Karena wartawan akrab dengan tulis-menulis maka mestinya sebagian besar dari mereka itu punya blog. Tepatnya, ngeblog itu pasal cincai bagi orang lihai. Celakanya asumsi itu disusul dengan pertanyaan: berapa banyakkah wartawan yang ngeblog?

Saya tak punya data. Bisa sih ngawur bilang bahwa 68% wartawan ngeblog. Atau bisa juga sebaliknya: 68% wartawan nggak ngeblog. Maksud saya ngeblog dalam arti pribadi, bukan ngeblog untuk medianya karena ditugasi.

wartawan: ya meliput, ya ngeblog?

Karena tidak ada data, bagaimana jika kita main terka? Misalnya melongok 100 blog top Indonesia. Berapakah yang dimiliki oleh wartawan?

Maka izinkanlah saya bertanya: kalau misalnya mayoritas blog dimiliki oleh wartawan lantas kenapa? Kita anggap wajar, sesuai asumi pada paragraf pembuka?

Lha kalau ternyata jumlah wartawan dalam 100 blog itu sedikit, kurang dari sepertiga, emangnya kenapa? Aneh? Menyedihkan? Menggembirakan?

Terhadap urusan macam ini jawaban saya adalah, “Sudahlah, ngeblog itu soal hati. Tak harus berhubungan dengan profesi. Wartawan maupun sastrawan boleh ngeblog maupun tidak ngeblog.”

Beberapa wartawan pernah bilang kepada saya ingin ngeblog tapi malas. Atau sudah punya blog tapi malas – atau tak sempat – memperbaruinya.

Kenapa malas, kenapa tak sempat? Lebih dari seorang punya alasan macam ini: sehari-hari sudah menulis karena pekerjaan dan itu melelahkan; jadi buat apa menambah beban? Belum lagi kalau urusan di kantor bukan hanya peliputan dan naskah melainkan juga tetek-bengek manajerial. Lebih baik sisa energi buat keluarga atau hang out.

Bisa juga sih dibalik, seperti pertanyaan iseng saya: bagaimana jika untuk keseimbangan jiwa justru ngeblog dengan menulis sesuka hati yang tak ada hubungan dengan pekerjaan? Termasuk dalam pekerjaan adalah topik yang sesuai dengan bidang kedinasannya.

Jawabannya adalah senyum bahkan tawa. Ada juga kilah yang lebih argumentatif. Misalnya, “Saya wartawan otomotif, demen ama modifikasi dan racing. Kalo blog saya isinya juga gituan, bisa-bisa saya cuma menduplikasi tulisan di majalah. Artinya saya dianggap nggak kreatif. Padahal untuk kreatif saya sudah kehabisan ide.”

Jawabannya mungkin benar. Mungkin pula tidak. Tapi saya punya contoh, salah satu blogger yang tenar dengan posting tentang backpacking adalah seorang wartawati media otomotif. Carilah nama Ukirsari di Google.

Bagaimana dengan wartawan media umum, bukan media khusus? Misalnya wartawan koran, wartawan majalah berita, dan wartawan portal berita?

Seorang penyair, pemilik blog puisi, adalah wartawan yang menjadi redaktur-merangkap-kartunis sebuah koran kota. Kandungan syairnya tak  mesti senapas dengan jurnalisme medianya. Google-kanlah nama Hasan Aspahani.

Kalau bukan penyair bagaimana? Bisa saja mereka bukan generalis melainkan spesialis, sesuai rubrik. Pengecualian berlaku untuk reporter yang belum memiliki spesialiasi, sehingga bertugas sesuai penugasan koordinator reportase atau kepala biro. Tapi sebagian dari mereka khawatir, justru karena umum itulah maka isi blognya akan berimpitan dengan sajian media tempatnya bekerja; hanya berbeda gaya dan pendekatan masalah.

Masalah akan berkemungkinan bertambah jika dari blog pribadinya mereka mendapatkan iklan. Pihak manajemen bisa murka, karena fasilitas dinas yang dipakai untuk ngeblog bukan hanya komputer dan internet kantor melainkan juga biaya transportasi, biaya peliputan, biaya jamuan, dan bahkan bank data (termasuk foto) yang ada di kantornya.

Ketika urusannya sampai ke sana, biarlah itu jadi seminarnya Nukman Luthfie dengan mengumpulkan petinggi HRD perusahaan media untuk berdiskusi apa plus dan minusnya wartawan ngeblog bagi kumpeni. :D

Berbahagialah bloggers yang bukan wartawan. Tulisan bagus akan dipuji. Tulisan buruk tak akan diledek. Malas meng-update hanya akan ditagih pembaca, bukan dianggap mati angin.

Lho tadi dibilang ngeblog urusan hati, tak ada hubungan dengan profesi? Gimana sih kok mencla-mencle? ;)

© Ilustrasi: “Football Stars Become Microstars” (McCann Erickson, Milan, Italia, April 2008)


Kaos Sontoloyo!

Jul 2008
02

Posting lama di sebuah blog keroyokan itu masih bisa ditemukan oleh mesin pencari. Lalu muncullah di posting Ndoro Sontoloyo Sentulkenyut Mlekotho alias Den Bei Loring Pasar Ngobrok ing Kathok. Inilah yang jadi sumber tulisan: sebuah kaos bergambar penggembala bebek. Memang itulah arti sontoloyo.

Karena posting itu ditulis dalam bahasa Jawa, maka di sini saya terjemahkan. Judulnya “Bajingan, Germo Sontoloyo!”

“Maafkanlah saya jika membuat Anda risih karena saya mengumpat, mengumbar kata tak sopan. Tapi nanti dulu. Pada mulanya bajingan itu berarti kusir pedati, sehingga kusir pengganti disebut sedang ‘mbajing’.

“Adapun sontoloyo itu berarti penggembala bebek. Itulah sebabnya mengapa ada ungkapan, ‘Sontoloyo menggembalakan bebek hilang dua’.

“Sedangkan germo, itu berarti pemburu harimau. Entahlah sejak kapan germo akhirnya berarti juragannya pelacur.

“Pun belum jelas mengapa bajingan bisa berarti kaum yang sebangsa pencuri, begal, dan perampok, lantas setelahnya menjadi makian kasar. Begitu pula sontoloyo yang akhirnya menjadi umpatan yang tak terlalu kasar.”

Kenapa waktu itu saya menulis dalam bahasa Jawa? Saya, saat itu, sedang menguji kemampuan mother tongue melalui teks, dan sebisa-bisanya dalam bahasa yang genah. Lumayan, masih bisa sedikit.

Kaosnya bikinan siapa? Sarapan, Yogya. Iya, mereknya memang Sarapan. Sayang, gambar asli hilang. Kalau tak salah ingat, penjelasan dalam kaos itu menggunakan bahasa Inggris.

BTW, apa arti semprul? Tanyakan ke semprulsontoloyo.com.


Kaos Ultah Blog vlisa.com

Jul 2008
01

Bukan ultah blogger-nya tapi ultah blognya. Baru eh sudah setahun. Beruntung saya dapat jatah. :D Selamat, Bu Ventura Elisawati! Semoga tetap bermurah hati. Peminat kaos silakan menghubungi beliau, langsung, tanpa perantara. :D

hore dapat jatah!


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.

© Contents by Antyo Rentjoko